Koleksi Nasehat Islami Singkat

Khadijah yang duluan mengutarakan rasa dan niat baiknya kepada Muhammad SAW.

Fatimah memilih menyimpan perasaannya kepada Ali, dan terus mendoakannya dalam diam.

Zulaikha berupaya menggoda cinta Yusuf, tetapi Allah menjauhkan Yusuf darinya. Ketika Zulaikha mendekat kepada hidayah cinta Allah, Allah tumbuhkan kecintaan Yusuf pada Zulaikha.

Jalan cinta yang baik itu berlandaskan keimanan. 

Kawan, kalian tahu? Ada makhluk yang sangat pandai berkamuflase. Jika kalian fikir makhluk itu adalah bunglon, kalian salah. Makhluk ini lebih pandai berkamuflase daripda bunglon. Makhluk ini bernama “aku”. Dia berkamuflase dengan cara menjadi soleh ketika dilihat orang, tp menjadi ahli maksiat ketika sendirian. Bahkan lebih dari itu. Dia secara terang-terangan memusuhi syaiton, namun menjasi temannya ketika sendirian. Dia juga pandai menyampaikan, namun tak pandai dalam menjalankan. Banyak orang yang menyukai aku, karena aku ini terlihat sangat soleh, dan sangat pandai menyampaikan. Padahal jika mereka tahu kenyataan yang sebenanrnya, mereka tidak akan mungkij menyukai aku. Aku termasuk kdalam maksiat sejenis MUNAFIK. 

Dear para cowok

Jagalah wanita dengan baik. Jika ia berbuat salah, betulkan, luruskan, ajari dia kebenaran. Jangan kasar, jangan dirusak, dan jagalah perkataanmu agar tidak mentakitinya. 

Ketika kamu melihatnya kesal, kecewa, udah malas senyum tapi bilang “nggak apa apa”, berarti ada yang tidak ia senangi dari kamu. Maka dekatilah dia, minta maaf dan rubahlah sikapmu. 

Jangan di diami, jangan mengedepankan gengsi dan jangan mempertuan keegoisanmu. Jangan sampai nanti dia berkata “yaudah, terserah kamu.”

Jangan mengetuk hati wanita, jika setelah dibuka, kamu masuk dan merusak hatinya yang sensitif itu. 

Jagalah dia karena memang berharga. 

Sebagai cowok yang baik, tanpa dituntut dan diminta, harusnya inisiatif dan harus peka. 

Yah, namanya wanita, sering di judge sebagai orang egois. Padahal dia terlalu sering mengalah, memendam dan pura-pura baik-baik saja. Perhatikanlah dia disaat ia tersenyum padamu, senyum itu mempunyai 2 makna. 1, senyum karena senang melihatmu atau 2, senyum yang hanya dipaksakan untuk menyimpan sebuah ketidaksenangan yang tidak dia ungkapkan. Jika kamu peka, dan jika kamu benar-benar cinta, tataplah dia dengan baik, perhatikan dan pelajari wajahnya, matanya…. kamu akan tahu apakah senyum itu adalah senyum kebahagiaan atau hanya memaksa agar terlihat bahagia.

Rasulullah bersabda: Ahibbal arab li stalasta (cintailah Arab karena 3 perkara:

Li Anni Arabiyyun (Sebab aku nabimu adalah orang Arab), wal Qur’anu Arabiyyun (dan al-Qur’anul karim kitabmu juga dalam bahasa Arab) dan bahasa Arab adalah lugatuli Jannah, lugah ahli jannah (bahasanya ahli surga).

Saudaraku…

Sampai kapan kita bersantai-santai meninggalkan shalat? Sampai kapan kita meninggalkan panggilan Allah? Dialah yang menciptakan aku, kamu, mereka, semuanya hanya untuk beribadah kepadanya. Ibadah adalah tujuan kita diciptakan saudaraku. Sampai kapan kita disibukan oleh perkara dunia? Apapaun aktivitas yang kita lakukan selama didunia, tetap shalat 5 waktu menjadi kewajiban kita. Renungi kembali, kita terlalu sibuk dengan urusan dunia tanpa memikirkan akhirat. 

Jadikan keterbatasan yang mereka miliki sebagai cerminan bagi diri kita untuk meningkatkan kembali kualitas shalat kita. Islam telah memudahkan kita untuk melaksanakan shalat. Dalam keadaan sakit sekalipun, kita bisa melaksanakannya dengan duduk ataupun brbaring. Maka tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat kecuali 1. Apa itu? Kematian.

Wallahi saudara…. taubat itu menghapus semua dosa yang pernah kita lakukan. Asalkan kita tobat untuk meninggalkan semua dosa tersebut. Allah berfirman “wahai anak Adam, andaikata engkau datang menjumpai aku dengan hampir sepenuh bumi ini dosa, tapi engkau menjumpai aku dalam kondisi tidak melakukan kesyirikan sedikitpun, maka aku akan datang dengan sepenuh bumi ini, ampunan buat dirimu”.

Makanya kita juga perlu belajar, yang dosa mana yang bukan dosa mana. Kadang kala kita 10 tahun berbuat dosa gak tau, “anaa kira ga papa Ustadz”. Atau gak belajar? Maka pentingnya belajar agama.

Siksa paling ringan di neraka itu dipakaikan kepada mereka terompah dari api neraka. Dan itu cukup membuat otak mendidih. Kita ini semua pasti menginginkan menjadi bagian dari ashabul yamin.  Golongan kaman ialah ashabul jannah. Apa yang bisa memastikan kita atau menjamin kita kelak akan menjadi bagian dari ashabul yamin? Hanya ada satu… yaitu ketika kita menjalani kehidupan didunia yang sementara ini betul betul sesuai misi penciptaan kita oleh Allah swt yaitu ibadah. Imam Malik mengatakan “al ibadatul hiya”. Ibadah itu adalah ta’atullah, taat kepada Allah. “Wahudu’u lahu” tunduk kepadanya. “Wattizamu ma syaroahu minaddin” dan berpegang teguh kepada apa yang disyariatkan oleh Allah didalam agamanya. 

Orang yang Allah benci

Wa izara ‘aita ‘abdi, Dan jika kalian melihat hambaku, laa yazkurunii, tidak zikir kepadaku. Fa anaa hajibtuhu ‘anzalik, maka aku memang sengaja menjauhkan dan mengharamkan dia untuk berzikir kepadaku. Jadi kalau ada seorang hamba lalai dari pada Allah, tidak berzikir kepada Allah, itu karena Allah sengaja, sengaja oleh Allah ditahan, diberikan penghalang oleh Allah untuk tidak bisa berzikir kepadanya. Wa anaa ubu ghidu ( dan kalau ada hambaku yang tidak berzikir kepadaku, aku membencinya. Dibenci oleh Allah 

Rasul saw dalam hadith riwayat muslim bersamba “tsalastatun la yadkhulunual Jannah abada”ada tiga orang yang tidak bakal masuk surga selama-lamanya. Yang pertama, an dayyuts, warrajidan minannisa (dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki) dan yang ketiga wamutminul khamr (orang yang kecanduan minuman keras).

Kita dikasih 7 hari dalam sepekan. Apa anda mau gunakan semua untuk urusan dunia? Anda akan tinggalakan. Meninggal dunia semua akan ditiggalkan. Jadi aneh kalo yang sementara kita kejar2, yang sifatnya abadi tidak disiapkan. Tanyakan pada diri kita dalam 24 jam itu berapa untuk akhirat kita? 

☆. Katanya sayang, kok gitu?

Bukankah lebih baik bagi seseorang itu ditusuk kepalanya dengan jarum besi atau dipukul sampai menembus tulang kepalanya, ketimbang dia harus menyentuh wanita yang belum halal baginya.

Masih banyak loh diantara kita yang bilang sayang, cinta… Tapi masih menjerumuskan dirinya dan orang yang belum halal baginya itu kedalam dosa. 

Mereka bilang akan ngebahagiain Gak akan ngecewain… dan kata2 gombal lainnya yang bersifat modus dan menuruti hawa nafsu agar bisa lebih dekat dengan dia. Sehingga dapat menggenggam tangannya dengan mesra dan menimbulkan suasana romantis.

Ada yang malam minggu mereka keluar,  mencari tempat yang romantis bagi mereka, berpegangan tangan, tatapan, baperan…

Katanya sayang, katanya cinta… kok mau menjerumuskan si dia dalam dosa yang kelak akan diterima balasannya.

Ingat… Kita gak akan hidup selama-lamanya, maka jangan turuti nafsu yang bisa membuat kamu senang yang hanya berlaku didunia aja.

Kalau udah kek gini, pilihannya cuman dua… tinggalkan atau halalkan.
2. Coba teman2 renungkan nih…

Coba dihitung-hitung….

Kita kalo ketemu temen ngomongin dunia, berapa sering? Terus ngomongin Allah berapa sering? 

Coba kita belajar, cari teman yang sefrekuensi dulu. Arti sefrekuensi ini bukan sama2 udah baik, tapi sama2 udah niat pengen memperbaiki diri.

Ajak dia ngomong ttg Allah. Allah tuh baik banget loh… gini gini gini…gini… Allah Allah Allah. Allah aja yang diomongin makin sering itu akan nanemin satu belief, faith, iman dalam hati kita. Sehingga nanti kita ada masalah, diketuk rasa iman itu, cepat baliknya. Kita bilang “udah gapapa, nnti Allah ganti dengan yang lebih baik”. Allah yang ganti gitu, Allah yang ganti. Tenang tuh jadinya,,, karena kita sedang mengetuk kembali imannya disaat dia sedang butuh-butuhnya iman itu. Betarti kita harus cari temen yang mau menasehati kita,  bicara bareng kita ttg kebesaran2 Allah”.
☆. Percuma

Hahaha… percuma lu dakwah. Percuma lu hijrah. Ngasih motivasi segala macem. Nyatanya… lu sendiri aja masih berbuat dosa. Hah? Percuma? Lu bilang percuma? Apa yang percuma? Ga ada kata percuma jika kita menyebar kebaikan. Dan hijrah, kenapa dengan hijrahku? Ada masalah denganmu? Apa aku pernah menyusahkan hidupmu dengan hijrahku? Nggaaaak… terus masalah aku masih berbuat dosa, ya karena aku manusia bukan malaikat. Yang juga masih dalam proses hijrah. Tidak ada manusia didunia ini yang tidak pernah berbuat dosa. Bro… please..  mikir..
☆. Ingat

Ingat…

Apabila timbul keinginan untuk bermaksiat, maka ingatlah satu keinginan yang selalu diucapkan oleh orang2 yg udah masuk ke liang lahad. Orang2 yg meninggal mengatakan wahai tuhanku, kembalikan aku di dunia. Saya berharap bisa kembali ke dunia untuk beramal shaleh saja. Nggak ada orang yg meninggal dunia bro sis berharap kembali untuk berfoya2 bareng teman2nya. Berharap kembali kpd mobil mewahnya, rumah yg megah, pakaian yg mahal, sudah gak ada lagi. Orang kalau sudah mati, selalu harapannya bagaimana saya bisa kembali untuk beramal shaleh. Bagaimana saya bisa kembali untuk menuaikan shalat, puasa, bersedekah dll. Maka saat ini bro sis, mengapa Allah masih membiarkan kita hidup di dunia ini? Karena Allah ingin melihat kita agar selalu beribadah kepada-Nya.

“To Allah we belong and truly, tp jim we shall return” #al-Baqarah 156
☆. Fasik 1

Wama yudillu bihi katsira (banyak yg disesatkan Allah), wayahdini katsira (banyak yang dibri hidayah oleh Allah), ujung ayatnya? wama yudillu fihi ilal faasiqin (yang disesatkan Allah itu orang yang fasik). Orang yg fasik itu siapa? Org yg udah tahu peebuatan itu gak benar, salah, dosa tapi ttp juga dia lakukan, Allah sesatkan dia sekalian sekalian. Kamu jangan kesini, jangan kemari, jangan jangan…. tapi dia ttp saja aaa disesatkan Allah saja. A.. kamu mau disini ya nyasar sekalian. Sebagai apa? hukuman dari Allah swt. Jangan salahkan Allah, bukan org2 baik yang disesatkan Allah tapi orang yg sudah tahu mana haq, mana bathil, mana bngkok mana lurus mana hitam mana putih, tapi dia ttp juga, disesatkan Allah sekalian. Falamma dau (ketika hati mereka berpaling) azawallahu kulu bahu (dipalingkan Allah sekalian hatinya). 
☆. Orang beriman

Kalo ada orang yg setiap azan ke mesjid, sebulan aja misal dijaga sama dia, nnti gak enak tuh sekali aja teelambat 1 rakaat masbuk, apalagi kalo ketinggalan shalat berjamaah, itu luar biasa penyesalannya seperti sebuah gunung yg berat. Dan ini yg kata nabi sallallah alahi wassalam “orang mukmin kalo berbuat dosa keciiil pelanggaran kecil sebenarnya, seperti gunung yg besar diatas punggungnya, beraaat rasanya menyesal kenapa ya, gitu. Sementara orang munafik kalo berbuat dosa besar, dia anggap seperti lalat yg hinggap di hidungnya dan dia usir seperti ini. 
☆. Posting kebaikan

Dia posting lagi shalat, dia posting sedekah, dia posting hal2 yang sifatnya kebaikan, trus kita kayak…suudzon. mempertanyakan sampai akhirnya kita bilang… ah.. nih riya’. Ibadah mah gak usah diposting, dipamerkan. Emang kita tahu isi hatinya? Jangan2 dia memposting itu, niatnya bukan riya, tapi sebaliknya. Niatnya tampilkan sebuah kebaikan dalam Islam. “Sanna sunnatan hasanah” itu artinya menampilkam kebaikan. Jadi bukan melakukamnya swcara rahasia, tapi… sunnah itu artinya sesuatu yang bisa ditiru, sesuatu yg bisa diikutin, sesuatu yg bisa diduplikasi, sesuatu yg bisa dicontoh itu namanya sunnah. Maka “man sanna fil Islami sunnatan hasanah” artinya, siapa yg menampilkan satu kebaikan maka dia memdapatkan pahala dari setiap orang mengikuti kebaikannya.

​”RUMAHKU TIDAK BERSIH..”

Hi reader. Kali ini aku pengen membagi cerita yang aku dapat dari sebuah group di FB. Dan aku sangat menyukai tulisan ini. Ini sangat menginapirasi. Seberapa banyak orang diantara kita mempunyai pemikiran yang sama dengan si penulis kisah ini. Masha Allah, dia hebat. 

Yuk, simak kisah selengkapnya.

By:  Zawana Hijab Owner

” Mb Endang kerjanya ngapain aja.. kok rumahnya berantakan gini. ??.. ( tanya seorang teman yang satu hari bertamu ke rumah Saya.. )

Dengan santai Saya menjawab.. “# TIDURAN bund..”

●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

Memiliki rumah yang terlihat bersih & rapi adalah IMPIAN semua orang .. termasuk Saya pribadi..

Bayangkan Bunda..

Jika lantai bersih mengkilap.. Perabot tanpa debu.. Dinding rumah tanpa coretan.. Perkakas rumah tersusun rapi nggak berubah..

Percayalah..

Senyum kita pasti merekah dengan sikon BERSIH DARI NODA..

Secara # LOGIKA..

Rumah yang bersih & rapi itu karena nggak ada yang “MENGGANGGU ” setelah di bersihkan..

Tapi jangan TERLUPA 1 HAL njih.. Itu juga sama artinya tidak ada seorang pun di rumah..

No husband.. No children..

Tidak ada canda tawa.. apalagi gurauan si kecil.. Sedangkan Saya.. ( salah satunya.. Mungkin juga termasuk Bunda2 yang seperti saya.. ).. Rumah Saya sering BERANTAKAN.. karena ada suami.. Anak 3 tersayang..

Lantai rumah Saya jarang mengkilap.. Itu bukan karena Saya nggak ngepel lo.. Karena anak menjadikan rumah sebagai tempat ternyaman dalam bermain..

Perabot Saya berdebu.. Itu bukan karena Saya nggak ngelap.. karena anak main taburan sembarang..

Dinding rumah Saya nggak licin tapi cenderung ke kusam.. Itu bukan karena oleh suami nggak di cat.. tapi Karena Saya memberi kesempatan anak 3 Saya bereksplorasi terhadap alam..

Sekali lagi..

RUMAH SAYA NGGAK BERSIH Bunda..

Karena insan 4 yang Saya Sayangi ada bersama dengan Saya.. Kehadiran mereka menghangatkan hari2 Saya.. Kami merasa saling nyaman Bunda.. Lalu. ??

Apakah RUMAH KOTOR jadi masalah bagi Saya. ?? Oh.. Tidak sama sekali Bunda..

Bersabarlah Bunda..

Rumah kotor itu hanya # SEBENTAR saja.. Jika anak 3 sudah besar.. Kita akan MERINDUKAN # KEGILAAN seperti ini..

Lalu soal # EMOSI. ???

Lumrah Bunda.. Itu sangat MANUSIAWI.. Saya bukan malaikat.. bukan wonderwoman.. Ada saatnya Saya tercabik EMOSI..

Apa yang Saya perbuat.. Saya akan #MemejamkanMata.. Dan di situ Saya akan #mendapati .. bahwa.. Saya lebih # MENCEMASKAN anak 3 Saya dari pada Rumah Saya..

Jikalau Saya terlanjur menghardik.. Masya Allah.. Saya akan segera berlari mengambil air wudhu..

Bunda..

●Jika kita mampu melihat sesuatu dari sudut yang tepat, Maka hal yang sifatnya negatif bisa di ubah sebaliknya..

●Kita hanya perlu membingkai ulang # SudutPandang tersebut..

………Saya perbanyak SYUKUR…….

●Ketika anak 3 pulang sekolah malas2an nonton TV.. itu artinya mereka berada dirumah #BersamaSaya. Bukan di luaran nggak pulang ke rumah ketika sekolah usai..

●Ketika rumah bak kapal pecah.. banyak sampah bertebaran.. Itu artinya anak3 Saya #Sehat nggak sakit dan sukaria bermain..

●Untuk baju2 kotor.. piring2 kotor.. Itu artinya anak3 Saya #Berkecukupan makan & segalanya..

●Untuk lelah.. capek dan penat Saya di waktu mau istirahat malam.. Itu artinya Saya MAMPU # MengembanTugas sebagai ibu rumah tangga… Sambil mengerjakan kerja sampingan.. Jualan di toko. Online & lapak pasar..

Allah nggak akan membebani di luar kemampuan kita..

●Untuk semua hinaan.. Ejekan.. Kritik.. yang Saya dengar dari segelintir orang yang tidak menyukai Saya.. Itu berarti Saya ada kepasrahan # Menyandarkan segala sesuatu kepada NYA..

●Untuk setiap permasalahan hidup tentang anak 3 Saya.. itu artinya Saya di beri kesempatan oleh Allah swt untuk  Membentuk & Menyiapkan anak 3 Saya demi masa depannya..

●Saya bahagia & bersyukur di anugerahi 3 buah hati yang SEHAT & bikin air mata selalu jatuh jika kangen mereka..

Mereka adalah Malaikat2 Kecil dalam kehidupanku.. Allah telah mempercayakan # REZEKI yang maha hebat dalam kehidupan keluargaku..

Ya Rabb..

ROBBIAUZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALATTII AN ‘AMTA ‘ALAYYA WA’ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SOOLIHAN TARDHOOHU WA ADKHILNII BIROHMATIKA FII IBADIKASH SOOLIHIIN

Amin3 Ya Rabb..

Koleksi Status Inspirasi 4

1. Mengapa Bukan Ayah Saja yang Meninggal?

Ia seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 3 SD. Pada suatu hari ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat jamaah subuh. Bagi si anak, Subuh merupakan sesuatu yg sulit bagi sang anak,Namun sang anak telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid.

Lalu dengan cara bagaimana anak ini memulainya? Dibangunkan ayah? ibu? dengan alarm?… Bukan!

Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan berkumadang, ia pun ingin segera keluar menuju masjid.

Tapi…

Tatkala ia membuka pintu rumahnya suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap…

Membuat nyalinya menjadi ciut. Tahukah Anda, apa yg ia lakukan kemudian?

Tatkala itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah…

Ya… Ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang anak yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek. Begitupula cara ia pulang dari masjid.

Anak itu menjadikan perbuatannya itu sebagai kebiasaan begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah. Tak ada org tuanya yg tahu, selain hanya melihat sang anak lebih banyak tidur di siang hari dari pada bermain… Semuanya dilakukan sang bocah agar ia bisa begadang malam.

Hingga suatu ketikai…

Terdengar kabar olehnya, kakek2 itu meninggal. Sontak, si bocah menangis sesenggukan….

Sang ayah heran…”

Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu…bukan siapa-siapa kamu!”

Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru berkata,

“kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”

“A’udzu billah…, kenapa kamu berbicara seperti itu?” kata sang ayah heran.

Si bocah berkata,

“Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Suubuh, dan mengajakkku ke masjid. ..

Sementara kakek itu….

setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Subuh.”

ALLAHU AKBAR!

Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya. Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik dari anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yang semestinya taat menjalankan perintah-Nya. Akhirnya sang ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya…
2. 10 Hal Untuk Kita Renungkan…

1. Doa bukanlah “ban serep” yang kita keluarkan ketika dalam masalah, Doa adalah “kemudi” yang menunjukkan arah yang tepat…

2. Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil.? Karena masa lalu kita tidak sepenting masa depan kita. Jadi, pandanglah ke depan dan majulah…

3. Pertemanan itu seperti sebuah buku. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi membutuhkan waktu tahunan untuk menulisnya.

4. Semua hal dalam hidup adalah sementara. Jika berlangsung baik, nikmatilah… Karena tidak akan bertahan selamanya. Jika berlangsung salah, jangan khawatir… Karena juga tidak akan bertahan lama.

5. Teman lama adalah emas! Teman baru adalah berlian! Jika kita mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas! Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, kita selalu memerlukan dasar emas.

6. Seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata ” Tenang, Sayangku…, itu hanyalah sebuah belokan…, bukan akhir!

7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuanNya. Ketika Tuhan belum memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu,”Kamu tentu bisa mengatasinya..!!”.

8. Jawaban doa dari Tuhan tidak selalu “Yes”, tetapi terkadang “No” dengan lanjutan “Bukan itu yang terbaik untukmu…..Aku punya rencana lebih baik untukmu”.

9. Ketika kamu berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkanmu dan memberkati mereka…, dan terkadang, ketika kamu aman dan gembira, ingat bahwa seseorang telah mendoakanmu…

10. Khawatir tidak akan menghilangkan masalah besok, hanya akan menghilangkan kedamaian hari ini…

Semoga bermanfaat, barakallah fiikum…

3. BACALAH TULISAN INI SEBENTAR SAJA.

♡ Ketika seorang remaja putri memakai pakaian yang longgar dan panjang serta berjilbab dan tak memakai kosmetik, maka hanya segelintir pemuda sajayang meliriknya.

TAPI,,

♡ Ketika seorang remaja putri memakai pakaian yang ketat dan pendek, juga memakai kosmetik yang ‘wOow’, maka banyak pemuda yang begitu senang melihatnya…

♚ Dari situ banyak yang perlu kita pelajari ,

salah satunya :

” Barang yang murah banyak yang melihatnya. Sedangkan barang yang mahal tidak akan dilihat kecuali oleh mereka yang memang benar-benar ingin membelinya.

Semoga Bermanfaat.
4. Jika Esok Tak Pernah Datang

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Allah agar menjaga jiwamu.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.

Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.

Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.

Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?

Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari. Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.

Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.

Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”

Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.
5. Aku Yang Baru

Iya,

Gaulnya mereka, masa lalu saya.

Saya pernah sangat jauh dari agama.

Pernah jadi hamba dunia.

Pernah menganggap hidup ini tak ada akhirnya.

Pernah bertuhankan materi dan segala macam kenikmatan fana.

Pernah ingin menggenggam sangat dalam harta dan tahta.

Mungkin dahulu,

Dosa sudah menjadi nama tengah.

Khilaf sudah sangat menggerogoti hati sampai-sampai untuk beribadah pun lengah.

Salah-benar tak ada batasan lagi sehingga membuat hidup ini jengah.

Suram.

Gelap.

Hampa.

Benar,

gaulnya mereka itu masa lalu saya.

Ketika kaki menjauh dari Masjid lalu Mall/Cafe menjadi tempat menenangkan hati.

Saat shalat tergantikan dengan mencari uang sebagai ibadah wajib.

Ketika zakat berpindah ke butik sebagai sarana menghabiskan harta.

Saat puasa sunnah berubah menjadi memakan apa saja, dimana saja dan kapan saja.

Ketika qiyamul lail tergantikan dengan lembur-lembur demi menyelesaikan pekerjaan.

Ketika waktu dhuha terlupakan karena kesibukan.

Ketika membaca dan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Quran tak lebih nikmat daripada mendendangkan lagu-lagu kesukaan.

Memang,

Gaulnya mereka masa lalu saya.

Dengan bangga memamerkan kemaksiatan yang padahal sangat memalukan sekedar untuk diingat.

Sombong menghabiskan harta untuk menikmati sajian musik di konser.

Senang membeli apapun yang membuat citra diri ini naik dimata manusia.

Halal-haram tak lagi menjadi pedoman kehidupan.

Innalillahi wa innailahi roji’un.

Sesungguhnya,

pendosa yang apabila kembali ke jalan Allah tidak akan pernah tertolak taubatnya.

Jangan remehkan mereka,

Sebab seorang pendosa pun mempunyai masa depan dan seorang ahli ibadah memiliki masa lalu.

Jangan memandang rendah pendosa,

Karena kita tidak akan pernah tahu akhir hidup seseorang.

Ilmu manusia tak akan pernah dapat menembus dinding ghaib rahasiaNya.

Semoga,

Hidayah Allah mampu dan dapat melewati celah-celah sempit hati kita,

Agar kelak sebelum mati,

Kita dapat menikmati betapa sejuknya hati yang dibasahi oleh tetesan embun keimanan kepada Illahi Rabbi.
  
6. SEPELE, TAPI MARI BUKTIKAN KEBENARANNYA”

1)- Ketika kita mengeluh :

Ah mana mungkin….

Allah menjawab : 

Jika AKU menghendaki, cukup Aku berkata“Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

2)- Ketika kita mengeluh : 

Wah, letih sekali….

Allah menjawab : 

…dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An- Naba :9)

3)- Ketika kita mengeluh : 

Berat sekali ya, gak sanggup rasanya…

Allah menjawab : 

AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dgn kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)

4)- Ketika kita mengeluh : 

Stress nich, bingung?!

Allah menjawab : 

Hanya dengan mengingatKu hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’d :28)

5)- Ketika kita mengeluh : 

Yah, ini mah bakal sia-sia..deh!

Allah menjawab :

Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarahpun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al- Zalzalah :7)

6)- Ketika kita mengeluh : 

saya sendirian, gak ada seorgpun yang mau membantu…

Allah menjawab : 

Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)

7)- Ketika kita mengeluh : 

Sedih sekali rasanya…

Allah menjawab : 

La Tahzan,..Innallaha Ma’ana… Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)

8)- Ketika kita mengeluh : 

Ampun..susah banget ini kerjaan…

Allah menjawab : “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah:6-7).
8. NASIHAT UNTUK PARA ISTRI

Pandanglah Wajah Suamimu Saat Ia Tertidur Lelap.

Saat kau sudah menjadi istri, sesekali pandanglah wajah suamimu ketika ia terlelap.
Itulah orang yang tiada hubungan darah dengan mu namun tetap terus berusaha mencintaimu.

Sesekali saat suami pulang bekerja atau dari tempat usahanya, pandang wajahnya, cium tangannya.

Itulah tangan yang bekerja keras mencari rizki untuk menafkahi dirimu dan anak-anakmu. Padahal, sebelum akad nikah ia tak punya hutang budi terhadapmu. Bahkan ia mempunyai hutang budi terhadap Ibu bapaknya.

Ia memilihmu sebelum ia sempat membalas seluruh hutang budi kedua orang tuanya.

Sesekali saat kau berdua dengannya, lihatlah suamimu, pandanglah wajahnya dengan penuh sayang.

Itulah peribadi yang boleh jadi selalu menutupi masalah-masalahnya diluar rumah, agar kau tak turut sedih karenanya. Ia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri agar kau tidak ikut terbebani. Sementara kau sering mengadukan masalahmu kepadanya, berharap ia mau mengerti dan memberi solusi. Padahal bisa jadi saat itu masalahnya lebih besar daripada masalahmu.

Namun kau tetap yang diutamakannya. Semoga Allah jadikan keluarga kita sebagai keluarga yang Sakinah Mawaddah Warahmah… Aamiin..Allahuma Aamiin

9. Hai masa lalu!

Hai masa lalu.

Tidak, aku hanya ingin menyapa. Berdebukah kau? Maaf aku semakin jarang mengunjungimu. Aku disibukkan dengan masa kini dan impian masa depan. Tenang saja, aku takkan melupakanmu. Aku hanya mungkin akan jarang menengokmu.

Hai masa lalu.

Aku hanya ingin menyapa. Terimakasih pernah ada. Terimakasih pernah menjadi bagian perjalananku. Sedih pun bahagia kisahmu menjadi penguat langkahku di masa kini. Bukankah masa kini adalah hasil rentetan perjalanan masa lalu? Maka itu aku berterima kasih.

Hai masa lalu.

Aku pernah jatuh, aku pernah sakit hati. Tapi sudah kusimpan semua cerita dalam sebuah kotak kenangan, yang kunamakan masa lalu. Ya kamu. Ruangmu mungkin kini gelap, aku pasti akan sering kembali melihat ruangmu, namun hanya sebentar. Aku takkan lama-lama, sekadar melihat lagi seperti apa jalan yang kulalui dulu agar aku bisa belajar lagi jika saja masa kiniku aku lupa atau mungkin lalai menjaga langkah.

Hai masa lalu.

Lihatkah kau bagaimana aku di masa kiniku? Bagaimana menurutmu? Semoga kau bangga. Sebab apapun yang kucapai, adalah karena semua pelajaran di masa lalu begitu membekas dan mampu membentukku.

Hai masa lalu.

Mari berdamai. Aku akan belajar mendewasa. Menjadi lebih tangguh di masa kini sebagai penguat langkahku dan pemantap kisahku di masa depan.

Jazakumullah Khairaan Katsira ..❤

Kembalikan Anakku

KEMBALIKAN ANAK LELAKIKU

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu

kubilang pada ayahnya : “Subhanallah, dia benar-benar

mirip denganmu ya!”

Suamiku menjawab:“Bukankah sesuai keinginanmu?

Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku

mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al

Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:

“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya.

Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti

panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai

memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu

ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat!

Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia

dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya.

Pelajaran matematika sederhana sangat mudah

dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia

kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di

bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang

keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat

Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba

ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang

menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap

Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main

kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia

kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya,

wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka

hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke

sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya,

dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati

suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang

menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh

urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah

selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah

membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu.

Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil

tertawa-tawa lucu:

“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti

kulitmu!” Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia

tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang

ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang

pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku

pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan

kakeknya, datang bertamu.

Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia.

Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak

menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers

anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana.

Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di

kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu

kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu.

Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.

Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku

menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan

kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di

lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia

merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau

perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau

dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing

dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shalii ala Muhammad. Allahumma Shalli

alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai

Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu,

engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau

bahkan menengok seorang anak yang burung

peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata

ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,

“Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa

menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku.

Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang

tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku

tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah,

bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski

kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa

tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun

tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang

didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan

di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan

seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu

mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.

Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan

menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah,

untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita!

Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada

perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa

kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan

belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan

seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.

Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku

di tempatnya.

Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai.

Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku

bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali.

Menggendong bersama, bergantian menggantikan

popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi

sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama

mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa

sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan

perasaan saling membutuhkan yang tak pernah

terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa

mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia,

syukur pada-Mu

Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika

semua jalan tampak buntu.

Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di

tangan-Mu.

Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku

ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh

daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, Alhamdulillah.

Itu Sepenggal Kisah Nyata Kehidupan Bunda Neno

Warisman utk para Ayah Indonesia dalam buku

“Izinkan Aku Bertutur”

# reminder

# dakwah

# savefamily

Istrimu Bukan Pembantu

Repost by me.

Wahai Para Suami, Istrimu Bukan Pembantu!

Posted on January 26, 2015
Artikel ini ditulis oleh Meutia Halida (@chynatic) di blognya aisyafra.wordpress.com

(https://aisyafra.wordpress.com/2015/01/22/istrimu-bukan-pembantu/). 

Simak selengkapnya dibawah ini: Wahai Para Suami, Istrimu Bukan Pembantu!

Obrolan di suatu siang dengan seorang kawan.via Messenger.
Me : “Udah berapa bulan dek hamilnya?”

Fulanah : “Masuk trimester 3 mbak..”

Me : “Wah udah berat banget tuh rasanya.. Mau ngapa-ngapain serba salah. Begah..”

Fulanah : “Banget mbak, udah susah kalo duduk nyuci atau angkat yang berat-berat..Kalo habis ngerjain kerjaan rumah rasanya capek banget.. Nggak ada tenaga..”

Me : “Semua dikerjain sendiri? Emang suami nggak bantu-bantu dek?”

Fulanah : “Iya mbak, nggak ada pembantu. Suami mana mau bantuin aku beresin rumah. Pantang banget buat dia mbak. Aib..”

Me : “Lho, kenapa? Rasulullaah aja mau lho bantuin kerjaan istri. Kasian kamu dek, hamil besar masih harus kerja berat.. ”

Fulanah : “Entahlah mbak. Dari awal nikah emang udah begitu.. Ya mau gimana lagi..”
Saya menghela nafas panjang. Masih ada ya suami yang menganggap pekerjaan rumah adalah wilayah otoritas istri. Bahkan ketika sang istri sedang mengandung pun tak pernah mau untuk sekadar meringankan kewajibannya. Seakan-akan membantu pekerjaan rumah merupakan cela bagi dirinya selaku suami.

Suddenly I look back at my life and reflect. Betapa bersyukurnya saya, dibesarkan dalam keluarga yang memegang prinsip gotong royong dalam menyelesaikan tugas rumah tangga.

Bapak saya adalah tipe kepala rumah tangga yang tidak enggan berbagi tugas dengan istri dan anak-anaknya. Beliau tidak segan ikut membantu mencuci baju, menyapu, meracik sayuran dan sebagainya. Beliaulah yang sering kami andalkan untuk mengulek bumbu karena memang beliau orangnya telaten dan hasil ulekannya halus.

Nggak kayak anaknya yang dikit-dikit mengandalkan blender ketimbang cobek dan ulekan. Ahahaha. #ngaku

Karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang saling bantu membantu mengerjakan urusan rumah tangga, maka potret suami ideal yang terekam di benak saya sejak remaja adalah sosok suami yang dengan sukarela membantu pekerjaan istrinya. Dan itu adalah cita-cita saya sejak masih kecil.

“Aku nanti pengen punya suami yang kayak Abi. Suka bantuin pekerjaan istri!”

Dan ternyata Allah mengabulkannya. Saya dikaruniai sosok suami yang family man dan penyayang keluarga, plus suka berbagi tugas membereskan rumah dan segala printilannya. Mengepel, mencuci piring, memandikan anak- anak, membantu mengganti popok si kecil sampai memasak sendiri makanan dan menyuapi anak-anak di suatu sore ketika saya sudah terlelap karena kelelahan..

Ketika dinyatakan positif hamil sejak anak pertama, praktis saya dibebastugaskan dari kegiatan mencuci baju (waktu itu belum punya mesin cuci). 9 bulan suami yang menggantikan tugas saya mencuci baju. Dan melarang saya berkegiatan berat yang bisa bikin kelelahan. Alhamdulillah.. maka nikmat Allah mana lagi yang hendak saya dustakan? Semoga saya dapat terus belajar menjadi sosok istri yang senantiasa bersyukur atas segala keadaan.

Mendengarkan curhatan kawan saya tadi, menyimak realita yang terjadi di sekeliling saya, menyaksikan dengan mata kepala sendiri seorang istri yang bekerja keras sampai hampir kolaps sementara suami asyik santai duduk di kursi sambil baca koran.. Menyadarkan saya bahwa bagaimana seorang lelaki dibesarkan, akan mempengaruhi kepribadiannya kelak setelah dewasa. Contoh saja, bapak saya dulu adiknya banyak. 12 bersaudara. Sebagai anak ketiga, secara tidak langsung bapak dituntut untuk bersikap dewasa, berperan sebagai pengayom sekaligus pengasuh adik-adik beliau. Sering disuruh ke pasar, memasak, mencuci dan memandikan adik-adik ketika Mbah dulu sedang repot. Begitu juga dengan Papah mertua saya. Beliau suka membantu Mamah di dapur, mencuci piring, menyapu. Meskipun saat itu ada saya di dapur. Tapi beliau tidak merasa malu atau gengsi.

So I take this raw conclusion: seorang anak laki-laki yang sedari kecil melihat figur seorang ayah yang family man, penyayang dan tidak enggan membantu pekerjaan istri maka akan menerapkan hal yang sama kelak ketika ia berumahtangga.

“Fathers! Please show good role modeling to your sons by helping out at home.”

Begitu juga yang sekarang sedang saya tanamkan pada anak-anak saya, terutama Harits. Memberi pengertian bahwa tugas rumah tangga bukan monopoli kaum wanita saja.

Mengajarkan bahwa sudah menjadi kewajiban anak untuk membantu orang tuanya di rumah. Baik itu anak laki-laki atau perempuan.

Setiap hari, saya berikan anak-anak tugas- tugas ringan. Menyapu, membereskan ruang tamu, mengepel ketika menumpahkan sesuatu, menaruh sendiri piring bekas makan ke dapur, merapikan kamar tidur, menyikat wastafel dan lain sebagainya. Dan mereka mengerjakannya dengan suka cita. Iya, supaya bisa bebas mainan air. Hehehe.

Ketika saya menyuruh mereka mengerjakan ini itu.. sebetulnya manfaatnya bukan untuk saya. Memang saat itu saya merasa bersyukur karena terbantu, pekerjaan jadi lebih ringan.. But that’s not my point. Tujuan utamanya adalah agar mereka paham prinsip gotong royong dalam keluarga. Again I say: family is a teamwork. Juga melatih kemandirian, mengasah mental untuk bekerja keras dan mengajarkan mereka memikul tanggung jawab sejak kecil. Membiasakan mereka untuk rajin dan peka terhadap situasi rumah. Kalo ngeliat yang berantakan, bawaannya nggak betah karena sudah terbiasa dengan kerapian. Dan yang paling penting, mengajarkan kepada anak-anak laki agar jangan ada rasa malu ketika mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

“Mothers! Please teach your sons to help out in the house. It’s sunnah! And.their future wives will thank you!” ~Yasmin Mogahed

Boys who help their moms and husbands who help their wives with household chores? There’s nothing to be ashamed of! Kenapa harus malu? Teladan umat manusia, Rasulullaah Shalallaahu ‘Alaihi wa Sallam saja mencontohkannya.

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul.Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”,.Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.”

Dalam Syama’il karya At-Tirmidzi terdapat tambahan, “Dan memerah susu kambingnya…” Ibnu Hajar menerangkan faidah hadis ini denganmmengatakan, “Hadis ini menganjurkan untuk bersikap rendah hati dan meninggalkan kesombongan dan hendaklah seorang suami membantu istrinya.”

(Kisahmuslim.com)
Seorang suami yang baik tentu paham, istrinya bukan robot yang bisa bekerja 24 jam full tanpan kenal lelah. Istrinya bukan sosok sempurna dengan anak-anak sempurna, masakan yang sempurna dan rumah yang sempurna tanpa cela. Dia tak sempurna seperti juga dirimu yang jauh dari kata sempurna.

Istrimu adalah partner hidupmu, cinta sejatimu, ibu dari anak-anakmu. Istrimu, dengan segala keterbatasannya adalah juga manusia biasa. Sama halnya sepertimu, ia bisa merasa lelah, marah, jenuh dan tak berguna.

Istrimu, bukan pembantumu. Dan ia sama sekali tak layak kau anggap sedemikian rupa..Seandainya engkau posisikan dirinya sebagai pembantu dengan nafkah bulanan yang engkau berikan sebagai gajinya, maka berapa nominal yang pantas engkau berikan sebagai penebus jasa-jasanya selama ini? Berapa jumlah rupiah.kau sanggup untuk membayarnya? Dengan job description yang demikian banyaknya, skill multitasking dan kepiawaiannya menuntaskan beberapa tugas rumah secara bersamaan, mengasuh anak, memasak makananmu, mengajari anakmu ilmu-ilmu baru, melayani dirimu, mengatur keuangan.keluarga, bahkan ikut serta mengambil peran mencari nafkah. Juga mengandung serta melahirkan anak- anakmu dari rahimnya dengan susah payah dan penuh perjuangan. Dapatkah engkau.membayarnya dengan uang?

Maka perlakukan istrimu dengan sebaik-baik perlakuan. Lembutkanlah perkataanmu, berilah.ia udzur atas kekurangannya, seperti ia memberi udzur atas kekuranganmu. Dan jika ia bengkok dan keliru, luruskanlah dengan hikmah dan kasih sayang, bukan dengan keangkuhan dan kekerasanmu yang justru akan mematahkannya.

Luangkanlah waktu untuk berduaan saja dengannya, dengarkanlah keluh kesahnya, jadilah sahabat terbaik baginya untuk mencurahkan isi hati. Dan ketika ia penat, jadilah bahu untuknya bersandar. Kalau bukan kepada engkau, suaminya.. kepada siapa lagi ia hendak menumpahkan rasa?

Dukunglah ia (istrimu) untuk meng-upgrade skill dan passionnya yang terpendam selama ini.
Mengikuti berbagai kursus, mengembangkan bakat, mengikuti seminar-seminar yang bermanfaat dan dauroh khusus muslimah. Selama itu bermanfaat dan tidak melanggarnsyari’at, why not?

Berilah ia sedikit jeda dari rutinitas hariannya. Seorang istri  butuh waktu untuk sendiri, untuk berkumpul dengan kawan-kawannya, untuk menyegarkan pikiran sejenak dari tugas-tugas rumah tangga yang seperti tak ada habisnya. Bahkan seorang pembantu rumah tangga memiliki hari libur dan hak untuk mengajukan cuti.

Bagaimana dengan seorang ibu? Adakah waktu libur baginya? Nyaris tak pernah ada. Karena bagi seorang wanita, menjadi ibu bukanlah profesi. Ia adalah kehidupan sekaligus tempatnya mengaktualisasikan diri dengan penuh dedikasi. Being a mother is truly a blessing ❤

Selalu dan senantiasa.. Ingatkan kembali tujuan hidup kalian berdua selama ini: striving your way together to reach Jannah. Karena kebersamaan di dunia ini tidaklah cukup. Jika engkau masih enggan untuk turut membantunya dalam pekerjaannya, maka setidaknya, maklumilah dia.. Abaikanlah debu- debu yang menempel di lantai ruang tamu, mainan-mainan yang berserakan di lantai, makanan yang belum siap terhidang di meja.. Yang kaudapati di suatu sore ketika engkau pulang kerja. Maklumilah bahwa ia hanya punya dua tangan, dua kaki dan satu kepala untuk menuntaskan semua kewajibannya yang hampir tak terhingga itu. Maklumilah bahwa ia hanya sosok wanita biasa dengan tuntutan-tuntutan yang sederhana. Yaitu agar engkau selalu mencintai, mengerti dan menerima dirinya, sepenuhnya. Karena dalamnkehidupan perkawinan kalian berdua, baginya tidak ada yang lebih penting lagi daripada itu.

~ Jakarta, a morning after the rain has fall..

January 2015

Suami/Istri Idaman

[Mengapa aku tidak membantu istriku]

Seorang teman datang untuk ngopi ke rumah saya, dan kita duduk dan ngobrol soal kehidupan.

Saat lagi nyantai, saya pamit ke teman, “aku cuci piring dulu sebentar, nanti aku balik lagi.”

Teman saya memandang saya dengan ekspresi seolah- olah saya akan pergi membangun roket luar angkasa.

Dengan sedikit terkejut, ia berkata pada saya dengan terkagum-kagum, “Hebat bener yah kamu bantu istrimu,

kalau aku sih ngga terlalu bantu, soalnya kalau aku bantuin istri, ngga ada pujian sedikitpun. Minggu lalu aku ngepel lantai, tapi dia nggak bilang makasih sama sekali.”

Saya kembali duduk bersamanya dan menjelaskan bahwa saya tidak “membantu” istri saya.

Sebenarnya, istri saya tidak butuh bantuan… ia membutuhkan seorang partner.

Saya tidak membantu istri saya membersihkan rumah… karena saya juga tinggal di rumah ini dan saya harus membersihkannya juga.

Saya tidak membantu istri saya masak… saya masak karena saya lapar dan ingin makan.

Saya tidak membantu istri saya mencuci piring setelah makan… karena saya juga menggunakan piring-piring itu.

Saya tidak membantu istri saya mengasuh anak-anak… karena mereka adalah anak-anak saya, dan itu adalah kewajiban saya sebagai seorang ayah.

Saya tidak membantu istri saya mencuci, menjemur, dan melipat pakaian… karena pakaian itu juga milik saya dan anak-anak saya.

Di rumah, peran saya bukan untuk “membantu”… tapi saya adalah “bagian” dari rumah itu.

Saya bertanya pada teman saya, “pernahkah kamu berpikir seperti itu? Ketika kamu, mengepel lantai, sekali saja, kamu mengharapkan pujian dan kehormatan?

Kenapa?”

Saya bertanya lagi padanya, “kapan terakhir kali kamu bilang terima kasih, setelah istrimu selesai membersihkan rumah, mencuci baju, memandikan anak, masak, merapikan barang, dll?”

“Mungkin bagi kamu, di mana laki-laki dielu-elukan, seolah-olah semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab istri. dan para suami cuma terima beres saja?”

“Bantulah istrimu dan bersikaplah seperti pendamping yang sejati, bukan tamu, yang cuma pulang untuk makan, tidur, mandi, dan dituruti keinginannya.”

Perubahan dalam masyarakat dimulai dari rumah kita.

Mari ajarkan putra-putri kita arti kebersamaan yang sesungguhnya.

♡♡♡

AKU BUKAN SEDANG MEMBANTU ISTRIKU

Sebulan lalu temanku datang dari Cianjur ke rumah untuk silahturahim, kami duduk bersama dan mengobrol banyak tentang pengalaman kami kuliah di Saudi Arabia tepatnya di Kota Riyadh.

Di tengah pembicaraan, aku bilang :

Maaf ya bro…!!!

“Aku mau nyucuci piring, tunggu sebentar ya”

Dia menatap ku seolah aku barusan bilang bahwa aku akan membangun sebuah roket.

Lalu dia berkata padaku dengan rasa kagum tapi sedikit bingung :

“Aku senang kau membantu istrimu. Kalo aku sih…. gak bantuin istriku, karena pas ku bantu, dia gak memujiku. Minggu lalu aku mengepel lantai dan dia gak ngucapin terima kasih.”

Aku duduk lagi dan menjelaskan pada temanku ini, bahwa aku gak sedang “membantu” istriku.

Sebenarnya, istriku gak butuh bantuan, tapi dia butuh partner. Aku adalah seorang partner di rumah dan kadang stigma di masyarakat yang membuatnya seolah suami dan istri memiliki peran yang berbeda soal pekerjaan rumah tangga. Istri mengerjakan semua, dan suami tidak membantu. Atau kalaupun membantu, hanya sedikit saja. Tapi sebenarnya itu bukan sebuah “bantuan” untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Aku bukan sedang membantu istriku membersihkan rumah. Karena aku juga tinggal di rumah ini, maka aku perlu ikut membersihkannya juga.

Aku bukan sedang membantu istriku memasak. Tapi.karena aku juga ingin makan, maka aku perlu ikut memasak.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci piring setelah makan. Tapi krn aku jugalah yg memakai piring- piring itu, maka aku ikut mencucinya.

Aku bukan sedang membantu istriku mengurus anak-anak nya. Tapi krn mereka adalah anak-anakku juga, maka sebgai ayahnya, aku wajib ikut mengasuh mereka.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci dan melipat baju. Tapi karena baju-baju itu jg milikku dan anak- anakku, maka aku ikut membereskannya juga.

Aku bukan sebuah Bantuan di rumah, tapi aku adalah Bagian dari rumah ini.

Dan soal pujian, aku memintamu wahai temanku, nanti setelah istrimu membersihkan rumah, mencuci baju, mengganti sprei, memandikan anak, memasak, membereskan barang, dll, kau hrs mengucapkan terima kasih padanya, tapi harus

ucapan terima kasih yg spesial, seperti :

“Wow, Sayangkuu!! Kamu hebatt!!!”

Apa itu terasa konyol bagimu?

Apa kau merasa aneh?

Padahal ketika kau, cuma sekali seumur hidup mengepel lantai, lalu setelah selesai kau mengharapkan sebuah pujian besar dari istrimu, apa itu gak lebih aneh ? Pernahkah kau berpikir sejauh itu?

Mungkin karena bagimu, budaya patriaki mengukuhkan bahwa semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawab.istri.

Mungkin kau kira, mengerjakan semua pekerjaan rumah.yang banyak itu, bisa diselesaikan tanpa menggerakkan jari? Maka hargai dan puji istrimu seperti kau ingin dihargai dan dipuji, dengan cara dan perlakuan yg sama.

Maka ulurkan tanganmu untuk membantunya, bersikaplah seperti Partner sejati. Bukan seperti tamu yg datang hanya untuk makan, tidur, mandi dan terpenuhi kepuasannya.

Merasa nyamanlah di rumahmu sendiri.

Perubahan nyata dari masyarakat, dimulai dari rumah kita. Mari ajarkan anak lelaki dan perempuan kita, arti sebenarnya dari kebersamaan keluarga.

♡♡♡
Wahai Ayah, Perhatikan Ketika Menikahkan Putrimu

Wahai Ayah

Perhatikan perkataan ulama berikut:

“Janganlah kamu menikahkan putrimu kecuali dengan laki-laki yang bertakwa. Karena jika dia mencintai istrinya maka akan memuliakannya dan jika tidak suka maka tidak akan mendzaliminya.” [1]

Wahai ayah,

Engkau tahu mengapa Laki-laki tidak perlu ada wali nikah Sedangkan wanita wajib?

Karena tugas wali adalah Menjaga anak perempuannya Dari laki-laki tidak bertakwa yang Hanya ingin manisnya saja Lalu dibuang hempaskan.

Anak perempuan mudah sekali Terlena bahkan “gelap mata” Dengan romatis sesaat & Pengorbanan semu laki-lakiPadahal ia rubah bertopeng kelinci.

Tugas engkau wahai ayah, Karena anak perempuan-mu Akan menjadi “tawanan” suaminya .Susah lepas sekali terikat. 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Hendaknya kalian berwasiat yang baik untuk para wanita karena mereka sesungguhnya hanyalah tawanan yang TERTAWAN oleh kalian” [2]

Tugas kalian wahai ayah:

1) Perbaiki diri kalian dengan takwa dan kebaikan.

2) Segera nikahkan jika laki-laki yang datang TERBUKTI baik agama dan akhlaknya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai akhlak dan agamnya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas.” [3]
♡♡♡
Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan mataku bagaimana kau menjadi istri di hari pertama pernikahan kita. Aku menyaksikan punggungmu dari bingkai pintu, saat kau sedang asyik membuatkan nasi goreng di dapur untukku. Kau menoleh, secepat kilat aku pun bersembunyi.

Kau mengerutkan dahi. ‘Kayak ada yang ngintip?’

begitulah mungkin kau berfikir. ‘Memang’, batinku… hehe. Aku menutupi tawa renyah dengan gumpalan tangan.

Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan retinaku bagaimana kau mengusap peluh di pelipismu. Kau sepertinya capek sekali. Pagi-pagi sudah membereskan rumah, menyiapkan sarapan, dan juga merapikan baju- baju. Maafkan jika hari itu aku pura-pura tidur, ya. Tak membantumu. Aku hanya ingin merekam semua kebaikanmu, Sayang. Agar ketika di suatu saat aku jengkel dan kesal kepadamu, rekaman itu dapat diputar kembali; untuk kemudian meredamkan amarah di hati.

Sebab kau terlalu baik untuk disakiti.

Kau, yang dengan rela meninggalkan orangtuamu demi menemani dan melayani aku. Meninggalkan kemanjaan bersama papahmu. Meninggalkan kehangatan bersama mamahmu. Itu semua demi aku? Lelaki yang baru dikenalmu ini? Oh sungguh, Dik. Aku akan memurkai diriku sendiri jika seandainya aku menyakiti dirimu.

Tidak. Aku tak akan menyakitimu. Aku akan berusaha untuk itu, Dik.

Kau, seorang perempuan yang dengan ikhlas melepaskan harapan, cita-cita, dan impian hanya untuk mewakafkan sisa hidupmu untuk lelaki seperti diriku. Melayaniku di sepenuh hari. Menenemaniku di sepanjang umur. 

Oh, Dik. Bagaimana mungkin mata ini melototimu sedang aku melihat semuanya. Melihat pengorbananmu untukku.

Aku mungkin akan marah di sesekali waktu, namun sekeras-kerasnya marahku adalah setukil senyuman.

Tidak akan kubiarkan tangan, lisan, atau bahkan hatiku melukai dirimu, Dik. Insya Allah.

“Abi, sarapan dulu,” titahmu di mulut pintu. Aku masih membungkus tubuhku dengan selimut. Tak berani menoleh. Aku takut kau tahu kalau mataku sedikit basah. Maaf, aku memang selalu cengeng untukmu, .

‘Makasih’. Barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan derai ini.

“Abi masih tidur? Capek ya?” tanyamu. Kini kau sudah.duduk di tebing kasur. Mengusap bahuku dengan lembut, dan bilang… “Ya udah, adik panasin aja ya nasi gorengnya?”

“O enggak, Dik,” ujarku sambil menyingkap selimut,

“Udah bangun kok.”

Kau menatapku. Menyipitkan sebelah mata, lalu menyentuhkan ujung jempol di sudut mataku, “Abi kayak orang nangis?”

Aku langsung mengocek-ngocek mata. “Siapa yang nangis, Dik,” kilahku, “kalau bangun biasa berair seperti ini abi mah.”

Aku nyengir. Maaf, ya.

Kau ikutan nyengir. “Kebiasaan yang aneh,” katamu menggeleng.

.

Maaf ya, Dik. Aku baru saja berbohong. Tak apa, kan?

“Ini nasgor spesial buat abi,” katamu di meja makan,

“cobain deh.”

Kau tahu, Dik. Andai ini keasinan, maafkan sebab aku akan berbohong lagi, mengatakan bahwa ini makanan terlezat di muka bumi. Aku mengacungkan dua jempol,

“Wenak,” pujiku dengan makanan yang masih tertahan di mulut. Aku tak perlu berbohong, ini memang enak. Asli.

Sebenarnya, ada kebohongan lagi. Ini hari Senin, dan aku selalu melaksanakan puasa Sunnah di hari ini. Aku sudah sahur jam dua tadi saat kau tengah terlelap. Tapi baiklah, tak apa tak puasa sehari. Demi menghormatimu.

Demi mencicipi makananmu. “Adik tak ikut makan?” tanyaku sambil melahap, menghabiskan hampir setengah piring.

Kau tersenyum, “Ini kan hari senin, Bi. Maaf, ya. Adik lagi puasa.”

Puasa? Aku tersedak. Mataku membulat.

“Kenapa, Bi?”

“Abi sebenarnya sedang puasa juga, Dik. Curang.”

“Kenapa gak bilang dari tadi?” tanyamu sambil menahan tawa.

“Ya adik gak nanya sih.” sahutku pura-pura marah.

Tak disangka, kau meraih gelas. Menenggak air.

Menatapku dengan sedikit senyum saat mulutmu tepat di ujung gelas.

“Katanya puasa,” heranku.

“Dibatalin aja, Bi.”

“Kenapa?”

“Ngehormatin kamu.”

Aku tersenyum. Senyum paling manis.

Ya. Islam adalah ajaran sederhana. Puasa di luar Ramadhan adalah sunnah, sedang menyenangkan pasangan adalah wajib. Kita harus bersyukur dengan ajaran mulia ini, Dik.

“Abi?”

“Iya, Dik?”

“Suapiiiiiiin….”.

Ah, selain iman dan Islam, kau adalah nikmat terindahku, Dik. Kau adalah surgaku. Selamanya.

HATI YANG BERKARAT ❣

“Sesungguhnya, hati itu dapat berkarat sebagaimana besi berkarat. Rasulullah ﷺ lalu ditanya: Apa yang bisa membuat hati agar tidak berkarat? Rasul menjawab: Membaca Alquran dan mengingat kematian.” (HR al-Baihaqi).
Dalam diri manusia ada hati. Jika ia baik maka baik juga seluruh anggota tubuhnya, sebaliknya jika ia buruk maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. 

Hati yang baik akan bercahaya dan hati yang buruk akan tertutup noda hitam. Jika noda hitam ini tidak dibersihkan dengan segera, niscaya ia akan menutupi seluruh hati sampai hitam legam dan gelap hingga akhirnya mematikannya.

Demikian yang Nabi ﷺ sampaikan dalam hadisnya, “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula jasad tersebut, dan sebaliknya apabila ia buruk maka jasad itu akan menjadi buruk pula. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (hati).” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Noda hitam yang disebut menutupi hati seperti dikatakan Nabi ﷺ adalah dosa dan maksiat, baik itu kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Beliau mengistilahkannya dengan ran (titik hitam). Beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu dosa maka akan ada titik hitam di hatinya. Apabila ia meninggalkannya, meminta ampun dan bertobat kepada Allah, hatinya bersih kembali. Apabila ia kembali berdosa, titik hitam itu akan kembali lagi hingga menutupi hatinya. Itulah yang disebut ran,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Noda hitam itu membuat hati menjadi berkarat. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani mengatakan, hati itu bisa berkarat. Namun, sebagaimana yang dinasihatkan Nabi ﷺ, jika pemiliknya merawatnya dengan baik maka hati itu akan bercahaya kembali. Jika tidak dirawat, hati akan menjadi hitam kelam karena jauh dari nur (cahaya). 

Selain karena dosa, kata sang Syekh, hati menjadi hitam juga karena cinta dan rakusnya terhadap dunia, tanpa punya sikap wara’. Orang seperti ini akan terus-menerus mengumpulkan dunia tanpa pernah merasa puas, sampai melakukannya dengan cara yang diharamkan.

Alquran adalah kalamullah.  Agar hati tidak berkarat, mudarasah Al quran harus terus dilakukan dan dibudayakan; bukan sekadar mengaji (tilawah), membaca, dan mempelajari pesannya (qira’ah wa tadarus), melainkan memahami, menerjemahkan, dan mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam ke hidupan nyata (mudarasah), sehingga spirit Alquran itu menjiwai dan menggelorakan kehidupan yang semakin jauh dari nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keadilan, keindahan, dan kedamaian.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS al-Isra [17]: 82).

Mengingat mati juga bisa membersihkan karat di hati.

Dengan mengingat mati, seseorang akan menyadari dirinya, mengingat dosanya, lalu berusaha memperbaiki dirinya menjadi lebih baik.

Nabi Muhammad ﷺ mengatakan, 

“Perbanyaklah mengingat mati karena sesungguhnya mengingat mati itu dapat menghilangkan dosa-dosa dan menjadikannya zuhud terhadap dunia.” 

(HR Ibnu Abi ad-Dunya).

Wallahu a’lam.

SILAHKAN DI SHARE.

BERBAGI KEBAIKAN ITU KEWAJIBAN KITA SEBAGAI SEORANG MUSLIM.