Suami/Istri Idaman

[Mengapa aku tidak membantu istriku]

Seorang teman datang untuk ngopi ke rumah saya, dan kita duduk dan ngobrol soal kehidupan.

Saat lagi nyantai, saya pamit ke teman, “aku cuci piring dulu sebentar, nanti aku balik lagi.”

Teman saya memandang saya dengan ekspresi seolah- olah saya akan pergi membangun roket luar angkasa.

Dengan sedikit terkejut, ia berkata pada saya dengan terkagum-kagum, “Hebat bener yah kamu bantu istrimu,

kalau aku sih ngga terlalu bantu, soalnya kalau aku bantuin istri, ngga ada pujian sedikitpun. Minggu lalu aku ngepel lantai, tapi dia nggak bilang makasih sama sekali.”

Saya kembali duduk bersamanya dan menjelaskan bahwa saya tidak “membantu” istri saya.

Sebenarnya, istri saya tidak butuh bantuan… ia membutuhkan seorang partner.

Saya tidak membantu istri saya membersihkan rumah… karena saya juga tinggal di rumah ini dan saya harus membersihkannya juga.

Saya tidak membantu istri saya masak… saya masak karena saya lapar dan ingin makan.

Saya tidak membantu istri saya mencuci piring setelah makan… karena saya juga menggunakan piring-piring itu.

Saya tidak membantu istri saya mengasuh anak-anak… karena mereka adalah anak-anak saya, dan itu adalah kewajiban saya sebagai seorang ayah.

Saya tidak membantu istri saya mencuci, menjemur, dan melipat pakaian… karena pakaian itu juga milik saya dan anak-anak saya.

Di rumah, peran saya bukan untuk “membantu”… tapi saya adalah “bagian” dari rumah itu.

Saya bertanya pada teman saya, “pernahkah kamu berpikir seperti itu? Ketika kamu, mengepel lantai, sekali saja, kamu mengharapkan pujian dan kehormatan?

Kenapa?”

Saya bertanya lagi padanya, “kapan terakhir kali kamu bilang terima kasih, setelah istrimu selesai membersihkan rumah, mencuci baju, memandikan anak, masak, merapikan barang, dll?”

“Mungkin bagi kamu, di mana laki-laki dielu-elukan, seolah-olah semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab istri. dan para suami cuma terima beres saja?”

“Bantulah istrimu dan bersikaplah seperti pendamping yang sejati, bukan tamu, yang cuma pulang untuk makan, tidur, mandi, dan dituruti keinginannya.”

Perubahan dalam masyarakat dimulai dari rumah kita.

Mari ajarkan putra-putri kita arti kebersamaan yang sesungguhnya.

♡♡♡

AKU BUKAN SEDANG MEMBANTU ISTRIKU

Sebulan lalu temanku datang dari Cianjur ke rumah untuk silahturahim, kami duduk bersama dan mengobrol banyak tentang pengalaman kami kuliah di Saudi Arabia tepatnya di Kota Riyadh.

Di tengah pembicaraan, aku bilang :

Maaf ya bro…!!!

“Aku mau nyucuci piring, tunggu sebentar ya”

Dia menatap ku seolah aku barusan bilang bahwa aku akan membangun sebuah roket.

Lalu dia berkata padaku dengan rasa kagum tapi sedikit bingung :

“Aku senang kau membantu istrimu. Kalo aku sih…. gak bantuin istriku, karena pas ku bantu, dia gak memujiku. Minggu lalu aku mengepel lantai dan dia gak ngucapin terima kasih.”

Aku duduk lagi dan menjelaskan pada temanku ini, bahwa aku gak sedang “membantu” istriku.

Sebenarnya, istriku gak butuh bantuan, tapi dia butuh partner. Aku adalah seorang partner di rumah dan kadang stigma di masyarakat yang membuatnya seolah suami dan istri memiliki peran yang berbeda soal pekerjaan rumah tangga. Istri mengerjakan semua, dan suami tidak membantu. Atau kalaupun membantu, hanya sedikit saja. Tapi sebenarnya itu bukan sebuah “bantuan” untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Aku bukan sedang membantu istriku membersihkan rumah. Karena aku juga tinggal di rumah ini, maka aku perlu ikut membersihkannya juga.

Aku bukan sedang membantu istriku memasak. Tapi.karena aku juga ingin makan, maka aku perlu ikut memasak.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci piring setelah makan. Tapi krn aku jugalah yg memakai piring- piring itu, maka aku ikut mencucinya.

Aku bukan sedang membantu istriku mengurus anak-anak nya. Tapi krn mereka adalah anak-anakku juga, maka sebgai ayahnya, aku wajib ikut mengasuh mereka.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci dan melipat baju. Tapi karena baju-baju itu jg milikku dan anak- anakku, maka aku ikut membereskannya juga.

Aku bukan sebuah Bantuan di rumah, tapi aku adalah Bagian dari rumah ini.

Dan soal pujian, aku memintamu wahai temanku, nanti setelah istrimu membersihkan rumah, mencuci baju, mengganti sprei, memandikan anak, memasak, membereskan barang, dll, kau hrs mengucapkan terima kasih padanya, tapi harus

ucapan terima kasih yg spesial, seperti :

“Wow, Sayangkuu!! Kamu hebatt!!!”

Apa itu terasa konyol bagimu?

Apa kau merasa aneh?

Padahal ketika kau, cuma sekali seumur hidup mengepel lantai, lalu setelah selesai kau mengharapkan sebuah pujian besar dari istrimu, apa itu gak lebih aneh ? Pernahkah kau berpikir sejauh itu?

Mungkin karena bagimu, budaya patriaki mengukuhkan bahwa semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawab.istri.

Mungkin kau kira, mengerjakan semua pekerjaan rumah.yang banyak itu, bisa diselesaikan tanpa menggerakkan jari? Maka hargai dan puji istrimu seperti kau ingin dihargai dan dipuji, dengan cara dan perlakuan yg sama.

Maka ulurkan tanganmu untuk membantunya, bersikaplah seperti Partner sejati. Bukan seperti tamu yg datang hanya untuk makan, tidur, mandi dan terpenuhi kepuasannya.

Merasa nyamanlah di rumahmu sendiri.

Perubahan nyata dari masyarakat, dimulai dari rumah kita. Mari ajarkan anak lelaki dan perempuan kita, arti sebenarnya dari kebersamaan keluarga.

♡♡♡
Wahai Ayah, Perhatikan Ketika Menikahkan Putrimu

Wahai Ayah

Perhatikan perkataan ulama berikut:

“Janganlah kamu menikahkan putrimu kecuali dengan laki-laki yang bertakwa. Karena jika dia mencintai istrinya maka akan memuliakannya dan jika tidak suka maka tidak akan mendzaliminya.” [1]

Wahai ayah,

Engkau tahu mengapa Laki-laki tidak perlu ada wali nikah Sedangkan wanita wajib?

Karena tugas wali adalah Menjaga anak perempuannya Dari laki-laki tidak bertakwa yang Hanya ingin manisnya saja Lalu dibuang hempaskan.

Anak perempuan mudah sekali Terlena bahkan “gelap mata” Dengan romatis sesaat & Pengorbanan semu laki-lakiPadahal ia rubah bertopeng kelinci.

Tugas engkau wahai ayah, Karena anak perempuan-mu Akan menjadi “tawanan” suaminya .Susah lepas sekali terikat. 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Hendaknya kalian berwasiat yang baik untuk para wanita karena mereka sesungguhnya hanyalah tawanan yang TERTAWAN oleh kalian” [2]

Tugas kalian wahai ayah:

1) Perbaiki diri kalian dengan takwa dan kebaikan.

2) Segera nikahkan jika laki-laki yang datang TERBUKTI baik agama dan akhlaknya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai akhlak dan agamnya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas.” [3]
♡♡♡
Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan mataku bagaimana kau menjadi istri di hari pertama pernikahan kita. Aku menyaksikan punggungmu dari bingkai pintu, saat kau sedang asyik membuatkan nasi goreng di dapur untukku. Kau menoleh, secepat kilat aku pun bersembunyi.

Kau mengerutkan dahi. ‘Kayak ada yang ngintip?’

begitulah mungkin kau berfikir. ‘Memang’, batinku… hehe. Aku menutupi tawa renyah dengan gumpalan tangan.

Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan retinaku bagaimana kau mengusap peluh di pelipismu. Kau sepertinya capek sekali. Pagi-pagi sudah membereskan rumah, menyiapkan sarapan, dan juga merapikan baju- baju. Maafkan jika hari itu aku pura-pura tidur, ya. Tak membantumu. Aku hanya ingin merekam semua kebaikanmu, Sayang. Agar ketika di suatu saat aku jengkel dan kesal kepadamu, rekaman itu dapat diputar kembali; untuk kemudian meredamkan amarah di hati.

Sebab kau terlalu baik untuk disakiti.

Kau, yang dengan rela meninggalkan orangtuamu demi menemani dan melayani aku. Meninggalkan kemanjaan bersama papahmu. Meninggalkan kehangatan bersama mamahmu. Itu semua demi aku? Lelaki yang baru dikenalmu ini? Oh sungguh, Dik. Aku akan memurkai diriku sendiri jika seandainya aku menyakiti dirimu.

Tidak. Aku tak akan menyakitimu. Aku akan berusaha untuk itu, Dik.

Kau, seorang perempuan yang dengan ikhlas melepaskan harapan, cita-cita, dan impian hanya untuk mewakafkan sisa hidupmu untuk lelaki seperti diriku. Melayaniku di sepenuh hari. Menenemaniku di sepanjang umur. 

Oh, Dik. Bagaimana mungkin mata ini melototimu sedang aku melihat semuanya. Melihat pengorbananmu untukku.

Aku mungkin akan marah di sesekali waktu, namun sekeras-kerasnya marahku adalah setukil senyuman.

Tidak akan kubiarkan tangan, lisan, atau bahkan hatiku melukai dirimu, Dik. Insya Allah.

“Abi, sarapan dulu,” titahmu di mulut pintu. Aku masih membungkus tubuhku dengan selimut. Tak berani menoleh. Aku takut kau tahu kalau mataku sedikit basah. Maaf, aku memang selalu cengeng untukmu, .

‘Makasih’. Barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan derai ini.

“Abi masih tidur? Capek ya?” tanyamu. Kini kau sudah.duduk di tebing kasur. Mengusap bahuku dengan lembut, dan bilang… “Ya udah, adik panasin aja ya nasi gorengnya?”

“O enggak, Dik,” ujarku sambil menyingkap selimut,

“Udah bangun kok.”

Kau menatapku. Menyipitkan sebelah mata, lalu menyentuhkan ujung jempol di sudut mataku, “Abi kayak orang nangis?”

Aku langsung mengocek-ngocek mata. “Siapa yang nangis, Dik,” kilahku, “kalau bangun biasa berair seperti ini abi mah.”

Aku nyengir. Maaf, ya.

Kau ikutan nyengir. “Kebiasaan yang aneh,” katamu menggeleng.

.

Maaf ya, Dik. Aku baru saja berbohong. Tak apa, kan?

“Ini nasgor spesial buat abi,” katamu di meja makan,

“cobain deh.”

Kau tahu, Dik. Andai ini keasinan, maafkan sebab aku akan berbohong lagi, mengatakan bahwa ini makanan terlezat di muka bumi. Aku mengacungkan dua jempol,

“Wenak,” pujiku dengan makanan yang masih tertahan di mulut. Aku tak perlu berbohong, ini memang enak. Asli.

Sebenarnya, ada kebohongan lagi. Ini hari Senin, dan aku selalu melaksanakan puasa Sunnah di hari ini. Aku sudah sahur jam dua tadi saat kau tengah terlelap. Tapi baiklah, tak apa tak puasa sehari. Demi menghormatimu.

Demi mencicipi makananmu. “Adik tak ikut makan?” tanyaku sambil melahap, menghabiskan hampir setengah piring.

Kau tersenyum, “Ini kan hari senin, Bi. Maaf, ya. Adik lagi puasa.”

Puasa? Aku tersedak. Mataku membulat.

“Kenapa, Bi?”

“Abi sebenarnya sedang puasa juga, Dik. Curang.”

“Kenapa gak bilang dari tadi?” tanyamu sambil menahan tawa.

“Ya adik gak nanya sih.” sahutku pura-pura marah.

Tak disangka, kau meraih gelas. Menenggak air.

Menatapku dengan sedikit senyum saat mulutmu tepat di ujung gelas.

“Katanya puasa,” heranku.

“Dibatalin aja, Bi.”

“Kenapa?”

“Ngehormatin kamu.”

Aku tersenyum. Senyum paling manis.

Ya. Islam adalah ajaran sederhana. Puasa di luar Ramadhan adalah sunnah, sedang menyenangkan pasangan adalah wajib. Kita harus bersyukur dengan ajaran mulia ini, Dik.

“Abi?”

“Iya, Dik?”

“Suapiiiiiiin….”.

Ah, selain iman dan Islam, kau adalah nikmat terindahku, Dik. Kau adalah surgaku. Selamanya.

Anak Seorang Budak

Kisah Teladan Islami

Sikap Wara’ Menguntungkan

Jangan sekali-kali berpikir bahwa orang yang sempurna adalah orang yang mengenakan imamah terbaik dan pakaian mewah. Akan tetapi orang yang sempurna adalah yang menjauhi maksiat, menekuni wirid-wirid, beramal saleh, dan menuntut ilmu dengan penuh adab, karena ilmu akan menuntun pemiliknya mencapai kemuliaan. 

Abdullah bin Mubarak suatu hari berkata, “Aku akan mengerjakan perbuatan yang akan membuatku mulia.” Ia lalu menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang alim. Waktu ia memasuki kota Madinah, masyarakat berbondong-bondong menyambutnya hingga hampir-hampir saja mereka saling bunuh karena berdesak-desakan. Ibu suri raja yang kebetulan menyaksikan kejadian itu bertanya, “Siapakah orang yang datang ke kota kita ini?” 

Ia adalah salah seorang ulama Islam, jawab pelayannya. 

Ia kemudian berkata kepada anaknya, “Perhatikanlah, bagaimana masyarakat berbondong-bondong mendatanginya. Raja yang satu ini tidak seperti kamu. Kamu, jika menginginkan sesuatu, harus memerintah seseorang untuk melakukannya. Tetapi, mereka mendatanginya dengan sukarela.” 

Abdullah sesungguhnya adalah anak seorang budak berkulit hitam bernama Mubarak. Budak ini betisnya kecil, bibirnya tebal dan telapak kakinya pecah-pecah. Walaupun demikian, ia adalah seorang yang sangat wara`. Ke-wara’-annya ini akhirnya membuahkan anak yang saleh. Mubarak bekerja sebagai penjaga kebun. Suatu hari tuannya datang ke kebun. 

Mubarak, petikkan aku anggur yang manis, perintah tuannya. 

Mubarak pergi sebentar lalu kembali membawa anggur dan menyerahkannya kepada tuannya. 

Mubarak, anggur ini masam rasanya, tolong carikan yang manis! kata tuannya setelah memakan anggur itu.

Mubarak segera pergi, tak lama kemudian ia kembali dengan anggur lain. Anggur itu dimakan oleh tuannya.

Bagaimana kamu ini, aku suruh petik anggur yang manis, tapi lagi-lagi kamu memberiku anggur masam, padahal kamu telah dua tahun tinggal di kebun ini, tegur tuannya dengan perasaan kesal. 

Tuanku, aku tidak bisa membedakan anggur yang manis dengan yang masam, karena kamu mempekerjakan aku di kebun ini hanya sebagai penjaga. Sejak tinggal di sini aku belum pernah merasakan sebutir anggur pun, bagaimana mungkin aku dapat membedakan yang manis dari yang masam? jawabnya. 

Tuannya tertegun mendengar jawaban Mubarak. Ia seakan-akan memikirkan sesuatu. Kemudian pulanglah ia ke rumah. 

Pemilik kebun itu memiliki seorang anak gadis. Banyak pedagang kaya telah melamar anak gadisnya. 

Sesampainya dirumah, ia berkata kepada istrinya, “Aku telah menemukan calon suami anak kita.” 

Siapa dia? tanya istrinya. 

Mubarak, budak yang menjaga kebun. 

Bagaimana kamu ini?! Masa puteri kita hendak kamu nikahkan dengan seorang budak hitam yang tebal bibirnya. Kalau pun kita rela, belum tentu anak kita sudi menikah dengan budak itu. 

Coba saja sampaikan maksudku ini kepadanya, aku lihat budak itu sangat wara’ dan takut kepada Allah. 

Kemudian sang istri pergi menemui anak gadisnya, “Ayahmu akan menikahkanmu dengan seorang budak bernama Mubarak. Aku datang untuk meminta persetujuanmu.” 

Ibu, jika kalian berdua telah setuju, aku pun setuju. Siapakah yang mampu memperhatikanku lebih tulus daripada kedua orang tuaku? Lalu mengapa aku harus tidak setuju? 

Sang ayah yang kaya raya itu kemudian menikahkan anak gadisnya dengan Mubarak. Dari pernikahan ini, lahirlah Abdullah bin Mubarak. 

Sepenggal Kisah Rasulullah saw.

Rasulullah SAW (pada suatu ketika) duduk di situ ada seorang lelaki yang makan lalu tidak mengucapkan Bismillah, sehingga makanannya tidak tertinggal melainkan sesuap saja. Setelah orang itu mengangkatkan sesuatu yang tertinggal tadi di mulutnya, tiba-tiba dia mengucapkan: 

‘Bismillahi awwalahu wa akhirahu.’ 

Kemudian Nabi SAW. Tertawa lalu bersabda: 

“Tidak henti-hentinya syaitan tadi makan bersama orang itu. Tetapi setelah dia ingat untuk mengucapkan nama Allah (yakni setelah membaca Bismillah), maka syaitan tadi memuntahkan seluruh makanan yang telah ada dalam perutnya. (Hadis Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i)

Karena Dengki

Kisah Teladan Islami

Ada seorang lelaki yang setiap hari mengunjungi raja. Setelah bertemu raja, ia selalu berkata, “Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.” 

Ada seseorang yang dengki melihat keakraban lelaki itu dengan raja. “Lelaki itu memiliki kedudukan yang dekat dengan raja, setiap hari ia bertemu raja,” pikir si pendengki dengan perasaan kurang senang. Si pendengki kemudian menemui raja dan berkata, “Lelaki yang setiap hari menemuimu, jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tentang kamu. Ia juga berkata bahwa bau mulutmu busuk.” Raja terdiam. 

Sekeluarnya dari kerajaan, pendengki duduk di tepi jalan yang biasa dilalui oleh lelaki yang akrab dengan raja. Ketika si lelaki itu lewat dalam perjalanannya menemui raja. Ia menghadangnya, “Kemarilah, singgahlah ke rumahku.” 

Setelah temannya singgah ke rumahnya, si pendengki menawarkan bawang merah dan putih, dan memaksanya agar ia memakannya. Karena dipaksa, ia akhirnya mau juga memakannya untuk melegakan hati orang itu. Bau bawang merah dan putih itu tentu tidak mudah hilang. 

Selesai berkunjung ke tempat si pendengki, lelaki itu sebagaimana biasa mengunjungi raja. Sewaktu berjabatan tangan dengan raja, ia menutup mulutnya agar raja tidak mencium bau mulutnya. 

Rupanya benar perkataan orang itu, ia benar-benar menganggap mulutku bau, pikir raja. Sang raja kemudian memikirkan suatu rencana jahat. 

Lelaki itu kemudian duduk dan berkata sebagaimana biasa, “Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.” 

Setelah merasa waktu berkunjungnya sudah cukup, ia kemudian pamit kepada raja. Raja berkata, “Bawalah surat ini dan serahkanlah kepada fulan.” Surat itu berisi, “Jika sampai kepadamu pembawa surat ini, maka sembelih dan kulitilah dia, kemudian isilah tubuhnya dengan jerami.” 

Lelaki tadi keluar membawa surat raja. Di tengah jalan ia dihadang oleh si pendengki. 

Apa yang kamu bawa? tanyanya. 

Surat raja untuk fulan. Surat ini beliau tulis dengan tangannya sendiri. Biasanya beliau tidak pernah menulis surat sendiri, kecuali dalam urusan pembagian hadiah.. 

Berikanlah surat itu kepadaku, aku ini sedang butuh uang, pintanya. Ia kemudian menceritakan kesulitan hidupnya. Karena kasihan, surat itu kemudian ia serahkan kepada si pendengki. 

Si Pendengki menerimanya dengan senang hati. Setelah sampai di tempat tujuan, ia menyerahkan surat itu kepada teman raja. 

Masuklah ke sini, raja menyuruhku membunuhmu, kata teman raja. 

Yang dimaksud bukan aku, coba tunggulah sebentar biar kujelaskan, katanya ketakutan. 

Perintah raja tak bisa ditunda, kata teman raja. Ia lalu membunuh, menguliti dan mengisi tubuh si pendengki dengan jerami. 

Keesokan harinya, lelaki itu datang sebagaimana biasa dan berkata, “Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.” Raja heran melihatnya masih hidup. Setelah diselidiki, terbongkarlah keburukan si pendengki. 

Tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dengannya, hanya saja kemarin ia mengundangku kerumahnya dan memaksaku makan bawang merah dan putih. Waktu aku menemuimu kututup mulutku agar kamu tidak mencium bau tidak sedap dari mulutku. Sekeluarnya dari sini, ia menemuiku dan menanyakan titipanmu, lelaki itu kemudian menceritakan semua yang terjadi. 

Mendengar jalannya cerita, tahulah raja bahwa orang itu ternyata dengki kepada sahabatnya. “Benar ucapanmu, orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.” 

Kedengkian di hati orang itu telah membunuh dirinya sendiri. Dengki itu merusak amal Dengki memakan kebaikan seperti api memusnahkan kayu bakar. (HR Ibnu Majah) Kedengkian seseorang hanya akan berakibat buruk bagi orang itu sendiri.

​Kisah Nabi Musa Dengan Seorang Pezina

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan- pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia Berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” 

Apakah dosamu wahai wanita ayu? tanya Nabi Musa a.s. terkejut. 

Saya takut mengatakannya.jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. 

Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya… telah berzina. 

“Kepala Nabi Musa terangkat,hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan, Dari perzinaan itu saya pun…lantas hamil. Setelah anak itu lahir,langsung saya… cekik lehernya sampai… tewas,”” ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya. ” 

Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik, “Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”… teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik. 

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan.Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. 

Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?” Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. “Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?” 

Ada! jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran.”Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. 

Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina” 

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. 

Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya. (Dikutip dari buku 30 kisah teladan – KH Abdurrahman Arroisy) 

Dalam hadis Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah. Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. 

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita penzina dan dua hadis Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah. 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaiik.

Bibit (Sumber) Dari Segala Sesuatu

Kisah Teladan Islami

Diriwayatkan bahwa Kaisar Romawi menulis surat kepada Ma’awiyah binAbi Sufyan yang dibawa oleh seorang utusan. Isi surat tersebut:”Beritahukan kepada saya tentang suatu yang tidak ada kiblatnya(pengimaman), tentang yang tidak punya ayah, tidak punya keluarga(ibu-bapak) dan orang yang dibawa-bawa oleh kuburannya. Juga tentangtiga makhluk yang tidak dicipta dalam rahim, tentang sesuatu,setengahnya dan yang tidak terbilang. Kirimlah kepadaku dalam botolsuatu bibit (sumber dari segala sesuatu)”. 
Ma’awiyah r.a. kemudian mengirimkan surat dan botol tersebut kepadaAbdullah Ibnu Abbas r.a., pakar dan tokoh ulama fikih agar menjawabsurat itu. 
Ibnu Abbas r.a. menjawab sebagai berikut: “Yang tidak punya kiblat (pengimaman) adalah Ka’bah. Yang tidak punya Ayah adalah Isa as. Yangtidak punya keluarga (ayah-ibu) ialah Adam as. Yang dibawa-bawa olehkuburannya ialah Yunus as yang ditelan oleh ikan hiu. 
Adapaun tiga makhluk yang tidak dicipta dalam rahim ialah domba NabiIbrahim as., unta betina Nabi Saleh as., dan ular Nabi Musa as.. 
Adapun ‘sesuatu’ itu ialah orang berakal yang menggunakan akalnya.Setengah (separo) dari sesuatu ialah orang yg tidak berakal tetapimengikuti pendapat orang-orang yang berakal. Adapun yang tidakterbilang (apa-apa) ialah orang yang tidak berakal dan tidak maumengikuti pikiran orang-orang yang berakal. 
Kemudian, beliau mengisi botol sehingga penuh dengan air dan berkata,”Air adalah bibit (sumber) dari segala sesuatu.” 

Jawaban surat Ma’awiyah dikirimkan kepada Kaisar yang menanggapinyadengan penuh kekaguman.

Melawan Nafsu

Kisah Teladan Islami

Tobatnya Al-Qass

Al-Qass adalah orang yang paling baik ibadahnya di mata penduduk Mekkah. Pada suatu hari dia bertemu dengan Sallamah, gadis pinangan orang Quraisy. Lalu al-Qass mendengar nyanyiannya dan berhenti untuk mendengarkannya. 

Pada saat itulah majikan gadis itu melihat al-Qass dan berkata, “Maukah Anda masuk untuk mendengarkannya?” Al-Qass pura-pura tidak mau sampai gadis itu mengizinkannya. Al-Qass berkata, “Tempatkan saya di tempat yang sepi agar saya tidak dapat melihat dia dan dia tidak melihatku” Kemudian al-Qass masuk dan gadis itu pun menyanyi. Gadis itu tertarik kepadanya. Lalu majikannya menawarkan kepada al-Qass untuk berkenalan dengannya, tetapi al-Qass tidak mau.Pada suatu hari gadis itu berkata kepadanya, “Sungguh aku mencintaimu.” Al-Qass menjawab, “Saya juga mencintaimu.” Gadis itu berkata, “Aku ingin sekali mengecup bibirmu.” Al-Qass berkata, “Saya juga.” Gadis itu berkata, “Saya ingin menempelkan dadaku ke dadamu.” Al-Qass menjawab, “Saya juga.” Gadis itu berkata, “Lalu mengapa Anda tidak melakukannya? Sungguh tempat ini benar-benar sepi.” 

Al-Qass menjawab, “Saya mendengar Allah berfirman yang artinya: Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS: az-Zukhruf:67) 

Saya tidak ingin kasih sayang antara diriku dan dirimu berubah menjadi permusuhan di hari kiamat.” 

Lalu gadis itu berkata, “Wahai al-Qass! Apakah Tuhanku dan Tuhanmu tidak menerima kita kalau bertobat kepadanya? Al-Qass menjawab, “Ya! Tetapi saya tidak aman dari kematian yang datang dengan tiba-tiba.” Kemudain al-Qass berdiri dan kedua matanya mengeluarkan air mata. Setelah itu dia tidak pernah kembali lagi ke tempat itu dan beribadahlah dia seperti sedia kala.

Semoga bermanfaat dan semoga Allah selalu membimbing lanhkah kita kepada hal-hal yang Dia ridhoi. Aamiin.