​Atri Cinta Sejati

FILOSOFI SEBUAH PERNIKAHAN

Cinta sejati hanya untuk Allah. Dan ketika kita mencintai seseorang, jadikanlah Allah sebagai alasan. Dengan bersama orang yang kita cintai,  kita menjadi lebih dekat dengan Allah. Bagaimana jika kita dijodohkan dengan orang yang tidak kita cintai namun sangat baik agamanya? Jawabanya yang penting Allah dulu, Allah yang harus paling di utamakan. Menikah adalah ibadah terlama. Jika ingin menikah untuk beribadah kepada Allah, berarti kita bisa menerima laki-laki yang tidak kita cintai namun baik agamanya. Karena dia dapat menjadi imam yang baik buat keluarganya daripada menikah dengan orang yang kita cintai namun gak pernah shalat apalagi kalo malas ngaji. Mending yang baik agamanya, kita bisa membangun cinta dengannya karena Allah.
Mengapa para ayah yang paham agama menikahkan putri-putri mereka dengan laki-laki shalih yang tidak dikenali putrinya, yang belum pernah bertemu kemudian ta’arufan langsung nikah terus rumah tangganya kemudian bahagia ? Mengapa banyak akhwat yang menutuskan untuk memilih laki-laki yang tidak dia cintai namun ia tahu seperti apa ketaatan laki-laki itu kepada Allah, kemudian rumah tangganya bahagia? Apakah karena jatuh cinta ? Bukan. Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa. Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup… Mengapa jatuh cinta gampang?

Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita. Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi. Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap…

Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel. Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama-sama mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau

masalah yang sangat pribadi. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut. Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga akan berubah, bukan surga lagi tapi neraka.

Apakah kondisi ini bisa diperbaiki?

Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ? Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami,

mengalah dan bertanggung jawab.
Bangunlah cinta…Jagalah KOMITMEN awal.

Oh ya, perhatikan beberapa nasehat dibawah ini:

1. KETIKA AKAN MENIKAH

Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita. Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR

Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada ALLAH melalui wali si gadis.

3. KETIKA MENIKAH

Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan ALLAH.

4. KETIKA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA

Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak & duri.

5. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG

Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

6. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK

Jangan bagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% & cintai anak-anak Anda masing2x 100%.

7.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI

Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.

8.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI

Tetaplah berjalan dengan gemulai & lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

9.KETIKA MENDIDIK ANAK

Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.

10.KETIKA ANAK BERMASALAH

Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

11.KETIKA ADA ‘PIL/ Pria Idaman lain.

Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

12.KETIKA ADA ‘WIL/ Wanita Idaman lain. Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

13.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA

Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.

14.KETIKA INGIN LANGGENG & HARMONIS,

GUNAKANLAH FORMULA 7K:

1.Ketakutan akan ALLAH

2.Kasih sayang

3.Kesetiaan

4.Komunikasi dialogis

5.Keterbukaan

6.Kejujuran

7.Kesabaran
Perhatikan landasan kamu menikah.

Apa yang menjadi landasan kamu untuk menikah? Perhatikan poin-poin yang sangat penting dibawah:

1. Jika landasan pernikahan adalah harta, maka pasangan bakal bercerai jika jatuh miskin.

2. Jika landasan pernikahan adalah karena tubuh, pasangan bakal lari jika rambut beruban dan muka berkerut atau sudah menjadi gendut.

3. Jika landasan pernikahan adalah karena anak, maka pasangan akan mencari alasan untuk pergi jika buah hati (anak) tidak kunjung hadir.

4. Jika landasan pernikahan adalah kepribadian, pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya.

5. Jika landasan pernikahan adalah cinta, hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih, lagipula manusia yang dicintai pasti akan mati.

6. Jika landasan pernikahan adalah ibadah Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sesungguhnya Allah itu Kekal dan Maha Pemberi kepada makhluknya. Allah mencintai HambaNya melebihi seorang ibu mencintai bayinya. Maka tak ada alasan apapun didunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan itu durhaka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Robbana Taqobbal Minna..Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami). Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin.
Oh ya… dibawah ini ada beberapa kisah. Semoga dapat dipetik pelajarannya.
1. Syukur
Abdurrahman teringat perkataan almarhum ayahnya, dulu sebelum dia menikah.

Ayahnya berpesan :

“Jika kamu sudah menikah nanti:

•Jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan keinginanmu.

Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.

•Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Dia bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Dan jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, Maka… Lihatlah ketika istrimu tidur..”

“Kenapa Yah, kok waktu dia tidur?”

Tanyanya kala itu.

Ayahnya menjawab :

“Nanti kamu akan tahu sendiri”

Waktu itu, dia tidak sepenuhnya memahami maksud ayahnya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ayahnya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam itu, Abdurrahman mulai memahaminya. Malam itu, dia menatap wajah istrinya lekat-lekat.

Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya.

Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima.

Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu.

Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Dalam batin, Dia bergumam,

“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis:

•Yang leluasa beraktivitas,

•Banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Lalu aku menjadikanmu seorang istri. 

•Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit.

•Memberikanmu banyak batasan,

•Mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan aku pula..

•Yang menjadikanmu seorang ibu. 

•Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan.

•Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku..

Engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, kini aku memberikan beban di tanganmu, dan dipundakmu..

•Untuk mengurus keperluanku,

•Guna merawat anak-anakku, juga

•Memelihara kenyamanan rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku.

Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku.

Kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku.

Kau buang egomu untuk menaatiku.

Kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku..

Di kala susah, kau setia mendampingiku.

Ketika sulit, kau tegar di sampingku.

Saat sedih, kau pelipur laraku.

Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku.

Jika aku gundah, kau penyejuk hatiku.

Kala aku bimbang, kau penguat tekadku.

Bila aku lupa, kau yang mengingatkanku.

Ketika aku salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku..

Telah sekian lama engkau mendampingiku.

Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu..?!

Dengan alasan apa aku marah padamu..?!

Andai kau punya kesalahan atau kekurangan.

Semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan air mata.

Akulah yang harus membimbingmu.

Aku adalah imammu.

Jika kau melakukan kesalahan.

Akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu.

Jika ada kekurangan pada dirimu.

Itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah.

Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku..

Kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan.

Mari kita bersama-sama membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla.

Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodoh untukku.”

Tanpa terasa air matanya menetes deras di kedua pipinya.

Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.

Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan.

Tak lama kemudian ia pun terlelap.

“Teeng..teeng..”

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.

Qonitat, istri Abdurrahman terperanjat sambil terucap :

“Astaghfirullah, sudah jam dua..!”

Dilihatnya sang suami pulas di sampingnya.

Pelan-pelan ia duduk, sambil berdoa memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatanganmu.

Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa.

Sudah makan apa belum ya dia..?!”

Gumamnya dalam hati.

Ada niat mau membangunkan, tapi ach.. tidak tega.

Akhirnya dia cuma pandangi saja wajah suaminya.

Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya.

Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Hanya hatinya yang bicara :

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku.

Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku.

Begitu besar harapan kusandarkan padamu.

Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

Wahai suamiku..

•Ketika aku sendirian..

Kau datang menghampiriku.

•Saat aku lemah..

Kau ulurkan tanganmu menuntunku.

•Dalam duka..

Kau sediakan dadamu untuk merengkuhku.

•Dengan segala kemampuanmu..

Kau selalu ingin melindungiku.

Wahai suamiku..

•Tak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku.

•Tak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu.

•Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal, tidak menyurutkan langkahmu.

Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

Lalu..

Atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu.

Dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu?

Seberapa pun materi yang kau berikan,

itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.

Walau kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku,

Tapi..

Kesungguhan & tekadmu beramal sholeh, mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Alloh.. Membanggakanku dan membahagiakanku.

Maafkan aku wahai suamiku..

Akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah.. segala puji hanya milik Allah.

Yang telah mengirimmu menjadi imamku.

Aku akan taat padamu untuk mentaati Alloh. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

2. Kisah bertemu di IG

Berbagi cerita sedikit tentang pertemuan kami melalui dm instagram akhir nya bisa sampai keplaminan hehe😀 insyaallah bisa jadi inspirasi buat kalian yang sedang menanti jodoh..

assalamualaikum warahmatullahi wabrakatuh

saya menikah diumur 18tahun dan suami saya 21tahun

kami dipertemukan melalui dm instagram hehe

14 desember 2017 ada dm instagram masuk dari abang “assalamualaikum ukhty” dan berakhir dengan tukeran cv dan abang bilang “tolong kasih cv saya ke ayah mu, kalo ada kabar baik tolong kabarin saya lagi”

2 hari aku gantungin dulu haha so jual mahal dulu lahh yaa🤣wkwk

16 desember 2017 baru saya kasih jawaban dan saya bilang “kalo emng kaka ada niatan baik silahkan hubungin wa ayah saya” (manggil nya masih kaka wkwk)

dan abang bener bener nge wa ayah😂 dan bilang kalo emng mau serius dan ngajak nikah jugaa… ma sya allah… 😂

sempett kagett sihh belum kenal sama sekali ko udah ngajak nikah hahaha.

pas di tanya serius atau engga dia jawab nya “tunggu bukti dari saya, saya serius dan bakalan nemuin kedua orangtua mu di tangerang”

(rumah abang diwirosari dan saya ditangerang) sangatt jauhh sihh menurut saya😅 perjalanan 581KM sekitar 12 jam 😅

disamperin jauh jauh demi nunjukin keseriusannya, sumpah saluttt bgtt dah😂 baru kali ini berasa diperjuangin sama cowo dan ngajak nikah juga🤣🤣azek haha.

tepat di 20 januari 2018 dihari ulangtahun abang, abang bener bener ada didepan mata saya dan depan mata keduaorangtua sayaa..

-febuari abang melihat wajah saya yg tertutup dengan cadarr

-maret abang pulang kekampung untuk membicarakan pernikahan, dan

– 26 april 2018 kita sah sebagai pasangan suami istri..

sesingkat ini allah mempersatukan kamii..

abang laki laki yang dulu tidak saya ketahui asal usul nyaa, dan bahkan untuk kenal aja saya ga kenal sama sekali, tapi sekarang abang laki lakii yang saya cintai dan saya sayangii.. 

jazzakallahu khayran hubby🖤 bersama mu surga berasa lebih dekat💜

3. Nasehat 2

Saya terima nikahnya…. binti…. dengan mas kawin……di bayar tunai….”. Singkat, padat dan jelas.

Tapi tahukan makna “perjanjian atau ikrar” tersebut? Itu tersurat. Tetapi apa pula yang tersirat.

Yang tersirat ialah :Artinya: ”Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang ia jadikan istri) dari ayah dan ibunya. Dosa apa saja yang telah dia lakukan.Dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dgn si dia (perempuan yang ia jadikan istri), aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung.

Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku”. Sekiranya aku gagal dan aku lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka aku fasik, dan aku tahu bahwa nerakalah tempatku kerana akhirnya isteri dan anak-anakku yg akan menarik aku masuk kedalam Neraka Jahanam..

dan Malaikat Malik akan melibas aku hingga pecah hancur badanku.

Akad nikah ini bukan saja perjanjian aku dengan si isteri dan si ibu bapa isteri, tetapi ini adalah perjanjian terus kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala “.Jika aku GAGAL (si Suami) ?”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku”.

(HR. Muslim)

—————————-

Duhai para istri…Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu.

Karena saat Ijab terucap, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjianyang dibuat olehnya di depan ALLAH, dengan disaksikan para malaikat dan manusia.

Maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu…

Semoga… ini untuk pengalaman yg sudah nikah maupun yg belum…

Subhanallah.. beratnya beban yang di tanggung suami.Bukankah untuk meringankan tanggung jawabnya itu berarti seorang istri harus patuh kepada suami, menjalankan perintah ALLAH dan menjauhi larangan-Nya? Juga mendidik putra-putri kita nanti agar mengerti tentang agama dan tanggung jawab.

Semoga kita semua menjadi orang tua yang dapat memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita kelak dengan agama dan cinta kasih sehingga tercipta keluarga kecil yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Aamin Yaa Rabbal’alaminn… 

Sahabat semoga kita selalu dalam lindungan-Nya yang dilimpahkan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dan kemudahan untuk selalu beribadah kepada-Nya..

“Ya Allah, muliakanlah sahabat-sahabat Kami, Berikanlah Kami pasangan yang setia, mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Kelak masukkanlah Kami disurga yang terindah..”Aamiin Ya Robbal Alamin

Rasulallah SAW bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, makawalaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al Bukhari)

Oh ya, tulisan ini saya edit dari beberapa tulisan yang saya pernah di share di sebuah group yang saya gabung sebagai member di Facebook dan saya gabungkan kemudian dikasih tambahan. Udah lupa siapa yang share soalnya tulisan-tulisan ini saya simpan sekitar setahun yang lalu. Semoga yang menulis dan membagikan tulisan mereka yang saya kutip ini juga memdapatkan pahala di sisi Allah. Aamiin.  Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari – hari. Aamiin .

Suami/Istri Idaman

[Mengapa aku tidak membantu istriku]

Seorang teman datang untuk ngopi ke rumah saya, dan kita duduk dan ngobrol soal kehidupan.

Saat lagi nyantai, saya pamit ke teman, “aku cuci piring dulu sebentar, nanti aku balik lagi.”

Teman saya memandang saya dengan ekspresi seolah- olah saya akan pergi membangun roket luar angkasa.

Dengan sedikit terkejut, ia berkata pada saya dengan terkagum-kagum, “Hebat bener yah kamu bantu istrimu,

kalau aku sih ngga terlalu bantu, soalnya kalau aku bantuin istri, ngga ada pujian sedikitpun. Minggu lalu aku ngepel lantai, tapi dia nggak bilang makasih sama sekali.”

Saya kembali duduk bersamanya dan menjelaskan bahwa saya tidak “membantu” istri saya.

Sebenarnya, istri saya tidak butuh bantuan… ia membutuhkan seorang partner.

Saya tidak membantu istri saya membersihkan rumah… karena saya juga tinggal di rumah ini dan saya harus membersihkannya juga.

Saya tidak membantu istri saya masak… saya masak karena saya lapar dan ingin makan.

Saya tidak membantu istri saya mencuci piring setelah makan… karena saya juga menggunakan piring-piring itu.

Saya tidak membantu istri saya mengasuh anak-anak… karena mereka adalah anak-anak saya, dan itu adalah kewajiban saya sebagai seorang ayah.

Saya tidak membantu istri saya mencuci, menjemur, dan melipat pakaian… karena pakaian itu juga milik saya dan anak-anak saya.

Di rumah, peran saya bukan untuk “membantu”… tapi saya adalah “bagian” dari rumah itu.

Saya bertanya pada teman saya, “pernahkah kamu berpikir seperti itu? Ketika kamu, mengepel lantai, sekali saja, kamu mengharapkan pujian dan kehormatan?

Kenapa?”

Saya bertanya lagi padanya, “kapan terakhir kali kamu bilang terima kasih, setelah istrimu selesai membersihkan rumah, mencuci baju, memandikan anak, masak, merapikan barang, dll?”

“Mungkin bagi kamu, di mana laki-laki dielu-elukan, seolah-olah semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab istri. dan para suami cuma terima beres saja?”

“Bantulah istrimu dan bersikaplah seperti pendamping yang sejati, bukan tamu, yang cuma pulang untuk makan, tidur, mandi, dan dituruti keinginannya.”

Perubahan dalam masyarakat dimulai dari rumah kita.

Mari ajarkan putra-putri kita arti kebersamaan yang sesungguhnya.

♡♡♡

AKU BUKAN SEDANG MEMBANTU ISTRIKU

Sebulan lalu temanku datang dari Cianjur ke rumah untuk silahturahim, kami duduk bersama dan mengobrol banyak tentang pengalaman kami kuliah di Saudi Arabia tepatnya di Kota Riyadh.

Di tengah pembicaraan, aku bilang :

Maaf ya bro…!!!

“Aku mau nyucuci piring, tunggu sebentar ya”

Dia menatap ku seolah aku barusan bilang bahwa aku akan membangun sebuah roket.

Lalu dia berkata padaku dengan rasa kagum tapi sedikit bingung :

“Aku senang kau membantu istrimu. Kalo aku sih…. gak bantuin istriku, karena pas ku bantu, dia gak memujiku. Minggu lalu aku mengepel lantai dan dia gak ngucapin terima kasih.”

Aku duduk lagi dan menjelaskan pada temanku ini, bahwa aku gak sedang “membantu” istriku.

Sebenarnya, istriku gak butuh bantuan, tapi dia butuh partner. Aku adalah seorang partner di rumah dan kadang stigma di masyarakat yang membuatnya seolah suami dan istri memiliki peran yang berbeda soal pekerjaan rumah tangga. Istri mengerjakan semua, dan suami tidak membantu. Atau kalaupun membantu, hanya sedikit saja. Tapi sebenarnya itu bukan sebuah “bantuan” untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Aku bukan sedang membantu istriku membersihkan rumah. Karena aku juga tinggal di rumah ini, maka aku perlu ikut membersihkannya juga.

Aku bukan sedang membantu istriku memasak. Tapi.karena aku juga ingin makan, maka aku perlu ikut memasak.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci piring setelah makan. Tapi krn aku jugalah yg memakai piring- piring itu, maka aku ikut mencucinya.

Aku bukan sedang membantu istriku mengurus anak-anak nya. Tapi krn mereka adalah anak-anakku juga, maka sebgai ayahnya, aku wajib ikut mengasuh mereka.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci dan melipat baju. Tapi karena baju-baju itu jg milikku dan anak- anakku, maka aku ikut membereskannya juga.

Aku bukan sebuah Bantuan di rumah, tapi aku adalah Bagian dari rumah ini.

Dan soal pujian, aku memintamu wahai temanku, nanti setelah istrimu membersihkan rumah, mencuci baju, mengganti sprei, memandikan anak, memasak, membereskan barang, dll, kau hrs mengucapkan terima kasih padanya, tapi harus

ucapan terima kasih yg spesial, seperti :

“Wow, Sayangkuu!! Kamu hebatt!!!”

Apa itu terasa konyol bagimu?

Apa kau merasa aneh?

Padahal ketika kau, cuma sekali seumur hidup mengepel lantai, lalu setelah selesai kau mengharapkan sebuah pujian besar dari istrimu, apa itu gak lebih aneh ? Pernahkah kau berpikir sejauh itu?

Mungkin karena bagimu, budaya patriaki mengukuhkan bahwa semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawab.istri.

Mungkin kau kira, mengerjakan semua pekerjaan rumah.yang banyak itu, bisa diselesaikan tanpa menggerakkan jari? Maka hargai dan puji istrimu seperti kau ingin dihargai dan dipuji, dengan cara dan perlakuan yg sama.

Maka ulurkan tanganmu untuk membantunya, bersikaplah seperti Partner sejati. Bukan seperti tamu yg datang hanya untuk makan, tidur, mandi dan terpenuhi kepuasannya.

Merasa nyamanlah di rumahmu sendiri.

Perubahan nyata dari masyarakat, dimulai dari rumah kita. Mari ajarkan anak lelaki dan perempuan kita, arti sebenarnya dari kebersamaan keluarga.

♡♡♡
Wahai Ayah, Perhatikan Ketika Menikahkan Putrimu

Wahai Ayah

Perhatikan perkataan ulama berikut:

“Janganlah kamu menikahkan putrimu kecuali dengan laki-laki yang bertakwa. Karena jika dia mencintai istrinya maka akan memuliakannya dan jika tidak suka maka tidak akan mendzaliminya.” [1]

Wahai ayah,

Engkau tahu mengapa Laki-laki tidak perlu ada wali nikah Sedangkan wanita wajib?

Karena tugas wali adalah Menjaga anak perempuannya Dari laki-laki tidak bertakwa yang Hanya ingin manisnya saja Lalu dibuang hempaskan.

Anak perempuan mudah sekali Terlena bahkan “gelap mata” Dengan romatis sesaat & Pengorbanan semu laki-lakiPadahal ia rubah bertopeng kelinci.

Tugas engkau wahai ayah, Karena anak perempuan-mu Akan menjadi “tawanan” suaminya .Susah lepas sekali terikat. 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Hendaknya kalian berwasiat yang baik untuk para wanita karena mereka sesungguhnya hanyalah tawanan yang TERTAWAN oleh kalian” [2]

Tugas kalian wahai ayah:

1) Perbaiki diri kalian dengan takwa dan kebaikan.

2) Segera nikahkan jika laki-laki yang datang TERBUKTI baik agama dan akhlaknya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai akhlak dan agamnya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas.” [3]
♡♡♡
Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan mataku bagaimana kau menjadi istri di hari pertama pernikahan kita. Aku menyaksikan punggungmu dari bingkai pintu, saat kau sedang asyik membuatkan nasi goreng di dapur untukku. Kau menoleh, secepat kilat aku pun bersembunyi.

Kau mengerutkan dahi. ‘Kayak ada yang ngintip?’

begitulah mungkin kau berfikir. ‘Memang’, batinku… hehe. Aku menutupi tawa renyah dengan gumpalan tangan.

Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan retinaku bagaimana kau mengusap peluh di pelipismu. Kau sepertinya capek sekali. Pagi-pagi sudah membereskan rumah, menyiapkan sarapan, dan juga merapikan baju- baju. Maafkan jika hari itu aku pura-pura tidur, ya. Tak membantumu. Aku hanya ingin merekam semua kebaikanmu, Sayang. Agar ketika di suatu saat aku jengkel dan kesal kepadamu, rekaman itu dapat diputar kembali; untuk kemudian meredamkan amarah di hati.

Sebab kau terlalu baik untuk disakiti.

Kau, yang dengan rela meninggalkan orangtuamu demi menemani dan melayani aku. Meninggalkan kemanjaan bersama papahmu. Meninggalkan kehangatan bersama mamahmu. Itu semua demi aku? Lelaki yang baru dikenalmu ini? Oh sungguh, Dik. Aku akan memurkai diriku sendiri jika seandainya aku menyakiti dirimu.

Tidak. Aku tak akan menyakitimu. Aku akan berusaha untuk itu, Dik.

Kau, seorang perempuan yang dengan ikhlas melepaskan harapan, cita-cita, dan impian hanya untuk mewakafkan sisa hidupmu untuk lelaki seperti diriku. Melayaniku di sepenuh hari. Menenemaniku di sepanjang umur. 

Oh, Dik. Bagaimana mungkin mata ini melototimu sedang aku melihat semuanya. Melihat pengorbananmu untukku.

Aku mungkin akan marah di sesekali waktu, namun sekeras-kerasnya marahku adalah setukil senyuman.

Tidak akan kubiarkan tangan, lisan, atau bahkan hatiku melukai dirimu, Dik. Insya Allah.

“Abi, sarapan dulu,” titahmu di mulut pintu. Aku masih membungkus tubuhku dengan selimut. Tak berani menoleh. Aku takut kau tahu kalau mataku sedikit basah. Maaf, aku memang selalu cengeng untukmu, .

‘Makasih’. Barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan derai ini.

“Abi masih tidur? Capek ya?” tanyamu. Kini kau sudah.duduk di tebing kasur. Mengusap bahuku dengan lembut, dan bilang… “Ya udah, adik panasin aja ya nasi gorengnya?”

“O enggak, Dik,” ujarku sambil menyingkap selimut,

“Udah bangun kok.”

Kau menatapku. Menyipitkan sebelah mata, lalu menyentuhkan ujung jempol di sudut mataku, “Abi kayak orang nangis?”

Aku langsung mengocek-ngocek mata. “Siapa yang nangis, Dik,” kilahku, “kalau bangun biasa berair seperti ini abi mah.”

Aku nyengir. Maaf, ya.

Kau ikutan nyengir. “Kebiasaan yang aneh,” katamu menggeleng.

.

Maaf ya, Dik. Aku baru saja berbohong. Tak apa, kan?

“Ini nasgor spesial buat abi,” katamu di meja makan,

“cobain deh.”

Kau tahu, Dik. Andai ini keasinan, maafkan sebab aku akan berbohong lagi, mengatakan bahwa ini makanan terlezat di muka bumi. Aku mengacungkan dua jempol,

“Wenak,” pujiku dengan makanan yang masih tertahan di mulut. Aku tak perlu berbohong, ini memang enak. Asli.

Sebenarnya, ada kebohongan lagi. Ini hari Senin, dan aku selalu melaksanakan puasa Sunnah di hari ini. Aku sudah sahur jam dua tadi saat kau tengah terlelap. Tapi baiklah, tak apa tak puasa sehari. Demi menghormatimu.

Demi mencicipi makananmu. “Adik tak ikut makan?” tanyaku sambil melahap, menghabiskan hampir setengah piring.

Kau tersenyum, “Ini kan hari senin, Bi. Maaf, ya. Adik lagi puasa.”

Puasa? Aku tersedak. Mataku membulat.

“Kenapa, Bi?”

“Abi sebenarnya sedang puasa juga, Dik. Curang.”

“Kenapa gak bilang dari tadi?” tanyamu sambil menahan tawa.

“Ya adik gak nanya sih.” sahutku pura-pura marah.

Tak disangka, kau meraih gelas. Menenggak air.

Menatapku dengan sedikit senyum saat mulutmu tepat di ujung gelas.

“Katanya puasa,” heranku.

“Dibatalin aja, Bi.”

“Kenapa?”

“Ngehormatin kamu.”

Aku tersenyum. Senyum paling manis.

Ya. Islam adalah ajaran sederhana. Puasa di luar Ramadhan adalah sunnah, sedang menyenangkan pasangan adalah wajib. Kita harus bersyukur dengan ajaran mulia ini, Dik.

“Abi?”

“Iya, Dik?”

“Suapiiiiiiin….”.

Ah, selain iman dan Islam, kau adalah nikmat terindahku, Dik. Kau adalah surgaku. Selamanya.

​Karena Allah, Bukan Karena Si Dia.

Adakalanya langit yang kelabu itu akan menjadi cerah saat diterangi cahaya. Sama halnya dengan kita yang terkadang lemah taat pada Allah, akan menjadi semangat saat kita terus berdekatan denganNya.

Kita yang saat ini sedang memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih baik. Menata hidup agar tidak lagi salah arah. Merangkai mimpi agar memiliki tujuan hidup dan… memantaskan diri untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga niat itu semua lurus karena Allah semata bukan karena yang lain. Perihal pasangan hidup misalnya, kita memantaskan/memeperbaiki diri seolah-olah hanya karena ingin mendapatkan pasangan yang Shalih atau agar jodoh kita menjadi baik nantinya. Padahal, sesuatu yang bukan karena Allah, sesuatu yang bukan di niatkan untuk ibadah maka akan sia-sia. Semooga niat kita lurus untuk terus memperbaiki diri karena Allah, bukan karena perihal jodoh atau apapun. Sebab, saat memantaskan diri tak lagi karena Allah, mungkin bisa saja kita mendapatkan pasangan yang baik, tapi apakah Allah ridha?

Memantaskan diri itu penting, tapi kembali lihat niat kita. Apakah murni karena Allah atau mungkin karena jodoh? Ingat, yang paling penting bagi kita untuk hidup didunia ini adalah untuk mendapatkan ridha Allah bukan ridha jodoh. Mari kira meraih cinta Allah, laksakanlah perintahNya dan meninggalkan laranganNya (bertakwa padaNya), semoga kita selalu diridhaiNya. Aamiin, Inshaa Allah.

Pesan Untuk Laki-laki

Hati-hati…

Kalau lihat pasangan kamu nangis, jangan kamu katakan “buat apa nangis? Nangis itu tidak menyelesaikan masalah” 

Laki-laki yang dipuja wanita biasanya tidak menyuruh menghentikan tangisan, apalagi bertanya buat apa nangis. 

Lelaki yang dipuja wanita itu cirinya adalah menyediakan tempat yang paling nyaman untuk menangis sampai tuntas… dibahunya… disandarannya… 

Wanita itu selalu membutuhkan telinga untuk mendengarkan untuk mendengarkan curhatnya.

KISAH RASULULLAH S.A.W.

🌸KISAH RASULULLAH  & PENGEMIS BUTA.

Belajar dari kemuliaan & Kasih sayang Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Di sudut pasar Madinah Al-Munawwarah, seorang pengemis Yahudi buta setiap hari bila ada yang mendekatinya, ia selalu berkata, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir.

Bila kalian mendekatinya, kalian akan terpengaruh”. Sementara itu, setiap pagi rasulullah SAW mendatangi pengemis itu dengan membawa makanan. Tanpa sepatah katapun, Rasulullah menyuapi pengemis itu,walaupun setiap menyuapi pengemis itu selalu berpesan jangan dekati orang yang bernama Muhammad.

Rasulullah melakukannya hingga beliau wafat. Setelah Rasulullah wafat,tidak ada lagi yang menyuapi pengemis itu. Hingga suatu hari Abu Bakar berkunjung kerumah putrinya, Aisyah. . 

Beliau bertanya “Anakku ,adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?” Aisyah menjawab ” Wahai ayah, engkau ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnahpun yang belum ayah lakukan, kecuali satu sunnah saja.” 

“Apakah itu?” Tanya Abu Bakar . “Setiap pagi Rasulullah selalu pergi keujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta. Beliau sendiri yang menyuapinya.” 

Teranglah Aisyah..

Keesokan harinya,Abu Bakar pergi ke pasar dg membawa makanan untuk pengemis itu. 

Ketika Abu Bakar menyuapinya , pengemis itu marah dan berteriak “Siapa kamu? 

“Aku orang yang biasanya menyuapimu” jawab Abu Bakar .

 “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Bila ia datang padaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya dengan mulutnya setelah itu ia berikan padaku.” 

Abu Bakar tak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah satu sahabatnya. Orang yang mulia telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah SAW” . 

Setelah mendengar itu pengemispun menangis dan berkata “Benarkah demikian? Selama ini aku menghinanya, memfitnahnya. Ia tidak pernah memarahiku sedikitpun.  Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia” . Pengemis Yahudi buta itupun akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar.

Masha Allah…

Sahabatku!..

Entah kenapa setiap kali saya membaca kisah ini selalu menangis..😢😢

Semoga kisah Rasulullah ini, selalu menjadi suri tauladan utk kita semua khususnya umat muslim..

Aamiin Yaa Robb..💕😇

​NUUR (CAHAYA) NABI MUHAMMAD SAW

Apa sebabnya para Salafuna Shalihin kita dulu kalau mendengar Adzan, sampai pada lafadz : 

“ASYHADU ANNAMUHAMMADURRASULULLAAH”.

Mereka kemudian mencium kedua ujung Jari Jempolnya dan mengusapkan kekelopak Mata, dengan mengucapkan :

“MARHABAN BI HABIBI WAQURROTUL’AINIi MUHAMMAD IBNI ABDILLAH.”

Diriwayatkan, bahwa Nabi Adam As begitu heran melihat para Malaikat selalu mengikutinya dari belakang. Sehingga Nabi Adam bertanya kapada Allah Swt : “Ya Allah, kenapa mereka selalu mengikutiku?”.

“Wahai Adam, karena mereka telah tertarik dengan Cahaya keturunanmu, yang telah ada dalam Sulbimu.”

Kemudian Nabi Adam As memohon kepada Allah Swt agar memindahkan Cahaya yang ada di Sulbinya kedepan…Maka Allah Swt meletakan Cahaya tersebut diantara kedua Alis Nabi Adam As,

Maka dengan segera para Malaikat berada di hadapan Nabi Adam…Nabi Adam heran dengan apa yang di lakukan para Malaikat-Malaikat yang selalu memandang Wajahnya.

Nabi Adam As berdoa agar diperkenankan melihat Cahaya tersebut…Maka Allah Swt menampakan Cahaya tersebut pada Kuku kedua Ibu Jari Nabi Adam As, dan membuat Nabi Adam begitu kagumnya dengan keindahan Cahaya tersebut. 

Dengan keindahan Cahaya itu, Nabi Adam berkata : “Ya Allah, Cahaya siapakah ini?”.

Allah Swt menjawab :

“Itu adalah Nuur (Cahaya) Muhammad…Wahai Adam, kalau tidak karena Nuur Muhammad, maka tidak akan Aku ciptakan semua ini”.

Dan Allah swt menyebutkan keagungan-keagungan Nuur Sayyidina Muhammad Saw,”

Nabi Adam As sangat gembira dengan Cahaya Sayyidina Muhammad Saw yang ada pada dirinya, dan ia mencium kedua ujung Ibu Jarinya, lalu meletakan ke kelopak kedua Matanya sambil mengucapkan:

“Marhaban Bi Habibi Waqurrotul’aini Muhammad Ibn Abdillah”.

Para Salaf mengatakan bahwa, kalau kita melakukan hal tersebut Insya Allah tidak akan terkena penyakit Mata, tidak akan buta dan menguatkan ketajaman mata.”

Kitab : Sabilul Idzkaar Wal I’itibar

Karya: Al-Imam Al Quthub Al-Habib Abdullah Bin Alwi Al-Haddad.

Allahumma Shalli ‘Alaa Muhammad Wa ‘Alaa Aali Muhammad.

Semangat Hijrah

Untuk semuanya yang ingin atau baru memulai berhijrah selalu berbaik sangkalah kepada Allah karena Dia maha tahu yg terbaik bagi hambanya.

Jika kita ketika berhijrah, teman-teman yang biasa bersama kita mulai menjauhi kita, ketahuilah! bukan mereka yang menjauhi kita tapi Allah yang menjauhkan mereka dari kita agar hijrah kita menjadi lancar dan istiqamah. Kemudian Allah akan mendekatkan teman-teman baru kepada kita untuk membantu perjalanan hijrah kita. Wallahu ta’ala bishawwab. 

Jika kita sudah istiqamah, jangan berharap bahwa Allah harus mencukupkan dunia kita because hijrah itu bukan untuk dunia, tapi untuk Allah, untuk akhirat kita….. 

Jika banyak ujian dalam hijrah kita, ketahuilah! Kita taat dan kita diuji, itu bukan musibah, bukan azab, tapi Allah sayang sama kita. Allah ingin melihat sejauh mana kita bersungguh-sungguh dengan niat kita. Ketahuilah, bahwasanya, ujian itu menghapus dosa dan mengangkat derajat kita.

Gak mungkin orang yg datang kepada Allah pulang dalam keadaan kecewa itu gak mungkin banget, mustahil. Allah itu Maha Adil, Maha pengasih dan Maha Penyayang. Semangat berhijrah dan raih cinta Allah. Penuhi hak Allah dan Allah kan penuhi hak kita. Wallahu ta’ala bishawwab.

​KOTORAN JIWA

Seorang murid mendatangi rumah gurunya untuk berkonsultasi tentang kondisi akhir-akhir ini ketika menjalani dzikir semakin dalam.
Murid bertanya , “ Guru mengapa akhir-akhir ini ketika saya dzikir air mataku keluar jatuh bercucuran, padahal hatiku tidak sedih dan punya masalah…?”

Sang Gurupun menjawab, “ Anakku ketika kamu dari kecil sampai besar setiap kamu punya masalah atau beban yang berat, ketika hatimu menderita, semua penderitaan dan kesedihan itu masih terekam dalam perasaan yang terdapat di jiwa yang paling dalam. Walaupun bertahun-tahun semua kepedihan itu masih tersimpan rapat dalam jiwa. Ketika dzikirmu menembus hati yang paling dalam, maka perasaan tersingkap dan keluarlah kotoran-kotoran jiwa yang tersimpan itu. Sehingga menetes bercucuran airmata kamu, itulah pembersihan jiwa bagian perasaan. Jika kotorannya semakin berkurang, maka hatimu menjadi bersih dan bahagia.”

Sang Murid bertanya kembali, “ Guru…! mengapa ketika saya semakin tekun berdzikir kepada Allah, justru saya sering sakit-sakitan, padahal sebelumnya saya jarang sakit, tapi sekarang tubuh saya mudah jatuh sakit…?”

Sang guru menjawab, “ Semua dosa-dosa yang pernah kamu kerjakan selama hidupmu ini juga masih tersimpan dalam jiwamu. Jika kamu tidak bertaubat dan membersihkan jiwamu, maka akan menjerumuskan dirimu ke dalam siksa neraka. Ketika dzikirmu semakin dalam dan masuk ke jiwamu, maka semua dosa-dosa itu dikeluarkan, jika keluarnya terlalu besar volumenya, maka tubuhmu tidak kuat, sehingga menyebabkan sakit. Berbahagilah orang yang sedang mengalami sakit karena dosa-dosanya sedang dibersihkan oleh Allah.

“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim).

Jika dosa-dosamu semakin berkurang dan jiwamu menjadi bersih, maka tubuhmu yang sakit-sakitan menjadi sehat kembali. Jiwamu seperti cermin yang mengkilap bisa menerima dan memantulkan cahaya dari Allah.”

Sang murid menjawab, “ Terimakasih Guru atas penjelasannya, sekarang saya telah faham, semoga saya bisa istiqomah meneruskan langkah pencarian ruhani.”

Nabi SAW bersabda,“Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan hukuman untuknya di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukan untuk seorang hamba maka Allah akan biarkan orang tersebut dengan dosa-dosanya sehingga Allah akan memberikan balasan untuk dosa tersebut pada hari Kiamat nanti”(HR Tirmidzi)

Anak Dambaanku

KISAH NYATA MENGGUGAH JIWA
Diceritakan oleh seorang Khatib ketika Khutbah Jum’at:

Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yg kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah, karena uangnya berlimpah.

Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya.

Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.

“Waduuuh saya sibuk mah, kamu aja deh yg datang.” begitu ucap si ayah kepada isterinya.

Bagi dia acara beginian sangat nggak penting, dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya.

Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah2an. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya.

Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yang akan tampil di panggung.

Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2. Ada yg menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim. Ada pula yang pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yang gegap gempita dari ayah2 mereka.

Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya…

“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief.” tanya si Umar kpd gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.

”Oh boleh..” begitu jawab gurunya.

Dan pak Arief pun dipanggil ke panggung.“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.

”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.

“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah.”

Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan) dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram).

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu, termasuk ayah si Umar yang duduk dibelakang.

”Stop, kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar.

Lalu Umar pun membaca ayat 9.

”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief, “Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”.

Si Umar pun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai.”

“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak,” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya.

Para hadirin yang muslim pun tak kuasa menahan airmatanya. Lalu pak Arief bertanya kepada Umar, ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain?” begitu tanya pak Arief penasaran.

Begini pak guru, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, Bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW, ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim).

“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangnya..”

Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tsb…

Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengar teriakan “Allahu Akbar!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung.

Ternyata dia ayah si Umar, yang dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak, bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.

”Ampuun nak.. maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama, apalagi mengajarimu membaca Al Quran.” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.

”Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak, ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak. Ayah maluuu nak” ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu2.

Semua jama’ah pun terpana, dan juga mulai meneteskan airmatanya, termasuk saya.

Diantara jama’ah pun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya, luar biasa haru. Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu. Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya, mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepada anaknya, mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya membaca Al Quran, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya.

​Tegarkanlah Hatimu

Ketika pedulimu sudah tidak dihargai. Tak ada alasan bagimu untuk terus menangisi. Ketika pedulimu sudah tak dianggap. Tak ada alasan bagimu untuk tetap berharap. Ketika pedulimu sudah dicampakkan. Tak ada alasan bagimu untuk tetap bertahan. Ketika pedulimu sudah dibuang. Tak ada alasan bagimu merasa bimbang. Ketika pedulimu sudah tak diharap. Tak ada alasan bagimu untuk terus meratap. Hidup terlalu singkat jika hanya untuk berharap. Mengharapkan orang yang sudah tidak peduli adalah sebuah kesia-siaan. Memikirkan orang yang sudah tidak peduli adalah sebuah kerugian. 
¤ Tergarkaah hatimu, Lapangkan dadamu. Bukankah dunia diluar sana masih luas?  Bukankah diluar sana masih banyak hati yang masih ingin peduli?