KEISTIMEWAAN SHOLAT SUBUH

Motivasi Hijrah Indonesia

SHALAT SUBUH SUNGGUH ISTIMEWA*

1. SHALAT SHUBUH MENJADI TAMENG DARI NERAKA*

_Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallaam bersabda :

لا يلجُ النارَ من صلى قبل طلوعِ الشمسِ وقبل غروبها

“Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar).” (H.R. Muslim no. 634)

2. SHALAT SHUBUH SALAH SATU PENJAMIN SURGA*

_Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallaam bersabda :_

مَن صلَّى البردَينِ دخَل الجنةَ .

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR Bukhari, 574 – Muslim, 635)

3. SHALAT SHUBUH DAPAT PAHALA SEPERTI SHOLAT SEMALAMAN

_Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallaam bersabda :

من صلى العشاءَ في جماعةٍ فكأنما قام نصفَ الليلِ . ومن صلى الصبحَ في جماعةٍ فكأنما صلى الليلَ كلَّهُ

“ Barangsiapa yang shalat isya’ berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR Muslim. 656)

4. SHALAT SHUBUH MENDAPAT JAMINAN KESELAMATAN

_Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallaam bersabda :

من صلى الصبحَ فهو في ذمةِ اللهِ . فلا يطلبنَّكم اللهُ من ذمتِه بشيٍء فيُدركُه فيكبَّهُ في نارِ جهنمَ

“Barangsiapa yang shalat shubuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahanam.” (HR Muslim, 163)

5. BERCAHAYA DI HARI KIAMAT

_Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallaam bersabda :_

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (Isya’ dan Shubuh) menuju Masjid, dengan cahaya yang sangat terang pada hari Kiamat kelak.”(HR Ibnu Majah – Tirmidzi)

LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN

Kisah Teladan Islam.

Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, “Siapakah kamu ini ?” 
Jawab kami, “Kami adalah orang beriman.” Kemudian baginda bertanya, “Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?” Jawab kami, “Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?”
Tanya Nabi s.a.w, “Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?” 
Jawab mereka, “Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik mahupun yang buruk.” 
Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, “Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?” 
Jawab mereka, “Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu.” 
Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, “Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?” Jawab mereka, “Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh.” Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, “Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi.” 
Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, “Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat.”

RAHASIA KHUSYUK DALAM SHALAT

Kisah Teladan Islami:

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk. 
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?” 

Hatim berkata : “Apabila masuk waktu solat aku berwudhu’ zahir dan batin.” 

Isam bertanya, “Bagaimana wudhu’ zahir dan batin itu?” 

Hatim berkata, “Wudhu’ zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sementara wudhu’ batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :

-bertaubat 

-menyesali dosa yang dilakukan 

-tidak tergila-gila pada dunia

-tidak mencari/mengharap pujian orang (riya’)

-tinggalkan sifat berbangga (ujub)

-tinggalkan sifat khianat dan menipu

-meninggalkan sifat dengki

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Sirratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. 

Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhu’, aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun.” 

Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.