“Aku” Yang Munafik

Bukan Aku tapi “Aku” (Aku dalam tanda kutip).

“Aku” yang merasa.

Mau tahu siapa orang munafik? “Aku”lah orangnya. Ya, “Aku” Munafik dan aku tidak menyangkal. Bagaimana tidak munafik? Lihat saja, aku adalah seorang muslim/muslimah, tapiiiiiii….. tapi apa? Islamku hanya sebatas KTP. Di kartu itu terpampang jelas agama “Islam”, tapi lihatlah “Aku”, apa “Aku” benar2 Islam. Orang Islam harus, harus… harus melengkapi rukun Islamnya. Misalnya Shalat. Shalat adalah rukun Islam yang ke-2. Jika kita tidak melaksanakan rukun itu artinya? “Aku” tahu sendiri jawabannya. Jika kita berwudhu, dan kita tidak membasuh wajah tiba2 langsung membasuh tangan, apa wudhu kita sah? Tidak. Tentu tidak. Karena kita meninggalkan salah satu rukun yaitu membasuh wajah. Lalu bagaimana dengan shalat yang merupakan rukun Islam, jika kita meninggalkannya, apakah kita pastas menyebut diri sebagai orang Islam. ‘Aku” dengan bangga mengakui diri sebagai seorang muslim/muslinah. “Aku” sangat tidak waras, sangaaaat tidak tahu malu. Rukun=wajib dilakukan. Padahal shalat itu bukan Allah yang dapat keuntungannya tapi “Aku”. Shalat itu untuk kebaikanku sendiri. Gak shalat “Aku” yang rugi, bukan Allah. Allah gak butuh shalat kita, yang butuh shalat itu kita untuk kebaikan kita sendiri dunia akheerat. “Aku” ini bloon skali. Kerja cari uang untuk kehidupan dunia yang sementara tanpa memikirkan hal yang dapat membuat “Aku” senang di kehidupan akheerat. Berapa gaji yang “aku” dapatkan sampe aku rela meninggalkan shalat? Aku kerja totalitas tapi ibadah malas.

Munafik”ku” bukan hanya sampai disini gaezz, masih ada munafik lain. Aku dah tahu musik itu haram (dalam Islam) tapi aku masih suka dengerin musik. Astaghfirullah. Belum selesai pemirzah, aku juga dah tau kalo pacaran itu haram tapi aku masih terus pacaran dan cetak dosa terus bareng pacar lewat zina (berduaan, tatapan, pegangan tangan tangan dll, org pacaran lebih tau). Masih ada lagi, belum habis sampai disini, Hpku, “Aku” tidak bisa berpisah dengannya. Kemanapun aku pergi, aku selalu membawanya. Ketika bangun tidur Hp adalah hal pertama yang aku periksa “apakah ada pesan? Panggilan tak terjawab? Inbox atau WA yg masuk?” Karena bagiku itu penting. Saat hendak tidur pun “Aku” masih menghabiskan waktuku mengutak-atikan Hpku sebelum tidur. Lihat! Betapa pentingnya Hp untukku.  Kugunakan Hp sebagai sarana informasi dan komunikasi. Chattingan/comenan sama teman yang sangaaaaat tidak penting dan sia2, buang2 waktu saja. Dan lihat, lihat Qur’anku, aku tidak pernah menyentuhnya, apalagi membacanya? Nanti “aku” baca di bulan suci Ramadhan aja. Padahal Allah tidak pernah berfirman “bacalah Kitab suci Qur’an setiap bulan Ramadhan”. 
Sesungguhnya ujung al-Qur’an ada di tangan Allah, dan ujung yang lainnya ada di tangan kita, jika kita berpegang teguh dengan tali yang kokoh ini, kita tidak akan tersesat, dan binasa. Apakah seorang mukmin tidak butuh diajak bicara oleh Allah SWT berkali-kali dalam sehari? Maka barangsiapa ingin berbicara dengan Allah, dirikanlah shalat, dan barang siapa ingin diajak bicara oleh Allah, maka bacalah al-Qur’an.

Itulah rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu, maka mintalah pertolongan kepada Allah, janganlah bermalas-malasan. Jika kira tergelincir dalam kemaksiatan maka kembalilah, jika tergelincir lagi, kembalilah, begitu seterusnya. Dan ketahuilah bahwa Allah SWT Tidak akan bosan menerima taubat kita hingga kita sendiri yang bosan bertaubat kepada-Nya SWT.

Semua akan dimintai pertanggung jawabannya nanti di akheraat. 
Akan sangat menyedihkan ketika ditanya, “berapa kali kamu bersedekah dalam sebulan?”. Dengan sangat gemetar kita menjawab ” Tidak pernah karena uangku aku gunakan untuk isi pulsa buat smsan & telponan dan juga isi pulsa data untuk bisa online. Main IG, FB, WA dll termasuk chattingn/komenan sama teman ttg maslah dunia. Uang lebihku aku gunakan untuk beli jilbab baru, tas atau sepatu. Tidak lupa pula aku membeli bedak dan lisptik kesukaanku  suapaya jika dah pake baju baru atau tas baru atau sepatu baru lengkap dengan make-up, entar selfie di tempat kerja untuk pamer. juga jalan2 (alasannya refreshing, tapi tak pernah singgah di Masjid waktu Azan).

Ya Allah, ampunilah semua “Aku” dan  berilah hidayahmu kepada semuaaaa “Aku” yang membaca postingan ini maupun “Aku” yang yang lain. Tolonglah “aku” untuk dapat mencicipi dan menikmati manisnya iman dan sejuknya dekat denganMu sebelum Engkau mengambil kembali Roh yang Kau pinjamkan ini Yaa Allah Rabbana. Aamiin Allahumma Aamiin.

Note: Mendoakan orang lain= Mendoakan diri sendiri. Semoga aku dan kita bukanlah “Aku”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s