​Ittiba’: Menuju Allah lewat Rasulullah

Bismilillahirrahmaanirrahiim…

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.. 

Saudaraku seiman, tahu nggak apa itu Ittiba’? Ittiba’ ialah ngikutin Rasulullah. Kalo ada yang bilang hanya mau ikut aturan Qur’an dan tidak mau mengamalkan sunnah Rasulullah, maka bilang ke dia “oooh, kamu cuma mau ikut Qur’an? Bagus tuh, karena dalam Al-Qur’an itu, Allah suruh kita mengikutin Rasulullah. Kita tidak boleh beribadah melainkan dengan apa yang telah Allah syariatkan di dalam kitabNya, atau yang telah disyariatkan dalam Sunnah NabiNya yang terpelihara, tidak dengan bid’ah dan tidak dengan hawa nafsu.

Allah berfirman:

 ﻭَﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ

ﻓَﺎﻧﺘَﻬُﻮﺍ ۚ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ۖ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. [al-Hasyr: 7].

Kita perlu membahas masalah ittiba’ karena masalah ini sangat penting, sudah banyak dilalaikan (diabaikan) oleh kaum Muslimin. Baik ittiba’ dalam masalah aqidah, syariah (ibadah), akhlaq, dakwah, siyasah syar’iyyah, maupun yang lainnya. Karena dengan ittiba’, Allah menjamin kebahagiaan, kemenangan dan surga. Allah akan menjadikan kebinasaan, kehinaan, kerendahan, kehancuran bagi orang- orang yang tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ayat-ayat mulia dalam al Qur`an yang berkenaan dengan ittiba`, di antaranya :

1. Allah Azza wa Jalla berfirman:

ﻗُﻞْ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧِﻲ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ

ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮﺑَﻜُﻢْ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَّﺣِﻴﻢٌ

Katakanlah : “Jika kamu (benar- benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [ali Imran : 31].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) berkata,”Ayat ini sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah namun tidak mau menempuh jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang tersebut dusta dalam pengakuannya, sampai dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan dan perbuatannya. 

Menurut al Hafizh Ibnu Katsir, bahwa Allah mencintai kita itulah yang paling besar, bagaimana supaya kita bisa dicintai oleh Allah. Setiap kita bisa mencintai, namun tidak setiap kita bisa dicintai. Syarat untuk dapat dicintai oleh Allah adalah dengan ittiba` kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Hasan Basri dan ulama salaf lainnya mengatakan, sebagian manusia mengatakan mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini.

Orang-orang munafik mengucapkan cinta kepada Allah dan RasulNya, namun hatinya tidak demikian, karena mereka tidak mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Tafsir Ibnu Katsir, I/384, Cet. Daarus Salaam, Th. 1413 H].

2. Allah Azza wa Jalla berfirman:

ﻗُﻞْ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ۖ ﻓَﺈِﻥ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ

ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ

Katakanlah : “Taatilah Allah dan RasulNya. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir’’. [Ali Imran : 32].

Ayat ini mengandung makna, jika seseorang menyalahi perintah RasulNya atau tidak berittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah kufur; dan Allah tidak menyukai orang yang memiliki sifat demikian, meskipun dia mengaku dan mendakwahkan kecintaannya kepada Allah, sampai ia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seluruh jin dan manusia wajib untuk ittiba` kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga seandainya Nabi Musa ditakdirkan hidup pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia pun wajib ittiba’ kepada Nabi Muhammad. Demikian juga dengan Nabi Isa ketika turun ke bumi pada akhir zaman nanti, maka Nabi Isa wajib ittiba` kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺩُﻋُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ

ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻟِﻴَﺤْﻜُﻢَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻭَﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ

ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

“Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum diantara kalian, maka mereka berkata: sami’na wa atho’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati) . Merekalah orang-orang yang.beruntung” (QS. An Nuur: 51)

Sikap Dasar Seorang Muslim Itu ‘Kami Dengar dan Kami Patuh’ (Sami’na wa Atho’na) atas perintah dan larangan Allah SWT.

Sikap siap melaksanakan perintah dan menjauhi larangan tersebut merupakan wujud nyata keimanan dan kepatuhan pada ajaran Islam. Sikap dasar ini menjadi sumber utama kebahagiaan dan kemenangan. Mau mendengar dan patuh dilandasi keyakinan bahwa Allah SWT Mahabenar dan tidak mungkin salah. Dia selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya dan melaksanakan ajaran-Nya merupakan jalan hidup terbaik.

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺩُﻋُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ

ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻟِﻴَﺤْﻜُﻢَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ

ﻭَﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ

ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﻳَﺨْﺶَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻳَﺘَّﻘْﻪِ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ

ﺍﻟْﻔَﺎﺋِﺰُﻭﻥَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh.” Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Siapa saja yang taat kepada Allah dan rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS An- Nur [24]: 51-52).

ﺁﻣَﻦَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻛُﻞٌّ ﺁﻣَﻦَ

ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻼﺋِﻜَﺘِﻪِ ﻭَﻛُﺘُﺒِﻪِ ﻭَﺭُﺳُﻠِﻪِ ﻻ ﻧُﻔَﺮِّﻕُ ﺑَﻴْﻦَ ﺃَﺣَﺪٍ ﻣِﻦْ ﺭُﺳُﻠِﻪِ

ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻭَﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﻏُﻔْﺮَﺍﻧَﻚَ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻤَﺼِﻴﺮُ

“Semuanya beriman kepada Allah,malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda- bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “kami dengar dan kami taat” (QS Al-Baqarah: 285).

Karena masih lemahnya iman, ditambah hawa nafsu dan bujukan setan, termasuk kecintaan pada hal duniawi yang berlebihan, seseorang yang mengaku Muslim atau mukmin sering mengabaikan aturan Allah SWT dan lebih memilih aturan yang lain, misalnya “alasan budaya atau adat”, sebagaimana firman-Nya:

“Mereka menjawab, “Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang-orang terdahulu dan kami tdk akan diadzab” (Q.S: asy-Syuara: 136-138).

Seorang Muslim yang sudah tahu, paham, atau mendengar aturan Allah SWT, namun tidak menaatinya, maka sikap itu seperti jawaban Bani Israil (Yahudi “kami dengar namun kami tidak menaatinya ( sami’na wa ashoina ):

“Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak menaati”. (QS. Al-Baqarah: 93).

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar. Dan janganlah kamu seperti orang-orang munafik yang berkata: “kami dengar” padahal mereka tidak mendengarkan (tidak mematuhi)” (QS Al- Anfaal: 20-21).

Jadi, orang munafik itu, ketika mereka mengatakan, “kami mendengar”, sebenarnya hati mereka menolak dan mereka tidak mendengarkan (tidak taat).

Berbeda dengan kaum kafir dan kaum munafik, orang yang benar-benar beriman atau muslim sejati, akan mendengar dan menaati perintah dan larangan Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda: “katakanlah ”SAMI’NAA WA ATHA’NAA GHUFRANAAKA RABBANAA WA ILAKIAL MASHIIR” (Kami mendengar dan kami mentaatinya. Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kami kembali)”.

Jangan lupa dan ingat ini baik-baik!

Rasulullah telah berpesan, bahwanya peganglah 2 pusaka niscahya kita akan selamat. Apa itu? Tentu saja kitab suci kita, al-Qur’anul Karim dan as-Sunnah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberikan hidayah oleh Allah SWT. Aamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullah….

Advertisements

Musik Haram dalam Islam

Siapa yang tidak tahu musik? Siapa yang tidak suka musik? Sebagian besar orang menyukai musik kecuali orang-orang yang hatinya telah diisi cahaya oleh Allah. Musik, memang asyik saat kita mendengarkan dan menikmatinya, apalagi menghayati alulannya, syair-syair lagunya. Sangat menghibur dan bisa menjadi penenang bagi sebagian orang. Saya juga suka musik, dari dulu hingga sekarang, Astaghfirullah. Suka bukan berarti saya selalu mendengarkannya. Dulu, mendengarkan musik juga dancing (K-Pop) menjadi kesenangan saya. Manggung sana sinu, nyanyi lagu ini itu, ngedance… pokoknya sangat menyenangkan. Mendengarkan lagu sebelum tidur pun menjadi salah satu aktivitas rutin. Hingga pada suatu hari, Allah kirimkan seseorang untuk menyampaikan kebenaran padaku bahwasanya musik itu HARAM dalam ISLAM. 

Aku curhat dikit yah…

Di Bulan Ramdhan tahun lalu, Aku memposting sebuah status yang berisi tentang betapa bahagianya aku  ketika show dan memiliki banyak fans serta dijuluki artis K-Pop dan dikira keturuan Korea. Setelah membaca postinganku, ia akhirnya nge-chat (inbox), “You can dance, huh?” Tanya dia. “Yes, why?” Aku nanya. “That is haram” jawabnya. Trus dia jelasin begini begini dan begini berdasarkan Quran dan Hadits.

Alhamdulillah. Ternyata betul, Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, kapan, diamana, bagaimana dan lewat siapa.

Aku baru sadar, betapa buruknya masa laluku. Sangat suka show diatas panggung dengan aurat terbuka, pakaian ketat dan make-up ala Korea secantik mungkin. Tidak tahu sudah berapa dosa yang aku kumpul, tapi aku sangat bahagia pas tahu kalo dosa yang dicintai Allah adalah dosa yang telah kita taubati sepenuh hati. Aku akhirnya hijrah, Nutup auratku secara syar’i, ninggalin pacaran yang juga haram dan ninggalin musik, termasuk musik Islami karena yang haram ya musiknya.

Ok, Saudaraku, perlu diketahui bahwa, termasuk mukjizat yang Allah Ta’ala berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pengetahuan beliau tentang hal yang terjadi di masa mendatang. Dahulu, beliau pernah bersabda,

”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik .” –HR. Bukhari, no. 5590

Saudaraku, bukankah apa yang telah dikabarkan oleh beliau itu telah terjadi pada zaman kita saat ini? Dan juga dalam hadis lain, secara terang- terangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang musik. Beliau pernah bersabda,

“Aku tidak melarang kalian menangis. Namun, yang aku larang adalah dua suara yang bodoh dan maksiat; suara di saat nyanyian hiburan/kesenangan, permainan dan lagu-lagu setan, serta suara ketika terjadi musibah, menampar wajah, merobek baju, dan jeritan setan .” – HR. Hakim 4/40, Baihaqi 4/69

Kedua hadis di atas telah menjadi bukti untuk kita bahwasanya Allah dan Rasul- Nya telah melarang nyanyian beserta alat musik.

Sebenarnya, masih banyak bukti-bukti lain baik dari Al-Qur’an, hadis, maupun perkataan ulama yang menunjukkan akan larangan dan celaan Islam terhadap nyanyian dan alat musik. Dan hal ini bisa dirujuk kembali ke kitabnya Ibnul Qayyim yang berjudul Ighatsatul Lahafan atau kitab-kitab ulama lainnya yang membahas tentang hal ini.

Lalu, bagaimana dengan musik Islami?

Setelah kita mengetahui ketiga dalil di atas, mungkin ada yang bertanya di antara kita, lalu bagaimana dengan lagu-lagu yang isinya bertujuan untuk mendakwahkan manusia kepada kebaikan atau nasyid- nasyid Islami yang mengandung ajakan manusia untuk mengingat Allah? Bukankah hal itu mengandung kebaikan? Maka kita jawab, ia benar. Hal itu mengandung kebaikan, tapi menurut siapa? Jika Allah dan Rasul-Nya menganggap hal itu adalah baik dan menjadi salah satu cara terbaik dalam berdakwah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat adalah orang-orang yang paling pertama kali melakukan hal tersebut. Akan tetapi tidak ada satu pun cerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya melakukannya, bahkan mereka melarang dan mencela hal itu.

Wahai saudaraku, perlu diketahui, bahwasanya nasyid Islami yang banyak kita dengar sekarang ini itu, bukanlah nasyid yang dilakukan oleh para sahabat Nabi yang mereka lakukan ketika mereka melakukan perjalanan jauh ataupun ketika mereka bekerja, akan tetapi nasyid-nasyid saat ini itu merupakan budaya kaum sufi yang mereka lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Mereka menjadikan hal ini sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, yang padahal hal ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, maka dari mana mereka mendapatkan hal ini? 

Waktu-waktu yang diperbolehkan untuk bernyanyi dan bermain alat musik

Saudaraku, ternyata Islam tidak melarang kita secara mutlak untuk bernyanyi dan bermain alat musik. Ada waktu-waktu tertentu yang kita diperbolehkan untuk melakukan hal itu. Kapan itu?

1. Ketika Hari raya

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh istri beliau, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha , beliau berkata, “Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk (ke tempatku) dan di dekatku ada dua anak perempuan kecil dari wanita Anshar, sedang bernyanyi tentang apa yang dikatakan oleh kaum Anshar pada masa perang Bu’ats.” Lalu aku berkata, “Keduanya bukanlah penyanyi.” Lalu Abu Bakar berkata, “Apakah seruling setan ada di dalam rumah Rasulullah?” Hal itu terjadi ketika Hari Raya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan ini adalah hari raya kita.”

2. Ketika pernikahan

Hal ini berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menceritakan tentang anak kecil yang menabuh rebana dan bernyanyi dalam acara pernikahannya Rubayyi’ bintu Mu’awwidz yang pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari adanya hal tersebut. Dan juga berdasarkan dari sebuah hadis, bahwasanya beliau pernah bersabda, “Pembeda antara yang halal dan yang haram adalah menabuh rebana dan suara dalam pernikahan.”

Jadi, telah jelas bukan, bahwa keadaan yang diperbolehkan untuk bernyanyi dan bermain alat musik hanyalah ketika hari raya dan pernikahan. Dan alat musik yang diperbolehkan hanyalah duff (rebana) yang hanya dimainkan.

Keharaman musik mencakup semua jenis musik, baik itu musik rock, pop, dangdut, maupun musik Islami.  Dan memang, nyanyian dan musik ini sangat besar pengaruhnya bagi para pelaku dan pendengarnya dari segala sisi, baik dari akidahnya, akhlaknya, maupun dari akal pikirannya yang telah menunjukkan adanya kemerosotan yang sangat signifikan jika dibanding dengan generasi kakek nenek kita, yang mana dulu masih jarang ditemukan adanya nyanyian ataupun musik. Jadi semua jenis musik adalah haram.

Berikut benerapa pendapat-pendapat ulama besar tentang musik, diantaranya:

1. Umar bin Abdil Aziz

Beliau menulis surat kepada guru anaknya, “hendaklah pertama kali yang diyakini anak-anakku dari tata.kramamu adalah membenci nyanyian. Yang awalnya dari setan, akhirnya kemurkaan dari Ar Rahman Jalla wa ‘Ala . Karena sesungguhnya telah sampai kepadaku dari para ulama yang terpercaya bahwa menghadiri alat-alat musik dan mendengarkan nyanyian-nyanyian serta.menyukainya akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, sebagaimana air akan menumbuhkan rerumputan. Demi Allah, sesungguhnya menjaga hal itu dengan tidak mendatangi tempat-tempat tersebut, lebih mudah bagi orang yang berakal,.daripada bercokolnya kemunafikan di dalam hati” (Muntaqan.Nafis min Talbis Iblis , 306).

2. Imam Abu Hanifah (Hanafi)

Abu Ath Thayyib Ath Thabari berkata,

“Abu Hanifah membenci nyanyian. Beliau menganggap mendengarkan nyanyian termasuk dosa. (Muntaqan Nafis min Talbis Iblis , 300-301).

3. Imam Malik bin Anas (Maliki)

Beliau ditanya tentang nyanyian, beliau menjawab: “Sesungguhnya yang melakukannya dikalangan kita hanya orang- orang fasik” (riwayat Al Khallal di dalam Al Amru bil Ma’ruf dan Ibnul Jauzi di dalam Talbis Iblis. Dinukil dari Tahrim alat Tharb , 99-100).

3. Abu Ath Thayyib Ath Thabari berkata,

“adapun Malik bin Anas, maka beliau melarang nyanyian dan mendengarkannya. Dan beliau berkata, ‘Jika seseorang membeli budak wanita, lalu dia mendapatinya sebagai penaynyi, maka dia berhak mengembalikannya dengan alasan cacat’. Dan ini merupakan pendapat seluruh penduduk Madinah, kecuali Ibrahim bin Sa’ad saja” (Muntaqan Nafis min Talbis Iblis, 300).

4. Imam Asy Syafi’i (Syafi’)

Beliau berkata, “nyanyian merupakan perkara melalaikan yang dibenci, menyerupai kebatilan. Barangsiapa memperbanyaknya maka dia seorang yang bodoh. Pesaksiannya ditolak” ( Muntaqan Nafis min Talbis Iblis , 301).

5. Imam Ahmad bin Hambal (Hambali)

Abdullah bin Ahmad, putra beliau meriwayatkan perkataan beliau: “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, aku tidak menyukainya”.

Isma’il bin Ishaq meriwayatkan bahwa beliau ditanya tentang mendengar qasidah- qasidah, maka beliau menjawab, “Aku membencinya, itu bid’ah, janganlah bergaul dengan mereka”.

Abul Harits meriwayatkan bahwa beliau berkata, “Taghbir itu bid’ah”. Ada orang yang berkata kepada beliau, “Hal itu dapat melembutkan hati”. Beliau berkata, “itu bid’ah”. (Muntaqan. Nafis min Talbis Iblis , 297-299).

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Beliau berkata, “Sesungguhnya imam madzhab yang empat bersepakat tentang keharaman al ma’azif , yaitu alat-alat hiburan. Seandainya seseorang merusaknya, maka menurut mereka (imam madzhab yang empat) orang tersebut tidak diharuskan mengganti bentuk kerusakan. Bahkan menurut mereka haram memilikinya” (Minhajus Sunnah, 3/439. Dinukil dari Tahruim alat Tharb, 99)

7. Ibnul Qayyim

Beliau berkata, “sisi penunjukkan dalil keharaman alat-alat musik bahwa al ma’azif adalah alat-alat hiburan semuanya, tidak ada perselisihan di antara ahli bahasa di dalam hal ini. Seandainya hal itu halal, niscaya Nabi tidak mencela mereka terhadap penghalalannya. Dan beliau telah mengancam orang-orang yang menghalalkan al ma’azif dengan dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi, dabn merubah mereka menjadi kera dan babi.  (Ighatsatul Lahfan, 1/260-261, dinukil dari Tahrim alat Tharb, 95).

8. An Nawawi (wafat 676H)

Ulama besar madzhab Syafi’i, beliau berkata,

“Jenis kedua, bernyanyi dengan alat-alat musik. Ini merupakan syi’ar para peminum khamr. Yaitu alat musik yang dipukul seperti tunbur , banjo, simbal dan alat-alat musik yang lainnya dan juga alat musik dengan senar, semuanya diharamkan menggunakannya dan mendengarkannya” (Raudhatut Thalibin,11/228).

Sudah seharusnya bagi kita seorang muslim, untuk menerima dengan tunduk apa yang telah ditetapkan Allah dan.Rasul-Nya, tanpa ada rasa berat dan penolakan sedikit pun dari dalam hati kita.

Silahkan baca artikel-artikelnya  Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. Tentang musik.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan kekuatan untuk bisa melakukan segala apa yang Dia perintahkan dan menjauhi segala apa yang Dia larang. Sesungguhnya Allah Ta’ala-lah yang Maha Pemberi taufik dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanyalah milik Allah semata. Wallahu waliyyut taufiq.

Parfum bagi Wanita

Siapa sih yang gak suka parfum? Apalagi kaum perempuan yang selalu pengen perfect. Selain  berdandan untuk tampak memesona, ternyata hampir semuabutuhkan parfum untuk menebar keharuman dirinya biar lebih menarik.
Sekarang aku ingin ngebahas hukum parfum bagi wanita menurut Islam.

Ok, Menjadi diri yang diperhatikan dan mendapatkan respon positif dari semua orang adalah keinginan dari setiap wanita. Betul gak? Nah, salah satu cara untuk mendapatkan perhatian dan respon positif itu adalah dengan memakai parfum atau wewangian. Biar lebih percaya diri karena tidak merasa bau, apalagi saat berkumpul bersama orang lain. Jadi gak perlu khawatir aroma badan yang gak sedap bisa mengganggu orang lain. 

Wanita yang menggunakan parfum gak selalu dalam rangka untuk menarik perhatian lawan jenis namun ada juga yang memang menghindari agar tidak tercium bau- bau yang merusak pergaulan sehari-hari. 

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad. Syaikh Al- Albani dalam Shahihul Jami’ , no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Yang dimaksud hadits tersebut adalah parfum untuk keluar rumah dan laki-laki bisa mencium wanginya dan bisa membangkitkan syahwat laki-laki.

Al-Munawi rahimahullah berkata,

“Wanita jika memakai parfum kemudian melewati majelis (sekumpulan) laki-laki maka ia bisa membangkitkan syahwat laki- laki dan mendorong mereka untuk melihat kepadanya. Setiap yang melihat kepadanya maka matanya telah berzina. Wanita tersebut mendapat dosa karena memancing pandangan kepadanya dan membuat hati laki-laki tidak tenang. Jadi, ia adalah penyebab zina mata dan ia termasuk pezina.” (Faidhul Qadir , 5:27, Makatabah At-Tijariyah, cet. 1, 1356 H, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Islam memang tegas dalam hal ini, mengingat sangat besarnya fitnah wanita terhadap laki-laki. Bahkan jika sudah terlanjur memakai parfum kemudian hendak ke masjid, sang wanita diperintahkan mandi agar tidak tercium bau semerbaknya. Padahal tujuan ke masjid adalah untuk beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Perempuan manapun yang memakai parfum kemudian keluar ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga ia mandi.” (Hadits riwayat Ahmad, 2:444. Syaikh Al-Albani menilainya shahih dalam Shahihul Jami’ , no.2703)

Ada parfum yang boleh bagi perempuan. Larangan diatas bukan berarti perempuan tidak boleh memakai wewangian sama sekali atau dibiarkan berbau tak sedap. Perhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi tampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no.7564; hadits hasan. Lihat: Fiqh Sunnah lin Nisa’, hlm. 387)

Oleh karena itu, jika parfum dengan wangi sedikit/samar atau untuk sekadar menetralkan bau, (misalnya: deodoran), maka boleh. Selain itu, jika untuk suami, silakan berwangi seharum mungkin..Perlu diperhatikan bahwa parfum wanita warnanya jelas.

Al-Munawi rahimahullah berkata,

“Maksud dari ‘wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak’. Ulama berkata, ‘Ini bagi perempuan yang hendak keluar dari rumahnya. Jika tidak, ia bisa memakai parfum sekehendak hatinya.’” (Syarh Asy- Syama’il, 2:5)

Untuk itu, jika memang yang hendak menggunakan parfum maka yang harus diperhatikan adalah:

1. Baunya Menyengat atau Tidak

Untuk pemakaian wewangian kita bisa menilai apakah baunya menyengat atau tidak. Mengganggu lingkungan sekitar kita atau tidak. Jika hanya untuk diri kita sendiri maka itu tidak menjadi masalah. Yang masalah jika memang baunya menyengat dan dirancang khusus untuk merangsang lawan jenis. Kodrat Wanita dalam Islam memang suka berhias dan mempercantik diri. Namun jangan sampai ini berlebihan sehingga menggangu lingkungan kita.

2. Niatnya Untuk Apa

Persoalan niat adalah hal yang utama. Jangan sampai kita menggunakan parfum untuk niat yang tidak baik, misalnya biar yang dekat sama kita bisa mencium aromanya. Kalo wangi untuk suami, bernilai pahala lho.Untuk itu, perbaharui niat kita jangan sampai niat kita rusak karena telah ada tujuan untuk merangsang lawan jenis. Hati-hati karena, setan selalu menggoda manusia. 

3. Menjaga Sikap Kita

Walaupun kita tidak menggunakan parfum, sikap kita adalah hal yang utama. Menjaga aurat, menjaga penampilan, tidak sombong dan menggunakan pakaian-pakaian terbuka adalah hal yang perlu dilakukan. Merangsang lawan jenis tidak hanya terjadi karena menggunakan parfum namun aspek lainnya. Untuk itu, sikap kehati-hatian mutlak dibutuhkan wanita.

Wanita Cantik Dalam Islam bukanlah mereka yang suka berdandan untuk mempercantik diri. Wanita Muslimah Menurut Islam dan Wanita Shalehah Menurut Islam adalah mereka yang memiliki aklakul karimah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu duberi hidayah oleh Allah subhana wa ta’ala. Aamiin.

Hati-hati dengan Ghibah.

Teman-teman… ingat gak kapan terakhir kalian menggunjing orang lain? Kita menceritakan keburukan, kejelakan, ataupun aib orang lain. Menceritakan sesuatu yang tidak disukai oleh orang yang kalian ceritakan itu untuk menceritakannya. Apakah diantara kalian ada yang hobinya suka ngegosipin orang? Hati-jati! Itu namanya ghibah dan ghibah itu termasuk dosa besar. Yang paling suka ngegibah itu kaum perempuan, itulah mengapa kata Rasul paling banyak wanita di neraka daripada laki-laki. Ternyata, selain aurat wanita yang tidak ditutup, lisan yang tidak dijaga juga bisa menjadi salah satu penyebab masuknya seorang wanita ke dalam neraka. Kalo udah sama teman, pasti suka nyelip-nyelib ghibah ke dalam pembicaraan mereka, misalnya ngegibah teman lain, tetangga, saudara dll, contohnya nih…

“Eh… tahu gak, si A, jilbabnya aja yang syar’i, tapi masih pacaran”

“Eh, lu tahu ibu haji tetangga gua itu kan? Udah haji tapi suka gosipin orang, udah gitu… kikir lagi”

“Tahu gak, pamannya si A, paling pinter ngomong agama, rajin ibadah, juara suka nolong orang, tapi gua dengar-dengar… katanya dia selingkuh bla bla bla….. munafik gak sih?”

Ingat mentemen…. Diantara dosa-dosa besar, adalah Ghibah salah satunya. Apa itu ghibah, ghibah itu ya…. menceritakan kejelekan sifat atau fisik seseorang di belakang orang yang di bicarakanya yang sesuai dengan buktinya, jika membicarakanya di hadapan orangnya maka di sebut menghina atau memperolok-olokan atau menyakiti hati orang tersebut. Itu juga dosa besar kecuali niatnya menasehati atas dasar kasih sayang dengan cara yang halus dengan niat karena Allah tanpa merasa diri kita lebih baik dari orang itu dan bicaranya harus langsung kepada orangnya yang di maksud dan tidak boleh di hadapan orang lain yang tidak di maksud.. Paham? Jadiii… mulai sekarang, jaga lisannya. Emang mengunjing mungkin bikin kalian seneng atau bahagia. Tapi apakah bahagia dengan cara menceritakan keburukan itu baik? Tidak mentemen…. Islam melarang umatnya melakukan hal itu. Memang lisan terasa begitu ringan saat ngeghibah, tapi ingat, berat timbangan dosanya. Kalo ya nih… kita mengetahui atau kita melihat atau kita mendengar keburukan-keburukan orang, jangan disebar, jangan dibicarakan dengan maksud menejelek-jelakkan ataupun merendahkan dia. 

Tahu gak? Betapa banyak kaum muslimin yang mampu menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla dengan baik, menjalankan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mampu menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomar, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, senantiasa puasa senin kamis. Namun…..mereka gak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah.Bahkan walaupun mereka telah tahubahwasanya ghibah itu tercela danmerupakan dosa besar, namun tetap saja mereka gak mampu menghindarkan diri mereka darighibah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-.benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik. Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di berkata:

 “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan suatu gambaran yang membuat (seseorang) lari dari ghibah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ﻭَﻻَ ﻳَﻐْﺘِﺐْ ﺑَﻌْﻀُﻜُﻢْ ﺑَﻌْﻀًﺎ ﺃَﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﻛُﻞَ ﻟَﺤْﻢَ

ﺃَﺧِﻴْﻪِ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﻜَﺮِﻫْﺘُﻤُﻮْﻩُ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻮَّﺍﺏٌ

ﺭَﺣِﻴْﻢٌ

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang dighibahi tadi) yang telah menjadi bangkai, yang (hal ini) amat sangat dibenci oleh jiwa manusia. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai, tidak bernyawa- maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup”

Berikut beberapa hadits Rasulullah mengenai ghibah:

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah harom, yaitu darahnya, kehormatannya, dan hartanya”. [HR. Muslim]

Orang yang mengghibah berati dia telah mengganggu kehormatan saudaranya, karena yang dimaksud dengan kehormatan adalah sesuatu yang ada pada manusia yang bisa dipuji dan dicela.

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Pada malam isra’ aku melewati sekelompok orang yang melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”, lalu aku bertanya: ”Siapakah mereka ya Jibril?”. Jibril menjawab: “Merekaadalah orang-orang yang mengghibahi manusia, dan mencela kehormatan-kehormatan mereka”.

Mau menjadi orang yang mencakar-cakar wajahnya sendiri?

Hati-hati dengan lisanmu wahai saudara saudariku! Oleh karena itu, mulai hari ini, berhenti ngeghibah orang lain, berhenti mencaci orang lain. Orang buruk pun gak usah diceritain, ga usah urus urusannya orang. Tugas kita kalo kita melihat aib pada diri orang, “Alhandulillah, gak ada pada saya”, “ya Allah, berikan dia Hidayah” cukup, sebatas itu saja. Jangan lebih. “Kenapa dia begini, kenapa dia begitu, kenapa dia begini bla bla bla….” untuk apa kamu campurin itu? Apa gunanya buat kamu? 

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberi Hidayah oleh Allah swt. Aamiin.

​Hukum Selfie

Saat ini, tidak sedikit orang yang suka mengunggah fotonya di media sosial. Entah mengapa mereka suka membagi foto mereka, hanya mereka dan Allah saja yang tahu. Ust. KHB, LC, MA. dalam sebuah ceramahnya mengatakan bahwa ada akhwat yang menggunggah fotonya yang bercadar dengan caption “Istiqomah”.

“Untuk apa? Apa hubungan foto dengan dakwah?” Ujar Ustadz.

Menurut aku, Foto diunggah untuk dilihat lah… biar orang tahu kalo mereka lagi istiqomah kali ya? Atau mungkin untuk nunjukin kalo mereka cantik dengam cadar? Atau biar orang tahu kalo mereka itu wanita shalihah? Orang cerdas? Hmm…

Ok, sebenarnya apa sih hukum selfi itu?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Tapi pada hakikatnya, berfoto itu mubah dengan segala tekniknya termasuk selfie. 

Selfie tidak haram tetapi dapat menghantarkan orang pada penyakit hati. Apa saja itu? yaitu…

Pertama, apabila kita takjub dengan foto diri kita sendiri lalu mengagumi diri sendiri secara berlebihan maka khawatir itu adalah UJUB (takjub dan berbangga pada diri sendiri). 

Yang kedua, bila kita menggunggahnya di media sosial, lalu berharap di like banyak, followers banyak dan kita merasa senang dengan pujian di kolom komentar, maka itu perangkap RIYYA’  (menuntut kedudukan, meminta dihormati, melakukan kebaikan dengat niat dipuji, bukan karena Allah).

Yang ketiga, lalu dengan foto tadi kita merasa tinggi hati, membanding-bandingkan dengan foto orang lain, merasa lebih cantik atau lebih tampan, merasa paling tenar, paling hits, paling hebat, maka itu adalah bahaya terburuk, yaitu… TAKABBUR (sombong). Ketiganya mematikan hati membakar habis amal. Jadi gimana? Apakah selfie  menyebabkan kita menjadi UJUB, RIYYA’ & TAKABBUR? Hanya kita dan Allah saja yang tahu, maka kembalilah pada niat hati masing-masing. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mendapat hidayah dari Allah Rabbul ‘Alamiin.

​Penyakit Pamer di MEDSOS

Bagi yang suka mengunggah fotonya di media sosial seperti Facebook, Instagram dll. Hati-hati..  karena khawatir bisa timbul penyakit dalam hati yang dapat mematikan hati membakar habis amal.

Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit pamer di MEDSOS yang saya dapat dari sebuah group (facebook) dimana saya bergabung sebagai member.

Well, Bukan orang org yang jahil, bahkan yang mengaku ‘alim pun tak ketinggalan ikut serta pamer wajah, illa man rohimahullah.

2. PAMER HARTA.

Terlihat di statusnya “lagi di bengkel servis motor/mobil kesayangan”

3. PAMER KEMESRAAN.

Statusnya “masyaa allah istriku/suamiku bla bla bla”

4. PAMER PRESTASI.

Contoh “alhamdulillah akhirnya di terima di ….bla bla bla”

5. PAMER KEBAIKAN.

Contoh “alhamdulillah sdh bisa bantu/ngasih…. bla bla bla”

6. PAMER IBADAH

Contoh “Alhamdulillah, shalat Asarnya di Masjid Raya”, “Akhirnya bisa Tahajud, hati jadi tenang banget bla bla bla”, “Kajian malam ini seru bla bla bla”, “sekarang lagi pengajian bla bla bla”, Alhamdulillah bisa bangun subuh. Ayo bro, bangun!”, “Alhamdulillah, hari ini bisa sedekah bla bla bla….” dll.

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang menyembunyikan amalammya” -HR. Muslim-

So, Ibadah atau amal kebaikan tidak perlu dilaporkan, tidak perlu di umunkan di sosial media. Jangan di pamer. Bahaya. Posting aja Firman atau Hadis. Kelak, apapun yang pernah kita lakukan didunia ini, pasti akan dimintai pertanggung jawabannya. Tunggu saja sampai saat itu tiba.

7. PAMER REZEKI

Contoh”alhamdulillah sudah laku…bla bla bla”.

Astaghfirullah…

TABI’AT manusia adalah suka pamer, Kita paling tidak bisa lepas dari sifat yang satu ini.

Jika memiliki wajah yg tampan, harta berlebih, amalan kebaikan, prestasi, banyak rizki dan harta yang terlihat mentereng dan mahal, pasti ingin sekali dipamer-pamerkan. Selalu berbangga dengan harta dan perhiasan dunia, itulah watak sebagian kita.

Semoga Allah memberikan taufik pada kita untuk merenungkan firman allah ta’ala berikut ini.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (1) sampai kamu masuk ke dalam kubur. (2) Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (3) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (4) Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (6) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. (7) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (8).” ( At Takatsur: 1-8)

“Surga dan Nerakamu bukan urusanku, namun Rasulullah yang menyuruh kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Dan aku hanya menjalankan tugasku. Semoga Allah membuka hatimu, Aamiin. Saudara-saudaraku, Stop pamer!!!”

Oh ya, bagi yang pernah membagikan tulisan ini sehingga sampai ke aku, Jazakillah khairan katsiran yaa… semoga menjadi pahala untukmu dan untukku. Untuk semua yang sadar akan dosa pamer.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang suka berpenyakit suka pamer  dan semoga Allah selalu memberikan kita Hidayahnya, Aamiin.

Cinta Sejati

Cinta sejati hanya untuk Allah. Dan kita mencintai seseorang karena Allah. Dengan bersama orang yang kita cintai, Allah kita menjadi lebih dekat dengan Allah. Bagaimana jika kita dijodohkan dengan orang yang tidak kita cintai tapi sangat baik agamanya? Jawabanya yang penting Allah dulu, Allah yang harus paling di utamakan. Menikah adalah ibadah terlama. Jika ingin menikah untuk beribadah kepada Allah, berarti kita bisa menerima laki-laki yang tidak kita cintai namun baik agamanya. Karena dia dapat menjadi imam yang baik buat keluarganya daripada menikah dengan orang yang kita cintai namun gak pernah shalat apalagi kalo malas ngaji. Mending yang baik agamanya, kita bisa membangun cinta dengannya karena Allah.

Mengapa para ayah yang paham agama menikahkan putri-putri mereka dengan laki-laki shalih yang tidak dikenali putrinya, yang belum pernah bertemu kemudian ta’arufan langsung nikah terus rumah tangganya kemudian bahagia ?

Mengapa banyak akhwat yang menutuskan untuk memilih laki-laki yang tidak dia cintai namun ia tahu seperti apa ketaatan laki-laki itu kepada Allah, kemudian rumah tangganya bahagia? Apakah karena jatuh cinta ? Bukan. Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa. Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup…

Mengapa jatuh cinta gampang? Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita. Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi. Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap… Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel. Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama-sama mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah yang sangat pribadi. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut. Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga akan berubah, bukan surga lagi tapi neraka.

Apakah kondisi ini bisa diperbaiki? Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ? Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.

Bangunlah cinta…Jagalah KOMITMEN awal.

Oh ya, perhatikan beberapa nasehat dibawah ini:

1. KETIKA AKAN MENIKAH

Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita. Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR

Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada ALLAH melalui wali si gadis.

3. KETIKA MENIKAH

Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan ALLAH.

4. KETIKA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA

Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak & duri.

5. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG

Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

6. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK

Jangan bagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% & cintai anak-anak Anda masing2x 100%.

7.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI

Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.

8.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI

Tetaplah berjalan dengan gemulai & lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

9.KETIKA MENDIDIK ANAK

Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.

10.KETIKA ANAK BERMASALAH

Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

11.KETIKA ADA ‘PIL/ Pria Idaman lain.

Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

12.KETIKA ADA ‘WIL/ Wanita Idaman lain.

Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

13.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA

Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.

14.KETIKA INGIN LANGGENG & HARMONIS,

GUNAKANLAH FORMULA 7K:

1.Ketakutan akan ALLAH

2.Kasih sayang

3.Kesetiaan

4.Komunikasi dialogis

5.Keterbukaan

6.Kejujuran

7.Kesabaran
Perhatikan landasan kamu menikah.

Apa yang menjadi landasan kamu untuk menikah? Perhatikan poin-poin yang sangat penting dibawah:

1. Jika landasan pernikahan adalah harta, maka pasangan bakal bercerai jika jatuh miskin.

2. Jika landasan pernikahan adalah karena tubuh, pasangan bakal lari jika rambut beruban dan muka berkerut atau sudah menjadi gendut.

3. Jika landasan pernikahan adalah karena anak, maka pasangan akan mencari alasan untuk pergi jika buah hati (anak) tidak kunjung hadir.

4. Jika landasan pernikahan adalah kepribadian, pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya.

5. Jika landasan pernikahan adalah cinta, hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih, lagipula manusia yang dicintai pasti akan mati.

6. Jika landasan pernikahan adalah ibadah Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sesungguhnya Allah itu Kekal dan Maha Pemberi kepada makhluknya. Allah mencintai HambaNya melebihi seorang ibu mencintai bayinya. Maka tak ada alasan apapun didunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan itu durhaka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Robbana Taqobbal Minna..Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami). Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin.
Oh ya… dibawah ini ada beberapa kisah. Semoga dapat dipetik pelajarannya.
1. Syukur
Abdurrahman teringat perkataan almarhum ayahnya, dulu sebelum dia menikah.

Ayahnya berpesan :

“Jika kamu sudah menikah nanti:

•Jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan keinginanmu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.

•Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Dia bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Dan jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, Maka… Lihatlah ketika istrimu tidur..”

“Kenapa Yah, kok waktu dia tidur?” Tanyanya kala itu.

Ayahnya menjawab :

“Nanti kamu akan tahu sendiri”

Waktu itu, dia tidak sepenuhnya memahami maksud ayahnya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ayahnya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam itu, Abdurrahman mulai memahaminya. Malam itu, dia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Dalam batin, Dia bergumam,

“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis:

•Yang leluasa beraktivitas,

•Banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Lalu aku menjadikanmu seorang istri. •Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit.

•Memberikanmu banyak batasan,

•Mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan aku pula..

•Yang menjadikanmu seorang ibu. •Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan.

•Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku..

Engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, kini aku memberikan beban di tanganmu, dan dipundakmu..

•Untuk mengurus keperluanku,

•Guna merawat anak-anakku, juga

•Memelihara kenyamanan rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku.

Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku.

Kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku.

Kau buang egomu untuk menaatiku.

Kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku..

Di kala susah, kau setia mendampingiku.

Ketika sulit, kau tegar di sampingku.

Saat sedih, kau pelipur laraku.

Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku.

Jika aku gundah, kau penyejuk hatiku.

Kala aku bimbang, kau penguat tekadku.

Bila aku lupa, kau yang mengingatkanku.

Ketika aku salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku..

Telah sekian lama engkau mendampingiku.

Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu..?!

Dengan alasan apa aku marah padamu..?!

Andai kau punya kesalahan atau kekurangan.

Semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan air mata.

Akulah yang harus membimbingmu.

Aku adalah imammu.

Jika kau melakukan kesalahan.

Akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu.

Jika ada kekurangan pada dirimu.

Itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah.

Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku..

Kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan.

Mari kita bersama-sama membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla.

Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodoh untukku.”

Tanpa terasa air matanya menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.

“Teeng..teeng..”

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali. Qonitat, istri Abdurrahman terperanjat sambil terucap :

“Astaghfirullah, sudah jam dua..!”

Dilihatnya sang suami pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil berdoa memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatanganmu.

Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa.

Sudah makan apa belum ya dia..?!”

Gumamnya dalam hati. Ada niat mau membangunkan, tapi ach.. tidak tega. Akhirnya dia cuma pandangi saja wajah suaminya. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Hanya hatinya yang bicara :

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku.

Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku.

Begitu besar harapan kusandarkan padamu.

Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

Wahai suamiku..

•Ketika aku sendirian..

Kau datang menghampiriku.

•Saat aku lemah..

Kau ulurkan tanganmu menuntunku.

•Dalam duka..

Kau sediakan dadamu untuk merengkuhku.

•Dengan segala kemampuanmu..

Kau selalu ingin melindungiku.

Wahai suamiku..

•Tak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku.

•Tak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu.

•Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal, tidak menyurutkan langkahmu.

Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

Lalu..

Atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu.

Dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu?

Seberapa pun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.

Walau kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, Tapi.. Kesungguhan & tekadmu beramal sholeh, mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Alloh.. Membanggakanku dan membahagiakanku.

Maafkan aku wahai suamiku..

Akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah.. segala puji hanya milik Allah. Yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Alloh. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

2. Kisah bertemu di IG
Berbagi cerita sedikit tentang pertemuan kami melalui dm instagram akhir nya bisa sampai keplaminan hehe😀 insyaallah bisa jadi inspirasi buat kalian yang sedang menanti jodoh..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabrakatuh

Saya menikah diumur 18tahun dan suami saya 21tahun. Kami dipertemukan melalui dm instagram. hehe.

14 desember 2017 ada dm instagram masuk dari abang “Assalamu’alaikum ukhty” dan berakhir dengan tukeran cv dan abang bilang “tolong kasih cv saya ke ayah mu, kalo ada kabar baik tolong kabarin saya lagi”

2 hari aku gantungin dulu haha so jual mahal dulu lahh yaa🤣wkwk.

16 desember 2017 baru saya kasih jawaban dan saya bilang “kalo emng kaka ada niatan baik silahkan hubungin wa ayah saya” (manggil nya masih kaka wkwk) dan abang bener bener nge wa ayah😂 dan bilang kalo emng mau serius dan ngajak nikah jugaa… masyaa Aallah… 😂

Sempett kagett sihh belum kenal sama sekali ko udah ngajak nikah hahaha. Pas di tanya serius atau engga dia jawab nya “tunggu bukti dari saya, saya serius dan bakalan nemuin kedua orangtua mu di tangerang” (rumah abang diwirosari dan saya ditangerang) sangatt jauhh sihh menurut saya😅 perjalanan 581KM sekitar 12 jam 😅 disamperin jauh jauh demi nunjukin keseriusannya, sumpah saluttt bgtt dah😂 baru kali ini berasa diperjuangin sama cowo dan ngajak nikah juga🤣🤣azek haha. 

Tepat di 20 januari 2018 dihari ulangtahun abang, abang bener bener ada didepan mata saya dan depan mata keduaorangtua sayaa..

-Febuari abang melihat wajah saya yg tertutup dengan cadarr

-Maret abang pulang kekampung untuk membicarakan pernikahan, dan

– 26 April 2018 kita sah sebagai pasangan suami istri..

Sesingkat ini Allah mempersatukan kamii..

Abang laki-laki yang dulu tidak saya ketahui asal usul nyaa, dan bahkan untuk kenal aja saya ga kenal sama sekali, tapi sekarang abang laki lakii yang saya cintai dan saya sayangii.. 

jazzakallahu khayran hubby🖤 bersama mu surga berasa lebih dekat💜
3. Nasehat 2
Saya terima nikahnya…. binti…. dengan mas kawin……di bayar tunai….”. Singkat, padat dan jelas.

Tapi tahukan makna “perjanjian atau ikrar” tersebut? Itu tersurat. Tetapi apa pula yang tersirat.

Yang tersirat ialah :Artinya: ”Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang ia jadikan istri) dari ayah dan ibunya. Dosa apa saja yang telah dia lakukan.Dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dgn si dia (perempuan yang ia jadikan istri), aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung. Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku”. Sekiranya aku gagal dan aku lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka aku fasik, dan aku tahu bahwa nerakalah tempatku kerana akhirnya isteri dan anak-anakku yg akan menarik aku masuk kedalam Neraka Jahanam.. dan Malaikat Malik akan melibas aku hingga pecah hancur badanku.

Akad nikah ini bukan saja perjanjian aku dengan si isteri dan si ibu bapa isteri, tetapi ini adalah perjanjian terus kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala “.Jika aku GAGAL (si Suami) ?”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku”.

(HR. Muslim)

—————————-

Duhai para istri…Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu. Karena saat Ijab terucap, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjianyang dibuat olehnya di depan ALLAH, dengan disaksikan para malaikat dan manusia. Maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu…

Semoga… ini untuk pengalaman yg sudah nikah maupun yg belum…

Subhanallah.. beratnya beban yang di tanggung suami.Bukankah untuk meringankan tanggung jawabnya itu berarti seorang istri harus patuh kepada suami, menjalankan perintah ALLAH dan menjauhi larangan-Nya? Juga mendidik putra-putri kita nanti agar mengerti tentang agama dan tanggung jawab.

Semoga kita semua menjadi orang tua yang dapat memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita kelak dengan agama dan cinta kasih sehingga tercipta keluarga kecil yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Aamin Yaa Rabbal’alaminn… 
Sahabat semoga kita selalu dalam lindungan-Nya yang dilimpahkan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dan kemudahan untuk selalu beribadah kepada-Nya..
“Ya Allah, muliakanlah sahabat-sahabat Kami, Berikanlah Kami pasangan yang setia, mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Kelak masukkanlah Kami disurga yang terindah..”Aamiin Ya Robbal Alamin
Rasulallah SAW bersabda :

“Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al Bukhari)

Oh ya, tulisan ini saya edit dari beberapa tulisan yang saya pernah di share di sebuah group yang saya gabung sebagai member di Facebook dan saya gabungkan kemudian dikasih tambahan. Udah lupa siapa yang share soalnya tulisan-tulisan ini saya simpan sekitar setahun yang lalu. Semoga yang menulis dan membagikan tulisan mereka yang saya kutip ini juga memdapatkan pahala di sisi Allah. Aamiin.  Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari – hari. Aamiin .