Allah Maha Baik

Ini salah satu bentuk rasa syukurku pada Sang Khalik, tuhan alam semesta, Allah s.w.t. Disaat hatiku terasa hancur bagai serpihan kaca, air mata ini mengalir sederas sungai mengalir, pikiranku dipenuhi jutaan hal yang membuatku gemetar karena rasa takut, disaat aku terjatuh, terkurap, tersungkar, bersimpuh dalam tangisan, membasahi bumi dengan air mataku yang tak berhenti menganak sungai, ketika terang tiba-tiba menjadi gelap dan menakutkan, hangat menjadi dingin seketika, terus bersimpuh dalam tangisan, kram otak, jantung berdebar kencang, nafas menjadi tidak beraturan, dada terasa sesak, terasa jiwa hampir meninggalkan jasad, putih menjadi hitam, kebahagiaan yang tiba-tiba sirna, kesedihan yang datang bersemayan,  yang ketika berdiri lagi aku tak sanggup, hanya bisa berlutut, lutut mengakar, terpaku dengan tanah, kehabisan tenaga, dan ketika tidak ada satu orang pun didunia yang bisa menolongku, maka aku hanya punya 1 jalan keluar, Ya, tentu saja Tuhan penciptaku yang maha besar lagi Esa, ketika aku melupakankannya, berpaling darinya apabila aku bertemu dengan sesuatu yang bernama nafsu. Aku menjauhinya, namun ia tidak pernah meninggalkanku, ya, Allah tuhanku selalu bersamaku, kapanpun dimanapun. Allah telah berjanji akan mengampuni siapa yang bertobat, ia tidak akan menghukum orang yang memohon maaf kepadanya, Allah juga berjanji bahwa barang siapa yang memanggilnya, maka Allah akan menjawab panggilannya. Aku kembali memanggilnya, Allah tuhanku menjawab panggilanku, mengusap airmataku, membantuku berdiri dan memelukku, Allah berbisik padaku pada aku selama ini tidak pernah sendirian, dia selalu bersamaku. Ada satu hal berharga lagi yang aku miliki, Harapan, aku tidak pernah barang sedikit pun melepaskan harapanku itu, dengan harapan, aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, bersama Allah, tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin bila kita yakin dan percaya, namun aku sadar, kadang untuk memperoleh sesuatu yang kita inginkan itu bagai mengambil mutiara indah ditengah samudra, butuh perjuangan lagi pengorbanan, untuk mendapatkan sesuatu, kita harus rela melepaskan sesuatu, hanya ada 2 kunci utama untuk bisa mencapai sesuatu yang kita inginkan, Berusaha dan Berdo’a, aku menganggap sebuah koin adalah harapan atau tujuan masing-masing dari sisi kanan dan kirinya adalah Berusaha dan Berdo’a. Aku tidak akan berputus asa menghadapi ujian dari Allah. Allah selalu bersamaku. Allah yang maha kuasa, maha bijaksana, maha besar, maha pengasih lagi maha penyayang, maha segalanya selalu mengabulkan do’a-do’aku, apa yang aku takutkan, lalu aku meminta Allah untuk tidak mewujudkan apa yang aku takutkan itu, Allah mengabulnya, aku ingin mencapai sesuatu tujuan, aku memohon kepada Allah agar membantuku mencapai hal tersebut, Allah mengabulkan dan membantu hingga aku benar-benar mencapainya, aku ingin ini ini dan itu, Allah mewujudkannya, karena itulah, inilah yang wajib aku lakukan, karena janji ini sudah kuikatkan dengan Rabbku. Mengingkar janji yang dijanjikan kepada sesama manusia saja tidak diperbolehkan, apalagi mengingkar janji kepada Allah. Allah sumber utama kehidupanku, kebahagiaanku, kekuataanku, Allah segalanya bagiku. Sungguh, Allah lah Tuhan langit dan bumi serta seisi jagat raya.

​Hijrahku Belum Baik

#Copas#Motivasi Hijrah Indonesia (Fb group)

Terkadang terfikir dalam benakku. Saat orang-orang mengetahui diriku telah hijrah, saat orang-orang menilai aku adalah sosok yg baik. Padahal mereka tak mengetahui aku yg sebenarnya. 😖

~ Mereka mengetahui bahwa aku sosok yg anti berpacaran, tapi mereka tidak mengetahui bahwa aku masih sibuk “chatting tidak jelas” dengan ikhwan yg tidak berkepentingan denganku. 😖

~ Mereka berfikir sholatku sangat rajin & tak pernah meninggalkan kewajibanku, tapi mereka tak mengetahui bahwa aku adalah pendosa yg hebat, aku sering lalai dalam sholatku. 😔

~ Mereka berfikir penampilanku didepan mereka sangat tertutup rapi, tapi mereka tak pernah mengetahui kebiasaanku ketika aku keluar tak jauh dengan rumah aku terkadang malas menggunakan kaos kaki dan manset tanganku. 😥

~ Mereka berfikir aku adalah sosok yg ramah dan berbakti kepada orangtua, tapi mereka tak mengetahui bahwa aku pernah bertengkar dengan kedua orangtuaku, bahkan aku pernah mengeraskan suaraku ketika berbicara dengan kedua orangtuaku. 😭

~ Mereka berfikir aku adalah sosok yg lemah lembut dan penyabar, tapi mereka tak mengetahui bahwa aku sosok yg keras dan mudah marah. 😢

~ Mereka berfikir aku adalah orang yg ‘Alim, tapi mereka tak mengetahui aku adalah si fakir ‘ilmu, bahkan mungkin ‘ilmuku lebih sedikit dibanding mereka. 😔

Ternyata hijrahku belum tepat, belum baik. Selama ini aku hanya mengubah diri agar tampak baik, namun sifat asliku selalu muncul ketika aku berada di lingkungan keluargaku 😩 Mereka mengetahui aku adalah sosok yg ‘alim, baik, penyabar, lemah lembut, rajin beribadah, ramah, dan anti pacaran. Tapi nyatanya sifat asliku masih ada, aku tak se-alim yg mereka katakan, aku tak sesabar yg mereka katakan, aku sosok yg mudah marah ketika ada sesuatu tak sejalan dengan egoku, aku masih lalai dalam sholat, tak jarang aku cekcok mulut dengan kedua orangtuaku, aku tak selembut yg mereka katakan. 😭

Ternyata masih banyak yg harus aku perbaiki dalam hidupku, hijrahku belum tepat, hijrahku masih di 1 tempat, hijrahku harus tetap berlanjut, dan tidak akan pernah berakhir.💪

Semoga hijrahku terus berjalan, bila susah sekalipun akan tetap ku lanjutkan dengan merangkak, asalkan tak berhenti, asalkan tidak ku ulang lagi dari nol. Semoga hijrahku juga mendapat dukungan dari semua pihak. Agar hijrahku melangkah dengan tepat☺ dan yang terpenting… semoga Allah memberiku HidayahNya, taufikNya, dan kasih sayangNya. Memuntun aku memjemput Ridha dan cintaNya Aamiin.

Kubur: Tanah di atasku

Tanya : Man Rabbuka? Siapa Tuhanmu?

Jawab : Allahu Rabbi. Allah Tuhanku.

Tanya : Man Nabiyyuka? Siapa Nabimu?

Jawab : Muhammadun Nabiyyi. Muhammad Nabiku

Tanya : Ma Dinuka? Apa agamamu?

Jawab : Al-Islamu dini. Islam agamaku

Tanya : Man Imamuka? Siapa imammu?

Jawab : Al-Qur’an Imami. Al-Qur’an Imamku

Tanya : Aina Qiblatuka? Di mana kiblatmu?

Jawab : Al-Ka’batu Qiblati. Ka’bah Qiblatku

Tanya : Man Ikhwanuka? Siapa saudaramu?

Jawab : Al-Muslimun Wal-Muslimat Ikhwani.

Muslimin dan Muslimah saudaraku..

Jawabannya sangat sederhana bukan?

Tapi apakah sesederhana itukah kelak kita akan menjawabnya?

Saat tubuh terbaring sendiri di perut bumi.

Saat kegelapan menghentak ketakutan.

Saat tubuh menggigil gemetaran.

Saat tiada lagi yang mampu jadi penolong.

Ya, tak akan pernah ada seorangpun yang mampu menolong kita.

Selain amal kebaikan yang telah kita perbuat selama hidup di dunia.

Astaghfirullahal ‘Adzim..

Ampunilah kami Ya Allah..

Kami hanyalah hamba-Mu yang berlumur dosa dan maksiat..

Sangat hina diri kami ini di hadapan-Mu..

Tidak pantas rasanya kami meminta dan selalu meminta maghfirah-Mu.. Sementara kami selalu melanggar larangan-Mu..

Ya Allah…

Izinkan kami untuk senantiasa bersimpuh memohon maghfirah dan rahmat-Mu..

Tunjukkanlah kami jalan terang menuju cahaya-Mu..

Tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus.

Agar kami tidak sesat dan tersesatkan…

Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Bulir Ibrah dan Hikmah: Do’a

Allah pasti akan memberi jawaban doa seseorang selama ia tak tergesa-gesa. Lantas para sahabat bertanya, _“fa kaifa ya’jal ya Rasulallah?”_ bagaimanakah yang tergesa-gesa itu??

Maka Nabi ﷺ menjawab, _“dia yang berkata; aku sudah berdoa, tapi Allah belum juga mengabulkan”._ Lalu ia tinggalkan doa.

Pelajaran terpenting tentang kesabaran dalam berdoa adalah bahwa doa itu punya batas sesuai dengan kadar qualitynya…

Tengoklah kisah Nabi Zakariya, berapa lama Nabi Zakariya berdoa agar dikarunia anak?

70 tahun lamanya baru Allah mengabulkan doanya. Ini kelasnya Nabi yang dekat dengan Allah, namun apa? Allah kabulkan doa Nabi Zakariya setelah 70 tahun lamanya. Timbul pertanyaan liar dalam pikiran, bagaimana dengan kita?? Yang mana kelasnya tidak sekelas para Nabi yang dekat dengan Allah? 

Maka jawabnya sederhana, ya sabar ….

Ada orang baru berdoa dua minggu, satu bulan, dua bulan, namun belum juga dikabulkan. Sudah lemah semangatnya dalam berdoa. Sudah malas untuk berdoa, malah ada yang protes, mengapa tak juga dikabulkan.

Sabar, nikmati prosesnya. Jangan _isti’jal_ dalam berdoa alias tergesa-tergesa.

Ingatlah kisah Nabi Ayyub? Allah beri ia kenikmatan selama 20 tahun lamanya, dengan kebun kurma, 12 orang anak yang gagah perkasa. Dan jadilah ia raja, orang, nabi terkaya di kaumnya. Lalu Allah uji ia, Allah hancurkan semuanya hanya dalam 3 hari. Mudah bagi Allah untuk melakukan itu semua.

Hari pertama, Allah beri ia penyakit sampai kaumnya pergi meninggalkannya.

Hari kedua, Allah kirimkan badai dan hama yang menghancurkan seluruh kebun dan peternakannya.

Hari ketiga, ini adalah hari terberat dalam hidup Nabi Ayyub. Allah wafatkan 12 anaknya dalam sehari tanpa sebab apapun..

Hanya tinggal istrinya.

Sampai 18 tahun ujian, istrinya berkata, “wahai Nabi Allah, berdoalah pada Tuhanmu agar menghilangkan ujianmu, tidak perlu mengembalikkan semua, cukup agar penyakitmu sembuh.”

Apa kata Nabi Ayyub? “Wahai istriku berapa lama Allah beri kita nikmat?”

“20 tahun” kata istrinya.

“Aku masih malu untuk meminta kepada Allah” itu jawaban Nabi Ayyub kepada sang istri.

Tepat 20 tahun, Nabi Ayyub berdoa yang mana Allah abadikan dalam surat Al-Anbiya. _“Robbi anni massaniyadh dhur, wa anta arhamur rohimin”_ ya Allah, aku telah ditimpa suatu musibah, sedang Engkau adalah arhamur rohimin.

Telah sampai batasnya, telah tiba waktunya Allah kabulkan doa Nabi Ayyub. Allah berfirman, _“Fastajbna lahu, wa kasyafna bihi min dhur, wa atainahu ahlahu wa mitslahu ma’ah”_ maka Kami kabulkan doanya, Kami kembalikan keluarganya dan yang semisalnya bersamanya.

Dalam 3 hari pula Allah kembalikan semuanya.

hari pertama, Allah sembuhkan penyakitnya.

hari kedua, Allah jadikan istrinya setiap tahun melahirkan 2 bayi kembar sampai anak Nabi Ayyub berjumlah 24.

Allah beri Nabi Ayyub dengan kelipatan.

Nabi Ya’qub berapa lama ia berdoa agar Allah pertemukan dengan Yusuf _‘alaihissalam?_ Berpuluh-puluh tahun. Sampai ada yang mengatakan 40 tahun.

Nabi Musa, berapa lama ia berdoa kepada Allah untuk kebinasaan fir’aun seperti tersebut dalam surah Yunus 88–89 ? Berpuluh-puluh tahun.

Ibrahim _‘alaihissalam,_ berapa lama ia berdoa kepada Allah agar dikarunia anak? Berpuluh-puluh tahun.

Dan Rasulullah ﷺ berapa lama beliau berdoa kepada Allah agar memindahkan kiblat dari Al-Aqsa ke Al-Haram? Bertahun-tahun lamanya..

Berhenti sejenak, coba renungkan.

Tidak sulit bagi Allah untuk mengabulkam doa-doa para Nabi. Namun Allah rupanya sedang ingin mentarbiyah para Nabi dalam menghadapi ujian.

Yang tersirat dari kisah mereka adalah tentang kesabaran tanpa batas dalam menanti terkabulnya sebuah doa.

Nikmati prosesnya. Nikmati setiap proses kehidupan ini dengan sabar dan sholat.

Akan ada batas waktunya doa itu akan terkabul. Yang perlu kita yakini adalah bahwa setiap jawaban doa adalah “iya”

Ibnu Qoyyim pernah megatakan, “Doa itu ibarat panah yang dilesatkan ke langit. Tapi untuk mencapai ke langit ia memerlukan waktu”.

Ada beberapa jalan Allah kabulkan do’a. Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian. ” (HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid ). Boleh jadi Allah menunda mengabulkan do’a. Boleh jadi pula Allah mengganti keinginan kita dalam do’a dengan sesuatu yang Allah anggap lebih baik. Atau boleh jadi pula Allah akan mengganti dengan pahala di akhirat. Jadi do’a tidaklah sia-sia.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca serta bernilai pahala bagi penulisnya serta orang yang menyebarkannya, Aamiin.

JANGAN MUDAH MENGHAKIMI

Di dalam buku hariannya, Sultan Turki, Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan keresahan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Sultan berkata kepada kepala pengawal:

 “Mari kita keluar sebentar.”

Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya. Sultan pun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan. Mereka bertanya: “Apa yang kau inginkan.?”

Sultan menjawab: 

“Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Di mana keluarganya?”

Mereka berkata: 

“Orang ini Zindiq (pendosa), suka menenggak minuman keras dan berzina.!”

Sultan menimpali:

“Tapi . . bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam?Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya.”

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. 

Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi. Tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya. Dalam tangisnya sang istri berucap kepada jenazah suaminya:

“Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang sholeh.”

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget.

“Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya…”

Sang istri menjawab:

“Sudah kuduga pasti akan begini… Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu di bawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin”. Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi”. Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam”. Orang-orangpun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir. Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku:

“Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu”. Ia hanya tertawa, dan berkata:

“Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultan, pemimpinnya kaum muslimin, para Ulama dan para Wali.”

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata:

“Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatkannya dan menguburkannya.”

Demikianlah, akhirnya prosesi penyolatan dan pemakaman jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para Wali dan seluruh masyarakat.

*******

(Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhory dalam kitab _Mudzakkiraat Sultan Murad IV_)

*Wallahu a’lam bish-shawwab.*

*******

Pesan Moral

Jangan suka menilai orang lain dari sisi lahiriahnya saja. Atau menilainya berdasarkan ucapan orang lain. Terlalu banyak yang tidak kita ketahui tentang seseorang.  Apalagi soal yang tersimpan di tepian paling jauh di dalam hatinya. Kedepankan prasangka baik terhadap saudaramu.  Boleh jadi orang yang selama ini kita anggap sebagai calon penduduk neraka, ternyata penghuni Firdaus yang masih melangkah di bumi.

Inspirasi Hidup: Membaca Dunia

@K.L

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh…

Seorang anak kehilangan sepatunya di laut, lalu dia menulis di pinggir pantai …

LAUT INI MALING …

Tak lama datanglah nelayan yg membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak, lalu dia menulis di pantai …

LAUT INI BAIK HATI …

Seorang anak tenggelam di lautan lalu ibunya menulis di pantai …

LAUT INI PEMBUNUH …

Seorang berperahu dan di hantam badai, lalu menulis dipantai …

LAUT INI PENUH MARABAHAYA

Tak lama datanglah Seorang lelaki yg menemukan sebongkah mutiara di dalam lautan, lalu dia menulis di pantai …

LAUT INI PENUH BERKAH …

Sementara seisi lautan tak pernah mengeluh.

Kemudian datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu tanpa sisa.

MAKA…….

JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA.

Ingat:

Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik. Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.

Tak usah repot-repot mau menjelaskan tentang diri mu kepada siapa pun, Karena yang menyukai mu tidak butuh itu, Dan yang membenci mu tidak percaya itu (Ali bin Abi Thalib)

Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi Siapa yang mau berbuat baik.

Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan.

Namun Hapuslah kesalahan demi lanjutnya Persaudaraan..

Jika datang kepadamu gangguan…

Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Perih, tapi berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Baik. Kurangi mengeluh dan teruslah berdoa dan berikhtiar. 

Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikuti kita.

Tugas kita adalah berbuat yang baik & benar Bukan menghakimi.

Memaafkan adalah memaafkan tanpa tapi. Menghargai adalah menghargai tanpa tapi.

Jangan pakai hukum sebab akibat untuk membenarkan amarahmu..

Karena jika kita baik, amarah tak tumbuh subur.

Selamat menebar kebaikan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh…

Tipu Daya Iblis

Kisah Teladan Islami

Ada sepasang Suami isteri itu hidup tenteram mula-mula. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah Tuhan. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali. Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Tetapi sudah beberapa lama isterinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika segala-galanya serba cukup. 

Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mahu mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan is melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Is mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris. 

Ini syirik, fikir lelaki yang alim tadi. “Ini harus dibanteras habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain Allah.” Maka pulanglah dia terburu. Isterinya hairan, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih hairan lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keldainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu. Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesusuk tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyerupai sebagi manusia. 

Hai, mahu ke mana kamu? tanya si iblis. 

Orang alim tersebut menjawab, “Saya mahu menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon syirik itu.” 

Kamu tidak ada apa-apa hubungan dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang sahaja. 

Tidak boleh, kemungkaran mesti dibanteras, jawab si alim bersikap tegas. 

Berhenti, jangan teruskan! bentak iblis marah. 

Akan saya teruskan! 

Kerana masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis. Kalau melihat perbezaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah boleh dibinasakan. Namun ternyata iblis menyerah kalah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan kesakita dia berkata, “Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sembahyang Subuh, di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan wang emas empat dinar. Pulang saja berburu, jangan teruskan niat Tuan itu dulu,” 

Mendengar janji iblis dengan wang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringatkan isterinya yang hidup berkecukupan. Ia teringat akan saban hari rungutan isterinya. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan sahaja dia sudah boleh menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan isterinya itu maka pulanglah dia. Patah niatnya semula hendak membanteras kemungkaran. 

Demikianlah, semnejak pagi itu isterinya tidak pernah marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai sembahyang, dibukanya tikar sembahyangnya. Betul di situ tergolek empat benda berkilat, empat dinar wang emas. Dia meloncat riang, isterinya gembira. Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar sembahyang, masih didapatinya wang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah tikar sembahyangnya tidak ada apa-apa lagi keculai tikar pandan yang rapuh. Isterinya mulai marah kerana wang yang kelmarin sudah dihabiskan sama sekali. 

Si alim dengan lesu menjawab, “Jangan khuatir, esok barangkali kita bakal dapat lapan dinar sekaligus.” 

Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai sembahyang dibuka tikar sejadahnya kosong. 

Kurang ajar. Penipu, teriak si isteri. “Ambil kapak, tebanglah pohon itu.” 

Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya hingga ke ranting dan daun-daunnya, sahut si alim itu. 

Maka segera ia mengeluarkan keldainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keldainya menuju ke arah pohon yang syirik itu. Di tengah jalan iblis yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. Katanya menyorot tajam, “Mahu ke mana kamu?” herdiknya menggegar. 

Mahu menebang pohon, jawab si alim dengan gagah berani. 

Berhenti, jangan lanjutkan. 

Bagaimanapun juga tidak boleh, sebelum pohon itu tumbang. 

Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis yang kalah, tapi si alim yang terkulai. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh hairan, “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?” 

Iblis itu dengan angkuh menjawab, “Tentu sahaja engkau dahulu boleh menang, kerana waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh belantaraku menyerangmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya kerana tidak ada wang di bawah tikar sejadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh kebolehanmu, tidak mungkin kamu mampun menjatuhkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu.” 

Mendengar penjelasan iblis ini si alim tadi termangu-mangu. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas kerana Allah lagi. Dengan terhuyung-hayang ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sedar bahawa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan kerana Allah, dan ia sedar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain dari kesiaan yang berlanjutan . Sebab tujuannya adalah kerana harta benda, mengatasi keutamaan Allah dan agama. Bukankah bererti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata-mata ? 

Barangsiapa di antaramu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin hendaklah berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, hendaklah mengingkari dengan hatinya (tinggalkan). Itulah selemah-lemah iman. 

Hadith Riwayat Muslim