Koreksi Diri| Jangan Mau Seperti Ini

🌹﷽🌹

🌺السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ🙏🏻

KOREKSI DIRI👤

Zaman dahulu, orang sulit mencari ilmu tapi mudah mengamalkannya. Zaman sekarang, orang mudah mencari ilmu tapi sulit mengamalkannya.

📚📝 Dahulu, ilmu dikejar, ditulis, dihafal, diamalkan dan diajarkan. Sekarang, ilmu diunduh, disimpan dan dikoleksi, lalu diperdebatkan.📲

💦 Dahulu, butuh peras keringat dan banting tulang untuk mendapatkan ilmu. Sekarang, cukup peras kuota internet sambil duduk manis ditemani secangkir minuman dan snack.☕🍟

❤ Dahulu, ilmu disimpan di dalam hati, selama hati masih normal, ilmu tetap terjaga. Sekarang, ilmu disimpan di dalam memori gadget, kalau baterai habis, ilmu tertinggal. Kalau gadget rusak, hilanglah ilmu.📱💢

⏱ Dahulu, harus duduk berjam-jam di hadapan guru penuh rasa hormat dan sopan, maka ilmu merasuk bersama keberkahan. Sekarang, cukup tekan tombol atau layar sambil tidur-tiduran, maka ilmu merasuk bersama kemalasan.

Kita telah sampai di zaman dimana bicara tanpa perlu suara, melihat tanpa perlu tatap muka dan memanggil tanpa perlu teriak.

Hingga Bicara hanya perlu ketik saja. Melihat hanya perlu klik saja. Dan memanggil hanya perlu ping saja.

📖 Social Media telah menjadi budaya, Al-Qur’an pun semakin terlupa.

👀 Dari yang hanya melihat-lihat, sampai mereka yang beradu pendapat. Dari tingkah yang dibuat-buat, sampai yang terang-terangan maksiat.🚫

Hingga tak sadar jemari ini berkhianat, menulis sesuatu yg tak bermanfaat.

Hingga tak sadar mata ini berkhianat, melihat apa yang seharusnya tak boleh dilihat.

Wahai diri ingatlah!!!

👁👁 Matamu akan menjadi saksi atas apa yang kau lihat.

✋🏻 Jemarimu akan menjadi saksi atas apa yang telah engkau tulis

Suatu hari nanti apapun yang kita lakukan dengan anggota badan akan bersaksi dihadapan Penciptanya.

Maka dapatkah kita membantahnya⁉

Maka, jangan sampai mereka menjadi musuh kuta dihari perhitungan nanti.

💬 Menjadi saksi keburukan di Sosial Media, saksi atas apa yang kita lihat, saksi atas apa yang kita tulis, saksi atas segala apa yang kita lakukan di Sosial Media.😢

📱 Gunakan HP kita sebagai ladang Amal.

Ladang dimana kita bisa menanam kebaikan dan menuai hasilnya di akhirat.
_Semangat Bersyiar,.._
_Semoga bermanfaat.🙏🏻🙏🏻🙏🏻
بارك الله فيكم…

https://www.facebook.com/groups/570869146793838/

Ikut gabung di grup saya Sobat☝️ Agar kita satu grup bisa saling berbagi Saling menasehati diri Semoga kita semua di pertemukan di Akhirat di Surga Allah SWT Aamiin In syaa Allah🤲🏻

Nasehat Penerang Hati

1. JADIKAN AKHIRAT SEBAGAI TUJUANMU

Apa yang pertama kamu ingat ketika bangun tidur?

-Lupa akan menonton bola di tengah malam?

-Menyesal karena tidak menonton tim kesayangan?

-Ataukah akan mencari HP?

-Ataukah ternyata kesiangan? Dan terlambat untuk menjalankan sholat?

-Tugas belum selesai?

-Apakah akan bersyukur & berdoa karena masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup?

-Ataukah engkau memilih bergegas untuk melakukan kewajibanmu sebagai seorang muslim yang baik?

Sholat? Ngaji? Dzikir? Atau ibadah sunnah yang lain?

Saudaraku, SHOLAT itu bukan “part time” bukan juga “sometime” apalagi “no time” SHOLAT itu harus “full time” dan juga “on time” Karena MATI itu “any time”

Rasulullah saw. bersabda :

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari)

Rasulullah saw. bersabda :

“Barangsiapa bangun di pagi hari dan hanya dunia yang ada di pikirannya. Sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah di dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan 4 macam penyakit dalam dirinya:

-Kebingungan yang tiada putus-putusnya

-Kesibukan yang tiada pernah jelas akhirnya

-Kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi

-Khayalan yang tidak berujung wujudnya.”

-HR. Muslim-
2. NASEHAT MENYENTUH HATI

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah

Betapa banyak kita lihat manusia saling berlomba mencari dunia, mereka bergegas dan takut akan kehilangan dunia.

Sementara kita lihat mereka duduk dan berlambat- lambat dalam menghadiri shalat lima waktu berjamaah di masjid-masjid, padahal itu merupakan tiang agama.

Dan betapa banyak kita lihat mereka tetap bersabar duduk di jalan-jalan, toko-toko berjam-jam yang lama, mereka mengalami susahnya hawa terik panas dan dingin, demi mengais dunia. Sementara kita melihat mereka tidak bisa bersabar untuk duduk beberapa menit saja di masjid untuk menunaikan shalat atau membaca Alquran.

Dan betapa banyak kita lihat para pemuda muslimin mereka berlomba ke lapangan-lapangan bola, mereka menghamburkan banyak uang untuk membeli tiket masuk, kemudian disana ribuan orang berkumpul. Terkadang mereka menghabiskan siang harinya dan begadang malamnya, berdiri dengan kaki mereka, mata mereka tertuju, badan mereka tegak, suara mereka nyaring, menyaksikan para pemain yang menang dari mereka.

Mereka rela bersusah payah begini di jalannya setan. Sementara jika mereka dipanggil untuk menghadiri shalat di masjid dengan *“Hayya alash Shalah Hayya alal Falaah”* mereka pura-pura buta dan tuli dan mereka berpaling. Seolah-olah muadzin itu mengajak mereka ke penjara atau seakan-akan ia meminta hak dari mereka.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﺭْﻛَﻌُﻮﺍ ﻻ ﻳَﺮْﻛَﻌُﻮﻥَ ﻭَﻳْﻞٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻟِﻠْﻤُﻜَﺬِّﺑِﻴﻦ َ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Rukuklah,” mereka tidak mau rukuk. Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”

(QS. Al-Mursalat 48)

ﻳَﻮْﻡَ ﻳُﻜْﺸَﻒُ ﻋَﻦْ ﺳَﺎﻕٍ ﻭَﻳُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻓَﻼ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻴﻌُﻮﻥَ ° ﺧَﺎﺷِﻌَﺔً

ﺃَﺑْﺼَﺎﺭُﻫُﻢْ ﺗَﺮْﻫَﻘُﻬُﻢْ ﺫِﻟَّﺔٌ ﻭَﻗَﺪْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻭَﻫُﻢْ ﺳَﺎﻟِﻤُﻮﻥ .

“(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkap dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu. Pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan).”

(QS. Al-Qalam 42-43)

Wahai kaum muslimin, keadaan ini kebanyakan kita sekarang lebih mementingkan dunia dan berpaling dari akhirat. Kita tidak mengambil ibrah dari orang yang (telah mati) mendahului kita..

Kita tidak melihat kepada orang di sekitar kita.. Kita tidak lagi tersentuh oleh nasehat.. Kita tidak bisa mengambil manfaat dari peringatan..

….Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un….

Kita memohon kepda Allah semoga Dia mengaruniakan kepada kita taubat, menyadarkan hati kita dari kelalaian ini. Sesungguhnya Dia mendengar dan mengabulkan doa.

Al-Khutbah al-Mimbariyah 1/313-314

|| follow shalafus shalih

Raih amal shalih dengan menyebarkan tulisan ini, semoga bermanfaat.

Jazakumullahu khoiron.
3. Masuk Surga Bersama Keluarga

Berkumpul bersama keluarga adalah salah satu dari kenikmatan dunia. Siapa yang tidak bahagia dan gembira ketika berkumpul bersama keluarga?. Momen bahagia yang tidak bisa digambarkan dan tidak bisa tergantikan dengan kawan atau pun sahabat.

Kita lihat contoh fenomena di Indonesia, ketika momen lebaran Idul Fitri, kaum muslimin berusaha agar berkumpul bersama keluarga dengan segala upaya. Misalnya menebus harga tiket yang mahal, perjalanan yang jauh, macet yang melelahkan serta halangan dan rintangan lainnya ketika safar untuk pulang kampung. Semuanya ini dilakukan untuk bisa berkumpul bersama keluarga dan berbahagia bersama.

Perlu diketahui bahwa semua kenikmataan dan kebahagiaan yang diinginkan oleh manusia di dunia, akan ada di surga kelak.

Allah berfirman,

ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺸْﺘَﻬِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴُﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺪَّﻋُﻮﻥ

“Di dalam surga kamu memperoleh apa (segala kenikmatan) yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa (segala kenikmatan) yang kamu minta.” (Q.S. Fushshilat: 31)

Kesamaan tersebut hanya ada pada nama, akan tetapi kenikmatannya tentu berbeda, jauh lebih nikmat di surga.

Tentunya kenikmatan berupa berkumpul dan masuk surga bersama keluarga, juga telah disediakan oleh Allah.

Allah berfirman,

ﺟَﻨَّﺎﺕُ ﻋَﺪْﻥٍ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻧَﻬَﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺻَﻠَﺢَ ﻣِﻦْ ﺁﺑَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻬِﻢْ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻪِﻡْ

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri- istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du: 23)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini bahwa Allah akan mengumpulkan seseorang bersama keluarganya, orang tua, istri dan anak-cucunya di surga. Ini adalah dalil satu keluarga bisa masuk surga bersama. Beliau berkata,

ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﺣﺒﺎﺑﻬﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻵﺑﺎﺀ ﻭﺍﻷﻫﻠﻴﻦ ﻭﺍﻷﺑﻨﺎﺀ ، ﻣﻤﻦ ﻫﻮ ﺻﺎﻟﺢ ﻟﺪﺧﻮﻝ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ; ﻟﺘﻘﺮ ﺃﻋﻴﻨﻬﻢ ﺑﻬﻢ ، ﺣﺘﻰ ﺇﻧﻪ ﺗﺮﻓﻊ ﺩﺭﺟﺔ ﺍﻷﺩﻧﻰ ﺇﻟﻰ ﺩﺭﺟﺔ ﺍﻷﻋﻠﻰ ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻨﻘﻴﺺ ﻟﺬﻟﻚ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﻋﻦ ﺩﺭﺟﺘﻪ

“Allah mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dalam surga yaitu orang tua, istri dan anak keturunan mereka yang mukmin dan layak masuk surga. Sampai-sampai, Allah mengangkat derajat yang rendah menjadi tinggi tanpa mengurangi derajat keluarga yang tinggi (agar berkumpul di dalam surga yang sama derajatnya, pent).”[1]

Orang tua dan anak saling tarik-menarik ke surga dengan memberi syafaat.

Fasilitas yang Allah sediakan agar keluarga bisa masuk surga bersama yaitu mereka akan saling tarik-menarik agar bisa masuk surga dan berada di dalam surga yang tingkatnya sama. Hal ini Allah anugrahkan agar mereka bisa berkumpul bersama. Bisa jadi sang anak berada di surga tertinggi, sedangkan orang tua berada di surga terendah, maka sang anak mengangkat derajat orang tuanya ke surga yang lebih atas, demikian juga sebaliknya.

Anak bisa mengangkat derajat orang tua mereka, hal ini telah diketahui oleh kaum muslimin dengan banyak dalil. Misalnya anak sebagai amal jariyah yang terus mendoakan orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٍ ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ ﻭَﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ ﻭَﻭَﻟَﺪٍ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan doa anak yang shalih”[2]

Demikian juga derajat orang tua naik karena istigfar anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

ﺇﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﺘُﺮْﻓَﻊُ ﺩَﺭَﺟَﺘُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﻧَّﻰ ﻫَﺬَﺍ؟ ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ : ﺑِﺎﺳْﺘِﻐْﻔَﺎﺭِ ﻭَﻟَﺪِﻙَ ﻟَﻚَ

“Sungguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga lalu dia pun bertanya, ‘Dari mana ini?’ Dijawab, ‘Karena istigfar anakmu untukmu.’[3]

Orang tua pun bisa menarik anaknya ke tingkatan surga yang lebih tinggi.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌَﺘْﻬُﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘُﻬُﻢْ ﺑِﺈِﻳﻤَﺎﻥٍ ﺃَﻟْﺤَﻘْﻨَﺎ ﺑِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘَﻬُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻟَﺘْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻠِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻛُﻞُّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺴَﺐَ ﺭَﻫِﻴﻦٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap- tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

(QS. Ath Thuur: 21)

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan,

{ ﺃﻟﺤﻘﻨﺎ ﺑﻬﻢ ﺫﺭﻳﺎﺗﻬﻢ { ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﻳﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻴﻜﻮﻧﻮﻥ ﻓﻲ ﺩﺭﺟﺘﻬﻢ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻌﻤﻠﻮﺍ ﺗﻜﺮﻣﺔ ﻟﻶﺑﺎﺀ ﺑﺎﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻟﻴﻬﻢ

“Maksud dari ‘Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka’ yaitu, anak-cucu mereka kelak di surga, sehingga jadilah anak-cucu mereka sama derajatnya dengan mereka walaupun anak-cucu mereka tidak beramal seperti mereka, sebagai penghormatan terhadap bapak-bapak mereka agar bisa berkumpul dengan anak- cucu mereka (di surga kelak).”[4]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy menafsirkan, 

“Keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan maksudnya adalah mereka mengikuti keimanan yang muncul dari orang tua atau kakek-buyut mereka. Lebih utama lagi jika keimanan muncul dari diri anak-keturunan itu sendiri. Allah akan mengikutsertakan mereka dalam kedudukan orang tua atau kakek-buyut mereka di surga walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya (kedudukan anak lebih rendah dari orang tua –pent), sebagai balasan bagi orang tua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. Akan tetapi Allah tidak mengurangi pahala orang tua mereka sedikitpun.”[5]

Semoga kita semua bisa masuk surga bersama keluarga yang kita cintai. ALLAHUMMA AAMIIN.

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir

[2] HR. Muslim no. 1631

[3] Sunan Ibnu Majah no. 3660, dinilai hasan oleh Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Ahmad]

[4] Tafsir Jalalain hal. 535, Darus Salam, Riyadh, cet.II, 1422 H

[5] Taisir Karimir Rahman hal 780, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet.I, 1424 H

Follow @Cahaya jannah

4. ﷽

ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

DAHSYATNYA SEDEKAH

Kenapa Seorang Mayit Memilih “BERSEDEKAH” Jika Bisa Kembali Hidup ke Dunia ?

Sebagaimana firman Allah ﷻ :

ﺭَﺏِّ ﻟَﻮْﻟَﺎ ﺃَﺧَّﺮْﺗَﻨِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺟَﻞٍ ﻗَﺮِﻳﺐٍ ﻓَﺄَﺻَّﺪَّﻕَ

“ Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…” {QS. Al Munafiqun: 10}

Kenapa dia tidak mengatakan,

“Maka aku dapat melaksanakan umroh” atau“Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dll ?

Berkata para ulama,

Tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal …

Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya …

Rasulullah ﷺ ,bersabda

ﻛُﻞُّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻓِﻲ ﻇِﻞِّ ﺻَﺪَﻗَﺘِﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻔْﺼَﻞَ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ

“ Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad, IV/174, dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth ‏)

Dan, bersedekah-lah atas nama orang-orang yang sudah meninggal diantara kalian, karena sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mereka …

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ia mengatakan ,

ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﻥَّ ﺃُﻣِّﻲ ﺍﻓْﺘُﻠِﺘَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺃَﻇُﻨُّﻬَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻟَﻬَﺎ ﺃَﺟْﺮٌ ﺇِﻥْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻧَﻌَﻢْ ﺗَﺼَﺪَّﻕْ ﻋَﻨْﻬَﺎ

“ Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya ibuku wafat secara mendadak, aku kira dia punya wasiat untuk sedekah, lalu apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: “Na’am (ya), sedekahlah untuknya.” (HR. Bukhari No. 2609, 1322, Muslim No. 1004, Malik No. 1451, hadits ini menurut lafaz Imam bukhari

5. Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarokaatuh

Motivasi pagi

*Cara Allah Menyangi*

Cara Allah menyayangimu bukan dengan meringankan masalahmu, tapi dengan menguatkan jiwamu sehingga sehebat apapun masalahmu kau tetap bertahan dan tak menyerah.

Cara Allah menyayangimu bukan dengan mengurangi beban yang kau pikul, tapi dengan mengokohkan pundakmu, sehingga kau mùampu memikul amanah yang diberikan kepadamu Cara Allah menyayangimu mungkin tak dengan memudahkan jalanmu menuju sukses, tapi dengan kesulitan yang kelak baru kau sadari bahwa kesulitan itu yang akan membuatmu semakin berkesan dan istimewa

Hidup itu …

Butuh masalah supaya kita punya kekuatan,

Butuh pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras,

Butuh air mata supaya kita tahu merendahkan hati,

Butuh dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai,

Butuh tertawa supaya kita tahu mengucap syukur,

Butuh senyum supaya tahu kita punya cinta,

Butuh orang lain supaya tahu kita tidak sendiri

Beberapa luka tidak diciptakan untuk sembuh, tidak pula untuk menetap. Jika ia berakhir dengan ke IKHLASAN, ia akan lahir menjadi cahaya yang itu adalah hadiah terindah dari Allah.

Berbahagialah pada taqdir dengan penerimaan yang tulus, Sungguh mengajari hati BERBAIK SANGKA itu Indah.

Selamat beraktivitas semoga kita semua diberikan keselamatan, kesehatan, kekuataan, kesabaran dan rezeki yang melimpah, Aamiin.

Awali hari dengan doa dan hati yg ikhlas..

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarokaatuh
6. RAMADHAN TELAH PERGI

Ramadhan telah pergi, tapi ia pasti kembali sedangkan kita tak pasti bisa lagi bertemu dengannya

Ramadhan telah pergi, bulan penuh ampunan bulan dimana satu kebaikan dibalas 700 kali lipat sedangkan di hari-hari lainnya tidaklah seistimewa Ramadhan.

Ramadhan telah pergi, tapi apakah amal kita telah diterima? Apakah dosa kita telah diampuni?

Jika ingin menguji amalan kita diterima atau tidak maka lihatlah diri kita setelah Ramadhan. Jika diri kita semakin baik maka itulah tanda amalan kita diterima Allah dan memberikan kebaikan-kebaikan selanjutnya kepada kita. Jika diri kita kembali bermaksiat maka itulah tanda dosa kita bertambah dan kita termasuk orang-orang celaka yang tidak diampuni.

Astaghfirullah

Ramadhan adalah proses awal dari sebuah jalan menuju ketaatan, jadi apabila saat Ramadhan datang kita taat tapi saat Ramadhan pergi kita kembali bermaksiat maka sesungguhnya kita telah gagal melewati proses, kita telah gagal melawan hawa nafsu di luar Ramadhan dan kita telah gagal mendapatkan kemenangan.

Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan adalah saat kita bisa menjadi jauh lebih baik setelah Ramadhan. Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan adalah saat kita mampu lebih dekat dengan Allah setelah Ramadhan.

Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan adalah saat istiqomah menjadi jalan yang ditempuh melewati semua ujian hidup setelah Ramadhan.

Jangan ucapkan “selamat tinggal Ramadhan”, tapi ucapkanlah “sampai jumpa lagi, Ramadhan. Semoga Allah memberikan kita umur untuk berjumpa dengannya ditahun-tahun berikutnya Aamiin Allahumma Aamiin”.
7. Dan kita pun berpisah

By: Rha Khoolah
Pada senja yang menggoreskan jingganya

Berpadu menenggelamkan mentari

Dan petangpun menyapa bersama suara adzan yang menggema diseluruh pelosok dan sudut negeri

Menandakan haripun telah berganti

Kesedihan menyapa dalam kesendirian

Bulir air mata pun tak terbendung saat perpisahan didepan mata

Bagaimana tidak? bulan penuh keberkahan akhirnya berlalu mengucapkan salam perpisahan

Tamu yang selalu dinanti-nanti selama 11 bulan lamanya kini melenggang pergi atas izin Allah

Meninggalkan seorang diri dengan sejuta tanya “Apakah amalanku diterima, apakah dosaku diampuni” dan masih banyak pertanyaan lain yang tak mampu aku jawab

Hanya do’a yang selalu aku sematkan agar amalan dibulan Ramadhan itu berbuah pahala, mengundang berkah dan Allah memberikan Rahmat-Nyapada diri yang lemah ini.

Semoga Allah kelak masih mempertemukanku kembali dengan tamu keagungan ini dengan pribadi yang lebih baik lagi

Allahumma Balighna Ramadhan

Jangan Menunggu…

Jangan menunggu bahagia baru tersenyum.. tapi tersenyumlah maka kamu akan bahagia.

Jangan menunggu kaya baru brsedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.

Jangan tunggu termotivasi dulu baru bergerak, tapu bergeraklah maka kamu akan termotivasi. 

Jangan menunggu dipedulikan orang lain baru kamu peduli, tapi pedulilah orang lain! Maka kamu akan dipedulikan.

Jangan menunggu orang memahami kamu dulu baru kamu memahami dia, tapi pahamilah orang, maka mereka akan memahami kamu.

Jangan mengunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

Jangan menunggu projek baru bekerja, tapi bekerjalah maka projek akan menunggumu.

Jangan mnunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai maka kamu akan dicintai.

Jangan mnunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yg diikuti.

Jangan menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukurlah maka semkin bertmbah kesuksesanmu. 

Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakunlah, maka kamu pasti bisa.

Dan…

Yang paling penting adalah…

Jangan mnunggu waktu luang tuk beribadah, tapi luangkan waktu tuk beribadah.

Karena Sebuah Apel yang Jatuh

Kisah Teladan Islami

Kisah Tsabit Bin Ibrahim

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya. Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya. 

Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”. Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”. Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka” 

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,” Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan ?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !” 

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!” 

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !” 

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”. 

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam ,”Assalamu’alaikum…” Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya . Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini.

Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula, Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ? Setelah Tsabit duduk di samping istrinya , dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta . Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. 

Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” 

Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan ?”

Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”. 

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya… Subhanallah , dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”. Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

Semoga bermanfaat dan semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberikan hidayah dan rahmat oleh Allah sang Rabbul ‘Aalamiin. Amiin.

Mulianya Budi Pekerti Rasulullah saw.

_*KAMI RINDU PADAMU YA RASULALLOHﷺ…*_

Di riwayatkan suatu ketika ada seorang lelaki fakir miskin dari Ahli suffah mendatangi Rasululloh ﷺ dengan membawa cawan yang di penuhi oleh buah Anggur, dihadiahkan kepada Rasululloh ﷺ.

Rasululloh ﷺ pun mengambil cawan itu kemudian memulai memakannya.Rasululloh ﷺ memakan Anggur pertama kemudian beliau tersenyum. Rasululloh ﷺ memakan buah anggur kedua beliau pun tersenyum lagi.

Lelaki Fakir tersebut serasa hampir terbang karena saking gembiranya. Sedangkan para Sahabat menunggu, sebab sudah merupakan kebiasaan Rasululloh ﷺ akan mengajak para sahabat bergabung bersama Rasululloh ﷺ dalam setiap hadiah yang diberikan kepada beliau. Namun Rasululloh ﷺ memakan Anggur satu persatu sambil tersenyum, sampai habislah buah anggur yang ada dalam cawan itu.

Para Sahabat memandangnya keheranan.  Kegembiraan yang tak terhingga bagi si lelaki fakir tersebut melihat  Rasululloh ﷺ begitu menyukai pemberiannya, dan kemudian ia pun pergi.

Lalu bertanyalah salah seorang Sahabat. “Wahai Rasulullohﷺ, Kenapa engkau tidak mengajak kami bergabung makan bersamamu?” Rasululloh ﷺ tersenyum, lalu menjawab:

“Sungguh kalian telah melihat si lelaki fakir sangat kegirangan dengan cawan yang berisi buah anggur itu. Sesungguhnya manakala aku mencicipi buah anggur tersebut, aku rasakan pahit rasanya. Jadi aku tidak mengajak kalian untuk makan bersama, sebab aku khawatir kalian akan menampakkan rasa pahit di wajah kalian sehingga dapat merusak kegembiraan si lelaki fakir tersebut.”

Masya Alloh, begitu mulianya akhlak Rasululloh ﷺ, hingga beliau berusaha menahan rasa pahit dari secawan anggur yang si fakir berikan agar dia tetap gembira.

Sungguh, beliau benar-benar memiliki budi pekerti yang mulia. *“Dan sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS Al Qalam 68: 4)*.

Hikmah : salah satu Sunnah terbesar Rasulullah SAW adalah menjaga perasaan dan jangan melukai hati orang.

​Perkara Cinta

Rasulullah Salallahu alaisalam telah bersabda, “Akan datang pada waktunya, umatku akan mencintai 5 (lima) hal tapi lupa kepada 5(lima) lainnya:
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.

2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.

3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada yang menciptakan makhluk, al-Khaliq.

4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.

5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur.

“Barangsiapa yang mengakui 3 (tiga) hal tetapi tidak menyucikan diri dari 3 (tiga) hal yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.

1. Orang yang mengaku manisnya berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.

2. Orang yang mengaku cinta ikhlas didalam beramal, tetapi dia ingin mendapat pujian dari manusia.

3. Orang yang mengaku cinta kepada Allah yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.”

​When You are Different

When you are different, people may laugh at you, they may judge you, they may avoid you and they may not accept you and dislike you At that point, you may start to hate yourself and hate the reason behind your difference but there are just one case when you would be feel proud that you are “different”, When you choose willingly to be “different”…. It is when you are one of the “strangers”.

 Prophet Muhammad (sallAllahu alaihi wa sallam) talked about it in the famous hadith:

“Islam began as something strange and will return as something strange as it began, so give glad tidings to the strangers.”

You would start to feel that you are a stranger among your own people just because you are “different” from them. You are different because you are clinging firmly to your Deen and insist to follow Qur’an and Sunnah. This is why, whenever people laugh at you , just smile because their mockery would bring you closer to Allah Whenever people judge you, just be patient … you will have a meeting one day in front of the Most Just of Judges.

Whenever people avoid you, don’t feel lonely, Allah is with you. Never care about the people who don’t accept you and dislike you, remember the Love of Allah is the only fortune which enriches you.