PUISI: Sahabat

By: Zahratussittah
Wahai Seseorang yang aku sayangi…

Seseorang yang pernah aku letakkan kepercayaanku sepenuh hati…

Seseorang yang selalu bersamaku menghiasi hari…

Seseorang yang selalu menjadi pendengar setia akan kisah-kisah yang kuarungi….

Seseorang yang pernah membuat aku tertawa lepas hingga aku tiada sanggup berhenti…

Seseorang yang  hanya hidup dalam memoriku saat ini… 

Seseorang yang istimewa yang pernah kumiliki….

Seseorang yang kupanggil sahabat sejati….

Masih ingatkah engkau akan lembayung senja yang pernah kita saksikan dulu? Saat itulah kita mengikat janji dikala temu..

Janji saling setia dalam persahabatan yang kini beku, tak seindah dulu…

Janji suka duka akan kita lewati bersama selamanya tenyata hanya semu.. 

Lembayung indah yang Allah pajangkan dilangit dikala senja itu kini Allah pajangkan lagi ditempat yang sama dan aku memandanginya seorang diri… tanpamu, wahai sahabat diri…. 

Dimana janji itu sahabat? Dimana janji yang waktu itu telah kita ikat bersama dengan senyum berseri? Kupandang lembayung yang dikelilingi mega jingga itu, seorang diri …..

Berteman sepi… 

Bulir-bulir air mata menganak sungai dikedua belah pipi.

Aku tidak sadar sejak kapan air-air terus menetes, apakah karena sepi?

Air yang keluar dari telaga mata ini seakan tidak mau berhenti meratapi…

Pandanganku kabur bagai kaca berembun karena butiran-butiran bening ini betah menggenang dimataku.

Dulu, bersama kita memandanginya dengan penuh kekaguman, perasaan kita sangat bahagia seingatku… 

Tapi hari ini aku memandanginya dengan airmata parah… 

hanya ada bayang-bayangmu disisiku membuat hatiku berdarah….

Sakit….sakit rasanya dikala aku merindukan orang lain yang tidak merindukanku.

Hatiku menangis disaat aku sedang sedih merindukanmu dan kudapati kamu sedang tertawa lepas dengan seseorang dan orang itu bukan aku… 

Ya… dialah sipenggantiku.

Tak pernah terbayang olehku bahwa kamu hanya akan menjadi kenangan yang dalam hati ia terpaku.

Kenangan yang penuh warna dan makna dalam kisahku.

Aku sadar… bahwa aku memiliki banyak kekurangan dan kamu pantas memiliki sahabat yang lebih sempurna dariku.

Kamulah rahmat yang Allah berikan untukku… namun kamu juga ujianku.

Sejatinya…  kepemilikan Allahlah segalaku…

Termasuk kamu, kamu Allah pinjamkan aku kamu.

Allah memberikan segala apa yang telah Dia berikan sebagai rahmat dan ujian untukku, termasuk kamu.

Jika Allah mengambilmu karena aku lebih mengharapkanmu daripada aku mengharapkan rahmat-Nya, Jika Allah memisahkan kita karena Dia ingin menguji keimananku, jika Allah ingin aku hidup tanpamu lagi karena Allah ingin membuktikan padaku bahwa tanpamu pun aku masih bisa bahagia, jika Allah menjauhkan kamu dariku karena Dia ingin mengajariku bahwa sahabat bukanlah segalanya dan tidak ada yang abadi kecuali Dia, jika Allah ingin kamu menyakiti karena Dia ingin mengajarkan aku bahwa hanya dialah yang Maha mencintai dan menyayangi yang tidak pernah mengecewakan hambanya… 

Maka sahabatku… sesungguhnya berpisah darimu adalah kehendak-Nya.

Allah ingin mengajariku apa itu keikhlasan yang sebenarnya….

Allah ingin mengajariku apa itu kedamaian  dan kebahagiaan sejati…

Dan aku yakin Allah akan menggantikanmu dengan yang lebih baik nanti.

Pergilah sahabat, pergilah… 

kini aku melepas sayapmu yang dulu kamu minta aku meremasnya agar kamu tidak bisa terbang meninggalkanku.. 

Aku hanya bisa pasrah…

Semoga yang kamu khianati, yang kamu buang, campakan, lukai kemudian kamu lupakan itu hanya aku.

Aku tidak akan melupakanmu, pelukaku.

namun aku juga tidak mengharapkan kamu kembali jika ini jalan terbaik untukku.

Aku hanya akan menyimpan kamu dalam sebuah peti masa lalu dan kusimpan dengan rapi peti itu didalam hatiku. 

Kujadikan kisah kita adalah perlajaran yang sangat berharga dan tak ternilai dalam buku kehidupanku. 

Ketahuilah sahabatku….

Kuusap airmataku sambil menatap sang lembayung yang ada didepan mataku ini, Ia pun perlahan-lahan mulai pergi hingga sirna ditelan langit ,,, 

Wahai sahabat yang telah mengkhianatiku… ketahuilah…

Seiring dengan sirnanya si cantik lembayungdan senja yang kian memudar ditelan dada langit, aku melepasmu dengan Bismillah…..

 kerinduan ini, kerinduan ini juga perlahan hilang, lenyap bersama mega-mega merah.

Kau hanyalah embun diujung daun…

Lembayung senja tinggal cerita

Dan kamu wahai sahabat, tinggal kenangan…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s