ABDURRAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN

KEMANAPUN KITA PERGI, RIZKI AKAN MENGHAMPIRI KITA.

“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR Ibnu Hibban No. 1084)

Miskin kaya sudah ada yang atur.

ABDURRAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi “down”, saya selalu terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah Saw berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. 

Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. 

Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur..Alhamdulillah..kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf.

Sahabat gembira. 

Abdurrahman bin Auf r.a pun gembira.

Semua happy!

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.

Abdurrahman bin Auf r.a gembira juga sebab…berharap

jatuh miskin!
MasyaAllah..hebat.

Coba kalau kita? 

Usaha goyang dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdurrahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin.

Namun.. Subhanallah..Rencana Allah itu memang terbaik..

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah KURMA BUSUK !

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahuakbar..

Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah:

“Wahai manusia, di langit ada rezki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian ” (Qs. Adz Dzariat, 22 )

Jadi..yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

ALLAH Swt lah yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat spesial buat kita, sebab ini membuat kita harus YAKIN bahwa rezeki itu dari Allah. Bukan hanya karena usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omset yang banyak.

Kadang-kadang, KEYAKINAN dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat…

Semoga kisah ini dapat mensuplai kembali semangat dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita.

Semoga bermanfaat.

ABDURRAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN

KEMANAPUN KITA PERGI, RIZKI AKAN MENGHAMPIRI KITA.

“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR Ibnu Hibban No. 1084)

Miskin kaya sudah ada yang atur.

ABDURRAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi “down”, saya selalu terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah Saw berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. 

Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. 

Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur..Alhamdulillah..kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf.

Sahabat gembira. 

Abdurrahman bin Auf r.a pun gembira.

Semua happy!

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.

Abdurrahman bin Auf r.a gembira juga sebab…berharap

jatuh miskin!
MasyaAllah..hebat.

Coba kalau kita? 

Usaha goyang dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdurrahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin.

Namun.. Subhanallah..Rencana Allah itu memang terbaik..

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah KURMA BUSUK !

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahuakbar..

Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah:

“Wahai manusia, di langit ada rezki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian ” (Qs. Adz Dzariat, 22 )

Jadi..yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

ALLAH Swt lah yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat spesial buat kita, sebab ini membuat kita harus YAKIN bahwa rezeki itu dari Allah. Bukan hanya karena usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omset yang banyak.

Kadang-kadang, KEYAKINAN dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat…

Semoga kisah ini dapat mensuplai kembali semangat dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita.

Semoga bermanfaat.

Sepenggal jejak Abu Hurairah r.a

Saudara-saudariku.

Mari kita simak kisah berikut ini: 

Suatu hari Abu Hurairah r.a. salah satu sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits, beliau beri’tikaf di masjid Nabawi masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW di kota madinah. Saat itu Abu Hurairah sangat senang sekali karena melihat ada seorang laki-laki yang sedang duduk berdo’a kepada Allah di dalam masjid tersebut. 

Setelah Abu Hurairah melihatnya, ternyata orang itu sedang bersedih. Abu Hurairah pun menghampirinya. Menanyakan apa yang menyebabkan ia bersedih. Setelah mengetahui masalah yang menimpanya, Abu Hurairah pun menawarkan bantuan kepadanya.

Wahai saudaraku ”Mari kita keluar, aku akan membantumu, aku akan membantu menyelesaikan masalahmu.”

Orang laki-laki itu bertanya, Apakah kamu akan meninggalkan i’tikaf demi menolongku.

Abu Hurairah menjawab, ”Ya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, bahwa seorang mukmin yang mau memenuhi kebutuhan saudaranya (mau menolong saudaranya, itu lebih baik daripada beri’tikaf di masjidku ini (masjid nabawi) selama satu bulan” (hadits riwayat thabaranii).

Rasulullah SAW bersabda:

خير الناس أنفعهم للناس

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Imam Ahmad, dan Dishahihkan Al Albani)

Jadi, seorang muslim yang paling baik adalah yang paling bermanfaat untuk umat, yang suka menolong saudaranya, suka membantu menyelesaikan masalah saudaranya.

Tidak dibatasi siapapun Muslim itu, di manapun ia berada, apapun profesinya, semuanya dihasung untuk memberikan manfaat kepada saudaranya. Seorang Muslim bukanlah manusia egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Akan tetapi, seorang muslim adalah manusia yang peduli dengan orang lain dan suka membantu saudaranya.

Seorang Muslim yang menjadi pedagang misalnya, tujuannya bukan sekedar mencari untung sebesar-besarnya, tapi tujuannya atau orientasinya adalah bagaimana ia memberikan manfaat kepada orang lain, membantu orang lain memperoleh apa yang mereka butuhkan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu keperluannya.

Kita berharap, kita berdo’a kepada Allah, mudah-mudahan Allah memberi kemudahan kepada kita untuk menjadi muslim yang suka membantu dan menolong saudara-saudaranya.

*Aamiin ya Rabbal aalamiin*

Tipu Daya Iblis

Kisah Teladan Islami

Ada sepasang Suami isteri itu hidup tenteram mula-mula. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah Tuhan. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali. Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Tetapi sudah beberapa lama isterinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika segala-galanya serba cukup. 

Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mahu mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan is melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Is mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris. 

Ini syirik, fikir lelaki yang alim tadi. “Ini harus dibanteras habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain Allah.” Maka pulanglah dia terburu. Isterinya hairan, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih hairan lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keldainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu. Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesusuk tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyerupai sebagi manusia. 

Hai, mahu ke mana kamu? tanya si iblis. 

Orang alim tersebut menjawab, “Saya mahu menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon syirik itu.” 

Kamu tidak ada apa-apa hubungan dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang sahaja. 

Tidak boleh, kemungkaran mesti dibanteras, jawab si alim bersikap tegas. 

Berhenti, jangan teruskan! bentak iblis marah. 

Akan saya teruskan! 

Kerana masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis. Kalau melihat perbezaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah boleh dibinasakan. Namun ternyata iblis menyerah kalah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan kesakita dia berkata, “Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sembahyang Subuh, di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan wang emas empat dinar. Pulang saja berburu, jangan teruskan niat Tuan itu dulu,” 

Mendengar janji iblis dengan wang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringatkan isterinya yang hidup berkecukupan. Ia teringat akan saban hari rungutan isterinya. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan sahaja dia sudah boleh menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan isterinya itu maka pulanglah dia. Patah niatnya semula hendak membanteras kemungkaran. 

Demikianlah, semnejak pagi itu isterinya tidak pernah marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai sembahyang, dibukanya tikar sembahyangnya. Betul di situ tergolek empat benda berkilat, empat dinar wang emas. Dia meloncat riang, isterinya gembira. Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar sembahyang, masih didapatinya wang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah tikar sembahyangnya tidak ada apa-apa lagi keculai tikar pandan yang rapuh. Isterinya mulai marah kerana wang yang kelmarin sudah dihabiskan sama sekali. 

Si alim dengan lesu menjawab, “Jangan khuatir, esok barangkali kita bakal dapat lapan dinar sekaligus.” 

Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai sembahyang dibuka tikar sejadahnya kosong. 

Kurang ajar. Penipu, teriak si isteri. “Ambil kapak, tebanglah pohon itu.” 

Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya hingga ke ranting dan daun-daunnya, sahut si alim itu. 

Maka segera ia mengeluarkan keldainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keldainya menuju ke arah pohon yang syirik itu. Di tengah jalan iblis yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. Katanya menyorot tajam, “Mahu ke mana kamu?” herdiknya menggegar. 

Mahu menebang pohon, jawab si alim dengan gagah berani. 

Berhenti, jangan lanjutkan. 

Bagaimanapun juga tidak boleh, sebelum pohon itu tumbang. 

Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis yang kalah, tapi si alim yang terkulai. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh hairan, “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?” 

Iblis itu dengan angkuh menjawab, “Tentu sahaja engkau dahulu boleh menang, kerana waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh belantaraku menyerangmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya kerana tidak ada wang di bawah tikar sejadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh kebolehanmu, tidak mungkin kamu mampun menjatuhkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu.” 

Mendengar penjelasan iblis ini si alim tadi termangu-mangu. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas kerana Allah lagi. Dengan terhuyung-hayang ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sedar bahawa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan kerana Allah, dan ia sedar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain dari kesiaan yang berlanjutan . Sebab tujuannya adalah kerana harta benda, mengatasi keutamaan Allah dan agama. Bukankah bererti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata-mata ? 

Barangsiapa di antaramu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin hendaklah berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, hendaklah mengingkari dengan hatinya (tinggalkan). Itulah selemah-lemah iman. 

Hadith Riwayat Muslim

​NUUR (CAHAYA) NABI MUHAMMAD SAW

Apa sebabnya para Salafuna Shalihin kita dulu kalau mendengar Adzan, sampai pada lafadz : 

“ASYHADU ANNAMUHAMMADURRASULULLAAH”.

Mereka kemudian mencium kedua ujung Jari Jempolnya dan mengusapkan kekelopak Mata, dengan mengucapkan :

“MARHABAN BI HABIBI WAQURROTUL’AINIi MUHAMMAD IBNI ABDILLAH.”

Diriwayatkan, bahwa Nabi Adam As begitu heran melihat para Malaikat selalu mengikutinya dari belakang. Sehingga Nabi Adam bertanya kapada Allah Swt : “Ya Allah, kenapa mereka selalu mengikutiku?”.

“Wahai Adam, karena mereka telah tertarik dengan Cahaya keturunanmu, yang telah ada dalam Sulbimu.”

Kemudian Nabi Adam As memohon kepada Allah Swt agar memindahkan Cahaya yang ada di Sulbinya kedepan…Maka Allah Swt meletakan Cahaya tersebut diantara kedua Alis Nabi Adam As,

Maka dengan segera para Malaikat berada di hadapan Nabi Adam…Nabi Adam heran dengan apa yang di lakukan para Malaikat-Malaikat yang selalu memandang Wajahnya.

Nabi Adam As berdoa agar diperkenankan melihat Cahaya tersebut…Maka Allah Swt menampakan Cahaya tersebut pada Kuku kedua Ibu Jari Nabi Adam As, dan membuat Nabi Adam begitu kagumnya dengan keindahan Cahaya tersebut. 

Dengan keindahan Cahaya itu, Nabi Adam berkata : “Ya Allah, Cahaya siapakah ini?”.

Allah Swt menjawab :

“Itu adalah Nuur (Cahaya) Muhammad…Wahai Adam, kalau tidak karena Nuur Muhammad, maka tidak akan Aku ciptakan semua ini”.

Dan Allah swt menyebutkan keagungan-keagungan Nuur Sayyidina Muhammad Saw,”

Nabi Adam As sangat gembira dengan Cahaya Sayyidina Muhammad Saw yang ada pada dirinya, dan ia mencium kedua ujung Ibu Jarinya, lalu meletakan ke kelopak kedua Matanya sambil mengucapkan:

“Marhaban Bi Habibi Waqurrotul’aini Muhammad Ibn Abdillah”.

Para Salaf mengatakan bahwa, kalau kita melakukan hal tersebut Insya Allah tidak akan terkena penyakit Mata, tidak akan buta dan menguatkan ketajaman mata.”

Kitab : Sabilul Idzkaar Wal I’itibar

Karya: Al-Imam Al Quthub Al-Habib Abdullah Bin Alwi Al-Haddad.

Allahumma Shalli ‘Alaa Muhammad Wa ‘Alaa Aali Muhammad.

KETIKA AJAL DATANG

Ketika ajal datang…maka saat itu juga semua keduniaanmu pasti berakhir.. Jika engkau telah dibaringkan di kuburmu.. dan engkau telah menghadap Rabbmu, maka tidak akan berguna lagi pujian dan sanjungan manusia kepadamu.

Tidak akan bermanfaat lagi banyaknya orang yang bertepuk tangan untukmu.

Tidak akan ada efeknya lagi banyaknya like pada statusmu, begitu pula banyaknya teman dan follower-mu.

Yang nantinya akan bermanfaat dan berguna bagimu adalah : 

– sujud yang kau sembunyikan..

– linangan air mata yang kau teteskan karena takut kepada Allah..

– amal jariyah yang kau salurkan untuk agama Allah..

– bacaan Qur’an dan dzikir yang kau lirihkan karena dorongan keikhlasan..

– uluran tanganmu dalam membantu dan meringankan beban hidup orang lain..

– dan amal shaleh apapun yang kau lakukan dengan keikhlasan yang sebenarnya.

Oleh karenanya, jadikanlah akhirat sebagai tujuan hidupmu..itulah yang akan selamanya engkau nikmati di alam baka..  semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita. Kepada yang menulis dan membagikan tulisan ini, kepada pembaca, kepada orang-orang mu’min. Aamiin.

Ketika ajal datang…maka saat itu juga semua keduniaanmu pasti berakhir.. Jika engkau telah dibaringkan di kuburmu.. dan engkau telah menghadap Rabbmu, maka tidak akan berguna lagi pujian dan sanjungan manusia kepadamu.

Tidak akan bermanfaat lagi banyaknya orang yang bertepuk tangan untukmu.

Tidak akan ada efeknya lagi banyaknya like pada statusmu, begitu pula banyaknya teman dan follower-mu.

Yang nantinya akan bermanfaat dan berguna bagimu adalah : 

– sujud yang kau sembunyikan..

– linangan air mata yang kau teteskan karena takut kepada Allah..

– amal jariyah yang kau salurkan untuk agama Allah..

– bacaan Qur’an dan dzikir yang kau lirihkan karena dorongan keikhlasan..

– uluran tanganmu dalam membantu dan meringankan beban hidup orang lain..

– dan amal shaleh apapun yang kau lakukan dengan keikhlasan yang sebenarnya.

Oleh karenanya, jadikanlah akhirat sebagai tujuan hidupmu..itulah yang akan selamanya engkau nikmati di alam baka..  semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita. Kepada yang menulis dan membagikan tulisan ini, kepada pembaca, kepada orang-orang mu’min. Aamiin.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita, terutama bagi penulis, saya, dan pembaca. Aamiin.

RAHASIA KHUSYUK DALAM SHALAT

Kisah Teladan Islami:

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk. 
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?” 

Hatim berkata : “Apabila masuk waktu solat aku berwudhu’ zahir dan batin.” 

Isam bertanya, “Bagaimana wudhu’ zahir dan batin itu?” 

Hatim berkata, “Wudhu’ zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sementara wudhu’ batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :

-bertaubat 

-menyesali dosa yang dilakukan 

-tidak tergila-gila pada dunia

-tidak mencari/mengharap pujian orang (riya’)

-tinggalkan sifat berbangga (ujub)

-tinggalkan sifat khianat dan menipu

-meninggalkan sifat dengki

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Sirratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. 

Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhu’, aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun.” 

Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.