Hijrahku

05 Jan 2019

Aku pun dengan sisa-sisa suaraku, mencoba memanggil-manggil namamu. 

“Oo… Muhammadku… Oo Muhammad ku. Dimana-mana sesama saudara saling cakar merebut benar sambil terus berbuat kesalahan. Qu’ran dan sabdamu hanyalah kendaraan masing-masing mereka yang berkepentingan. Aku pun meninggalkan mereka, mencarimu dalam sepi rinduku. Aku merindukanmu ooh Muhammadku. 

Duhai baginda cintaku, jikalau engkau sudi menampakan wajahmu kepadaku sekejab saja, Sungguh… betapa malunya diriku yang begitu bangga mengaku sebagai umatmu. Namun jauh akhlakku dari harapanmu. Sangat memalukan.

Pantaskah aku peroleh syafaat darimu?

Dulu. . Aku selalu abaikan semua peringatan yang kau sampaikan dari Allah. Tidak shalat adalah hal biasa bagiku. Aku membuka auratku padahal aku tahu bahwa Islam mewajibkan waita muslimah untuk berjilbab syar’i. Terbuai dengan musik walau aku sudah tahu bahwa Islam mengharamkan musik dan alat musik. Aku berbaur, berteman dekat dengan laki-laki padahal aku tahu bahwa Islam sangat membatasi dan mengatur pergaulan perempuan muslimah demi menjaga kehormatan mereka. Teman hiburan, bertamasya, ngumpul-ngumpul bareng teman adalah kesenanganku. Aku selalu membicarakan keburukan orang lain dan aku tidak menyadari bahwa itu merupakan salah satu diantara dosa-dosa besar, membicarakan masalah orang lain yang bukan urusanku. Kami selalu berbicara masalah dunia dunia dunia duniaaaaaaa terus. Aku sanggup internetan selama berjam-jam. Bahkan mulai pagi sampe pagi lagi pun aku mampu menatap layar HP. Aku selalu FB-an? WA-an, Twitter-an, Instagram dan masih banyak lagi. Tapi untuk membuka al-Qur’an satu detik aja tidak pernah. Sangat jarang kubaca isinya walau cuma 1 ayat. Aku hanya akan membukanya ketika bulan Ramadhan. Padahal Qur’an itu diturankan bukan hanya sebagai bacaan di bulan Ramadhan. Qur’an itu petunjuk hidup kita yang harus dibaca, dipahami dan diamalkan, bukan hanya membacanya sebatas tenggorokan dan tidak tahu maknanya. Apa aku berjam-jam online untuk belajar? Tidak. Aku hanya chattingan yang gak bermanfaat sama teman-teman. Aku hanya baca postingan orang yang gak bermanfaat. Mengomentari hal-hal yang tidak bermanfaat. Aku hanya memikirkan bagaimana agar aku bisa memperoleh kesenangan dunia dunia dunia saja duniaaa terus hingga kulupa akan akhirat yang kekal, abadi. Dengan berpakaian yang tidak pantas aku menari diatas panggung dengan tarian ala K-Pop yang bagiku amat keren itu. Membuat teriakan penonton menggeparkan panggung dengan tepuk tangan yang menggelegar diantara musik yang bergema. Betapa hina dan rendahnya aku kala itu. Memalukan. Namaku dibangga-banggakan penggemar tapi…. bagaimana penilaian Allah kepadaku?. Akulah muslimah yang tidak tahu diri. Memamerkan aurat yang seharusnya ditutupi itu kepada ratusan penonton non-Mahram secara gratis. Aku juga pernah… Pacaran… padahal aku tahu bahwa tidak ada pacaran dalam Islam. Islam melarang umatnya mendekati Zina. Sedangkan pacaran itu pintu menuju Zina. Ya… dulu aku pernah membantah untuk membela hawa nafsu “kan cuma sebatas pegangan tangan aja kok gak lebih, cuma chattingan aja, cuma telponan aja, aku gak berzina…dll”, padahal aku gak sadar kalo semuuuuua yang aku katakan itu Zina. Tak perduli dengan dakwah yang disampaikan para ulama, aku berdalih seakan aku bisa mengontrol hawa nafsu. Pacaran itu benar-benar hal yang dilarang agama. Apapun alasannya tetap tidak diperbolehkan. “Tapi pacar aku shaleh lho”. Lucu sekali. Laki-laki shaleh tidak akan mengajak orang yang dicintainya bermaksiat. 

Apa dalil yang melarang pacaran? Pada surat al-Israa ayat 32, berisi larangannya mendekati zina. Itu Zina, lalu pacarannya mana? Kata “PACARAN’ sudah menjadi paket komplit dari pada zina itu sendiri. Bagaimana bisa? Pegangan tangan, tatapan, berduaan, chattingan, baperan sampai hal-hal yang dilarang lainnya, itu semua termasuk dalam ZINA.

 Astagfirullah…. betapa hina dan kotornta aku dahulu… sebab aku bertemankan iblis mengedepankan hawa nafsu (kesengan dunia). Oh Muhammadku…. najiskah aku? Aku dulu selalu meninggalkan shalat, najiskah aku wahai Muhammad Rasulullah? Aku tahu bahwa meninggalkan shalat dengan perasaan biasa saja tanpa merasa menyesal lebih besar dosanya daripada dosa berzina sekaligus membunuh anak hasil Zina. Tapi aku masih saja pura-pura tuli ketika mendengar suara Azan.

 Ya Allah… Inikah cahaya itu? Inshaa Allah. Hamba sangat berharap ya Allah. Tolong hamba. Tolong.

Inikah intan yang selama ini aku butuhkan dan yang aku harapkan? Kebahagiaan sejati? Harta yang paaaaaaaling mahal yang tak ternilai, tidak bisa digantikan dengan dengan dunia seisinya.

Aku sadar, aku sangat membutuhkan Iman yang kokoh dan istiqamah.

Aku ingin kutip sedikit kata-kata milik saudara selegramku. Yang katanya “Hidup tak sembarang hidup. Kita mesti mengambil tuntunan dari Qur’an dan Sunnah. Jika perintah Allah saja kita bantah, lalu perintah siapa yang akan kita terima? Siapa lagi yang statusnya lebih tinggi dari Allah yang kita takuti? Bisa saja kalian hidup dengan aturan yang kalian buat sendiri. Tapi jangan menikmati semua fasilitas yang di beri Ilahi, termasuk menghirup udara dan menapak kaki di bumi!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s