Hati-hati dengan Ghibah.

Teman-teman… ingat gak kapan terakhir kalian menggunjing orang lain? Kita menceritakan keburukan, kejelakan, ataupun aib orang lain. Menceritakan sesuatu yang tidak disukai oleh orang yang kalian ceritakan itu untuk menceritakannya. Apakah diantara kalian ada yang hobinya suka ngegosipin orang? Hati-jati! Itu namanya ghibah dan ghibah itu termasuk dosa besar. Yang paling suka ngegibah itu kaum perempuan, itulah mengapa kata Rasul paling banyak wanita di neraka daripada laki-laki. Ternyata, selain aurat wanita yang tidak ditutup, lisan yang tidak dijaga juga bisa menjadi salah satu penyebab masuknya seorang wanita ke dalam neraka. Kalo udah sama teman, pasti suka nyelip-nyelib ghibah ke dalam pembicaraan mereka, misalnya ngegibah teman lain, tetangga, saudara dll, contohnya nih…

“Eh… tahu gak, si A, jilbabnya aja yang syar’i, tapi masih pacaran”

“Eh, lu tahu ibu haji tetangga gua itu kan? Udah haji tapi suka gosipin orang, udah gitu… kikir lagi”

“Tahu gak, pamannya si A, paling pinter ngomong agama, rajin ibadah, juara suka nolong orang, tapi gua dengar-dengar… katanya dia selingkuh bla bla bla….. munafik gak sih?”

Ingat mentemen…. Diantara dosa-dosa besar, adalah Ghibah salah satunya. Apa itu ghibah, ghibah itu ya…. menceritakan kejelekan sifat atau fisik seseorang di belakang orang yang di bicarakanya yang sesuai dengan buktinya, jika membicarakanya di hadapan orangnya maka di sebut menghina atau memperolok-olokan atau menyakiti hati orang tersebut. Itu juga dosa besar kecuali niatnya menasehati atas dasar kasih sayang dengan cara yang halus dengan niat karena Allah tanpa merasa diri kita lebih baik dari orang itu dan bicaranya harus langsung kepada orangnya yang di maksud dan tidak boleh di hadapan orang lain yang tidak di maksud.. Paham? Jadiii… mulai sekarang, jaga lisannya. Emang mengunjing mungkin bikin kalian seneng atau bahagia. Tapi apakah bahagia dengan cara menceritakan keburukan itu baik? Tidak mentemen…. Islam melarang umatnya melakukan hal itu. Memang lisan terasa begitu ringan saat ngeghibah, tapi ingat, berat timbangan dosanya. Kalo ya nih… kita mengetahui atau kita melihat atau kita mendengar keburukan-keburukan orang, jangan disebar, jangan dibicarakan dengan maksud menejelek-jelakkan ataupun merendahkan dia. 

Tahu gak? Betapa banyak kaum muslimin yang mampu menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla dengan baik, menjalankan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mampu menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomar, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, senantiasa puasa senin kamis. Namun…..mereka gak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah.Bahkan walaupun mereka telah tahubahwasanya ghibah itu tercela danmerupakan dosa besar, namun tetap saja mereka gak mampu menghindarkan diri mereka darighibah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-.benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik. Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di berkata:

 “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan suatu gambaran yang membuat (seseorang) lari dari ghibah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ﻭَﻻَ ﻳَﻐْﺘِﺐْ ﺑَﻌْﻀُﻜُﻢْ ﺑَﻌْﻀًﺎ ﺃَﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﻛُﻞَ ﻟَﺤْﻢَ

ﺃَﺧِﻴْﻪِ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﻜَﺮِﻫْﺘُﻤُﻮْﻩُ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻮَّﺍﺏٌ

ﺭَﺣِﻴْﻢٌ

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang dighibahi tadi) yang telah menjadi bangkai, yang (hal ini) amat sangat dibenci oleh jiwa manusia. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai, tidak bernyawa- maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup”

Berikut beberapa hadits Rasulullah mengenai ghibah:

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah harom, yaitu darahnya, kehormatannya, dan hartanya”. [HR. Muslim]

Orang yang mengghibah berati dia telah mengganggu kehormatan saudaranya, karena yang dimaksud dengan kehormatan adalah sesuatu yang ada pada manusia yang bisa dipuji dan dicela.

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Pada malam isra’ aku melewati sekelompok orang yang melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”, lalu aku bertanya: ”Siapakah mereka ya Jibril?”. Jibril menjawab: “Merekaadalah orang-orang yang mengghibahi manusia, dan mencela kehormatan-kehormatan mereka”.

Mau menjadi orang yang mencakar-cakar wajahnya sendiri?

Hati-hati dengan lisanmu wahai saudara saudariku! Oleh karena itu, mulai hari ini, berhenti ngeghibah orang lain, berhenti mencaci orang lain. Orang buruk pun gak usah diceritain, ga usah urus urusannya orang. Tugas kita kalo kita melihat aib pada diri orang, “Alhandulillah, gak ada pada saya”, “ya Allah, berikan dia Hidayah” cukup, sebatas itu saja. Jangan lebih. “Kenapa dia begini, kenapa dia begitu, kenapa dia begini bla bla bla….” untuk apa kamu campurin itu? Apa gunanya buat kamu? 

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberi Hidayah oleh Allah swt. Aamiin.