Bulir Ibrah dan Hikmah: Do’a

Allah pasti akan memberi jawaban doa seseorang selama ia tak tergesa-gesa. Lantas para sahabat bertanya, _“fa kaifa ya’jal ya Rasulallah?”_ bagaimanakah yang tergesa-gesa itu??

Maka Nabi ﷺ menjawab, _“dia yang berkata; aku sudah berdoa, tapi Allah belum juga mengabulkan”._ Lalu ia tinggalkan doa.

Pelajaran terpenting tentang kesabaran dalam berdoa adalah bahwa doa itu punya batas sesuai dengan kadar qualitynya…

Tengoklah kisah Nabi Zakariya, berapa lama Nabi Zakariya berdoa agar dikarunia anak?

70 tahun lamanya baru Allah mengabulkan doanya. Ini kelasnya Nabi yang dekat dengan Allah, namun apa? Allah kabulkan doa Nabi Zakariya setelah 70 tahun lamanya. Timbul pertanyaan liar dalam pikiran, bagaimana dengan kita?? Yang mana kelasnya tidak sekelas para Nabi yang dekat dengan Allah? 

Maka jawabnya sederhana, ya sabar ….

Ada orang baru berdoa dua minggu, satu bulan, dua bulan, namun belum juga dikabulkan. Sudah lemah semangatnya dalam berdoa. Sudah malas untuk berdoa, malah ada yang protes, mengapa tak juga dikabulkan.

Sabar, nikmati prosesnya. Jangan _isti’jal_ dalam berdoa alias tergesa-tergesa.

Ingatlah kisah Nabi Ayyub? Allah beri ia kenikmatan selama 20 tahun lamanya, dengan kebun kurma, 12 orang anak yang gagah perkasa. Dan jadilah ia raja, orang, nabi terkaya di kaumnya. Lalu Allah uji ia, Allah hancurkan semuanya hanya dalam 3 hari. Mudah bagi Allah untuk melakukan itu semua.

Hari pertama, Allah beri ia penyakit sampai kaumnya pergi meninggalkannya.

Hari kedua, Allah kirimkan badai dan hama yang menghancurkan seluruh kebun dan peternakannya.

Hari ketiga, ini adalah hari terberat dalam hidup Nabi Ayyub. Allah wafatkan 12 anaknya dalam sehari tanpa sebab apapun..

Hanya tinggal istrinya.

Sampai 18 tahun ujian, istrinya berkata, “wahai Nabi Allah, berdoalah pada Tuhanmu agar menghilangkan ujianmu, tidak perlu mengembalikkan semua, cukup agar penyakitmu sembuh.”

Apa kata Nabi Ayyub? “Wahai istriku berapa lama Allah beri kita nikmat?”

“20 tahun” kata istrinya.

“Aku masih malu untuk meminta kepada Allah” itu jawaban Nabi Ayyub kepada sang istri.

Tepat 20 tahun, Nabi Ayyub berdoa yang mana Allah abadikan dalam surat Al-Anbiya. _“Robbi anni massaniyadh dhur, wa anta arhamur rohimin”_ ya Allah, aku telah ditimpa suatu musibah, sedang Engkau adalah arhamur rohimin.

Telah sampai batasnya, telah tiba waktunya Allah kabulkan doa Nabi Ayyub. Allah berfirman, _“Fastajbna lahu, wa kasyafna bihi min dhur, wa atainahu ahlahu wa mitslahu ma’ah”_ maka Kami kabulkan doanya, Kami kembalikan keluarganya dan yang semisalnya bersamanya.

Dalam 3 hari pula Allah kembalikan semuanya.

hari pertama, Allah sembuhkan penyakitnya.

hari kedua, Allah jadikan istrinya setiap tahun melahirkan 2 bayi kembar sampai anak Nabi Ayyub berjumlah 24.

Allah beri Nabi Ayyub dengan kelipatan.

Nabi Ya’qub berapa lama ia berdoa agar Allah pertemukan dengan Yusuf _‘alaihissalam?_ Berpuluh-puluh tahun. Sampai ada yang mengatakan 40 tahun.

Nabi Musa, berapa lama ia berdoa kepada Allah untuk kebinasaan fir’aun seperti tersebut dalam surah Yunus 88–89 ? Berpuluh-puluh tahun.

Ibrahim _‘alaihissalam,_ berapa lama ia berdoa kepada Allah agar dikarunia anak? Berpuluh-puluh tahun.

Dan Rasulullah ﷺ berapa lama beliau berdoa kepada Allah agar memindahkan kiblat dari Al-Aqsa ke Al-Haram? Bertahun-tahun lamanya..

Berhenti sejenak, coba renungkan.

Tidak sulit bagi Allah untuk mengabulkam doa-doa para Nabi. Namun Allah rupanya sedang ingin mentarbiyah para Nabi dalam menghadapi ujian.

Yang tersirat dari kisah mereka adalah tentang kesabaran tanpa batas dalam menanti terkabulnya sebuah doa.

Nikmati prosesnya. Nikmati setiap proses kehidupan ini dengan sabar dan sholat.

Akan ada batas waktunya doa itu akan terkabul. Yang perlu kita yakini adalah bahwa setiap jawaban doa adalah “iya”

Ibnu Qoyyim pernah megatakan, “Doa itu ibarat panah yang dilesatkan ke langit. Tapi untuk mencapai ke langit ia memerlukan waktu”.

Ada beberapa jalan Allah kabulkan do’a. Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian. ” (HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid ). Boleh jadi Allah menunda mengabulkan do’a. Boleh jadi pula Allah mengganti keinginan kita dalam do’a dengan sesuatu yang Allah anggap lebih baik. Atau boleh jadi pula Allah akan mengganti dengan pahala di akhirat. Jadi do’a tidaklah sia-sia.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca serta bernilai pahala bagi penulisnya serta orang yang menyebarkannya, Aamiin.

Lupa Menghormati Agamanya Sendiri.

(Sicopas dari FB, semoga bermanfaat. Aamiin ya Allah)

Akhir-akhir ini, banyak manusia yang bersikeras untuk menghormati agama lain, tapi lupa menghormati agamanya sendiri. Maksudnya?

Tentunya kita bisa melihat bahwa selama ini setiap fatwa yang dikeluarkan oleh MUI selalu mendapat kritikan dari para netizen. Tak hanya MUI, bahkan para Ustadz, para guru, para da’i dan para pemuka-pemuka agama Islam lainnya, apabila mereka memberikan nasehat dan menyampaikan ajaran agama, jarang ada yang sami’na wa atho’na (kami mendengar, kami taat). Ada saja protes yang dilontarkan. Contoh terbaru adalah ketika para ulama melarang umat Islam untuk mengucapkan selamat natal. Larangan ini bukan tanpa dasar, banyak dalil yang menjadi rujukan mereka dalam mengeluarkan fatwa tersebut. Tapi apa kata netizen? “Tapi kan ini, tapi kan itu.” Mereka sibuk menepis fatwa ulama, bahkan tak sedikit yang membantah tanpa ilmu & hanya mengandalkan nafsu.

Kebanyakan dari mereka selalu mengatasnamakan toleransi. Mereka bersikeras melawan ulama, dengah dalih demi ‘menghormati’ umat agama lain. 

Menurut saya ini lucu. Mereka berteriak-teriak tentang menghormati umat agama lain, namun di saat yang sama mereka malah tidak menghormati agama mereka sendiri dengan membantah & mengolok-olok fatwa ulama.

Sungguh ironis moral umat Islam di Indonesia saat ini. Mereka yang mengaku Muslim, malah lebih mengutamakan untuk ‘menghormati’ umat agama lain daripada menghormati para ulama.

Padahal, sebagai seorang Muslim, jika kita benar-benar ingin bertoleransi, maka bertoleransilah sebagaimana Nabi kita bertoleransi. Sangat banyak hadist yang menjelaskan bagaimana seorang Muslim berhubungan dan bertoleransi dengan non muslim. 

Tapi ngomong-ngomong, sudah berapa banyak kitab hadist yang kita baca dan pelajari? Jika belum, silakan belajar dulu. Jangan membantah fatwa ulama dengan pendapat pribadi, apalagi tanpa ada ilmu yang mumpuni. 🙂

Semoga kita, keluarga kita dan orang-orang terdekat kita, tidak termasuk orang-orang semacam ini. Aamiin.

DELAPAN MACAM REZEKI

1. Rezeki Yang Telah Dijamin.
_”Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya”_ (Q.S.11:6)

2. Rezeki Karena Usaha.

_”Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya”_ (Q.S.53:39)

3. Rezeki Karena Bersyukur.

_”Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”_ (Q.S.14:7)

4. Rezeki Tak Terduga.

_”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”_ (QS. At Thalaq :2)

5. Rezeki Karena Istighfar.

_”Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta”_ (QS. 71 : 10-11)

6. Rezeki Karena Menikah.

_”Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada mereka dengan karunia-Nya.”_(QS. an-Nur : 32)

7. Rezeki Karena Anak.

_”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”_(QS. al-Isra 31)

8. Rezeki Karena Sedekah.

_”Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak”_ (QS. Al Baqarah 245)