MENYESAL

Aku menghela napas panjang…. kelalaian ini harus kutelan mentah-mentah….. hari ini kumulai dengan penyesalan yang karenanyalah aku dihantui kegelisahan hingga detik ini… aku bahkan tidak mampu membalas senyuman yang dilemparkan oleh teman-teman kepadaku… berat… 
Ya ampun…. sesuai sabda nabi, aku rasa hari ini aku bukan hanya termasuk pada orang-orang yang MERUGI, karena aku masih sama dengan kemarin, ya..aku tergolong orang-orang yang CELAKA karena lebih buruk dari kemarin…. harus kuakui betapa beratnya menjadi orang yang tergolong dalam orang-orang yang BERUNTUNG (lebih baik dari kemarin). Hari ini aku bahkan bukan jalan ditempat, namun aku berjalan mundur. “CELAKA”, kata itu mengganggu hati dan pikiranku. Sejak mimpi anehku malam itu, aku menjadi sangat takut lalai menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim.  

Aku selalu berusaha agar tidak boleh sama dengan orang-orang yang ketika suara adzan sudah memanggil kita untuk menunaikan kewajiban, mereka masih asyik menikmati kesibukan mereka, yaaa ampuun… hari ini… hari ini akhirnya aku sama dengan mereka, padahal aku sudah berusaha tidak boleh sama seperti mereka agar Allah bisa membedakan aku dengan mereka. 

“Mengapa hari ini lalai?” Ya ampun aku mempertanyakan hal yang memang aku sudah tahu jawabannya, ya iyalah pasti karena aku malas, mengapa malas? Ya jelas ikut setanlah apalagi… aku mengabaikan dentuman yang terdengar samar dari masjid itu karena aku masih ingin tenggelan dalam dunia mimpi yang indah, selimut jelmaan setan itu kutarik dan hangatnya membuatku lupa akan akhirat, setan berbisik “hari ini absen dulu gpp, kan besok bisa, tidur saja, kamukan jarang tidur, jadi sekarang nikmatilah”, bisikan setan membuatku lupa akan neraka yang berada didepan mata “isssh… memang susah menjadi orang beruntung bagi orang yang beriman tipis nan lemah kayak aku ini”, bisikan demi bisikan setan aku turuti dan akhirnya waktu Shubuh pun aku lewati. 

Aku pikir setan berhenti menggodaku sampai disitu, ternyata aku salah. Waktu menunjukan jam delapan, aku bangun dari tidurku, ” aaa…apaaa?? Jjj-jam 8? Tadi shubuh?” aku baru menyadari bahwa betapa lemahnya imanku, menuruti nafsu hingga menjadi orang yang celaka, aku kemudian menyesalinya “apa? Menyesali? Alaaaah… munafiik, menyesali hal yang sama setiap hari? Apaan…” aku berbicara pada diriku sendiri… 

“Ya udah, karena tadi udah lalai shalat shubuh, maka sekarang aku tidak boleh lalai shalat Duhaa” bisikku dalam hati. Aku memijakan kaki telanjangku kelantai “uh… dingin, apalagi musim hujan gini” dinginnya lantai bagai es batu. Aku tidak peduli dengan dingin itu, aku bergegas untuk mandi. Kusentuh air “brrrr”, aku rasa bagai kram dari ujung kaki hingga ke ujung rambut “ya ampuuun, dinginnyaa” kataku dalam hati. Kemudian setan jagoan itu datang lagi “udah, kan dingin nanti saja shalatnya kalo cuacanya udah cerah, mending kamu tidur aja sana, cuaca gini emang sangat cocok untuk tidur” saran setan sialan itu, eh maksudku bukan setan tapi aku yang sialan mau dengerin dia. Beberapa menit aku dilema “sholat jangan sholat jangan sholat jangan” dan lagi-lagi menuju nerakalah yang aku pilih karena berwudhu saja aku tak mau, aku tidak mau menyentuh  dinginnya air yang mencekam itu, ujung-ujungnya, aku lalai lagi. “Astaghfirullah… aku lebih takut akan dingin daripada takut pada Tuhanku yang maha adil dan bijaksana. Kalau aku tidak sholat pagi karena dinginnua air dipagi hari aku hindari, maka selama musim hujan ini aku akan alpa sholat “tidaaaaaaak, Aduuh susahnyaaaa” teriakku dalam hati. Tidak apa dilupakan semua orang dibumi ini, tapi aku tidak mau dilupakan Allah, tidak apa dibenci oleh seluruh makhluk didunia ini, tapi aku takut dan tidak mau dibenci Allah. Aku takut, apa yang harus kujawab ketika aku ditanya dikemudian hari?

“Apa kau menuanikan kewajiban yang telah diperintahkan tuhanmu kepadamu?” 

“Iyaa, tapi aku pernah lalai karena takut dingin, hmm tapi aku menyesal”

“Sia-sia saja penyesalanmu, kau terlambat” aku membayangkan sedang bercakap-cakap dengan malaikat dialam kubur, bodoh amat, pikiran apa ini. 

Begitu hitamkah hatiku berlumut noda tebal sehingga sulit ditembus cahaya? Dalam kesendirian, mutiara bening menetes bersusulan “lagi-lagi air mata buaya ini mengalir, sudahlah air mata, berhentilah, untuk apa aku menangisi hal yang sama berkali-berkali namun aku tetap sama dan tidak berubah?”

Aku tidak mau membuang-buang air mata, toh ujung-ujungnya aku tetap melakukan kesalahan yang sama “alaaah… munafik sekali aku ini”.

Aku rasa ini sebuah perjuangan, tidak ada kata terlambat bagi orang yang benar-benar berusaha dan serius, waktuku tidak banyak lagi, dan aku tidak boleh menyia-nyiakan waktuku yang singkat ini, tidur bangun tidur bangun gak terasa aku udah dijemput Izroil sang malaikat maut untuk  menghadap Allah dan mempertanggung jawabkan amal baik burukku. 

Ingin menjadi orang yang sukses itu tidak mudah, sukses didunia aja susah apalagi sukses diakhirat kelak, ya iyalah pasti banyak rintangan, halangan, dan cobaan menyerbu, dan jika aku tidak Istiqomah dan perpegangan erat pada iman, aku akan tergenlincir kedalam jurang kenistaan yang didasari laut kehinaan. Iblis adalah musuhku walau aku tahu aku bisa menang darinya jikalau imanku tebal nan kuat, dan kalau bukan aku yang menguatkan imanku, trus siapa? Aku hanya harus bersabar dan pertolongan Dzat yang menciptakanku. Aku tahu ini tidak mudah, namun jika aku menyayangi diriku dan keluargaku maka aku harus melalukannya, terlebih lagi ini wajib, “Fardu ‘Ain”. Aku tak sanggup membilangkan berapa dosa yang sudah kucetak, lalu jika bukan sekarang aku memperbaikinya, trus kapan? Ketika maut datang merenggut nyawa? Aku sadar aku tidak punya banyak waktu di dunia yang Fana alias sementara ini. Harus kupersiapkan waktuku ini demi kebaikanku nanti dialam kekal sana. Dan musuh terhebatku saat ini adalah malas, yaa.. malas sifat setan itu, karena kelak, Allah tidak bertanya kita bertitle S1, S2, S2 atau apapun itu, tapi amal kitalah yang ditanya.

“I know it is not easy but I have to fight, I know I can, I have my faith and I can grow it up”

“Ketika kita mencintai Allag dan RasulNya, kita akan sangat mencintai Ibadah. Kita akan melakukan apapun agar bisa meraih cinta Allah”.

Dulu, meninggalkan shalat, aku biasa-biasa aja. Tapi sekarang, aku nyesel dan gak bahagia kalo ninggalin kewajiban. Alhamdulillah…

Apakah orang lain juga merasa nyesel ninggalin shalat? Kalo nggak, semoga Allah tidak membiarkan aku menjadi seperti mereka. Aamiin.

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberikan hidayah dan taufik serta rahmat oleh Allah sang Rsabbuna. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s