​Aku, Lilin dan Kecoa

♡Cerpen Penerang Hati♡

Malam ini adalah malam seperti malam-malam sebelumnya. Aku yang telah berjam-jam duduk diatas ranjang terbawa arus drama yang aku ikuti. Kubiarkan jendela kamarku terbuka. Aku suka dengan dinginnya angin malam. Sangat menentramkan jiwa. Waktu telah menunjukan pukul 12:21 dan aku masih serius mengikuti kisah seorang Ratu hebat dalam drama The Great Queen Seon Deok, satu-satunya K-Drama kesukaanku. Waktu mengalir begitu saja. Menit-menit berlalu dalam sekejap. Aku menoleh kearah jam dinding, 

“Apa? Jam 1 ? Kirain masih jam 8. Ok, masih jam 1, masih bisa beberapa episode lagi” batinku.

Tiba-tiba, aku merasa aneh. Entahlah. Aku merasa antara kesepian dan takut. Aneh sekali, aku belum pernah merasakan hal ini di malam-malam sebelumnya.

“Apa ini? Kemarin-kemarin nontonnya diakhiri pas dah  masuk waktu Shubuh. Malam ini kenapa begini? Aku merasa sepi? Tidak mungkin. Mungkin ini perasaanku saja”

Aku jeda dramanya kemudian menengok keluar dari jendela, mengintai pohon-pohon disekeliling rumahku.

“Adakah hantu disini yang ingin menggangguku? Hantu? Ah, aku tidak takut hantu”

Aku kembali nonton drama yang barusan aku tinggalkan. Tiba-tiba padam listrik alias mati lampu.

“Apa ini? Apalagi ini? Apa yang terjadi malam ini? Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui”.

Angin malam yang masuk kedalam kamar terasa sangat dingin. Jauh lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Aneh. Aku menutup jendela karena aku tidak tahan dengan dinginnya. Aku menelimuti tubuhku dengan selimut merah kesayanganku yang selalu ampuh mengusir dingin dalam seketika. Tapi kali ini, ia gagal. Aneh.

“Apakah aku demam? Tidak? Ini bukan demam. Aku pernah demam dan aku tahu persis seperti apa rasanya dan ini…. ini bukan demam. Aku kenapa? Aku kenapa?” Batinku dengan wajah terheran-heran. Keanehan belum berhenti sampai disini pemirsa. Aku yang selalu serius mengikuti alur drama kesayanganku itu kali ini tidak. Mataku memang mengarah ke layar laptop tapi hati dan pikiranku tidak. Aku matikan laptopnya.

“Waduh, gelap. Tadi kamar sedikit terang karena ada cahaya laptop. Bakar lilin aja deh”.

Aku membakar lilin yang sengaja ku simpan lengkap dengan korek didalam laci meja ditepi ranjangku. Dan sedihnya, lilinnya tinggal sedikit sekali. Kubakar lilin itu dan tadaaaaaaaa, teranglah seluruh sudut kamar. Masalah belum selesai sampai di nyala lilin yang menerangi kamar pemirsah. Aku berusaha untuk tidur tapi aku tidak merasakan kantuk sedikitpun. Akhirnya aku hanya duduk, peluk bantal sambil memandang lilin. Rasa aneh yang sedari tadi menggangguku semakin parah. Aku merasa sangat sedih dan kelisah dan aku tidak tahu mengapa. Pandanganku tetap tertuju pada lilin itu. Menit demi menit berlalu, lilin pun semakin pendek. Dan aku tahu, nyalanya tidak akan bertahan lama. Ia akan terus meleleh hingga padam.  Aku mencoba menyalakan HP, tapi tidak bisa karena habis daya. Sebelum cahaya lilinnya sirna, aku berbisik,

“Ya Allah, Apa yang Engkau kehendaki pada hamba dengan lilin ini?”

Sontak, aku menatap lilin yang terus meleleh itu sambil menyipitkan mata. Dan dalam hati aku berkata “Lilin adalah umur. Setiap detik yang berlalu, mendekatkan aku kepada kematian. Layaknya cahaya lilin yang akan berakhir, hidupku juga akan berakhir. Mati”.

Lilinnya hampir habis. Aku menatap seluruh isi kamarku. Aku tiba-tiba merasa takut dan kesepian. Sangaaaat hening. Yang terdengar hanyalah hembusan nafasku, dentuman jantungku, “Tik tik tik tok” dari jam dinding dan “Krik krik krik” dari jangkrik-jangrik yang berpesta diluar sana. “Sontak, aku auto berpikir,

“Jika aku merasa seperti ini padahal aku tidak sendiri karena ada adikku yang sedang tertidur disisiku, bagaimana jika…. jika dikubur nanti….. tentunya aku akan sendiri. Mengerikan. Mengerikan. Aku sangat terbiasa dengan luasnya kamar ini, aku sangat menyukainya. Bagaimana jika hidupku sampai dibatas akhir usia dan…. suka atau tidak suka, mau tidak mau aku akan tetap diletakan di dalam liang yang sempit alias kubur itu.

Sedihnya aku tidak bisa membawa lilin, bantal dan selimut kesayanganku kedalam kamar sempitku/kubur itu. Kalau selimut tebal saja tidak mampu menghangatkanku, bagaimana jadinya aku nanti dimalam-malam sunyi dan dingin, aku diapit aku tanah dan aku hanya dibalut dengan kain putih?”

Tubuhku gemetar, aku menjadi semakin takut.

“Apakah aku sudah siap untuk mati? Bagaimana jika Izrail datang detik ini juga?”

Seluruh tubuhku menggigil. Tanganku mendekap bantal dengan gemetar.

“Apa ini? Apa ini? Apa ini?”

Aku bertanya pada diri sendiri.  Rasanya tidak ingin aku bangunkan mama, papa dan adikku saat mereka sedang tertidur pulas saat ini.

Lilin yang menyala itu saat hampir berakhir menemaniku. Dalam kesempatan yang tersisa, tiba-tiba seekor kecoa yang entah dari mana datang dan terbang mondar-mandir dalam kamarku dan hinggap di dekat lilin, tepat dihadapanku dan mataku lansung tertuju padanya. Aku kaget bukan kepalang. Kejutan masih belum habis pemirsah.

Setelah  jantungku terasa hampir berhenti berdetak gara-gara kecoa itu, dalam hati,

“Ya Allah… Ya Allah Ya Rabbi….Apa yang Engkau kehendaki padaku  dengan seekor kecoa ini?”

Sontak, kecoa itu terbang lagi mengelilingi kamar kemudian hinggap pada sebuah bingkai foto yang berada tepat disisiku. Aku fokuskan pandanganku pada kecoa itu itu kemudian pandanganku beralih pada sebuah kalimat yang ku cetak diatas kertas dan ku pasang dalam bingkai tersebut. Retinaku menangkap kalimat itu dengan jelas.

Dan tulisan itu berbunyi: “Hanya AKU & AMALANKU DI SINI (KUBUR) NANTI”. Dan latar tulisan itu adalah sebuah gambar liang lahat dengan bentuk persegi panjang dan terlihat sempit. Mengerikan. Menakutkan.

Aku menatap tulisan itu dalam-dalam. Rasanya tenagaku tiba-tiba sirna. Aku merasa lelah, lemas atau bahkan tak bernyawa. Kecoa itu kemudian terbang lagi dan keluar melewati fantalasi jendela kamarku. Lilin akhirnya padam. Gelap gulita.

Tidak peduli bahwa tidak ada cahaya sedikit pun dalam kamar, aku Menganalisa kembali urutan kejadian aneh sejak awal hingga akhir. Sendirian dalam gelap di malam sunyi seperti sangat menakutkan. Padahal adikku di sampingku dan orang tuaku ada di kamar sebelah. Bagaimana jika aku benar-benar berada dalam kubur nanti? Gelap, dingin, sempit dan pastinya aku benar-benar akan berada disana sendiri. Jika seekor kecoa kecil yang muncul tiba-tiba itu saja hampir membuat jantungku copot, apalagi jika aku benar-benar menghadapi malaikat Mungkar & Nakir? Malaikat Ruman? Apakah aku berani menulis daftar maksiatku dihadapannya? Jika aku malu dan takut, mengapa ketika melakukat maksiat itu aku tidak malu dan takut kepada Allah? Malaikat Ruman pasti akan menghancurkan jasadku (semoga merahmatiku, aamiin).

Meskipun tidak bisa melihat apa-apa disekitarku saat ini, aku tahu bahwa aku sedang berada dalam kamarku. Kamar yang kelak akan aku tinggalkan. Entah tahun depan, 1 bulan lagi, 1 hari lagi atau bahkan satu jam lagi. Orang yang masuk kesini akan berkata “Ini kamar Ririn. Dia biasanya suka memghabiskan waktunya disini. Tapi sekarang dia sudah bercampur dengan tanah”. 

Sontak, air mataku mengalir. Menetes bersusulan. Sebuah tulisan yang pernah ku baca terlintas jelas dalam pikiranku. Bahwasanya:

(Ketika jantungmku berhenti, MATI tidak perlu dicemaskan).

Tidak perlu ku perdulikan jasadku yang akan hancur. Karena kaum muslimin akan melaksanakan kewajiban mereka:

1. Memandikanku

2. Mengkafaniku

3. Menyolatiku

4. MENGUBURKU.

Dan aku tahu persis!!!* bahwa:

*Dunia tidak sedih karena kematianku*

~Alam semesta tidak berduka atas kepergianku !

~Segala sesuatu akan berjalan seperti biasa dan tidak berubah dengan perpisahanku!!

~Perekonomian akan terus berputar!

~Pekerjaanku, akan digantikan orang lain!

Hartaku akan pindah tangan secara halal kepada ahli waris!

Sementara AKU  yang akan dihisab atas segala sesuatu hingga perkara yang sederhana dan kecil!!

Yang pertama lepas dariku  adalah namaku..

Saat Aku meninggal dunia: Orang2 bertanya : Dimana mayatnya ? Mereka tidak memanggilku dengan namaku!! Namaku tinggal kenangan belaka.

Ketika mereka akan menshalati, mereka bilang : Bawa sini jenazahnya!!! Mereka tidak menyebutkan namaku. Betapa cepat namaku hilang berlalu…. 

Ketika mereka akan menguburkanku, mereka berkata: Dekatkan mayitnya!! tanpa menyebutkan namaku..

_*Karena itu… 

Aku jangan sampai tertipu oleh kehormatan dan kelebihan kelompokku…!!*

Jangan sampai aku terperdaya oleh kedudukan dan nasab keturunanku…!!

* Alangkah sepelenya dunia ini… dan betapa besar apa yang akan kita hadapi… *

_Kesedihan orang atas kepergianku ada tiga macam:

1. Orang yang mengenalku sepintas akan mengatakan: Kasihan… !! 

2. Teman dan sahabatku akan bersedih beberapa saat atau beberapa hari, kemudian mereka kembali pada rutinitas dan canda tawa mereka.

3. Kesedihan mendalam di rumah… Keluargaku akan bersedih sepekan… satu-dua bulan atau hingga satu tahun… Kemudian mereka akan meletakkanku dalam album kenangan…

Demikianlah…

Kisahku di antara manusia telah terakhir…BERAKHIR.

AKU  hanya tinggal ALBUM KENANGAN 

*Kisahku yang sebenarnya baru dimulai… bersama sesuatu yang nyata, yaitu: Alam Kubur menuju Alam akhirat *

Ketika Ajal kita tiba, maka akan lepas dari kita:

1. Kecantikan/ketampanan.

2. Harta

3. Kesehatan

4. Anak

5. Rumah. 

6. Istri/suami

7. Kehidupan.

Lantunan Adzan merdu hancurkan alam sunyi. Dalam waktu yang sama, lampu pun kembali menyala. 

“Kak, Shubuh?” Tanya adikku yang terjaga karena silau lampu.

“Bukan, Isyaaaa. Ya Shubuh lah. Tuh tengok jam, 04:55. Bagun… Jangan malas”. Aku bicara sambil membelakanginya. Ia pun bangun dan mengucek matanya. Aku menghapus airmataku.

“Kakak? Ada apa?” Tanya adikku dengan wajah bingung.

“Ceritanya panjang. Akan kakak ceritakan ba’da Shubuh. Yuk!”

Sekian kisah aneh yang kualami dalam semalaman.

Teruntuk saudara/i seiman,  jadikanlah akhirat sebagai tujuan hidup kita… 

Saudara/i ku seiman, mengapa aku harus menulis ini? Karena aku ingin mengingatkanmu. Bahwasanya: Ketika ajal datang, maka saat itu juga semua keduniaanmu berakhir.. Jika engkau telah dibaringkan di kuburmu.. dan engkau telah menghadap Rabbmu. Maka tidak akan berguna lagi pujian dan sanjungan manusia kepadamu.

Tidak akan bermanfaat lagi banyaknya orang yang bertepuk tangan untukmu. Tidak akan ada efeknya lagi banyaknya like pada statusmu, begitu pula banyaknya teman dan follower-mu.

Yang nantinya akan bermanfaat dan berguna bagimu adalah : 

– sujud yang kau sembunyikan. (Jangan abaikan shalat yang 5)

– linangan air mata yang kau teteskan karena takut kepada Allah. (Sering ingat dosa, bukan pacar. Ingat, Tidak ada pacaran dalam Islam).

– amal jariyah yang kau salurkan untuk agama Allah. (Jangan kumpul-kumpul harta tapi kikir)

– bacaan Qur’an dan dzikir yang kau lirihkan karena dorongan keikhlasan. (Rajin baca Qur’an sahabat, bukan statusnya orang yang gak penting).

– uluran tanganmu dalam membantu dan meringankan beban hidup orang lain. (Aku tahu kamu orangnya. Love you).

– dan amal shaleh apapun yang kau lakukan dengan keikhlasan yang sebenarnya. (4 The sake of Allah).

Oh, ada satu lagi pesan yang aku ingin Sahabatku yang sangat aku sayangi camkan dalam jiwanya. Shalat! Sahabat, Awas hati-hati. Liat baik-baik. Jangan pernah… ya. Jangan pernah meinggalkan shalat yang 5. Itu rukun Islam lho. Kalo mau jadi orang Islam ya shalat. Jangan hanya Islam hanya sebatas Kartu biru kecil (KTP). Shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab. Ingat.

Oh ya, Sahabat. Rencananya minggu ini aku libur nonton K-Drama Ratu Seon kesukaanku itu. Karena aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat. Temui aku di Surau pada waktu biasa kita gunakan untuk bertemu di bawah pohon beringin.

Aku sangat berharap, semoga dalam setiap udara yang kita hirup, setiap nafas yang kita hembuskan, setiap detakan jantung, denyutan nadi, setiap langkah, setiap gerakan…. Semoga Allah selalu menyirami kita dengan rahmat-Nya. Menuntun kita berjalan di atas jalan-Nya yang lurus sehingga kita tidak merasa berat untuk beribadah kepada-Nya. Berat ibadah karena banyaknya dosa dan hati yang kuasai Syaitan untuk mengejar dunia yang memperdaya ini. Dan ibadah akan terasa indah jika kita benar-benar mencintai Allah. Bukan hanya cinta sebatas Lisan.

“Tanpa CINTA, semua IBADAH adalah BEDAN”.

#hanya_aku_&_amalku