Apakah Kau Jodohku?

Jika kau jodohku, 

Ya Allah, seandainya telah engkau catatkan dia milikku, tercipta untukku, maka satukanlah hatinya dengan hatiku.

Berikanlah kebahagiaan diantara kami, agar kemesraan itu abadi.

Ya Allah ya Tuhanku yang maha mengasihani. 

Seringkali kami melayari hidup ini ketepian yang sejahtera dan abadi. Maka Jodohkanlah kami Ya Allah.

Tetapi Ya Allah… 

Seandainya telah engkau catatkan bukan namaku disamping namanya dalam kitab Lauhul Mahfuz-Mu,  seanidainya telah engkau takdirkan dia bukan milikku, bawalah dia jauh-jauh dari pandanganku. Jauh hingga ia hilang tenggelam dalam kabut disana, dan jangan biarkan aku merindukan hujan lagi. Biarlah ia hilang ditelan …. dan jangan biarkan aku menunggu bulan bertengger di horizon lagi.

Bawalah dia jauh dari pandanganku…

Luputkanlah ia dari ingatanku dan peliharalah aku dari kekecewaan..

Ya Allah ya Tuhanku yang maha mengerti, berikanlah aku kekuatan, menolak bayangannya jauh kedada langit, hilang bersama senja yang merah. Agarku senantiasa senang walau tanpanya.

Ya Allah yang tercinta, Tuhanku yang maha kuaza, Dzat dimana jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Pasrahkanlah aku pada Takdir-Mu. Seaungguh apa yang telah engkau takdirkan adalah yang terbaik untukku.

Engkaulah yang maha mengetahui segala yang terbaik untuk hamba-Mu ini. 

Ya Allah cukup Engkau saja, hanya Engkau saja yang menjadi pemeliharaku di dunia dan akhirat. Dengarkanlah rintihan daripada hamba-Mu yang dhaif ini. Jangan Engkau membiarkan aku sendirian di dunia ini maupun diakhirat.

Jangan Engkau membiarkan kuterlena akan bisikan iblis, terjerumus kearah kemaksiatan dan kemungkaran. Maka karuniakan aku seorang pasangan yang beriman, yang bertaqwa dan taat pada-Mu. Yang lebih mencintai Engkau dan Rasulmu dari pada aku. Agar aku dan dia sama-sama membangun kesejahteraan hidup pada jalan yang engkau Redhai. Dan karuniakanlah kepada kami keturuanan yang soleh dan solehah dan dapat menjadi ladang pahala bagi kami.

Ya Allah, berikanlah kami kebahagiaan didunia dan diakhirat. Dan peliharalah kami dari siksa kubur dan azab neraka. Aamiin 2x ya Rabbal ‘alamiin.

Jika tidak meletakan Allah dihati, usah bertanya-tanya kenapa tidak ada ketenangan dalam diri. Allah sumber ketenangan jiwa, sumber kedamaian hati.

Inilah Tanggung Jawab Suami

“Saya terima nikahnya…. binti…. dengan mas kawin……di bayar tunai….”.Singkat, padat dan jelas.

Tapi tahukan makna “perjanjian atau ikrar” tersebut?Itu tersurat. Tetapi apa pula yang tersirat?

Yang tersirat ialah :Artinya: ”Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang ia jadikan istri) dari ayah dan ibunya. Dosa apa saja yang telah dia lakukan. Dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengan si dia (perempuan yang ia jadikan istri), aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung. Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku”. juga sadar, sekiranya aku gagal dan aku lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka aku fasik, dan aku tahu bahwa nerakalah tempatku kerana akhirnya isteri dan anak-anakku yang akan menarik aku masuk kedalam Neraka Jahanam dan Malaikat Malik akan melibas aku hingga pecah hancur badanku. Akad nikah ini bukan saja perjanjian aku dengan si isteri dan si ibu bapa isteri, tetapi ini adalah perjanjian terus kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala “. Jika aku GAGAL (si Suami) ?” Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku”.

(HR. Muslim)

—————————-

Duhai para istri…Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu. Karena saat Ijab terucap, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yang dibuat olehnya di depan ALLAH, dengan disaksikan para malaikat dan manusia. Maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu…

Semoga… ini untuk pengalaman yang sudah nikah maupun yg belum…

Subhanallah.. beratnya beban yang di tanggung suami. Bukankah untuk meringankan tanggung jawabnya itu berarti seorang istri harus patuh kepada suami, menjalankan perintah ALLAH dan menjauhi larangan-Nya? Juga mendidik putra-putri kita nanti agar mengerti tentang agama dan tanggung jawab.

Semoga kita semua menjadi orang tua yang dapat memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita kelak dengan agama dan cinta kasih sehingga tercipta keluarga kecil yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

Aamin Yaa Rabbal’alaminn…

Sahabat semoga kita selalu dalam lindungan-Nya yang dilimpahkan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dan kemudahan untuk selalu beribadah kepada-Nya Dan meraih RidhaNya. Aamiin..

“Ya Allah, muliakanlah sahabat-sahabat Kami, Berikanlah Kami pasangan yang setia untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. Kelak masukkanlah Kami disurga yang terindah..”Aamiin Ya Robbal Alamin

Rasulallah SAW bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al-Bukhari)

Subhanallah

Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari – hari. Aamiin .

​Artikel Muslimah: Cinta Sejati 2

Suami dan istri harus baca. Begitu juga para calon suami dan calon istri, cerita yang sangat perlu dibaca.

In syaa Allah cerita ini bisa diambil ibroh dan hikmahnya…

“Teeng…”

Terdengar denting bunyi jam 1 kali, menandakan jam 01.00 dini hari.

“Assalamu’alaikum…!”

Ucapnya lirih Abdurrahman saat masuk rumah.

Tak ada orang yang menjawab, Dia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur.

“Biarlah malaikat yang menjawab salamku,”

Gumamnya dalam hati. Diletakkanlah tas, ponsel dan kunci-kunci di meja. Setelah itu, barulah Abdurrahman menuju kamar mandi sekalian berwudlu kemudian berganti pakaian. Semua tertidur pulas, tak ada satu-pun yang terbangun. Segera dia beranjak menuju kamar tidur.

Pelan-pelan dibukanya pintu kamar. Dia tidak ingin menggangu istrinya yang sedang pulas tidur. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadiran suaminya. Kemudian Abdurrahman duduk di pinggir tempat tidurnya. Dipandanginya dalam-dalam wajah Qonitat istrinya.

Abdurrahman teringat perkataan almarhum ayahnya, dulu sebelum dia menikah.
Ayahnya berpesan :

“Jika kamu sudah menikah nanti:
Jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan keinginanmu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.

•Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Dia bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Dan..

°Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, Maka..

Lihatlah ketika istrimu tidur..”

“Kenapa Yah, kok waktu dia tidur?” Tanyanya kala itu.

Ayahnya menjawab :

“Nanti kamu akan tahu sendiri”

Waktu itu, dia tidak sepenuhnya memahami maksud ayahnya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ayahnya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam itu, Abdurrahman mulai memahaminya. Malam itu, dia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

Dalam batin, Dia bergumam,

“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis:

•Yang leluasa beraktivitas,

•Banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Lalu aku menjadikanmu seorang istri. 

•Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit.

•Memberikanmu banyak batasan,

•Mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan aku pula..

•Yang menjadikanmu seorang ibu. 

•Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan.

•Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku..

Engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, kini aku memberikan beban di tanganmu, dan dipundakmu..

•Untuk mengurus keperluanku,

•Guna merawat anak-anakku, juga

•Memelihara kenyamanan rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku.

Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku.

Kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku.

Kau buang egomu untuk menaatiku.

Kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku..

Di kala susah, kau setia mendampingiku.

Ketika sulit, kau tegar di sampingku.

Saat sedih, kau pelipur laraku.

Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku.

Jika aku gundah, kau penyejuk hatiku.

Kala aku bimbang, kau penguat tekadku.

Bila aku lupa, kau yang mengingatkanku.

Ketika aku salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku..

Telah sekian lama engkau mendampingiku.

Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu..?!

Dengan alasan apa aku marah padamu..?!

Andai kau punya kesalahan atau kekurangan. Semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan air mata. Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu. Jika kau melakukan kesalahan. Akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu. Itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat. Maafkan aku istriku.. Kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan.

Mari kita bersama-sama membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla.
Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodoh untukku.”

Tanpa terasa air matanya menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan.

Tak lama kemudian ia pun terlelap.

“Teeng..teeng..”

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.

Qonitat, istri Abdurrahman terperanjat sambil terucap :

“Astaghfirullah, sudah jam dua..!”

Dilihatnya sang suami pulas di sampingnya.

Pelan-pelan ia duduk, sambil berdoa memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatanganmu. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia..?!” Gumamnya dalam hati.

Ada niat mau membangunkan, tapi ach.. tidak tega.

Akhirnya dia cuma pandangi saja wajah suaminya. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Hanya hatinya yang bicara :

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

Wahai suamiku..

•Ketika aku sendirian..

Kau datang menghampiriku.

•Saat aku lemah..

Kau ulurkan tanganmu menuntunku.

•Dalam duka..

Kau sediakan dadamu untuk merengkuhku.

•Dengan segala kemampuanmu..

Kau selalu ingin melindungiku.

Wahai suamiku..

•Tak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku.

•Tak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu.

•Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal, tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

Lalu..

Atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu. Dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu?

Seberapa pun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu. Walau kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku,

Tapi..

Kesungguhan & tekadmu beramal sholeh, mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Alloh.. Membanggakanku dan membahagiakanku.

Maafkan aku wahai suamiku.. Akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah.. segala puji hanya milik Allah. Yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Alloh. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

ربنا هب لنا من أزواجنا وذريتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

“Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota ‘ayun waj’alna lil muttaqiina imaama”…Aamiin.

Cinta Sejati

Cinta sejati hanya untuk Allah. Dan kita mencintai seseorang karena Allah. Dengan bersama orang yang kita cintai, Allah kita menjadi lebih dekat dengan Allah. Bagaimana jika kita dijodohkan dengan orang yang tidak kita cintai tapi sangat baik agamanya? Jawabanya yang penting Allah dulu, Allah yang harus paling di utamakan. Menikah adalah ibadah terlama. Jika ingin menikah untuk beribadah kepada Allah, berarti kita bisa menerima laki-laki yang tidak kita cintai namun baik agamanya. Karena dia dapat menjadi imam yang baik buat keluarganya daripada menikah dengan orang yang kita cintai namun gak pernah shalat apalagi kalo malas ngaji. Mending yang baik agamanya, kita bisa membangun cinta dengannya karena Allah.

Mengapa para ayah yang paham agama menikahkan putri-putri mereka dengan laki-laki shalih yang tidak dikenali putrinya, yang belum pernah bertemu kemudian ta’arufan langsung nikah terus rumah tangganya kemudian bahagia ?

Mengapa banyak akhwat yang menutuskan untuk memilih laki-laki yang tidak dia cintai namun ia tahu seperti apa ketaatan laki-laki itu kepada Allah, kemudian rumah tangganya bahagia? Apakah karena jatuh cinta ? Bukan. Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa. Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup…

Mengapa jatuh cinta gampang? Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita. Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi. Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap… Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel. Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama-sama mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah yang sangat pribadi. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut. Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga akan berubah, bukan surga lagi tapi neraka.

Apakah kondisi ini bisa diperbaiki? Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ? Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.

Bangunlah cinta…Jagalah KOMITMEN awal.

Oh ya, perhatikan beberapa nasehat dibawah ini:

1. KETIKA AKAN MENIKAH

Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita. Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR

Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada ALLAH melalui wali si gadis.

3. KETIKA MENIKAH

Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan ALLAH.

4. KETIKA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA

Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak & duri.

5. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG

Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

6. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK

Jangan bagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% & cintai anak-anak Anda masing2x 100%.

7.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI

Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.

8.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI

Tetaplah berjalan dengan gemulai & lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

9.KETIKA MENDIDIK ANAK

Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.

10.KETIKA ANAK BERMASALAH

Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

11.KETIKA ADA ‘PIL/ Pria Idaman lain.

Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

12.KETIKA ADA ‘WIL/ Wanita Idaman lain.

Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

13.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA

Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.

14.KETIKA INGIN LANGGENG & HARMONIS,

GUNAKANLAH FORMULA 7K:

1.Ketakutan akan ALLAH

2.Kasih sayang

3.Kesetiaan

4.Komunikasi dialogis

5.Keterbukaan

6.Kejujuran

7.Kesabaran
Perhatikan landasan kamu menikah.

Apa yang menjadi landasan kamu untuk menikah? Perhatikan poin-poin yang sangat penting dibawah:

1. Jika landasan pernikahan adalah harta, maka pasangan bakal bercerai jika jatuh miskin.

2. Jika landasan pernikahan adalah karena tubuh, pasangan bakal lari jika rambut beruban dan muka berkerut atau sudah menjadi gendut.

3. Jika landasan pernikahan adalah karena anak, maka pasangan akan mencari alasan untuk pergi jika buah hati (anak) tidak kunjung hadir.

4. Jika landasan pernikahan adalah kepribadian, pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya.

5. Jika landasan pernikahan adalah cinta, hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih, lagipula manusia yang dicintai pasti akan mati.

6. Jika landasan pernikahan adalah ibadah Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sesungguhnya Allah itu Kekal dan Maha Pemberi kepada makhluknya. Allah mencintai HambaNya melebihi seorang ibu mencintai bayinya. Maka tak ada alasan apapun didunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan itu durhaka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Robbana Taqobbal Minna..Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami). Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin.
Oh ya… dibawah ini ada beberapa kisah. Semoga dapat dipetik pelajarannya.
1. Syukur
Abdurrahman teringat perkataan almarhum ayahnya, dulu sebelum dia menikah.

Ayahnya berpesan :

“Jika kamu sudah menikah nanti:

•Jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan keinginanmu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.

•Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Dia bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Dan jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, Maka… Lihatlah ketika istrimu tidur..”

“Kenapa Yah, kok waktu dia tidur?” Tanyanya kala itu.

Ayahnya menjawab :

“Nanti kamu akan tahu sendiri”

Waktu itu, dia tidak sepenuhnya memahami maksud ayahnya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ayahnya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam itu, Abdurrahman mulai memahaminya. Malam itu, dia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Dalam batin, Dia bergumam,

“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis:

•Yang leluasa beraktivitas,

•Banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Lalu aku menjadikanmu seorang istri. •Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit.

•Memberikanmu banyak batasan,

•Mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan aku pula..

•Yang menjadikanmu seorang ibu. •Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan.

•Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku..

Engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, kini aku memberikan beban di tanganmu, dan dipundakmu..

•Untuk mengurus keperluanku,

•Guna merawat anak-anakku, juga

•Memelihara kenyamanan rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku.

Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku.

Kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku.

Kau buang egomu untuk menaatiku.

Kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku..

Di kala susah, kau setia mendampingiku.

Ketika sulit, kau tegar di sampingku.

Saat sedih, kau pelipur laraku.

Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku.

Jika aku gundah, kau penyejuk hatiku.

Kala aku bimbang, kau penguat tekadku.

Bila aku lupa, kau yang mengingatkanku.

Ketika aku salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku..

Telah sekian lama engkau mendampingiku.

Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu..?!

Dengan alasan apa aku marah padamu..?!

Andai kau punya kesalahan atau kekurangan.

Semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan air mata.

Akulah yang harus membimbingmu.

Aku adalah imammu.

Jika kau melakukan kesalahan.

Akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu.

Jika ada kekurangan pada dirimu.

Itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah.

Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku..

Kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan.

Mari kita bersama-sama membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla.

Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodoh untukku.”

Tanpa terasa air matanya menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.

“Teeng..teeng..”

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali. Qonitat, istri Abdurrahman terperanjat sambil terucap :

“Astaghfirullah, sudah jam dua..!”

Dilihatnya sang suami pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil berdoa memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatanganmu.

Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa.

Sudah makan apa belum ya dia..?!”

Gumamnya dalam hati. Ada niat mau membangunkan, tapi ach.. tidak tega. Akhirnya dia cuma pandangi saja wajah suaminya. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Hanya hatinya yang bicara :

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku.

Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku.

Begitu besar harapan kusandarkan padamu.

Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

Wahai suamiku..

•Ketika aku sendirian..

Kau datang menghampiriku.

•Saat aku lemah..

Kau ulurkan tanganmu menuntunku.

•Dalam duka..

Kau sediakan dadamu untuk merengkuhku.

•Dengan segala kemampuanmu..

Kau selalu ingin melindungiku.

Wahai suamiku..

•Tak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku.

•Tak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu.

•Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal, tidak menyurutkan langkahmu.

Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

Lalu..

Atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu.

Dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu?

Seberapa pun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.

Walau kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, Tapi.. Kesungguhan & tekadmu beramal sholeh, mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Alloh.. Membanggakanku dan membahagiakanku.

Maafkan aku wahai suamiku..

Akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah.. segala puji hanya milik Allah. Yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Alloh. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

2. Kisah bertemu di IG
Berbagi cerita sedikit tentang pertemuan kami melalui dm instagram akhir nya bisa sampai keplaminan hehe😀 insyaallah bisa jadi inspirasi buat kalian yang sedang menanti jodoh..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabrakatuh

Saya menikah diumur 18tahun dan suami saya 21tahun. Kami dipertemukan melalui dm instagram. hehe.

14 desember 2017 ada dm instagram masuk dari abang “Assalamu’alaikum ukhty” dan berakhir dengan tukeran cv dan abang bilang “tolong kasih cv saya ke ayah mu, kalo ada kabar baik tolong kabarin saya lagi”

2 hari aku gantungin dulu haha so jual mahal dulu lahh yaa🤣wkwk.

16 desember 2017 baru saya kasih jawaban dan saya bilang “kalo emng kaka ada niatan baik silahkan hubungin wa ayah saya” (manggil nya masih kaka wkwk) dan abang bener bener nge wa ayah😂 dan bilang kalo emng mau serius dan ngajak nikah jugaa… masyaa Aallah… 😂

Sempett kagett sihh belum kenal sama sekali ko udah ngajak nikah hahaha. Pas di tanya serius atau engga dia jawab nya “tunggu bukti dari saya, saya serius dan bakalan nemuin kedua orangtua mu di tangerang” (rumah abang diwirosari dan saya ditangerang) sangatt jauhh sihh menurut saya😅 perjalanan 581KM sekitar 12 jam 😅 disamperin jauh jauh demi nunjukin keseriusannya, sumpah saluttt bgtt dah😂 baru kali ini berasa diperjuangin sama cowo dan ngajak nikah juga🤣🤣azek haha. 

Tepat di 20 januari 2018 dihari ulangtahun abang, abang bener bener ada didepan mata saya dan depan mata keduaorangtua sayaa..

-Febuari abang melihat wajah saya yg tertutup dengan cadarr

-Maret abang pulang kekampung untuk membicarakan pernikahan, dan

– 26 April 2018 kita sah sebagai pasangan suami istri..

Sesingkat ini Allah mempersatukan kamii..

Abang laki-laki yang dulu tidak saya ketahui asal usul nyaa, dan bahkan untuk kenal aja saya ga kenal sama sekali, tapi sekarang abang laki lakii yang saya cintai dan saya sayangii.. 

jazzakallahu khayran hubby🖤 bersama mu surga berasa lebih dekat💜
3. Nasehat 2
Saya terima nikahnya…. binti…. dengan mas kawin……di bayar tunai….”. Singkat, padat dan jelas.

Tapi tahukan makna “perjanjian atau ikrar” tersebut? Itu tersurat. Tetapi apa pula yang tersirat.

Yang tersirat ialah :Artinya: ”Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang ia jadikan istri) dari ayah dan ibunya. Dosa apa saja yang telah dia lakukan.Dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dgn si dia (perempuan yang ia jadikan istri), aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung. Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku”. Sekiranya aku gagal dan aku lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka aku fasik, dan aku tahu bahwa nerakalah tempatku kerana akhirnya isteri dan anak-anakku yg akan menarik aku masuk kedalam Neraka Jahanam.. dan Malaikat Malik akan melibas aku hingga pecah hancur badanku.

Akad nikah ini bukan saja perjanjian aku dengan si isteri dan si ibu bapa isteri, tetapi ini adalah perjanjian terus kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala “.Jika aku GAGAL (si Suami) ?”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku”.

(HR. Muslim)

—————————-

Duhai para istri…Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu. Karena saat Ijab terucap, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjianyang dibuat olehnya di depan ALLAH, dengan disaksikan para malaikat dan manusia. Maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu…

Semoga… ini untuk pengalaman yg sudah nikah maupun yg belum…

Subhanallah.. beratnya beban yang di tanggung suami.Bukankah untuk meringankan tanggung jawabnya itu berarti seorang istri harus patuh kepada suami, menjalankan perintah ALLAH dan menjauhi larangan-Nya? Juga mendidik putra-putri kita nanti agar mengerti tentang agama dan tanggung jawab.

Semoga kita semua menjadi orang tua yang dapat memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita kelak dengan agama dan cinta kasih sehingga tercipta keluarga kecil yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Aamin Yaa Rabbal’alaminn… 
Sahabat semoga kita selalu dalam lindungan-Nya yang dilimpahkan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dan kemudahan untuk selalu beribadah kepada-Nya..
“Ya Allah, muliakanlah sahabat-sahabat Kami, Berikanlah Kami pasangan yang setia, mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Kelak masukkanlah Kami disurga yang terindah..”Aamiin Ya Robbal Alamin
Rasulallah SAW bersabda :

“Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al Bukhari)

Oh ya, tulisan ini saya edit dari beberapa tulisan yang saya pernah di share di sebuah group yang saya gabung sebagai member di Facebook dan saya gabungkan kemudian dikasih tambahan. Udah lupa siapa yang share soalnya tulisan-tulisan ini saya simpan sekitar setahun yang lalu. Semoga yang menulis dan membagikan tulisan mereka yang saya kutip ini juga memdapatkan pahala di sisi Allah. Aamiin.  Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari – hari. Aamiin .