SAHABAT Versi The Great Queen Seon Deok.

Mmm… Aku sebut ini apa ya? Yaaa…. Sahabat aja deh. Ya kalo bukan sahabat lalu apa? Bidam waktu pertama kali bertemu Deokman tidak menyadari bahwa seorang prajurit kerajaan itu ternyata seorang perempuan. Ia selalu membantu Deokman setiap  kali Deokman berada dalam bahaya atau ancaman. Deokman memang seorang prajurit peperangan, namun dia tidak sehebat Bidam dalam menguasai ilmu bela diri. Cara Bidam menggunakan pedang dalam pertempuran sangatlah lihai dan waaaw. Namun kekagumanku akan kehebatan Bidam tidak melebihi kekagumanku akan Sang Pedang Allah, Pemimpin Lasykar pandang pasir yang tak kenal mundur, Khalid bin Walid. Bidam saja sehebat ini, apalagi Khalid, Mashaa Allah. Dalam Sejarah kerajaan Silla Bidam terbunuh pada akhirnya. Tapi dalam sejarah Islam, Khalid tidak pernah kalah dalam perang, apalagi terbunuh? Itulah mengapa Nabi saw menjulukinya sebagai Pedang Allah yg Terhunus.
Ok, kembali ke Bidam dan Deokman.

Apa yang terjadi saat Bidam akhirnya menyadari bahwa Deokman adalah seorang perempuan? 

Terlebih lagi, Deokman adalah putri tunggal Kerajaan Silla, Korea. Bidam tak menyangka bisa menjadi orang yg sangat dekat dengan Putri. Ia akhirnya membantu putri kembali di istana dengan berbagai rencana yang telah disusun rapi dengan segala macam taktik yang membuatmu merinding, tegang, bahkan aku menahan mata dari berkedip, tahan napas dan akhirnya lompat-lompat sambil berteriak “Yeeeeeeeeeeeeeaaàaaaaaaah”. 

Setelah sampai ke Istana, Bidam tetap menjadi pengawal khusus Putri. Ketika dinobatkan sebagai Ratu Pertama di Korea, Bidam Kemudian diangkat menjadi Hwarang dan Menteri dan yang pastinya dia merupakan orang yang  paling dekat dengan putri di dalam maupun di luar Istana.

Sad-Ending sih. Awalnya sih udah ngebayangin akhirnya pasti sangaaaat membahagiakan. Pas nonton Bidam mati terbunuh (dipanah dan ditikam dengan pedang) dihadapan sang Ratu, airmataku auto mengalir. Aku kaget, menganga tak percaya. Aku terdiam secara otomatis, kaku, bengong kaya kebo. Setelah itu nangis 7 hari 7 malam ngenang kisah ini. Sampai saat ini sakit hati yang sudah kurasakan sejak 2009 lalu masih sama. Aku tidak tahu apakah ini kebodohan, idiot, goblok, blo’on atau apa, tapi yang jelas kisah ini sangat mengesankan bagiku. Aku tidak tahu apakah karena sutradaranya, pemerannya, alur ceritanya yang mencuri hatiku tapiiiiiiii…. The Great Queen Seon Deok merupakan satu-satunya drama Korea kesayangku sejak tahun 2009 hingga 2019. Aku dah mengikuti mungkin ratusan drama Korea. Tapi tidak ada yang bisa mencuri hatiku semenjak aku mengenal The Great Queen Seon Deok.

Yang paling aku sukai dari drama ini adalah hubungan Bidam dan Deokman. Bidam bersahabat dengan Deokman dan selalu membantu sahabatnya tanpa memandang siapa sahabatnya itu, mo dia prajurik kek, gembel kek, ratu kek… baginya itu tidak penting. Yang terpenting adalah bagaiman dia berusaha menjaga Deokman dari luka raga dan luka jiwa. Lalu Deokman? Dia seorang Ratu. Banyak orang-orang hebat yang terhormat disisinya. Tapi…. Deokman malah mengangkat Bidam sebagai orang yang paling dekat dengnnya tanpa memandang apakah bidam itu putra Selir kek, warga desa kek, pemungut kayu bakar kek… yang terpenting baginya adalah apa yang telah Bidam berikan padanya selama ini tidak terbayar. Deokman tidak mungkin kembali ke Istana tanpa campur tangan Bidam. Semua luka yang ditujukan padanya diterima oleh Bidam sebagai Perisainya yang setia dan kuat. Airmata, keringat dan darahnyanya hanya untuk sang Ratu. 

Bidam akhirnya mati terbunuh ditangan Panglima kerajaan yang dinobatkan oleh Ratu, Yushin. Padahal Bidam ingin membisikan kata-kata terakhirnya pada Ratu sebelum dia mati. Tapi apalah daya, 3 langkah lagi dia akan sampai pada Ratu. Tapi ditikam oleh Yushin dan mati.  Mengapa Bidam dibunuh? Yah itu adalah hasil dari rencana yang dijalankan dengan mulus oleh golongan orang-orang munafik dalam kerajaan dengan cara menyebarkan fitnah dan mengadu-domba karena suatu alasan.  

Deokman pingsan selama beberapa hari pasca menyaksikan Bidam mati tepat 3 langkah dihadapannya. Setalah siuman, Ratu bertanya kepada Yushin

 “Aku melihat Bidam bidam seperti mengucap sesuatu sambil memandangku saat kau menusuknya. Apa itu?”.

Yushin menjawab ” Bidam berkata… “Deokman, Deokman”.

Airmata Ratu menetes mendengarkannya. Percakapannya bersama Bidam saat dia baru diangkat menjadi ratu beberapa tahun yang lalu hadir dalam ingatanya saat itu. Dalam ingatannya, setelah penobatan, tidak ada yang memanggilnya “Deokman”. “Deokman” tidak terdengar lagi dalam Istana. Bahkan Ayah dan Ibu Ratu pun memanggilnya “Yang Mulia”. Pada saat itu Bidam datang menghampiri Ratu dan memanggil namanya “Deokman”. Deokman berkata pada Bidam dengan tegas “Setelah penobatan, aku tidak punya nama lagi. Jadi…. panggil aku “Yang Mulia”.

Dengan senyum termanis, Bidam menjawab “Aku akan menjadi satu-satunya orang yang tetap memanggilmu ‘Deokman’ selama-lamanya”.

Itulah mengapa, saat menghembuskan nafas terakhirnya… Bidam hanya berbisik sambil menahan sakit “Deokman… Deokman”.

Setelah mengenang kisahnya dengan Bidam yang penuh suka duka, Ratu ingin  pergi ke tempat yang diinginkannya (dipuncak tebing) ditemani oleh Panglima Yushin. Semua kebenaran terungkap ketika Bidam yang setia telah tiada. 

Dia ujung tebing tepat diatas Singgasananya, Ratu memandang kerajaannya dari jauh kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dengan airmata membasahi pipinya. Dan… Tamat.

Sedih memang kisah kerajaan Silla yang 1 ini, tapi tidak lebih sedih dan lebih dicintai daripada kisah Rasulullah saw bagiku. Bagaimana Beliau saw menjaga, mempertankan hingga memperjuangkan Islam di perang Badar, Uhud, Ahzab, Mut’ah hingga perang Tabuk adalah sangat sangat sangat membanggakan dan penuh haru. Belum lagi kisah terbunuhnya cucu kesayanagn Nabi saw (Hussain bin Ali) di tanah Karbala… Subhanallah…. sakitnyaaaa…. hanya Allah swt dan aku yang tahu.

​The Great Queen Seon Deok: Memiliki Tahta Belum Tentu Bahagia Tanpa Cinta

Betul sekali bahwa tidak semua orang kaya itu bahagia. Meski memiliki tahta, dia belum tentu bahagia. 
Aku bertanya-tanya tentang apa yang dirasakan Ratu Seon Deok setelah dinobatkan menjadi Ratu Kerajaan Shilla (Korea). Dan jawaban Ratu aku dapat dari drama The Great Queen Seon Deok. Salah satu drama yang diangkat dari kisah nyata yang meraih segudang penghargaan gemilang dan merupakan drama terpopuler di tahun 2009.

Aku: Your majesty. Apakah anda bahagia hidup di gurun pasir bersama ibu angkat anda yang sebenarnya hanya seorang pelayan/atau dayang instana? Ceritakan sedikit kisah anda bersama ibu angkat anda.

Ratu Seon Deok: Ya, aku sangat bahagia. Sangat sangat bahagia. Aku menyayangiku ibu angkatku karena beliau telah melarikanku dari instana (waktu baru lahir) hanya untuk menyelamatkan tahta ayahku (Raja). Karena Raja tidak boleh memiliki putri kembar, sedang aku mempunyai kembar. Untuk itu secara sembunyi-sembunyi ibu angkatku membawaku keluar jauh-jauh dari istana. Untuk melindungi kerajaan agar tidak jatuh ditangan yang salah, Raja terpaksa harus menyembunyikan di luar instana. Lalu apakah selama aku jauh darinya, baginda bahagia? Tidak. Setiap malam mereka menangisiku namun mereka memaksa diri untuk tetap kuat demi kesejahteraan rakyat. Ayahku adalah pemimpin yang bijaksana.

Di gurun pasir, Aku hidup menjadi orang yang sangat cerita dan punya banyak teman pria. Ibuku menyuruhku berpura-pura menjadi pria karena tahu suatu haru pihak musuh akan mencariku untuk menurunkan ayahku dari tahtanya. Kata ibu angkatku, ayahku telah meninggal. Ternyata ibuku belum pernah menikah. Beliau hanya menutup kebenaran bahwa aku adalah keturunan Raja Shilla yang ke-26. Ibu angkatku mati ditelan pasir hisap di gurun. Aku waktu itu berpikir akulah yatim piatu. 

Aku: Lalu, setelah itu? Apa yang terjadi?

Ratu Seon Deok: Waktu membawaku bertemu saudara kembarku ketika sang putri berada di luar istana, kami tidak tahu bahwa kami sebenarnya saudara kembar. Tapi kami saling menyayangi. Ketika putri kembali ke istana, aku yang saat itu dikenal sebagai seorang pria remaja, mendaftarkan diri sebagai prajurit perang di istana untuk bisa bertemu dengan putri. Aku menyertakan diri dalam berbagai perang untuk menyrlamatkan Shilla. Dan kami tidak pernah pulang membawa kekalahan. Aku dikenal ceria dan cerewet lagi nakal karena suka mengganggu teman. Tapi mereka semua sayang padaku dan aku juga sayang mereka.

Kebenaran menampakan wajahnya dihadapanku bahwa aku ternyata putri kerajaan Shilla. Ribuan ancaman mengejarku. Pihak musuh ingin membongkar identitasku yang sebenarnya bahwa akulah satu-satunya perempuan diantara jutaan tentara. Terlebih lagi, aku adalah putri kembar yang mereka incar selama ini. Musuh yang sudah tahu siapa aku, ingin menangkapku untuk menjatuhkan Raja dari Singgasananya. Sahabatku Yushin (pemimpin pasukan perang) membawaku lari dari istana hingga sampai ke sebuah desa kecil di pegunungan. Musuh mengejarku sampai disana. Disana aku bertemu dengan Bi Dam. Dia sangat unik, cerdik, hebat dalam ilmu bela diri, polos, berani,  kekanak-kanakan & kadang menjadi pendiam dan jahat. Awalnya dia menjualku ke pihak musuh. Aku pasrah karena aku sadar, Bi Dam terlalu kuat untuk dikalahkan. Bi Dam berpikir tidak apa menjual satu nyawa demi ratusan nyawa yang hampir mati karena kelaparan. Jadi dia menukarku dengan makanan. Ketika aku diserahkan ke musuh untuk dikembalikan istana, aku mencoba bunuh diri demi tahta ayahku. Tapi musuh menghalangiku karena tidak mau aku mati atau mereka yang akan dihukum mati. Disaat aku merontak, Bi Dam datang menyelamatkanku atas perintah gurunya yang merupakan seorang panglima kerajaan yang dulu meyelamatkan aku dan ibu angkatku dari kejaran musuh. Kami bersembunyi di dalam goa. Putri datang jauh-jauh dari istana karena rindu padaku. Ia membawa gaun untukku yang sama dengan gaun yang dipakainya. Ini untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengenakan pakaian wanita dan rasanya sangat aneh. Musuh mendapatiku bersama putri dengan baju yang sama. Kami lari untuk menyelamatkan diri. Aku menganti pakaianku dengan baju prajurit kembali. 

Aku: Dimana Bi Dam saat itu? 

Ratu Seon Deok: Saat itu bidam sedang menunggu kami diperahu. Kami lari ke tempat bidam. Musuh terus mengikuti kami. Seorang musuh setelah menarik busur dengan anak panahnya bingung kepada siapa ia harus membidik. Karena tidak tahu jika aku telah mengganti baju, ia berpikir bahwa putri adalah aku. Putri pun terpanah. Musuh memanah Bi Dam tapi ia menghindar. Bi Dam yang marah kamudian membalas memanah menngunakan busurnya bersama 8 anak panah sekaligus.

Aku: Masha Allah. Bi Daaam… ehem…. hebaaaaaaat.

Ratu Seon Deok: Tentu. Dengan perahu Bi Dam membawa kami pergi kembali ke goa awal tempat kami bersbunyi karena tidak diketahui siapapun. Putri akhirnya mati disana. Pertama, untuk meyelamatkan tahta, ayaku harus mengelurkan aku dari istana. Kedua, untuk meyelamatkanku ibu angkatku mati dihisap pasir, ketiga, saudaraku yang telah aku menyanginya sebelum aku tahu dia saudaraku itu mati didepan mataku. Hilanglah semangat hidupku. Cerewet, ceria, nakal, bahagia… semua mati bersama saudara kembarku. Aku meratap setiap hari hingga aku menjadi seperti Zombi atau mayat hidup. Aku pernah berniat untuk tidak akan pernah kembali ke istana memilih untuk hidup normal di desa yang jauh bersama Bi Dam dan Yushin, tapi aku sadar, aku harus kembali membalas kematian saudaraku.

Aku: Lalu?

Ratu Seon Deok: Bi Dam dan Yushin membantu. Waktu itu aku sangat takut kepada Mishil, wanita cerdik yg karenanyalah ayahku harus mengeluarkanku dari istana. Karenanyalah saudaraku mati dihadapanku. Bagaimana cara dia membunuh, semuanya telah aku saksikan selama aku menjadi prajurit di istana. Aku membutuhkan orang untuk berani menghadap dengan Mishil. Bi Dam bilang dia tidak takut siapapun. Bakham dia penasaran siapa Mishil yang aku takuti. Aku mengutus Bi Dam ke istana. Dengan strategi yang telah kami susun, Bi Dam berhasil bertemu Mishil. Mishil selalu dihormati sejak jaman Raja ke-24 hingga sekarang (Raja ke-26), tapi Bi Dam menjadi orang pertama yang berani bersilat lidah dengan Mishil dan adu kecerdikan. Semua orang ingin membunuh Bi Dam tapi gagal. Aku akhirnya sampai ke istana dan menjadi putri. Mishil tidak bisa lagi menurunkan ayahku dari tahta karena saudara telah tiada. Untuk meraih tahta, Mishil harus bersaing denganku.

Aku: Mmmmm…. apa yang terjadi pada Bi Dam?

Ratu Seon Deok: Bi Dam yang biasa hidup berkelana tidak tahu tata krama di kerajaan. Semua orang berbicara padaku dengan rasa hormat dan sopan, tapi dia berbicara padaku sebagai seorang teman dan bukan putri. Dan… aku membiarkan Bi Dam seperti. Aku tidak ingin menegur ataupun merubahnya. Biarlah dia menjadi Bi Dam yang kukenal. Setelah diriku menjadi pemurung, Bi Dam adalah satu-satunya orang yang mampu membuatku tersenyum dengan sikapnya yang polos itu. Sedihnya, Bi Dam akhirnya tahu bahwa Mishil yang merupakan musuh besarku itu adalah ibu kandungnya. Anak pertama Mishil dengan Raja Jinji (Raja Shilla yang ke-25). Hal itu membuat Bi Dam sangat terpukul. Jika dia berpihak pada ibunya, dia akan melawanku. Jika dia tetap berpihak padaku, artinya dia harus membantu menyerang ibunya, musuh besarku itu. Bi Dam berbicara banyak hal dengan Mishil. Mishil yang selama bertahun-tahun terkenal tidak pernah meyerah untuk meraih impiannya akhirnya memutuskan untuk menyerah dan bunuh diri. Semua bawahan dan pasukannya diserahkan padaku. Aku sangat berterima kasih pada Bi Dam. Mishil berani mengambil langkah sejauh itu karena hati seorang anak. Aku tidak punya musuh lagi. Ayahku meninggal karena sakit dan aku dinobatkan menjadi Ratu. Aku dinobatkan sendiri tanpa seorang Raja karena aku menolak untuk menikah. Aku ingin memimpin rakyatku sendiri. Dan aku merupakan Kaisar perempuan pertama yang pernah ada dalam sejarah kerajaan Korea Selatan. Yang memimpin negeri tanpa membutuhkan sosok raja disisiku. Bi Dam dan Yushin menjadi pengawalku. Kemudian aku mengangkat Yushin menjdi Panglima/Jenderal sedang Bangsawan Bidam aku angkat ke posisi tertinggi dalam pemerintahan (Perdana menteri).

Aku: Menarik. Ini inti pertanyaan. Apakah anda bahagia setelah dinobatkan menjadi Ratu?

Ratu Seon Deok: Tidak. Aku tidak bahagia dan selalu sedih setiap saat namun aku berusaha untuk selalu kuat dan tegar demi rakyat dan negeri yang berada dibawah pimpinanku.

Aku: Mengapa tidak bahagia? Bukankah anda memperoleh segalanya?

Ratu Seon Deok: Aku memiliki mahkota, harta yang melimpah, negeri, rakyat, dan jutaan pasukan… tapi aku merasa ada yang kurang dan aku bari sadar jika aku tidak memiliki cinta.

Aku: Hmmm?

Ratu Seon Deok:  Aku selalu merasa kesepian sejak kembali ke istana sebagai putri, apalagi telah menjadi Ratu. Aku berada pada tinggat paling tinggi dalam kerajaan. Semua orang menghormati. Sejak penobatan, aku tidak memiliki nama lagi. Hanya bisa disapa dengan sebutan “Yang Mulia”. Tidak ada lagi yang memanggil namaku. Aku merasa kehilangan diriku yang dulu. Yang selalu bahagia sebelum tahu bahwa aku anak Raja. Semua teman-temanku menghormatiku, berlutut dihadapanku, mendewakanku, berbicara dengan wajah tertunduk dan suara yang sangat rendah dan lembut serta menjaga jarak denganku. Rasanya aku ingin menangis tapi itulah yang harus mereka lakukan sebagai bawahanku. Aku menjadi sangat kesepian selama ini dan merindukan diriku yang dulu. Yang bisa dekat dengan siapa saja dan berpelukan sambil tertawa. Satu-satunya orang yang membuat aku tetap merasa bukan sebagai ratu tapi sebagai Deokman adalah Bi Dam. Pada suatu kesempatan, aku memcurahkan apa yang membuatku sedih padanya. Aku berkata” Pernah suatu ketika, segala sesuatu terasa sangat mudah. Tapi lalu mereka mengetahui bahwa aku adalah seorang putri, mereka mencoba membunuhku. Orang lain yang mencoba melindungiku, mati di depan mataku. Dan sisanya, berlutut padaku dan mengatakan aku harus melakukan segala sesuatu yang terbaik. Lalu suatu hari, kau datang. Seperti tidak terjadi apapun, kau bicara padaku dengan nada biasa (tidak sopan). Aku mengatakan padamu untuk tetap seperti itu. Kau, memperlakukan aku seperti aku yang dulu (sebelum menjadi putri). Paling tidak denganmu, aku bisa merasakan kehidupanku yang dulu. Bahkan ketika aku sudah masuk ke istana, kau membawakan aku bunga dengan tertawa malu-malu dengan sikap kekanak-kanakananmu itu,  saat orang lain berlutut menghormatiku, dan dengan pandangan mata cemas, kau menggenggam tanganku yang gemetar. Orang mengira kamu gila karena sikapmu terhadap tuan putri. Jikapun kau punya alasan lain, aku tidak peduli. Ketika aku melihatmu, aku merasa menjadi diriku yang dulu. Apa kau tahu bagaimana aku ingin mempercayaimu, bagaimana aku ingin bergantung padamu? Kau harus berada di sisiku. Bukan sebagai seseorang yang menekan dan mendesakku, yang membuatku merasa asing. Tapi seseorang yang  berkedip padaku, yang memberiku bunga. yang selalu menghiburku, yang mengenggam tanganku yang gemetar. Aku membutuhkanmu. Aku berusaha menutupinya, bahkan menghapusnya. Sengaja. Aku melakukannya dengan sengaja. Aku berpikir bahwa perasaan sepele itu tidak pantas untuk seorang penguasa. Hanya kau yang menganggapku sebagai seorang wanita, bukan sebagai Ratu. Aku menyukainya. Kau, yang mencintaiku sebagai seorang wanita. Aku mencintaimu. Tapi, bisakah aku memiliki perasaan itu?”.  Setelah itu, Bi dam berjanji akan selalu memanggil nama kecilku “Deokman”, tapi aku tidak mau karena rakyat akan menyebutnya penghianat. Bi Dam selalu membuat tersenyum disaat aku merasa kesepian, menghadapi konflik, sakit, dll. Dan selalu berada dihadapanku menghunuskan pedangnya jika ada musuh menghalangi jalanku. Sayang, dunia tidak mengizinkan kami bersatu karena dia anak Mishil, musuhku. Aku tetap mengumumkan bahwa aku akan menikah dengan Bi Dam. Bi Dam yang juga mencintaiku membuat surat sumpah bahwa jika aku meninggal terlebih dalulu, makan ia akan melepas jabatannya dan meninggalkan istana sebab baginya, untuk apa ia memiliki jabatan, kekuasaan serta pasukan  jika aku tidak bersamanya. Dia berkata, jika aku mencintai negeri, maka ia akan menjadi negeri itu. Aku sangat bahagia. Dan aku menulis surat untuknya. Dalam surat itu aku menulis ” Ini akan menjadi tugas terakhirku di Serabol. Setelah semua ini berakhir, aku akan turun tahta dan pergi ke Chu-A-Gun. Jadi, bangun sebuah rumah kecil dan tunggu aku di sana. Walaupun hanya untuk waktu yang singkat, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Apapun yang terjadi, percayalah padaku. Dan tunggu aku. DeokMan”. Bi Dam yang butakan oleh cinta akhirnya di provokasi oleh bawahannya untuk kepentingan pribadi mereka. Akhirnya seorang penghianat mengadu-dombakan kami. Hilanglah sudah kepercayaaan yang kami bina selama ini untuk satu sama lain. Orang-orang menganggap Bi Dam penghianat kerajaan. Bi Dam yang ingin datang menemui untuk menjelaskan kebenaran dihadang oleb ribuan pasukan untuk melindungiku. Bi Dam disangka ingin membunuhku. 30 langkah menuju padaku, Bi Dam yang dengan kehebatannya bermain pedang, berhasil menumbang ratusan pasukan sendirian tanpa dibantu oleh satu orang pun.  10 langkah lagi, Bi Dam dihujani anak panah. Aku tidak mampu menahan air mataku. Dan 5 langkah di hadapanku, Yushin menikamnya. Bi Dam tewas dihadapanku. Karena pernah berjanji akan selalu memanggil namaku, Bi Dam yang dalam jeritan menahan rasa sakit ketika pedang Yushin menembusnya berkata dengan saangaaaaat pelan “Deokman, De…ok….manku… . Aku menatap matanya. Airmatanya mengalir deras bercampur darah. Bi Dam menatapku dengan pandangan yang sangat sedih dan rindu. Yushin mencabut pedang dari tubuh Bi Dam.  Dengan tatapan yang masih sama,mengarahkan tangannya padaku seakan ingin meraihku. Tapi akhirnya terkapar ditanah yang berdebu dan meninggal. Bayangkan saja orang yang paling aku percaya yang aku cintai mati 5 langkah dihadapan. Aku adalah Kaisar yang Ke-27. Walaupun perempuan, aku mampu mewujudkan impian yang selalu diusahakan oleh Raja-raja sebelumnya. Aku menyatukan 3 kerajaan, Shilla, Bakjae dan Goguryo. Tapi memiliki segalanya, tapi tidal dengan cinta yang menjadi impian hidupku.

Nah, Bisa dibayangkan sendiri apa yang dirasakan Ratu Seon Deok. Sang Ratu pun meninggal 3 hari setelah Bi Dam. Ratu meninggal diatas singgasanya wajah yang masih basah dengan airmata kesedihannya. Ratu memang pernah berpikir, andai tidak kembali ke istana, dia akan bahagia didesa. Tapi… itulah takdirnya. Ratu menyerahkan Tahtanya kepada keponakannya yang juga menjadi Kaisar perempuan kedua setelah Seon Deok. Setelah itu, tidak ada lagi pemimpin perempua di kerajaan Korea yang berbidiri memimpin sendiri tanpa membutuhkan sosok Raja.

Alhamdulillah, Setelah tahu banyak kisah-kisah tokoh inspiratif, aku merasa sangat bahagia terlahir sebagai seorang muslimah. Islam menyuruh kita untuk kaya hati, bukan kaya harta. Berbahagialah orang-orang yang tidak memiliki dunia (merasa tidak memiliki apa-apa) namun ada iman dalam hatinya. Karena Allah akan selalu memberikan ketenangan dalam hatinya. Dia akan selalu bahagia. Berbeda dengan yang memiliki kelebihan, harta, jabatan, kedudukan, nama,… tapi tidak taat dan masih lalai akan perintah Allah, maka dia akan lihat balasannya nanti diakhirat dan itu pasti. Dunia ini hanya menipu dan memperdaya. Semoga kita tidak termasuk orang-orang selalu kerja totalitas, tapi ibadah malas, termasuk shalat. Ingat, Mungkar dan Nakir tidak bisa disuap.