Kembalikan Anakku

KEMBALIKAN ANAK LELAKIKU

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu

kubilang pada ayahnya : “Subhanallah, dia benar-benar

mirip denganmu ya!”

Suamiku menjawab:“Bukankah sesuai keinginanmu?

Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku

mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al

Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:

“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya.

Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti

panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai

memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu

ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat!

Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia

dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya.

Pelajaran matematika sederhana sangat mudah

dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia

kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di

bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang

keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat

Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba

ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang

menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap

Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main

kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia

kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya,

wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka

hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke

sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya,

dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati

suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang

menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh

urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah

selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah

membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu.

Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil

tertawa-tawa lucu:

“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti

kulitmu!” Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia

tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang

ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang

pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku

pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan

kakeknya, datang bertamu.

Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia.

Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak

menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers

anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana.

Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di

kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu

kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu.

Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.

Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku

menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan

kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di

lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia

merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau

perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau

dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing

dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shalii ala Muhammad. Allahumma Shalli

alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai

Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu,

engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau

bahkan menengok seorang anak yang burung

peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata

ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,

“Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa

menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku.

Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang

tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku

tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah,

bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski

kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa

tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun

tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang

didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan

di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan

seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu

mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.

Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan

menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah,

untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita!

Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada

perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa

kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan

belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan

seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.

Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku

di tempatnya.

Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai.

Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku

bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali.

Menggendong bersama, bergantian menggantikan

popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi

sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama

mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa

sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan

perasaan saling membutuhkan yang tak pernah

terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa

mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia,

syukur pada-Mu

Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika

semua jalan tampak buntu.

Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di

tangan-Mu.

Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku

ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh

daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, Alhamdulillah.

Itu Sepenggal Kisah Nyata Kehidupan Bunda Neno

Warisman utk para Ayah Indonesia dalam buku

“Izinkan Aku Bertutur”

# reminder

# dakwah

# savefamily

Istrimu Bukan Pembantu

Repost by me.

Wahai Para Suami, Istrimu Bukan Pembantu!

Posted on January 26, 2015
Artikel ini ditulis oleh Meutia Halida (@chynatic) di blognya aisyafra.wordpress.com

(https://aisyafra.wordpress.com/2015/01/22/istrimu-bukan-pembantu/). 

Simak selengkapnya dibawah ini: Wahai Para Suami, Istrimu Bukan Pembantu!

Obrolan di suatu siang dengan seorang kawan.via Messenger.
Me : “Udah berapa bulan dek hamilnya?”

Fulanah : “Masuk trimester 3 mbak..”

Me : “Wah udah berat banget tuh rasanya.. Mau ngapa-ngapain serba salah. Begah..”

Fulanah : “Banget mbak, udah susah kalo duduk nyuci atau angkat yang berat-berat..Kalo habis ngerjain kerjaan rumah rasanya capek banget.. Nggak ada tenaga..”

Me : “Semua dikerjain sendiri? Emang suami nggak bantu-bantu dek?”

Fulanah : “Iya mbak, nggak ada pembantu. Suami mana mau bantuin aku beresin rumah. Pantang banget buat dia mbak. Aib..”

Me : “Lho, kenapa? Rasulullaah aja mau lho bantuin kerjaan istri. Kasian kamu dek, hamil besar masih harus kerja berat.. ”

Fulanah : “Entahlah mbak. Dari awal nikah emang udah begitu.. Ya mau gimana lagi..”
Saya menghela nafas panjang. Masih ada ya suami yang menganggap pekerjaan rumah adalah wilayah otoritas istri. Bahkan ketika sang istri sedang mengandung pun tak pernah mau untuk sekadar meringankan kewajibannya. Seakan-akan membantu pekerjaan rumah merupakan cela bagi dirinya selaku suami.

Suddenly I look back at my life and reflect. Betapa bersyukurnya saya, dibesarkan dalam keluarga yang memegang prinsip gotong royong dalam menyelesaikan tugas rumah tangga.

Bapak saya adalah tipe kepala rumah tangga yang tidak enggan berbagi tugas dengan istri dan anak-anaknya. Beliau tidak segan ikut membantu mencuci baju, menyapu, meracik sayuran dan sebagainya. Beliaulah yang sering kami andalkan untuk mengulek bumbu karena memang beliau orangnya telaten dan hasil ulekannya halus.

Nggak kayak anaknya yang dikit-dikit mengandalkan blender ketimbang cobek dan ulekan. Ahahaha. #ngaku

Karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang saling bantu membantu mengerjakan urusan rumah tangga, maka potret suami ideal yang terekam di benak saya sejak remaja adalah sosok suami yang dengan sukarela membantu pekerjaan istrinya. Dan itu adalah cita-cita saya sejak masih kecil.

“Aku nanti pengen punya suami yang kayak Abi. Suka bantuin pekerjaan istri!”

Dan ternyata Allah mengabulkannya. Saya dikaruniai sosok suami yang family man dan penyayang keluarga, plus suka berbagi tugas membereskan rumah dan segala printilannya. Mengepel, mencuci piring, memandikan anak- anak, membantu mengganti popok si kecil sampai memasak sendiri makanan dan menyuapi anak-anak di suatu sore ketika saya sudah terlelap karena kelelahan..

Ketika dinyatakan positif hamil sejak anak pertama, praktis saya dibebastugaskan dari kegiatan mencuci baju (waktu itu belum punya mesin cuci). 9 bulan suami yang menggantikan tugas saya mencuci baju. Dan melarang saya berkegiatan berat yang bisa bikin kelelahan. Alhamdulillah.. maka nikmat Allah mana lagi yang hendak saya dustakan? Semoga saya dapat terus belajar menjadi sosok istri yang senantiasa bersyukur atas segala keadaan.

Mendengarkan curhatan kawan saya tadi, menyimak realita yang terjadi di sekeliling saya, menyaksikan dengan mata kepala sendiri seorang istri yang bekerja keras sampai hampir kolaps sementara suami asyik santai duduk di kursi sambil baca koran.. Menyadarkan saya bahwa bagaimana seorang lelaki dibesarkan, akan mempengaruhi kepribadiannya kelak setelah dewasa. Contoh saja, bapak saya dulu adiknya banyak. 12 bersaudara. Sebagai anak ketiga, secara tidak langsung bapak dituntut untuk bersikap dewasa, berperan sebagai pengayom sekaligus pengasuh adik-adik beliau. Sering disuruh ke pasar, memasak, mencuci dan memandikan adik-adik ketika Mbah dulu sedang repot. Begitu juga dengan Papah mertua saya. Beliau suka membantu Mamah di dapur, mencuci piring, menyapu. Meskipun saat itu ada saya di dapur. Tapi beliau tidak merasa malu atau gengsi.

So I take this raw conclusion: seorang anak laki-laki yang sedari kecil melihat figur seorang ayah yang family man, penyayang dan tidak enggan membantu pekerjaan istri maka akan menerapkan hal yang sama kelak ketika ia berumahtangga.

“Fathers! Please show good role modeling to your sons by helping out at home.”

Begitu juga yang sekarang sedang saya tanamkan pada anak-anak saya, terutama Harits. Memberi pengertian bahwa tugas rumah tangga bukan monopoli kaum wanita saja.

Mengajarkan bahwa sudah menjadi kewajiban anak untuk membantu orang tuanya di rumah. Baik itu anak laki-laki atau perempuan.

Setiap hari, saya berikan anak-anak tugas- tugas ringan. Menyapu, membereskan ruang tamu, mengepel ketika menumpahkan sesuatu, menaruh sendiri piring bekas makan ke dapur, merapikan kamar tidur, menyikat wastafel dan lain sebagainya. Dan mereka mengerjakannya dengan suka cita. Iya, supaya bisa bebas mainan air. Hehehe.

Ketika saya menyuruh mereka mengerjakan ini itu.. sebetulnya manfaatnya bukan untuk saya. Memang saat itu saya merasa bersyukur karena terbantu, pekerjaan jadi lebih ringan.. But that’s not my point. Tujuan utamanya adalah agar mereka paham prinsip gotong royong dalam keluarga. Again I say: family is a teamwork. Juga melatih kemandirian, mengasah mental untuk bekerja keras dan mengajarkan mereka memikul tanggung jawab sejak kecil. Membiasakan mereka untuk rajin dan peka terhadap situasi rumah. Kalo ngeliat yang berantakan, bawaannya nggak betah karena sudah terbiasa dengan kerapian. Dan yang paling penting, mengajarkan kepada anak-anak laki agar jangan ada rasa malu ketika mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

“Mothers! Please teach your sons to help out in the house. It’s sunnah! And.their future wives will thank you!” ~Yasmin Mogahed

Boys who help their moms and husbands who help their wives with household chores? There’s nothing to be ashamed of! Kenapa harus malu? Teladan umat manusia, Rasulullaah Shalallaahu ‘Alaihi wa Sallam saja mencontohkannya.

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul.Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”,.Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.”

Dalam Syama’il karya At-Tirmidzi terdapat tambahan, “Dan memerah susu kambingnya…” Ibnu Hajar menerangkan faidah hadis ini denganmmengatakan, “Hadis ini menganjurkan untuk bersikap rendah hati dan meninggalkan kesombongan dan hendaklah seorang suami membantu istrinya.”

(Kisahmuslim.com)
Seorang suami yang baik tentu paham, istrinya bukan robot yang bisa bekerja 24 jam full tanpan kenal lelah. Istrinya bukan sosok sempurna dengan anak-anak sempurna, masakan yang sempurna dan rumah yang sempurna tanpa cela. Dia tak sempurna seperti juga dirimu yang jauh dari kata sempurna.

Istrimu adalah partner hidupmu, cinta sejatimu, ibu dari anak-anakmu. Istrimu, dengan segala keterbatasannya adalah juga manusia biasa. Sama halnya sepertimu, ia bisa merasa lelah, marah, jenuh dan tak berguna.

Istrimu, bukan pembantumu. Dan ia sama sekali tak layak kau anggap sedemikian rupa..Seandainya engkau posisikan dirinya sebagai pembantu dengan nafkah bulanan yang engkau berikan sebagai gajinya, maka berapa nominal yang pantas engkau berikan sebagai penebus jasa-jasanya selama ini? Berapa jumlah rupiah.kau sanggup untuk membayarnya? Dengan job description yang demikian banyaknya, skill multitasking dan kepiawaiannya menuntaskan beberapa tugas rumah secara bersamaan, mengasuh anak, memasak makananmu, mengajari anakmu ilmu-ilmu baru, melayani dirimu, mengatur keuangan.keluarga, bahkan ikut serta mengambil peran mencari nafkah. Juga mengandung serta melahirkan anak- anakmu dari rahimnya dengan susah payah dan penuh perjuangan. Dapatkah engkau.membayarnya dengan uang?

Maka perlakukan istrimu dengan sebaik-baik perlakuan. Lembutkanlah perkataanmu, berilah.ia udzur atas kekurangannya, seperti ia memberi udzur atas kekuranganmu. Dan jika ia bengkok dan keliru, luruskanlah dengan hikmah dan kasih sayang, bukan dengan keangkuhan dan kekerasanmu yang justru akan mematahkannya.

Luangkanlah waktu untuk berduaan saja dengannya, dengarkanlah keluh kesahnya, jadilah sahabat terbaik baginya untuk mencurahkan isi hati. Dan ketika ia penat, jadilah bahu untuknya bersandar. Kalau bukan kepada engkau, suaminya.. kepada siapa lagi ia hendak menumpahkan rasa?

Dukunglah ia (istrimu) untuk meng-upgrade skill dan passionnya yang terpendam selama ini.
Mengikuti berbagai kursus, mengembangkan bakat, mengikuti seminar-seminar yang bermanfaat dan dauroh khusus muslimah. Selama itu bermanfaat dan tidak melanggarnsyari’at, why not?

Berilah ia sedikit jeda dari rutinitas hariannya. Seorang istri  butuh waktu untuk sendiri, untuk berkumpul dengan kawan-kawannya, untuk menyegarkan pikiran sejenak dari tugas-tugas rumah tangga yang seperti tak ada habisnya. Bahkan seorang pembantu rumah tangga memiliki hari libur dan hak untuk mengajukan cuti.

Bagaimana dengan seorang ibu? Adakah waktu libur baginya? Nyaris tak pernah ada. Karena bagi seorang wanita, menjadi ibu bukanlah profesi. Ia adalah kehidupan sekaligus tempatnya mengaktualisasikan diri dengan penuh dedikasi. Being a mother is truly a blessing ❤

Selalu dan senantiasa.. Ingatkan kembali tujuan hidup kalian berdua selama ini: striving your way together to reach Jannah. Karena kebersamaan di dunia ini tidaklah cukup. Jika engkau masih enggan untuk turut membantunya dalam pekerjaannya, maka setidaknya, maklumilah dia.. Abaikanlah debu- debu yang menempel di lantai ruang tamu, mainan-mainan yang berserakan di lantai, makanan yang belum siap terhidang di meja.. Yang kaudapati di suatu sore ketika engkau pulang kerja. Maklumilah bahwa ia hanya punya dua tangan, dua kaki dan satu kepala untuk menuntaskan semua kewajibannya yang hampir tak terhingga itu. Maklumilah bahwa ia hanya sosok wanita biasa dengan tuntutan-tuntutan yang sederhana. Yaitu agar engkau selalu mencintai, mengerti dan menerima dirinya, sepenuhnya. Karena dalamnkehidupan perkawinan kalian berdua, baginya tidak ada yang lebih penting lagi daripada itu.

~ Jakarta, a morning after the rain has fall..

January 2015

Yang Bahagia

1. Leave something for the sake of Allah and dont leave Him for the sake of anything.

2. Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca kerana membaca itu sumber hikmah, menyediakan waktu tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa, menyediakan waktu untuk berfikir kerana berfikir itu inti kemajuan, menyediakan waktu untuk beramal kerana beramal itu pangkal kejayaan, menyediakan waktu untuk bersenda gurau bersenda gurau itu akan membuat muda selalu dan menyediakan waktu beribadat kerana beribadat itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa.
3. Barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. Dan barangsiapa membuka aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan membuka aibnya.”
(HR. Ibnu Majah)

4. Yang pertama kali yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Dan jika shalatnya buruk, maka buruklah amalan-amalan yang lain.”

(HR. At-Thabrani)

5. Yang pertama kali yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Dan jika shalatnya buruk, maka buruklah amalan-amalan yang lain.”

(HR. At-Thabrani)

6. ☺☺☺

Terkadang,

Allah memberikan kita air mata untuk menyejukkan gersangnya hati kita.

Allah memberikan kita kesedihan, agar kita tau nikmatnya sebuah keikhlasan…

Bukan Allah merebut kebahagiaan kita, bukan pula Allah mengambil senyum kita..

Namun Allah sedang mempersiapkan pengganti air mata itu dengan yang lebih baik lagi.

Jangan bersedih jika kehilangan sesuatu barang, orang yang dicintai atau apapun.. Karena, dibalik hujan badai akan ada mentari dan pelangi yang menghiasi hari..

Orang yang bahagia adalah orang yang tahu jalan menuju Rabbnya dan ia meniti jalan itu untuk sampai kepadaNya. Orang yang miskin adalah yang tau jalan kepada Rabbnya tapi ia berpaling dari jalan itu.

*RANJANG TERMAHAL*

RANJANG “Termahal” di dunia adalah “RANJANG Rumah Sakit” yang tidak sanggup saya beli. Hanya boleh saya “Sewa Harian” dengan Harga yang tidak sanggup ku bayar. Baiklah dengarkan tutur Mr. Steve Jobs dibawah ini :

Kekayaan Alm. Steve Jobs pemilik Apple Computer Rp. 67 Triliun.

Kata2 terakhir Steve Jobs sebelum meninggal:

“Dalam dunia bisnis, aku adalah simbol dari kesuksesan, seakan-akan harta dan diriku tidak terpisahkan, karena selain kerja, hobiku tak banyak. 

Saat ini aku berbaring di rumah sakit, merenungi jalan kehidupanku, kekayaan, nama & kedudukan, semuanya itu tidak ada artinya lagi.

Malam yang hening, cahaya dan suara mesin di sekitar ranjangku, bagaikan nafasnya maut kematian yang mendekat pada diriku.

Sekarang aku mengerti, seseorang asal memiliki harta secukupnya untuk digunakan dirinya saja itu sudah cukup. Mengejar kekayaan tanpa batas itu bagaikan monster yang mengerikan.

Tuhan memberi kita organ-organ perasa, agar kita bisa merasakan cinta kasih yang terpendam dalam hati kita yang paling dalam. Tapi bukan kegembiraan yang datang dari kehidupan yang mewah — itu hanya ilusi saja.

Harta kekayaan yang aku peroleh saat aku hidup, tak mungkin bisa aku bawa pergi. Yang aku bisa bawa adalah kasih yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku. Hanya cinta kasih itulah yang bisa memberiku kekuatan dan terang.

Ranjang apa yang termahal di dunia ini? Ranjang orang sakit. Orang lain bisa bukakan mobil untukmu, orang lain bisa kerja untukmu, tapi tidak ada orang bisa menggantikan sakitmu. Barang hilang bisa didapat kembali, tapi nyawa hilang tak bisa kembali lagi.

Saat kamu masuk ke ruang operasi, kamu baru sadar bahwa kesehatan itu betapa berharganya.

Kita berjalan di jalan kehidupan ini. Dengan jalannya waktu, suatu saat akan sampai tujuan. Bagaikan panggung pentas pun, tirai panggung akan tertutup, pentas telah berakhir.

Yang patut kita hargai dan sayangi adalah *hubungan kasih antar keluarga*, *Cinta akan suami-istri* dan juga *Kasih Persahabatan antar-teman.*

*HARGAI SETIAP DETIK DALAM KEHIDUPAN KITA, ISI HIDUP KITA DENGAN PERKARA-PERKARA YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN UANG.

Semoga bermanfaat…

#copas

Penyesalan after Kematian


Penyesalan setelah kematian yang pasti adalah bagi orang-orang kafir ataupun musyrik! Mereka akan meneriakkan seribu penyesalan pada hari kiamat. Itulah penyesalan mereka yang ingkar kepada Tuhannya. Lalu, apakah Anda yang dikarunai kenikmatan iman dan Islam, merasa telah aman dari penyesalan? Apakah Anda telah melaksanakan semua perintahNya?

Allah ﷻ berfirman,

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. (QS. As Sajdah : ayat 12).

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠) 

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100)

Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang akan mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.

Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka..

Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Allah ﷻ ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Penyesalan itu memang datangnya belakangan, jangan sampai sibuk dengan urusan dunia lalu tiba-tiba terbangun dalam keadaan gelap, yang dikira mati lampu, eh.. tau-tau sudah di depan malaikat..

kemudian terdengar suara.. 

MAN ROBBUKA?? 😲😓😔

Jangan sampai menyesal, karena tidak ada gunanya. Yuk, kumpulkan amal yang bisa menyelamatkan kita dari azab kubur dan hisab yang menegangkan, dan yang terpenting adalah…MERAIH RIDHA ALLAH SUBHAMA WA TA’ALA.

Pesan Untuk Laki-laki

Hati-hati…

Kalau lihat pasangan kamu nangis, jangan kamu katakan “buat apa nangis? Nangis itu tidak menyelesaikan masalah” 

Laki-laki yang dipuja wanita biasanya tidak menyuruh menghentikan tangisan, apalagi bertanya buat apa nangis. 

Lelaki yang dipuja wanita itu cirinya adalah menyediakan tempat yang paling nyaman untuk menangis sampai tuntas… dibahunya… disandarannya… 

Wanita itu selalu membutuhkan telinga untuk mendengarkan untuk mendengarkan curhatnya.

UJIAN DUNIA

HAKIKAT UJIAN DUNIA

===================

Sesungguhnya kehidupan dunia adalah negeri ujian dan penuh dengan cobaan. Tidaklah seorang hamba hidup di dunia kecuali dia akan diuji dan nantinya akan kembali kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman ;

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik“ (An-Najm : 31).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“ (Al-Anbiya’ :35).

Ujian dan cobaan dalam hidup di dunia terkadang berupa kelapangan dan kenikmatan, namun terkadang juga berupa kesempitan dan musibah. Bisa berupa sehat maupuan kondisi sakit, bisa berupa kekayaan maupun kemiskinan. Seorang mukmin akan menghadapi ujian dalam dua keadaan : kondisi susah dan kondisi senang.

Dalam setiap ujian yang menimpa manusia akan selalu ada kebaikan. Oleh karena itu dalam sebuah hadits dari sahabat Anas radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda

عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ !! لَا يَقْضِي اللَّهُ لَهُ شَيْئًا إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya“ (H.R Ahmad).

Perkataan Nabi (شَيْئًا) mencakup segala kondisi, baik itu ujian berupa kesusahan maupun kesenganan. Seorang mukmin dalam setiap kondisi ujian yang dihadapai akan senantiasa dalam kebaikan. Seorang mukmin yang mendapat taufik dari Allah, jika sedang diuji oleh Allah dengan kesusahan dan kesempitan seperti sakit, miskin, dan musibah lainnya akan menghadapinya dengan sabar. Dengan kondisi ujian semacam ini, seorang mukmin akan mendapat kebaikan berupa pahala orang-orang yang sabar. Jika Allah mengujinya dengan kesenangan dan kemudahan seperti diberi kondisi sehat dan kekayaan harta , maka seorang mukmin akan menjadi orang yang bersyukur kepada Allah sehingga dia mendapat kebaikan berupa pahala orang-orang yang bersyukur.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits dari Suhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ !! إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Segala sesuatu yang terjadi padanya semua merupakan kebaikan. Ini terjadi hanya pada orang mukmin. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan dia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya“ (H.R Muslim).

Seorang mukin dalam kondisi kesusahan akan mendapat kebaikan berupa pahala orang yang bersabar dan dalam kondisi lapang dan senang akan mendpat kebaikan berupa pahala orang yang bersyukur. Senantiasa berubah-ubah kondisinya antara sabar dan syukur. Allah Ta’ala berfirman dalam empat tempat di dalam Al-Qur’an :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang bersabar dan bersyukur“

Firman Allah ini terdapat dalam surat Ibrahim ayat 5, Luqman ayat 31, Saba’ ayat 19, dan Asy-Syuura ayat 33. Allah Ta’ala menyebutkan dua keadaan yang agung ini yaitu sabar tatakala menghadapi musibah dan bersyukur tatakala memperoleh nikmat.

Hendaknya seorang mukimin mengetahui bahwasnya ketika Allah Ta’ala memberikan kelapangan pada seorang hmba berupa nikmat harta, sehat, anak, dan kenikmatan lainnya bukan merupakan bukti bahwa Allah meridhoi dan memberi kemuliaan kepada hamba tersebut. Demikian pula kesempitan yang diperoleh seorang hamba berupa kekurangan harta, musibah sakit, dan musibah lainnya tidak menunjukkan bahwa Allah tidak ridho atau sedang menghinakan hamba tersebut. Ini merupakan persangkaan sebagian manusia yang telah Allah nafikan dalam firman-Nya :

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“ (Al-Fajr : 15-16).

Allah Ta’ala menafikan persangkaan hamba-Nya tersebut dalam ayat selanjutnya dengan berfirman : { كَلَّا } (Sekali-kali tidak demikian), maksudnya bahwa persangkaan mereka keliru dan tidak benar. Barangsiapa yang Allah lapangkan baginya berupa harta, kesehatan, anak, dan kenikmatan lainnya bukan merupakan bukti keridhoan Allah dan kemuliaan orang tersebut. Demikian pula barangsiapa yang Allah beri kesempitan bukan menunjukkan bahwa Allah menghinakan orang tersebut. Apapun kondisi seorang hamba semuanya adalah ujian dan cobaan. Terkadang Allah memberi ujian kepada hamba berupa harta, kesehatan, keselamatan, dan kenikmatan lainnya dan terkadang Allah memberi ujian kepada hamba berupa kemiskinan, sakit, dan kondisi lainnya.

Para ulama berbeda pendapat manakah yang lebih utama di sisi Allah : orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar? Yang benar bahwasanya yang paling utama di antara keduanya adalah yang paling bertakwa kepada Allah. Jika mereka sama-sama bertakwa maka akan mendapat balasan yang sama. Orang yang pertama, Allah mengujinya dengan kekayaan dan dia bersyukur, adapun orang yang kedua Allah uji dengan kemiskinan dan dia bersabar. Masing-masing dari keduanya telah melakukan bentuk penghambaan kepada Allah seusai dengan tuntutan kondisi ujian yang dialaminya sehingga keduanya mendapat keberuntungan. Ini merupakan keberuntungan dan kemenangan berupa pahala bagi orang yang bersyukur dan orang yang bersabar.

Tempat kembalinya seluruh manusia adalah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu Allah menutup ayat-Nya dengan berfirman

وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“ (Al-Anbiya’ :35)

Maksudnya bahwa seluruh manusia akan mendapat ujian di dunia kemudian semuanya akan kembali kepada Allah, agar orang-orang yang berbuat kebaikan mendapat balasan atas kebaikannya dan orang-orang yang berbuat keburukan mendapat hukuman atas keburukannya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita dan kita senantiasa berusaha agar kita menjadi orang yang beruntung dan mendapat kemenangan dalam menghadapai ujian dan cobaan baik itu berupa nikmat maupun musibah. Hanya Allah satu-satunya Zat Yang Maha Memberi Petunjuk dan tiada sekutu bagi-Nya.

Penulis: dr. Adika Mianoki

Artikel Muslimah.Or.Id