​”RUMAHKU TIDAK BERSIH..”

Hi reader. Kali ini aku pengen membagi cerita yang aku dapat dari sebuah group di FB. Dan aku sangat menyukai tulisan ini. Ini sangat menginapirasi. Seberapa banyak orang diantara kita mempunyai pemikiran yang sama dengan si penulis kisah ini. Masha Allah, dia hebat. 

Yuk, simak kisah selengkapnya.

By:  Zawana Hijab Owner

” Mb Endang kerjanya ngapain aja.. kok rumahnya berantakan gini. ??.. ( tanya seorang teman yang satu hari bertamu ke rumah Saya.. )

Dengan santai Saya menjawab.. “# TIDURAN bund..”

●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

Memiliki rumah yang terlihat bersih & rapi adalah IMPIAN semua orang .. termasuk Saya pribadi..

Bayangkan Bunda..

Jika lantai bersih mengkilap.. Perabot tanpa debu.. Dinding rumah tanpa coretan.. Perkakas rumah tersusun rapi nggak berubah..

Percayalah..

Senyum kita pasti merekah dengan sikon BERSIH DARI NODA..

Secara # LOGIKA..

Rumah yang bersih & rapi itu karena nggak ada yang “MENGGANGGU ” setelah di bersihkan..

Tapi jangan TERLUPA 1 HAL njih.. Itu juga sama artinya tidak ada seorang pun di rumah..

No husband.. No children..

Tidak ada canda tawa.. apalagi gurauan si kecil.. Sedangkan Saya.. ( salah satunya.. Mungkin juga termasuk Bunda2 yang seperti saya.. ).. Rumah Saya sering BERANTAKAN.. karena ada suami.. Anak 3 tersayang..

Lantai rumah Saya jarang mengkilap.. Itu bukan karena Saya nggak ngepel lo.. Karena anak menjadikan rumah sebagai tempat ternyaman dalam bermain..

Perabot Saya berdebu.. Itu bukan karena Saya nggak ngelap.. karena anak main taburan sembarang..

Dinding rumah Saya nggak licin tapi cenderung ke kusam.. Itu bukan karena oleh suami nggak di cat.. tapi Karena Saya memberi kesempatan anak 3 Saya bereksplorasi terhadap alam..

Sekali lagi..

RUMAH SAYA NGGAK BERSIH Bunda..

Karena insan 4 yang Saya Sayangi ada bersama dengan Saya.. Kehadiran mereka menghangatkan hari2 Saya.. Kami merasa saling nyaman Bunda.. Lalu. ??

Apakah RUMAH KOTOR jadi masalah bagi Saya. ?? Oh.. Tidak sama sekali Bunda..

Bersabarlah Bunda..

Rumah kotor itu hanya # SEBENTAR saja.. Jika anak 3 sudah besar.. Kita akan MERINDUKAN # KEGILAAN seperti ini..

Lalu soal # EMOSI. ???

Lumrah Bunda.. Itu sangat MANUSIAWI.. Saya bukan malaikat.. bukan wonderwoman.. Ada saatnya Saya tercabik EMOSI..

Apa yang Saya perbuat.. Saya akan #MemejamkanMata.. Dan di situ Saya akan #mendapati .. bahwa.. Saya lebih # MENCEMASKAN anak 3 Saya dari pada Rumah Saya..

Jikalau Saya terlanjur menghardik.. Masya Allah.. Saya akan segera berlari mengambil air wudhu..

Bunda..

●Jika kita mampu melihat sesuatu dari sudut yang tepat, Maka hal yang sifatnya negatif bisa di ubah sebaliknya..

●Kita hanya perlu membingkai ulang # SudutPandang tersebut..

………Saya perbanyak SYUKUR…….

●Ketika anak 3 pulang sekolah malas2an nonton TV.. itu artinya mereka berada dirumah #BersamaSaya. Bukan di luaran nggak pulang ke rumah ketika sekolah usai..

●Ketika rumah bak kapal pecah.. banyak sampah bertebaran.. Itu artinya anak3 Saya #Sehat nggak sakit dan sukaria bermain..

●Untuk baju2 kotor.. piring2 kotor.. Itu artinya anak3 Saya #Berkecukupan makan & segalanya..

●Untuk lelah.. capek dan penat Saya di waktu mau istirahat malam.. Itu artinya Saya MAMPU # MengembanTugas sebagai ibu rumah tangga… Sambil mengerjakan kerja sampingan.. Jualan di toko. Online & lapak pasar..

Allah nggak akan membebani di luar kemampuan kita..

●Untuk semua hinaan.. Ejekan.. Kritik.. yang Saya dengar dari segelintir orang yang tidak menyukai Saya.. Itu berarti Saya ada kepasrahan # Menyandarkan segala sesuatu kepada NYA..

●Untuk setiap permasalahan hidup tentang anak 3 Saya.. itu artinya Saya di beri kesempatan oleh Allah swt untuk  Membentuk & Menyiapkan anak 3 Saya demi masa depannya..

●Saya bahagia & bersyukur di anugerahi 3 buah hati yang SEHAT & bikin air mata selalu jatuh jika kangen mereka..

Mereka adalah Malaikat2 Kecil dalam kehidupanku.. Allah telah mempercayakan # REZEKI yang maha hebat dalam kehidupan keluargaku..

Ya Rabb..

ROBBIAUZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALATTII AN ‘AMTA ‘ALAYYA WA’ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SOOLIHAN TARDHOOHU WA ADKHILNII BIROHMATIKA FII IBADIKASH SOOLIHIIN

Amin3 Ya Rabb..

My Diary: Dikejar Rezeki

By: Ririn Yastiawijaya

Apa yang aku lihat dipasar hari ini sangat menyejukkan hati. Bibirku selalu merekah dihiasi senyum manis sepanjang aku menyaksikan apa yang terjadi didepan mataku. Bahkan hatiku tak henti-hentinya mengucap kalimat tahmid atau hamdalah kepada sang ar-Razaq, Tuhanku yang maha memberi rezeki.

Pagi ini aku ikut papaku ke pasar. Tujuan aku ikut adalah karena aku juga ingin membeli beberapa keperluanku, fotokopi beberapa berkas, membantu papa menjual pisang emas. Setelah semua kelar, aku bersama papa menuju pasar ikan. 

Di pasar itu banyak penjual yang menjual banyak ikan. Mulai dari palibg kecil hingga yang paling besar dengan berbagai jenis. Banyak ikan yang terlihat sama. Sama harga sama banyak. Hampir semua penjual menjual ikan-ikan itu dengan harga yang sama. Aku melihat-lihat ikan yang ada disekelilingku. Bingung untuk membeli yang mana. Ada seorang lelaki yang sebaya dengan papaku sedang memperhatikan papa. Papa kemudian menuju meja tempat ia meletakan jualannya. Papa bertanya pada penjualnya “Kalo ditempat yang itu berapa?”

“Mau beli berapa? apa kamu suaminya Ibu A?” Tanya si penjual itu.

“Ya, saya suaminya. Kami pernah membeli disini sebelumnya. Dan istri saya berpesan untuk membeli ikan disini”. Jelas papa

“Pantasan, saya ingat wajah bapak tapi ragu, takut salah orang. Mungkin karena helm bapak, kan sebelumnya tidak pake helm. Oh ya, mau beli berapa ikannya?” Tanya si penjual.

“50 ribu” jawab papa.

Si penjual itu mengisi ikan kedalam sebuah tas kresek. 

Kami tahu akhir-akhir ini ikan dipasaran sangat mahal. Hal itu membuat kami jarang membeli ikan. 20 ribu hanya dapat berapa ikan kecil tidak cukup untuk keluarga kami sehingga kami lebih memilih membeli telur. Alhamdulillah,Karena ada rezeki dari Allah, hari ini kami membeli ikan yang sangat mahal bagi kami itu. Dan… si penjual ini…. apa yang dia lakukan membuat aku menganga. Aku melirik ke arah papa, disaat yang sama, papa juga menoleh ke arahku dengan wajah agak heran sekaligus kagum. Aku dan papa kemudian tersenyum.

Si penjual itu memberi sangat banyak ikan. Kami hanya membeli 50 ribu tapi beliau memberi ikan dengan jumlah yang mungkin tak sanggup kami beli. Sangaaat banyak. Alhamdulillah.

“Tak kenal maka tak sayang”, tiba-tiba aku mengingat kalimat itu kemudian tersenyum sendiri. Tiba-tiba senyumanku lenyap ketika aku ingat banyak kenalan bahkan teman mama dan papa yang berjualan. Ada yang menjual ikan juga sayur mayur. Tapi mereka tidak sama dengan di si penjual yang tadi. Aku pikir hanya sekali itu saja dia memberikan kami ikan melebihi harga yang kami beli, ternyata dia selalu seperti kala mama atau papa membeli ikan padanya. Baru satu kali melihatnya sudah membuat aku memuji Allah telah memberikan beliau hati yang mulia. Apalagi aku tahu beliau sering melakukannya? Mashaa Allah. Dikala yang lain mencari untuk dan takut rugi, beliau malah melakukan hal yang sebagian penjual lain sagat keberatan untuk melakukannya.

Saat dalam perjalanan pulang. Aku dibonceng papa menggunakan motor Honda Supra X 125 kesayang kami. Selama penjalanan, aku selalu mengingat si penjual sambil hatiku mengucap syukur dan memuji-muji Rabbku telah menciptakan si penjual itu dan mempertemukan kami dengannya. Semoga Allah memberkahi rezeki, melimpah ruahkan rezeki kepadanya. Semoga Allah memjauhkan kita dari sifat kikir dan terlalu mencari keuntungam duniawi. Semoga Allah merahmati dan meridhai kami. Alhamdulillahirrahbbil ‘aalaamiin. Aamiin.

Bukan hanya sekali ini saja rezeki menghampiriku. Bahkan yang kuceritakan ini hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyaknya rezeki luar biasa yang selalu Allah hadiahkan untukku dan semua itu membuktikan bahwa Allah selalu mendengar semua doa-doaku. Allah membuktikan bahwa semua janjiNya adalah benar.

Inilah rezeki yang tak kita duga, yang datang dari pintu yang tak disangka-sangka. Allah selalu memenuhi kebutuhan hamba-hamba dengan jalan yang Dia kehendaki. Alhamdulillah. Ajal, Jodoh dan rezeki tidak akan tertukar. Apa telah Allah tetapkan untukku, akan tetap sampai padaku. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Sang Rabbul ‘aalaamiin.

My Diary: Wajah Asli Orang Baik

By: Ririn Yastiawijaya

Apa kalian punya banyak kenalan? Banyak teman? Aku yakin jawaban kalian pasti “Iya”. Aku pun sama. Punya banyak kenalan, terlebihnya lagi… “teman”, bahkan sahabat. 

Dari sekian banyak kenalan dan teman yang kita punya, semua tampak baik. Tapi tidak semua diantara mereka baik seperti apa yang kita lihat dari luar mereka. Diri mereka yang sebenarnya, sifat mereka yang sesungguhnya akan terlihat jelas disaat kita dalam masalah. Diantara mereka ada yang ketika kita dalam kedaan senang, mereka turut tertawa bahagia bersama kita. Namun ketika kita dilanda masalah, mereka menghilang begitu saja atau lari dengan beribu alasan. Mereka tidak ingin menyertai kita yang sedang dalam masalah walaupun mereka tahu kita sedang butuh bantuan mereka.

Diantara banyaknya mereka, disaat kita dalam masalah, pasti dan selalu ada setidaknya 1 diantara mereka yang tetap tinggal dan tidak lari menjauhi kita. Itulah mereka yang berhati emas yang Allah kirimkan untuk kita. Mereka adalah salah satu bentuk rahmat Allah. Allah membantu kita melalui perantra orang-orang yang berjiwa lembut nan mulia. Sangat jarang ada orang seperi ini. Dan aku membuktikan hal itu berulang-ulang kami dalam kondisi, waktu dan tempat yang berbeda-beda. Selalu adalah pahlawan-pahlawan setia yang terpercaya. 

Orang yang kita anggap sangat dengan dengan kita setelah keluarga adalah SAHABAT. Tapi apa yang akan kita lakukan jika kita mendapati sahabat kita tidak memperlakukan kita sebagai sahabatnya? Bagaimana jika hanya dibibirnya saja dia mengatakan “kasihan” disertai ekpresi wajah yang menunjukan rasa perhatian namun no action sebagai seorang sahabat? Apa kalian pernah mengalam hal itu? Aku pernah. Dan bagiku itu masalah. Aku bukannya dikasih solusi malah dikasih masalah baru. 

Dalam keadaan seperti itu aku menjadi bingung untuk berbuat apa agar bisa mengatasi malasah yang tengah menggangguku itu. Namun, dalam keadaan bingung seperti aku, aku tetap dan selalu menanti pertolongan Allah menghampiriku. Entah sekarang, 1 jam lagi, besok, satu tahun lagi, kapanpun itu aku akan selalu menanti karena aku tahu setiap masalah yang Allah beri, selalu Allah sediakan solusinya. Setiap kesulitan yang Allah beri, selalu disertau dengan kemudahan. Dan aku telah membuktikanya dan melihat serta mendengar banyak tentang bukti-bukti itu.

Kembali ke ceritaku. Diaat aku menunggu kabar baik dari Allah semesta alam, tiba-tiba Allah memberiku alarm. Tanda bahwa solusi telah Allah hadirkan. Ternyata… titik terangnya tidak jauh dariku. Alhamdulillah. Memiliki mereka dalam hidup ini adalah salah satu dari sekian banyaknya tanda yang tak mampu aku angkakan bahwa Allah yang maha penyayang sangaaaaat sayang dan peduli padaku. Ya, Allah tuhan semesta alam tidak pernah membiarkanku sendiri dan tidak permah meninggalkanku. Allah, tempatku bergantung, meminta, bersimpuh, bercerita, mengadu dan… tempat aku… PULANG. Semoga Allah merahmati dan meridhaiku serta orang-orang yang menyayangiku. Alhamdulillahirrabbil ‘aalamiin.

Kembali ke cerita. Ketika aku bertanya “Siapa yang bisa menolongku?” Allah menahan jawabanNya untuk melihat seberapa jauh aku bersabar dan seperapa dalam aku berharap padaNya. Setelah itu Allah menjawab pertanyaanku pada wakti yang telah Dia kehendaki. Aku akhirnya punya solusi dan solusi ini solusi terbaik dalam kesulitan yang tengah aku hadapi. Aku memang tidak berharap pada manusia, tapi aku berharap hanya kepada Tuhanku, Allah subhana wa ta’ala. Dan Allah menolongku melalui mereka. Tentu saja Allah menyediakan mereka untukku. Untuk membantuku menuntaskan masalah yang tengah aku hadapi. Dan mereka itu… mereka termasuk pahlawanku, pertolongan yang Allah kirimkan untukku. Itulah mengapa, mereka sangat special bagiku. Memikirkan tentang mereka adalah sesuatu yang menyejukan hati dan menentramkan jiwa. Mereka terlalu indah dan luar biasa. Siapa saja yang mengenal mereka akan merasakan apa yang aku rasakan. Alhandulillah, segala puji hanya bagi Allah yang maha besar, maha tinggi. Tuhanku dan tuhanmu, tuhan kita semua, Allah yang maha esa.

Kadang, aku selalu merenungi apa yang telah mereka lakukan terhadapku. Aku berpikir, banyak orang di sekitarku. Yang tampak ramah dan baik hati, tapi palsu. Beda dengan orang-orang special berhati emas itu. Hidup mereka sangat seherhana namun mereka kaya hati, mereka bertaqwa kepada Allah. Mashaa Allah. Itulah mengapa Allah memberikan mereka hati yang sangat jernih dan indah. Itulah mengapa ada yang lebih kaya dan yang lebih mampu membantuku itu memilih mengabaikanku, tidak peduli padaku demi urusan pribadi mereka, urusan duniawi mereka. Mereka tahu aku dalam kesusahan, namun mereka menutup mata dan telinga serta perasaan mereka dan pura-pura tidak tahu.

Melihat perlakuan heroes yang Allah kirimkan itu membuat bibirku tersenyum sambil jiwaku berbahagia dan bersyukur telah Allah beri aku ujian ini sehingga aku bisa bertemu orang-orang berhati emas itu. Mendengar suara mereka dan melihat mereka serta memiliki mereka adalah bentuk kebahagiaan serta kenikmatan tersendiri bagiku dan tentunya semua itu telah Allah gariskan untukku, untuk hidupku.

Mereka menolong tanpa diminta terlebih dahulu, mereka menolong tanpa mengharap imbalan, mengapa? Karena mereka menolong karena Allah. Mereka tahu Allah maha melihat apa yang telah mereka kerjakan dan mereka tahu bahwasanya janju Allah adalah benar.

Cukup Allah saja bagiku. Dan cukup orang-orang luar biasa yang Allah hadiahkan untukku dan aku tidak butuh yang lain lagi. Lewat mereka Allah penuhi kebutuhanku. Dan Allah selalu memberikan apa yang aku butuhkan bahkan sebelum aku meminta. Alhamdillah.

Semoga Allah merahmati dan meridhaiku, mereka, orang-orang yang menyayangi kami dan kalian para pembaca. Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin. Aamiin Allahumma aamiin.

Aku, Mama dan Papa

Jan. 8th 2017

Mentari baru saja menanpilkan seluruh wajahnya di ufuk timur, hangatnya juga mulai terasa, dan senakin menyilaukan mata. Aku masih berada didalam mimpi, dan mimpiku lenyap karena kudengar ada suara seorang wanita yang tak asing lagi bagiku, suara yang selalu ingin kudengar, dan selalu kurindu. Aku masih kesusahan mana mimpi, mana kenyataan, berusaha menangkap suara yang kudengar tadi, kemudian kudengar ia tertawa, kemudian ada suara yang seorang laki-laki yang juga ikut tertawa. Tentu saja ia asalah laki-laki yang dicintai oleh wanita yang tertawa tadi, ya… mereka suami istri… ” iii.. ituu?” Aku langsung tersadar dari mimpi, kubuka mataku lebar2 dan kumencari asal suara tadi, “mimpikah?”, dan dibalik pintu kamar aku meluhat mereka, mereka sedang tertawa bahagia mengejekku. Mataku terasa angat dan kenudian ada yang mengalir keluar darinya, rasanya asin ketika ia masuk kedalam mulut, aku segera menghapusnya dan menyambut mereka, aku sangat bahagia kerena kejutan itu, kita tinggal dipulau yang bereda namun berdampingan, aku bisa melihat dengan jelas pulau itu dari kamarku, pulau Tidore. Walaupun dekat, aku sangat merindukan mereka serta merindukan cerita tentang kita yang pernah kita rangkai bersama yang telah kita hiasi dengan suka dan duka. Semua sangat berharga bagiku. Kita duduk dan bercakap-cakap, waktu berlalu begtu cepat, memiaahkan aku dengan mereka lagu, kedua pahlawanku itu berpamitan, aku kembali merasa sedih namun aku juga bahagia atas kedatangan mereka untuk menengok adikku di Ternate. Waktu menunjukan pukul 11 a.m, cahaya matahari semakin menyengatkan, kalimat yang menikam hatiku akhirnya terucap oleh mereka juga dan air mataku mengalir lagi, dan kali ini semakin deras alirannya, namun aku berusaha menahannya dan membuat semuanya tampak baik-baik saja dengan menutup raut wajahku dengan senyuman. Mama memelukku, memberikan nasehat2nya yang sudah kudengar ribuan kali darinya, namun aku tidak pernah bosan akan hal itu, aku ingin terus mendengarnya dan selalu merindukannya, Papa yang saat itu berada dibelakang mama memberikan tangannya padaku, aku dalam pelukan hangatnya mama meraih tangannya kemudian kucium tangan kasar itu, kasae karena menghidupkan aku, air mata ku semakin mengalir, kedua pahlawanku itu ada dihadapanku, namun aku merasa sangat merindukan mereka, papa masib menggenggam tanganku kemudian menciunku, aku meresa sangat bahagia karena mungkin ini untk pertama kalinya bagiku, mungkum iska sudah biasa karena setiap perpisahan dengan mereka, hanya iska yang mencium papa dan mama, dan aku hanya mencium mama, aku mencium papa hanya jika lebaran, dan baru kali ini aku mendapatkan hadiah yang sangat aku nantikan itu, kuharap ini bukan yang keterakhir kudapat ciuman tulus langsung dari papa, dan semoga selalu begini, ciuman Mama dan Papa yanf terbaik didunia. Aku mencium mama dan kuantar mereka sampai didepan mintu rumah, kupandang mereka yang melambaikan tangan kepadaku, aku membalas melambaikan tangan. Tatapan tidk ingin berpindah dari mereka, kupusatkan perhatianku kepada mereka yang semakin menjauh (dengan sepeda motor), hingga mereka berlalu dari pandanganku. Mereka akan kembali kepulau tempat dimana kita berasal, Tidore. Aku sadar bahwa aku tidak bisa selalu bersama mereka, karena ada peetemuan, akaan ada perpisahan, dan itu mutlak, tidak bisa dirubah walau apapun yang terjadi, pada akhirnya kita akan meninggalkan atau ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayangi dan yang menyayangi kita.

Sahabat: Sepotong Kisah Tentang Kita

Kisah dua orang yang telah bersahabat begitu dekat. Bersahabat dekat bukan berarti tidak ada masalah yang akan mereka temui didalam hubungan itu. Sulit untuk menggambarkannya, mereka bersahabat namun terkadang mereka terlihat seperti bermusuhan, saling menyakiti satu sama lain, baik sengaja maupun tidak, namun mereka saling menyayangi dan tidak ingin berpisah sama sekali, ini aneh tapi nyata.

Ego sering menumpahkan air mata dari keduanya. Mereka selalu mempertahankan ego  mereka masing-masing walau pada akhirnya pasti ada salah satu diantara mereka yang harus mengalah dengan air mata mengalir.

Banyak masalah yang mereka berdua hadapi, mengapa? Karena mereka berdua mempumyai kepribadian yang bertolak belakang. Hal itu sering membuat mereka bertengkar dan mempertahan ego mereka, namun apabila diantara keduanya tidak ada yang mengalah maka hubungan itu akan terputus, mereka tidak akan bersabat lagi.

——————————————————-

Senja mulai menampakan wajahnya, tanda sebentar lagi akan Maghrib, terdengar ada yang mengetuk pintu kostku dari luar, bisa kutebak siapa orangnya karena bunyi langkah kakinya yang tidak asing lagi bagiku, hah, ternyata ia pamit pulkam, aku agak kaget karena bagiku itu benar-benar suatu hal yang tiba-tiba. Dia hanya pamit pulang kampung untuk 1-2 hari, aku tiba-tiba merasa sedih, tidak seperti biasanya, ya, ini yang pertama kalinya aku merasa sedih ketika ia pergi, padahal aku tahu ia akan kembali, namun aku merasakan something different. Akhirnya aku dapat memahami perasaannya ketika kita sedang bersama kemudian berpisah untuk beberapa hari, ya rindu.

Ia pamit, dan betapa hebatnya aku menahan airmata yang sudah menggenang ditelaga mata, namun aku bisa menahannya agar tidak menganak sungai, namun ketika ia pergi (naik angkot) dan melambaikan tangan kepadaku, air mataku langsung menitik secara bersusulan yang tak mampu kubendung lagi, baru satu detik mobil berlalu aku sudah merindukannya, Akhirnya aku paham perasaan rindunya juga. Aku duduk dipintu kost ku menunggunya naik angkot, dan setelah ia pergi, yang aku rasakan ketika masuk kembali kekamarku adalah merindukannya, tak kusadari bahwa dari tadi pipiku dihiasi oleh kristal bening yang bagiku sangat berharga itu,  oh man, what is happening to me??? I guess i will miss her when i want to praying.

And the last, I wish : she misses me too at the same time i miss her. Always and Forever.

She is the four-leaf clover that i have.

I love you my Khalilah.
Saturday on Feb, 11th 2017 

05:44 p.m

——————————————————

She’s my 🍀

Ku tak tahu mengapa saat kumulai coretan ini, keristal beningku yang berharga mulai terasa hangat mengalir turun perlahan dikedua pipiku yang belum juga kering dari whudhu yang kubasuh beberapa saat yang lalu (sambil menunggu adzhan, sekarang baru ngaji yang terdengar diMasjid). Entahlah apa yang aku rasakan, aku tidak tahu apa yang harus aku jelaskan dan bagamaina aku harus menjelaskan sedangkan aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan dan yang aku alami saat ini. Namun pada intinya, hanya ada 1, aku takut rasa sayangnya terhadapku berubah, mengapa aku takut ia berubah? Hanya ada 1 jawaban, aku tidak mau kehilangan dirinya, dan jika pada suatu hari berubah, aku ikhlas karena Allah, mungkin itu adalah kehendaknya, aku hanya perlu tetap berjalan, tetap melangkah maju. Namun karena saat ini kita masih bersama, aku hanya bisa berdo’a semoga kita selalu seperti ini selama-lamanya. Aku tidak ingin pengganti dirinya, dan aku juga tidak mau tergantikan baginya. Aku mau hanya kita berdua. Berdua saja. Tidak mau ada yang pergi, dan tidak mau ada lagi selain kita berdua yang datang. Semoga tetap berdua, namun apabila Allah berkehendak lain,  dari berdua bisa bertambah namun,,, Mudah-mudahan tidak berkurang. Aamiin ya Allah.

Karena Sebuah Apel yang Jatuh

Kisah Teladan Islami

Kisah Tsabit Bin Ibrahim

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya. Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya. 

Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”. Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”. Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka” 

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,” Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan ?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !” 

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!” 

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !” 

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”. 

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam ,”Assalamu’alaikum…” Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya . Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini.

Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula, Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ? Setelah Tsabit duduk di samping istrinya , dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta . Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. 

Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” 

Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan ?”

Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”. 

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya… Subhanallah , dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”. Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

Semoga bermanfaat dan semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberikan hidayah dan rahmat oleh Allah sang Rabbul ‘Aalamiin. Amiin.

Mulianya Budi Pekerti Rasulullah saw.

_*KAMI RINDU PADAMU YA RASULALLOHﷺ…*_

Di riwayatkan suatu ketika ada seorang lelaki fakir miskin dari Ahli suffah mendatangi Rasululloh ﷺ dengan membawa cawan yang di penuhi oleh buah Anggur, dihadiahkan kepada Rasululloh ﷺ.

Rasululloh ﷺ pun mengambil cawan itu kemudian memulai memakannya.Rasululloh ﷺ memakan Anggur pertama kemudian beliau tersenyum. Rasululloh ﷺ memakan buah anggur kedua beliau pun tersenyum lagi.

Lelaki Fakir tersebut serasa hampir terbang karena saking gembiranya. Sedangkan para Sahabat menunggu, sebab sudah merupakan kebiasaan Rasululloh ﷺ akan mengajak para sahabat bergabung bersama Rasululloh ﷺ dalam setiap hadiah yang diberikan kepada beliau. Namun Rasululloh ﷺ memakan Anggur satu persatu sambil tersenyum, sampai habislah buah anggur yang ada dalam cawan itu.

Para Sahabat memandangnya keheranan.  Kegembiraan yang tak terhingga bagi si lelaki fakir tersebut melihat  Rasululloh ﷺ begitu menyukai pemberiannya, dan kemudian ia pun pergi.

Lalu bertanyalah salah seorang Sahabat. “Wahai Rasulullohﷺ, Kenapa engkau tidak mengajak kami bergabung makan bersamamu?” Rasululloh ﷺ tersenyum, lalu menjawab:

“Sungguh kalian telah melihat si lelaki fakir sangat kegirangan dengan cawan yang berisi buah anggur itu. Sesungguhnya manakala aku mencicipi buah anggur tersebut, aku rasakan pahit rasanya. Jadi aku tidak mengajak kalian untuk makan bersama, sebab aku khawatir kalian akan menampakkan rasa pahit di wajah kalian sehingga dapat merusak kegembiraan si lelaki fakir tersebut.”

Masya Alloh, begitu mulianya akhlak Rasululloh ﷺ, hingga beliau berusaha menahan rasa pahit dari secawan anggur yang si fakir berikan agar dia tetap gembira.

Sungguh, beliau benar-benar memiliki budi pekerti yang mulia. *“Dan sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS Al Qalam 68: 4)*.

Hikmah : salah satu Sunnah terbesar Rasulullah SAW adalah menjaga perasaan dan jangan melukai hati orang.