Penyesalan after Kematian


Penyesalan setelah kematian yang pasti adalah bagi orang-orang kafir ataupun musyrik! Mereka akan meneriakkan seribu penyesalan pada hari kiamat. Itulah penyesalan mereka yang ingkar kepada Tuhannya. Lalu, apakah Anda yang dikarunai kenikmatan iman dan Islam, merasa telah aman dari penyesalan? Apakah Anda telah melaksanakan semua perintahNya?

Allah ﷻ berfirman,

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. (QS. As Sajdah : ayat 12).

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠) 

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100)

Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang akan mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.

Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka..

Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Allah ﷻ ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Penyesalan itu memang datangnya belakangan, jangan sampai sibuk dengan urusan dunia lalu tiba-tiba terbangun dalam keadaan gelap, yang dikira mati lampu, eh.. tau-tau sudah di depan malaikat..

kemudian terdengar suara.. 

MAN ROBBUKA?? 😲😓😔

Jangan sampai menyesal, karena tidak ada gunanya. Yuk, kumpulkan amal yang bisa menyelamatkan kita dari azab kubur dan hisab yang menegangkan, dan yang terpenting adalah…MERAIH RIDHA ALLAH SUBHAMA WA TA’ALA.

Al-Qur’an: Apa Yang Membuatmu Malas Menyentuhnya?

DiCoPas dari group #Motivasi Hijrah Indonesia (Yuk gabung!!! Via Facebook).

1 HURUFNYA BERPAHALA 10 KEBAIKAN LHO

Abu Ubaidah As Sidawi

🔸 Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an, sebagaimana firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. Al-Baqoroh: 185)

🔸 Maka sudah semestinya kita memuliakan bulan mulia ini dengan banyak membaca Al Quran, mentadabburi dan memahami isinya. 

Rasulullah sebagai teladan kita, beliau selalu mengecek bacaan al-Qur’annya pada malaikat jibril pada bulan ini. (HR.Bukhari 1/30, Muslim 3308)

🔸 Demikian juga para ulama salaf kita dahulu, mereka berlomba2 membaca Al Quran di bulan mulia, bahkan sampai ada yang sehari khotam sekali dan dua kali.

🔸 Cukuplah keutamaan membaca dan mempelajari al-Qur’an dari hadits berikut

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan, setiap satu kebaikan dilipat gandakan hingga sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Aliif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Aliif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf. (HR.Tirmidzi 2910, Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam as-Shahihah: 660)

🔸 Sahabat Utsman bin ‘Affan berkata,

“Seandainya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan pernah merasa kenyang dari firman Allah”

(Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal hlm. 106)

🔸 Nasehat ini direaliasasikan oleh pelontarnya dengan praktek nyata. Beliau pernah mengatakan: “Saya tidak ingin jika ada satu haripun terlewatkan tanpa membaca Al-Qur’an”. (Fadhoil Utsman bin Affan hlm. 115 oleh Abdullah bin Ahmad).

Pertanyaannya, bagaimana dengan kamu? Baca Qur’an setiap hari? Lebih sering dipegang apa, HP atau Qur’an? Yang sering dibaca apa, status di FB dan WA atau Qur’an? Apa pedoman hidupmu? Hp? Kamu sendiri tahu jawabannya. Al-Qur’an akan datang pada pembacanya dihari kiamat sebagai syafa’at, bukan Hp. Lalu apa yang membuatmu lebih mencintai Hp daripada Qu’ran? Tak rindukah kamu kepada kalam-kalam Allah yang agung dan suci? Sehingga kamu hanya membukanya pada bulan Ramadhan, setelah itu kamu tidak membukanya lagi. Tapi kamu tidak bisa lepas dari Hpmu.

Bersihkah hatimu? Hanya yang berhati gelap, keras dan jauh dari Allah saja yang keberatan membaca Al-Qur’an, bahkan jauh darinya. Pikirkanlah, membaca Qur’an itu pahalanya bukan untuk Allah, untuk diri kita sendiri. Keuntungannya untuk kita, untuk kebahagiaan kita. Allab itu udah sempurna dan tak butuh apa-apa dari kita. Semua yang Allah perintahkan adalah semata-mata untuk kita sendiri. Jadi terserah mau pilih azabNya atau ridhaNya.

3×8=24? Yuk Simak Ceritanya!

Suatu hari, ada keributan antara penjual kain dan pembelinya di pasar. “Tiga kali delapan itu dua puluh empat!” teriak pembeli. “Bukan! Dua puluh tiga!” teriak penjual kain melotot. Keduanya saling mempertahankan pendapatnya hingga hampir berkelahi. Bersamaan dengan itu, datang Yan Hui menengahi. Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius. “Berhenti…berhenti…ada apa ini?” “Coba kamu jawab, berapa hasil dari tiga kali delapan?” tanya penjual kain. “Oh…tentu saja dua puluh empat.” Jawab Yan Hui. “Aku tidak percaya. Ayo, kita tanya Confucius!” ajak penjual kain. “Tidak perlu bertanya pada Confucius. Sudah jelas tiga kali delapan adalah dua puluh empat!” ujar Yan Hui sambil tertawa. “Ayo kita buktikan!” ujar penjual kain kesal sambil mengajak Yan Hui pergi menemui Confucius.

Sesampainya dirumah Confucius, penjual kain bertanya, “Confucius, jawab dengan benar berapa hasil tiga kali delapan? Jika salah, akan aku berikan kepalaku pada Yan Hui. Jika benar, Yan Hui harus menyerahkan jabatannya kepadaku.” “Baik. Aku setuju!” tantang Yan Hui. “Tenang…tenang! Siapa yang menjawab dua puluh tiga?” tanya Confucius. “Aku” jawab penjual kain. “Benar. Jawaban kamu benar! Yan Hui, serahkan jabatanmu padanya,” jelas Confucius. Dengan berat hati, Yan Hui memberikan topi kepada penjual kain sebagai tanda. “Ah…mungkin Confucius sudah pikun,” gumam Yan Hui kesal sambil berpamitan. “Ingat pesanku. Jika hujan lebat, jangan berteduh di bawah pohon. Jangan membunuh dan cepat kembali jika urusanmu sudah selesai,” pesan Confucius.

Di tengah perjalanan, hujan turun dengan lebat. Di sana, ada pohon rindang dan Yan Hui ingin berteduh di sana. “Mmmm,,,, tapi Confucius bilang aku tidak  boleh berteduh di bawah pohon.” gumam Yan Hui sambil meneruskan perjalanannya. Baru beberapa langkah berjalan, tiba – tiba terdengar suara keras. “Duarr…! Brug…! Yan Hui menoleh kebelakang. Ternyata, pohon rindang tadi rubuh karena tersambar petir. “Oh…Confucius benar!”

Sesampainya di rumah, hari sudah larut. Yan Hui masuk ke kamar mengendap – ngendap karena takut istrinya terbangun. “Hah…ada orang di samping istriku. Siapa dia?” tanya Yan Hui. Yan Hui mengambil pedang hendak membunuh orang itu. Namun, Yan Hui teringat pesan Confucius dan menunggu hingga terang. Ternyata, yang tidur di ranjang istrinya adalah adik istrinya. “Untung aku tidak membunuhnya.” “Ternyata, ucapan Confucius benar. Ia tidak pikun,” ucap Yan Hui. Yan Hui pun segera pergi untuk kembali menemui Confucius. Sesampainya di sana, Confucius menyambut Yan Hui dengan gembira. “Guru, hebat! Kenapa kamu tahu apa yang akan terjadi padaku?” tanya Yan Hui. 

“Kemarin udara sangat panas. Diperkirakan akan turun hujan disertai petir. Lalu, kamu pergi dengan membawa pedang sambil memendam amarah,” jelas Confucius.

“Tahukah kamu, kenapa aku membenarkan jawaban penjual kain?” tanya Confucius.

“Bayangkan. Jika aku katakan tiga kali delapan adalah dua puluh empat maka penjual kain itu harus mati. Jika aku katakan dia benar, hanya jabatanmu yang diberikan. Apakah jabatanmu lebih berharga dari sebuah nyawa?” tanya Confucius.

Dengan malu hati, Yan Hui sadar bahwa Confucius memang hebat dan bijaksana. Untuk itu, Yan Hui kembali berguru pada Confucius.