Koleksi Status Inspirasi 4

1. Mengapa Bukan Ayah Saja yang Meninggal?

Ia seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 3 SD. Pada suatu hari ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat jamaah subuh. Bagi si anak, Subuh merupakan sesuatu yg sulit bagi sang anak,Namun sang anak telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid.

Lalu dengan cara bagaimana anak ini memulainya? Dibangunkan ayah? ibu? dengan alarm?… Bukan!

Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan berkumadang, ia pun ingin segera keluar menuju masjid.

Tapi…

Tatkala ia membuka pintu rumahnya suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap…

Membuat nyalinya menjadi ciut. Tahukah Anda, apa yg ia lakukan kemudian?

Tatkala itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah…

Ya… Ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang anak yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek. Begitupula cara ia pulang dari masjid.

Anak itu menjadikan perbuatannya itu sebagai kebiasaan begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah. Tak ada org tuanya yg tahu, selain hanya melihat sang anak lebih banyak tidur di siang hari dari pada bermain… Semuanya dilakukan sang bocah agar ia bisa begadang malam.

Hingga suatu ketikai…

Terdengar kabar olehnya, kakek2 itu meninggal. Sontak, si bocah menangis sesenggukan….

Sang ayah heran…”

Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu…bukan siapa-siapa kamu!”

Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru berkata,

“kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”

“A’udzu billah…, kenapa kamu berbicara seperti itu?” kata sang ayah heran.

Si bocah berkata,

“Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Suubuh, dan mengajakkku ke masjid. ..

Sementara kakek itu….

setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Subuh.”

ALLAHU AKBAR!

Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya. Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik dari anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yang semestinya taat menjalankan perintah-Nya. Akhirnya sang ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya…
2. 10 Hal Untuk Kita Renungkan…

1. Doa bukanlah “ban serep” yang kita keluarkan ketika dalam masalah, Doa adalah “kemudi” yang menunjukkan arah yang tepat…

2. Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil.? Karena masa lalu kita tidak sepenting masa depan kita. Jadi, pandanglah ke depan dan majulah…

3. Pertemanan itu seperti sebuah buku. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi membutuhkan waktu tahunan untuk menulisnya.

4. Semua hal dalam hidup adalah sementara. Jika berlangsung baik, nikmatilah… Karena tidak akan bertahan selamanya. Jika berlangsung salah, jangan khawatir… Karena juga tidak akan bertahan lama.

5. Teman lama adalah emas! Teman baru adalah berlian! Jika kita mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas! Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, kita selalu memerlukan dasar emas.

6. Seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata ” Tenang, Sayangku…, itu hanyalah sebuah belokan…, bukan akhir!

7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuanNya. Ketika Tuhan belum memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu,”Kamu tentu bisa mengatasinya..!!”.

8. Jawaban doa dari Tuhan tidak selalu “Yes”, tetapi terkadang “No” dengan lanjutan “Bukan itu yang terbaik untukmu…..Aku punya rencana lebih baik untukmu”.

9. Ketika kamu berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkanmu dan memberkati mereka…, dan terkadang, ketika kamu aman dan gembira, ingat bahwa seseorang telah mendoakanmu…

10. Khawatir tidak akan menghilangkan masalah besok, hanya akan menghilangkan kedamaian hari ini…

Semoga bermanfaat, barakallah fiikum…

3. BACALAH TULISAN INI SEBENTAR SAJA.

♡ Ketika seorang remaja putri memakai pakaian yang longgar dan panjang serta berjilbab dan tak memakai kosmetik, maka hanya segelintir pemuda sajayang meliriknya.

TAPI,,

♡ Ketika seorang remaja putri memakai pakaian yang ketat dan pendek, juga memakai kosmetik yang ‘wOow’, maka banyak pemuda yang begitu senang melihatnya…

♚ Dari situ banyak yang perlu kita pelajari ,

salah satunya :

” Barang yang murah banyak yang melihatnya. Sedangkan barang yang mahal tidak akan dilihat kecuali oleh mereka yang memang benar-benar ingin membelinya.

Semoga Bermanfaat.
4. Jika Esok Tak Pernah Datang

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Allah agar menjaga jiwamu.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.

Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.

Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.

Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?

Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari. Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.

Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.

Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”

Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.
5. Aku Yang Baru

Iya,

Gaulnya mereka, masa lalu saya.

Saya pernah sangat jauh dari agama.

Pernah jadi hamba dunia.

Pernah menganggap hidup ini tak ada akhirnya.

Pernah bertuhankan materi dan segala macam kenikmatan fana.

Pernah ingin menggenggam sangat dalam harta dan tahta.

Mungkin dahulu,

Dosa sudah menjadi nama tengah.

Khilaf sudah sangat menggerogoti hati sampai-sampai untuk beribadah pun lengah.

Salah-benar tak ada batasan lagi sehingga membuat hidup ini jengah.

Suram.

Gelap.

Hampa.

Benar,

gaulnya mereka itu masa lalu saya.

Ketika kaki menjauh dari Masjid lalu Mall/Cafe menjadi tempat menenangkan hati.

Saat shalat tergantikan dengan mencari uang sebagai ibadah wajib.

Ketika zakat berpindah ke butik sebagai sarana menghabiskan harta.

Saat puasa sunnah berubah menjadi memakan apa saja, dimana saja dan kapan saja.

Ketika qiyamul lail tergantikan dengan lembur-lembur demi menyelesaikan pekerjaan.

Ketika waktu dhuha terlupakan karena kesibukan.

Ketika membaca dan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Quran tak lebih nikmat daripada mendendangkan lagu-lagu kesukaan.

Memang,

Gaulnya mereka masa lalu saya.

Dengan bangga memamerkan kemaksiatan yang padahal sangat memalukan sekedar untuk diingat.

Sombong menghabiskan harta untuk menikmati sajian musik di konser.

Senang membeli apapun yang membuat citra diri ini naik dimata manusia.

Halal-haram tak lagi menjadi pedoman kehidupan.

Innalillahi wa innailahi roji’un.

Sesungguhnya,

pendosa yang apabila kembali ke jalan Allah tidak akan pernah tertolak taubatnya.

Jangan remehkan mereka,

Sebab seorang pendosa pun mempunyai masa depan dan seorang ahli ibadah memiliki masa lalu.

Jangan memandang rendah pendosa,

Karena kita tidak akan pernah tahu akhir hidup seseorang.

Ilmu manusia tak akan pernah dapat menembus dinding ghaib rahasiaNya.

Semoga,

Hidayah Allah mampu dan dapat melewati celah-celah sempit hati kita,

Agar kelak sebelum mati,

Kita dapat menikmati betapa sejuknya hati yang dibasahi oleh tetesan embun keimanan kepada Illahi Rabbi.
  
6. SEPELE, TAPI MARI BUKTIKAN KEBENARANNYA”

1)- Ketika kita mengeluh :

Ah mana mungkin….

Allah menjawab : 

Jika AKU menghendaki, cukup Aku berkata“Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

2)- Ketika kita mengeluh : 

Wah, letih sekali….

Allah menjawab : 

…dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An- Naba :9)

3)- Ketika kita mengeluh : 

Berat sekali ya, gak sanggup rasanya…

Allah menjawab : 

AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dgn kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)

4)- Ketika kita mengeluh : 

Stress nich, bingung?!

Allah menjawab : 

Hanya dengan mengingatKu hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’d :28)

5)- Ketika kita mengeluh : 

Yah, ini mah bakal sia-sia..deh!

Allah menjawab :

Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarahpun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al- Zalzalah :7)

6)- Ketika kita mengeluh : 

saya sendirian, gak ada seorgpun yang mau membantu…

Allah menjawab : 

Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)

7)- Ketika kita mengeluh : 

Sedih sekali rasanya…

Allah menjawab : 

La Tahzan,..Innallaha Ma’ana… Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)

8)- Ketika kita mengeluh : 

Ampun..susah banget ini kerjaan…

Allah menjawab : “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah:6-7).
8. NASIHAT UNTUK PARA ISTRI

Pandanglah Wajah Suamimu Saat Ia Tertidur Lelap.

Saat kau sudah menjadi istri, sesekali pandanglah wajah suamimu ketika ia terlelap.
Itulah orang yang tiada hubungan darah dengan mu namun tetap terus berusaha mencintaimu.

Sesekali saat suami pulang bekerja atau dari tempat usahanya, pandang wajahnya, cium tangannya.

Itulah tangan yang bekerja keras mencari rizki untuk menafkahi dirimu dan anak-anakmu. Padahal, sebelum akad nikah ia tak punya hutang budi terhadapmu. Bahkan ia mempunyai hutang budi terhadap Ibu bapaknya.

Ia memilihmu sebelum ia sempat membalas seluruh hutang budi kedua orang tuanya.

Sesekali saat kau berdua dengannya, lihatlah suamimu, pandanglah wajahnya dengan penuh sayang.

Itulah peribadi yang boleh jadi selalu menutupi masalah-masalahnya diluar rumah, agar kau tak turut sedih karenanya. Ia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri agar kau tidak ikut terbebani. Sementara kau sering mengadukan masalahmu kepadanya, berharap ia mau mengerti dan memberi solusi. Padahal bisa jadi saat itu masalahnya lebih besar daripada masalahmu.

Namun kau tetap yang diutamakannya. Semoga Allah jadikan keluarga kita sebagai keluarga yang Sakinah Mawaddah Warahmah… Aamiin..Allahuma Aamiin

9. Hai masa lalu!

Hai masa lalu.

Tidak, aku hanya ingin menyapa. Berdebukah kau? Maaf aku semakin jarang mengunjungimu. Aku disibukkan dengan masa kini dan impian masa depan. Tenang saja, aku takkan melupakanmu. Aku hanya mungkin akan jarang menengokmu.

Hai masa lalu.

Aku hanya ingin menyapa. Terimakasih pernah ada. Terimakasih pernah menjadi bagian perjalananku. Sedih pun bahagia kisahmu menjadi penguat langkahku di masa kini. Bukankah masa kini adalah hasil rentetan perjalanan masa lalu? Maka itu aku berterima kasih.

Hai masa lalu.

Aku pernah jatuh, aku pernah sakit hati. Tapi sudah kusimpan semua cerita dalam sebuah kotak kenangan, yang kunamakan masa lalu. Ya kamu. Ruangmu mungkin kini gelap, aku pasti akan sering kembali melihat ruangmu, namun hanya sebentar. Aku takkan lama-lama, sekadar melihat lagi seperti apa jalan yang kulalui dulu agar aku bisa belajar lagi jika saja masa kiniku aku lupa atau mungkin lalai menjaga langkah.

Hai masa lalu.

Lihatkah kau bagaimana aku di masa kiniku? Bagaimana menurutmu? Semoga kau bangga. Sebab apapun yang kucapai, adalah karena semua pelajaran di masa lalu begitu membekas dan mampu membentukku.

Hai masa lalu.

Mari berdamai. Aku akan belajar mendewasa. Menjadi lebih tangguh di masa kini sebagai penguat langkahku dan pemantap kisahku di masa depan.

Jazakumullah Khairaan Katsira ..❤

Suami/Istri Idaman

[Mengapa aku tidak membantu istriku]

Seorang teman datang untuk ngopi ke rumah saya, dan kita duduk dan ngobrol soal kehidupan.

Saat lagi nyantai, saya pamit ke teman, “aku cuci piring dulu sebentar, nanti aku balik lagi.”

Teman saya memandang saya dengan ekspresi seolah- olah saya akan pergi membangun roket luar angkasa.

Dengan sedikit terkejut, ia berkata pada saya dengan terkagum-kagum, “Hebat bener yah kamu bantu istrimu,

kalau aku sih ngga terlalu bantu, soalnya kalau aku bantuin istri, ngga ada pujian sedikitpun. Minggu lalu aku ngepel lantai, tapi dia nggak bilang makasih sama sekali.”

Saya kembali duduk bersamanya dan menjelaskan bahwa saya tidak “membantu” istri saya.

Sebenarnya, istri saya tidak butuh bantuan… ia membutuhkan seorang partner.

Saya tidak membantu istri saya membersihkan rumah… karena saya juga tinggal di rumah ini dan saya harus membersihkannya juga.

Saya tidak membantu istri saya masak… saya masak karena saya lapar dan ingin makan.

Saya tidak membantu istri saya mencuci piring setelah makan… karena saya juga menggunakan piring-piring itu.

Saya tidak membantu istri saya mengasuh anak-anak… karena mereka adalah anak-anak saya, dan itu adalah kewajiban saya sebagai seorang ayah.

Saya tidak membantu istri saya mencuci, menjemur, dan melipat pakaian… karena pakaian itu juga milik saya dan anak-anak saya.

Di rumah, peran saya bukan untuk “membantu”… tapi saya adalah “bagian” dari rumah itu.

Saya bertanya pada teman saya, “pernahkah kamu berpikir seperti itu? Ketika kamu, mengepel lantai, sekali saja, kamu mengharapkan pujian dan kehormatan?

Kenapa?”

Saya bertanya lagi padanya, “kapan terakhir kali kamu bilang terima kasih, setelah istrimu selesai membersihkan rumah, mencuci baju, memandikan anak, masak, merapikan barang, dll?”

“Mungkin bagi kamu, di mana laki-laki dielu-elukan, seolah-olah semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab istri. dan para suami cuma terima beres saja?”

“Bantulah istrimu dan bersikaplah seperti pendamping yang sejati, bukan tamu, yang cuma pulang untuk makan, tidur, mandi, dan dituruti keinginannya.”

Perubahan dalam masyarakat dimulai dari rumah kita.

Mari ajarkan putra-putri kita arti kebersamaan yang sesungguhnya.

♡♡♡

AKU BUKAN SEDANG MEMBANTU ISTRIKU

Sebulan lalu temanku datang dari Cianjur ke rumah untuk silahturahim, kami duduk bersama dan mengobrol banyak tentang pengalaman kami kuliah di Saudi Arabia tepatnya di Kota Riyadh.

Di tengah pembicaraan, aku bilang :

Maaf ya bro…!!!

“Aku mau nyucuci piring, tunggu sebentar ya”

Dia menatap ku seolah aku barusan bilang bahwa aku akan membangun sebuah roket.

Lalu dia berkata padaku dengan rasa kagum tapi sedikit bingung :

“Aku senang kau membantu istrimu. Kalo aku sih…. gak bantuin istriku, karena pas ku bantu, dia gak memujiku. Minggu lalu aku mengepel lantai dan dia gak ngucapin terima kasih.”

Aku duduk lagi dan menjelaskan pada temanku ini, bahwa aku gak sedang “membantu” istriku.

Sebenarnya, istriku gak butuh bantuan, tapi dia butuh partner. Aku adalah seorang partner di rumah dan kadang stigma di masyarakat yang membuatnya seolah suami dan istri memiliki peran yang berbeda soal pekerjaan rumah tangga. Istri mengerjakan semua, dan suami tidak membantu. Atau kalaupun membantu, hanya sedikit saja. Tapi sebenarnya itu bukan sebuah “bantuan” untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Aku bukan sedang membantu istriku membersihkan rumah. Karena aku juga tinggal di rumah ini, maka aku perlu ikut membersihkannya juga.

Aku bukan sedang membantu istriku memasak. Tapi.karena aku juga ingin makan, maka aku perlu ikut memasak.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci piring setelah makan. Tapi krn aku jugalah yg memakai piring- piring itu, maka aku ikut mencucinya.

Aku bukan sedang membantu istriku mengurus anak-anak nya. Tapi krn mereka adalah anak-anakku juga, maka sebgai ayahnya, aku wajib ikut mengasuh mereka.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci dan melipat baju. Tapi karena baju-baju itu jg milikku dan anak- anakku, maka aku ikut membereskannya juga.

Aku bukan sebuah Bantuan di rumah, tapi aku adalah Bagian dari rumah ini.

Dan soal pujian, aku memintamu wahai temanku, nanti setelah istrimu membersihkan rumah, mencuci baju, mengganti sprei, memandikan anak, memasak, membereskan barang, dll, kau hrs mengucapkan terima kasih padanya, tapi harus

ucapan terima kasih yg spesial, seperti :

“Wow, Sayangkuu!! Kamu hebatt!!!”

Apa itu terasa konyol bagimu?

Apa kau merasa aneh?

Padahal ketika kau, cuma sekali seumur hidup mengepel lantai, lalu setelah selesai kau mengharapkan sebuah pujian besar dari istrimu, apa itu gak lebih aneh ? Pernahkah kau berpikir sejauh itu?

Mungkin karena bagimu, budaya patriaki mengukuhkan bahwa semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawab.istri.

Mungkin kau kira, mengerjakan semua pekerjaan rumah.yang banyak itu, bisa diselesaikan tanpa menggerakkan jari? Maka hargai dan puji istrimu seperti kau ingin dihargai dan dipuji, dengan cara dan perlakuan yg sama.

Maka ulurkan tanganmu untuk membantunya, bersikaplah seperti Partner sejati. Bukan seperti tamu yg datang hanya untuk makan, tidur, mandi dan terpenuhi kepuasannya.

Merasa nyamanlah di rumahmu sendiri.

Perubahan nyata dari masyarakat, dimulai dari rumah kita. Mari ajarkan anak lelaki dan perempuan kita, arti sebenarnya dari kebersamaan keluarga.

♡♡♡
Wahai Ayah, Perhatikan Ketika Menikahkan Putrimu

Wahai Ayah

Perhatikan perkataan ulama berikut:

“Janganlah kamu menikahkan putrimu kecuali dengan laki-laki yang bertakwa. Karena jika dia mencintai istrinya maka akan memuliakannya dan jika tidak suka maka tidak akan mendzaliminya.” [1]

Wahai ayah,

Engkau tahu mengapa Laki-laki tidak perlu ada wali nikah Sedangkan wanita wajib?

Karena tugas wali adalah Menjaga anak perempuannya Dari laki-laki tidak bertakwa yang Hanya ingin manisnya saja Lalu dibuang hempaskan.

Anak perempuan mudah sekali Terlena bahkan “gelap mata” Dengan romatis sesaat & Pengorbanan semu laki-lakiPadahal ia rubah bertopeng kelinci.

Tugas engkau wahai ayah, Karena anak perempuan-mu Akan menjadi “tawanan” suaminya .Susah lepas sekali terikat. 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Hendaknya kalian berwasiat yang baik untuk para wanita karena mereka sesungguhnya hanyalah tawanan yang TERTAWAN oleh kalian” [2]

Tugas kalian wahai ayah:

1) Perbaiki diri kalian dengan takwa dan kebaikan.

2) Segera nikahkan jika laki-laki yang datang TERBUKTI baik agama dan akhlaknya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai akhlak dan agamnya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas.” [3]
♡♡♡
Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan mataku bagaimana kau menjadi istri di hari pertama pernikahan kita. Aku menyaksikan punggungmu dari bingkai pintu, saat kau sedang asyik membuatkan nasi goreng di dapur untukku. Kau menoleh, secepat kilat aku pun bersembunyi.

Kau mengerutkan dahi. ‘Kayak ada yang ngintip?’

begitulah mungkin kau berfikir. ‘Memang’, batinku… hehe. Aku menutupi tawa renyah dengan gumpalan tangan.

Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan retinaku bagaimana kau mengusap peluh di pelipismu. Kau sepertinya capek sekali. Pagi-pagi sudah membereskan rumah, menyiapkan sarapan, dan juga merapikan baju- baju. Maafkan jika hari itu aku pura-pura tidur, ya. Tak membantumu. Aku hanya ingin merekam semua kebaikanmu, Sayang. Agar ketika di suatu saat aku jengkel dan kesal kepadamu, rekaman itu dapat diputar kembali; untuk kemudian meredamkan amarah di hati.

Sebab kau terlalu baik untuk disakiti.

Kau, yang dengan rela meninggalkan orangtuamu demi menemani dan melayani aku. Meninggalkan kemanjaan bersama papahmu. Meninggalkan kehangatan bersama mamahmu. Itu semua demi aku? Lelaki yang baru dikenalmu ini? Oh sungguh, Dik. Aku akan memurkai diriku sendiri jika seandainya aku menyakiti dirimu.

Tidak. Aku tak akan menyakitimu. Aku akan berusaha untuk itu, Dik.

Kau, seorang perempuan yang dengan ikhlas melepaskan harapan, cita-cita, dan impian hanya untuk mewakafkan sisa hidupmu untuk lelaki seperti diriku. Melayaniku di sepenuh hari. Menenemaniku di sepanjang umur. 

Oh, Dik. Bagaimana mungkin mata ini melototimu sedang aku melihat semuanya. Melihat pengorbananmu untukku.

Aku mungkin akan marah di sesekali waktu, namun sekeras-kerasnya marahku adalah setukil senyuman.

Tidak akan kubiarkan tangan, lisan, atau bahkan hatiku melukai dirimu, Dik. Insya Allah.

“Abi, sarapan dulu,” titahmu di mulut pintu. Aku masih membungkus tubuhku dengan selimut. Tak berani menoleh. Aku takut kau tahu kalau mataku sedikit basah. Maaf, aku memang selalu cengeng untukmu, .

‘Makasih’. Barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan derai ini.

“Abi masih tidur? Capek ya?” tanyamu. Kini kau sudah.duduk di tebing kasur. Mengusap bahuku dengan lembut, dan bilang… “Ya udah, adik panasin aja ya nasi gorengnya?”

“O enggak, Dik,” ujarku sambil menyingkap selimut,

“Udah bangun kok.”

Kau menatapku. Menyipitkan sebelah mata, lalu menyentuhkan ujung jempol di sudut mataku, “Abi kayak orang nangis?”

Aku langsung mengocek-ngocek mata. “Siapa yang nangis, Dik,” kilahku, “kalau bangun biasa berair seperti ini abi mah.”

Aku nyengir. Maaf, ya.

Kau ikutan nyengir. “Kebiasaan yang aneh,” katamu menggeleng.

.

Maaf ya, Dik. Aku baru saja berbohong. Tak apa, kan?

“Ini nasgor spesial buat abi,” katamu di meja makan,

“cobain deh.”

Kau tahu, Dik. Andai ini keasinan, maafkan sebab aku akan berbohong lagi, mengatakan bahwa ini makanan terlezat di muka bumi. Aku mengacungkan dua jempol,

“Wenak,” pujiku dengan makanan yang masih tertahan di mulut. Aku tak perlu berbohong, ini memang enak. Asli.

Sebenarnya, ada kebohongan lagi. Ini hari Senin, dan aku selalu melaksanakan puasa Sunnah di hari ini. Aku sudah sahur jam dua tadi saat kau tengah terlelap. Tapi baiklah, tak apa tak puasa sehari. Demi menghormatimu.

Demi mencicipi makananmu. “Adik tak ikut makan?” tanyaku sambil melahap, menghabiskan hampir setengah piring.

Kau tersenyum, “Ini kan hari senin, Bi. Maaf, ya. Adik lagi puasa.”

Puasa? Aku tersedak. Mataku membulat.

“Kenapa, Bi?”

“Abi sebenarnya sedang puasa juga, Dik. Curang.”

“Kenapa gak bilang dari tadi?” tanyamu sambil menahan tawa.

“Ya adik gak nanya sih.” sahutku pura-pura marah.

Tak disangka, kau meraih gelas. Menenggak air.

Menatapku dengan sedikit senyum saat mulutmu tepat di ujung gelas.

“Katanya puasa,” heranku.

“Dibatalin aja, Bi.”

“Kenapa?”

“Ngehormatin kamu.”

Aku tersenyum. Senyum paling manis.

Ya. Islam adalah ajaran sederhana. Puasa di luar Ramadhan adalah sunnah, sedang menyenangkan pasangan adalah wajib. Kita harus bersyukur dengan ajaran mulia ini, Dik.

“Abi?”

“Iya, Dik?”

“Suapiiiiiiin….”.

Ah, selain iman dan Islam, kau adalah nikmat terindahku, Dik. Kau adalah surgaku. Selamanya.

Suami Setia

By: Ririn Yastiawijaya

Yang mengatakan cinta, banyaaak. Tapii… yang setiaaa, hmmm… sangaaaat sedikit, sangat jarang.

Ada yang mengatakan cinta dengan manyampaikan untaian-untaian indah yang dapat membuat pasangatnya mabuk kepayang dan serasa hidup didunia mimpi. Hmm… ketahuilah wahai para pecinta, mereka yang suka membahasakan perasaan mereka dengan kata-kata manis itu sebenarnya cinta mereka hanya dibibir dan mengikuti nafsu belaka. Mereka begitu karena yang mereka lihat dari pasangan mereka adalah dari sisi kelebihannya saja tanpa mengetahui kekurangannya yang masih tersembunyi atau yang belum ada kemudian menjadi ada kekurangan itu.

Coba bayangkan ya!!! Bayangkan!

Kamu memiliki seorang calon pendamping hidupmu. Dimatamu, calon pasangan hidupmu itu adalah makhluk terindah yang Allah ciptakan untukmu dan rasanya seperti tidak ada makhluk lain yang lebih indah daripada dia. Ketika menikah dengannya, kamu bagai orang yang paling bahagia di dunia. Kehidupan yang kalian jalani sangatlah indah dan bahagia. Tiba-tiba…. hal yang tidak kalian berdua harapkan, yang tidak kalian inginkan, yang tidak kaliana bayangkan tiba-tiba dialami kekasih hidupmu yang bagimu sempurna itu. Ya, kamu melihat dia lumpuh. Tak ada yang bisa dia lakukan melainkan duduk diatas kursi roda. Ya, dia hanya bisa duduk diatas kursi dan berbicara dengan kata-kata yang kurang jelas. Disaat yang sama, kamu punya kenalan yang ternyata menyukai kamu. Dia terlihat lebih menarik dari pasangan kamu yang lumpuh itu. Melihat keadaan pasanganmu yang sangat tidak berguna itu, teman-temanmu menyarankan kamu untuk menikah lagi. Keluargamu menyuruh kamu menikah lagi karena mereka tahu kamu mampu. Bukan hanya teman-teman dan keluarga, nahkan pasanganmu yang lumpuh itu meminta hal yang sama. Ya, ia meminta kamu untuk menikah lagi. Bayangkan! Tanyakan dalam hatimu! Apakah kamu akan menikah lagi? Apakah rasa cintamu pada pasanganmu yang lumpuh itu masih sama dengan cinta di saat-saat awal kalian saling jatuh cinta hingga menuju pelaminan? Atau apakah rasa cintamu akan berubah ketika kamu tahu pasanganmu itu sekarang lumpuh? Apa kamu akan setia? Apa kamu pernah berjanji akan membahagiakannya? Apakah dulu, kamu pernah mengatakan ingin hidup berasamanya selamanya? Jika jawabanya adalah “Iya”, maka aku tahu kamu mengatakan karena belum terjadi hal-hal yang tidak kamu inginkan. Dan jika kamu melihat dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apa kamu masih tetap ingin hidup bersamanya selamnya? Jika tidak, lantas mengapa dulu kamu mengatakan demikian? Apa yang kamu cinta darinya? Bukankah dia yang kamu cinta itu dulu dan sekarang hatinya satu dan tidak berubah? Apakah kamu akan menepati janjimu untuk membahagiakannua? Hanya kamu yang tahu jawabannya.

Baiklah, sekarang aku ingin bercerita sedikit tentang seorang pria yang sangat setia kepada istrinya. Pria ini berasal dari kampung yang sama denganku. Dia adalah teman orang tuaku. 

Pria itu tampan, dan intrinya pun cantik. Sebelum menikah, bagi sang pria ini melihat seakan-akan Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih indah dari kekasihnya. Dia sangat bersyukur dan bahagia dapat memiliki wanita cantik itu.

 Tidak lama setelah menikah, istrinya tiba-tiba terkena stroke, lumpuh. Akhirnya si suami mengurusi semua, tugas rumah istrinya. Bukan cuma itu, dia juga mengurus istrinya dari bangun tidur hingga tidur lagi. 

Melihat apa yang dialami istrinya sekarang ini, apa rasa cinta berubah? Tidak. Bahkan rasa cintanya kepada istrinya semakin dalam.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, si suami mengurusi istrinya terlebih dahulu. Mulai dari memberinya sarapan, memandikannya, mengganti pakaiannya, mendandaninya hingga membopongnya dan meletakannya kembali di kursi rodanya. Dan istrinya itu duduk santai dalam keadaan kenyang, harum, cantik dan bahagia. Dan setiap pagi, selalu rutin begitu. Si suami melakukannya dengan cinta. Ia benar-baner telah membuktikan bahwa ia mencintai istrinya dalam keadaan apapun. Itu setiap pagi.

Disiang hari, pada saat jam istirahat kerja, waktu untuk shalat Dzuhur dan makan siang itu, si suami selalu pulang kerumah untuk memberi istrinya makan siang. Dan hal itu dilakukannya rutin setiap hari dengan penuh cinta.

Biasanya, di sore hari, setelah memandikan istrinya, memakaikannya baju yang cantik dengan dandanan yang cantik pula, mereka duduk santai sambil menikmati teh hanat, hidangan sore. Setelah itu, ia membotong istrinya itu dan kembawanya ke mobil. Mereka jalan-jalan ke tempat-tempat yang diinginkan istrinya.

Lalu apa tanggapan orang-orang disekitar sang suami? Tentu saja teman-temannya menyarankan dia untuk menikah lagi. Keluarganya juga. Bahkan istrinya pun memintanya untuk menikah lagi karena ia kasihan melihat suaminya. Lalu apa yang terjadi kemudian? Si suami akhirnya menikah lagi dan bahagia. Hehehe… tidak. Maaf iseng aja. Tentunya si suami yang luar biasa hatinya itu menolak saran dari siapapun untuk menikah lagi walau dia tahu bahwa dia mampu. Apa yang dikatakan sang suami ketika suruh nikah lagi? Ia berkata ” Mulut istriku bisa saja meminta aku untuk menikah lagi, tapi hatinya tidak rela aku melakunnya. Aku tidak ingin melukainya walau hanya sebesar sebuah titik. Aku tidak pernah menyesal telah menikahinya. Aku sangat bahagia telah menikahinya. Dan aku harap dia juga bahagia telah menikah denganku. Banyak wanita yang bernasib sama dengannya diluar sana. Suami mereka memilih menikah lagi dan tanpa memikirkan hati istrinya. Aku tidak mau istriku merasakan luka yang sama seperti mereka. Aku tidak mau menjadi salah satu dari para suami yang menikah lagi ketika mendapati istrinya tak sesempurna dulu. Aku tidak mau egois. Mereka juga hanya manusia biasa yang juga tak sempurna. Itulah mengapa aku ingin membuat ia merasa sempurna saat hidup bersamaku. Aku tidak ingin mengikuti egoku menuruti hawa nafsu demi kebahagiaanku sendiri dengan jalan menikah lagi. Aku tidak ingin bahagia sementara dia terluka. Hidup bersamanya membuat aku merasa bahwa Allah selalu dekat. Bersamanya, syurga pun menjadi dekat”.

Sungguh hebat bukan? Mashaa Allah. Aku tidak tahu apa kehebatan istrinya hingga dia tidak mau berpaling. Apakah sang istri memiliki sesuatu yang luar biasa sehingga suaminya ingin tetap bersamanya atau apakah sang suami yang memiliki hati emas yang sangat murni dan berkilau?

Mashaa Allah, sang istri diberikan oleh Allah suami yang sangat luar biasa bukan?

Cintailah pasangan kita karena Allah. Maka tidak akan ada sesuatupun yang mampu membuat kita berpisah kecuali Allah menghendaki.

Cintailah karena Allah ‘Azza wa Jalla sampai pada batas akhir usia.

“Kalo Gak Pacaran Gimana Bisa Ketemu Jodoh..???”

 Disalin dari Fb group, ‎Motivasi Hijrah Indonesia. Yuk, gabung!

Akhy : “Assalamuallaikum ukhty?”

Ukhty : “Wa’alaikumussalam akhy”

Akhy :”Boleh ana bertanya?”

Ukhty :”Boleh”

Akhy : “Kriteria laki-laki idaman ukhty seperti apa?”

Ukhty : “Sederhana saja yang tidak suka menunda shalat, tidak suka menunda janji, tidak suka menunda pekerjaan dan menunda2 menikah”

Akhy : “Kalo laki-laki yang istimewa dimata ukhti seperti apa?”

Ukhty : “Laki-laki paling istimewa itu laki-laki yang gemar menangis di malam hari dan senang menebar senyum di siang hari”

Akhy : “Alasannya?”

Ukhty : “Jika laki-laki lebih sering menangis di malam hari ingat dosanya, dia laki2 yang pantas aku tunggu, dosa yang menyebabkan dia ke neraka saja di ingat apalagi aku yang membantu dia menuju surga-Nya”

Akhy : “Adakah hal yang membuat wanita merasa dihina?”

Ukhty : “Ada akhy…

penghinaan nyata bagi wanita ialah ketika dia dicintai oleh seorang laki-laki namun tidak ada niat untuk menikahinya” (Ummu khadijah)

Akhy : “Apakah ukhti sedih ketika tidak bersama dengan seseorang yang selalu ukhti sebut dalam doa ukhti ?”

Ukhty : “Aku tidak sedih ketika aku tidak bersama seseorng yang aku selalu sebut namanya dalam doa2ku.karena aku yakin aku akan bersama seorang yang akan lebih mencintaiku yang selalu menyebut namaku dalam doanya”

Akhy : “Maksudnya?”

Ukhty : “Aku akan bersyukur jika doaku terkabul. tapi aku akan sujud syukur jika aku bisa menjadi jawaban dari seseorang”

Akhy : “Apa yang membuat ukhty istiqomah memegang prinsip tidak pacaran?”

Ukhty : “Aku tanya, jodoh itu siapa yang ngatur?”

Akhy : “Allah”

Ukhty :”Kalo tahu jodoh Allah yang ngatur. tugas kita tinggal deketin yang ngatur, apa akhi yakin sama Allah?”

Akhy : “Tentu sangat yakin tapi kalo ga pacaran gimana saling kenal?”

Ukhty : “Allah tidak sulit menjodohkan

(mempersatukan hati : Al anfal :63) ..

Hamba-Nya jika mereka sudah siap. karena prinsip pernikahan bukan karena kesepian tapi karena kesiapan”

Akhy : “Jadi tugas kita tentang jodoh?”

Ukhty : “Memperbaiki diri karena Allah, bukan hanya sekedar karena jodoh”

Akhy : “Terus supaya dapet jodoh yang pinter ngaji, menjaga shalat, berbakti sama orng tua dan jujur gimana?”

Ukhty : “Caranya cuma satu,bawa diri kita kepada level trsebut,karena sifat jodoh tidak jauh dengan sifat kita kan ..

“Ath thoyyibunaliith thoyibat ” janji Allah orang baik hanya untuk yang baik”..

Semoga bermanfaat..

Aku Menangis Karena Mereka Saudaraku

Hmmm…. malam ini bumi menangis lagi, dalam pembaringan, aku mendengar suara hujan itu, ditambah lagi dengan angin yang agak kencang. Suhu menjadi dingin, dinginnya bahkan menembus sumsum tulang… disebelahku ada adik dan sahabatku yang sedang menikmati aktivitas mereka, adikku terlihat tertawa kecil-kecilan dengan HPnya, mungkin ia sedang sms-an sama teman2nya, dan sahabatku terlihat sangat serius menyelesaikan tugasnya yang diberikan oleh dosen. Dan aku, aku hanya menikmati irama hujan diluar sana, pikiranku kosong. Namun sekali tiupan angin kencang menyadarkanku dari lamunan, “Astaghfirullah” jantungku terasa hampir copot, listrik pun padam… gelap, hanya ada cahaya Hp dan laptop kami. Aku termenung, pikiranku melayang, aku terpikirkan akan sesuatu diluar sana, ya… para fakir miskin. 

Aku yang sedang berada dalam sebuah bangunan yang mempunyai tembok yang kuat, berada dalam sebuah kamar yang nyaman, begitu juga dengan ranjang yang berkasur empuk, berseprei lembut dilenkapi dengan selimut tebal yang menghangatkan, namun namun malam ini, selimutku bahkan tidak mau mengusir dingin yang aku rasakan, aku yang berada ditempat yang aman dan nyamam saja masih merasa kedinginan, lalu bagaimana dengan orang-orang diluar sana yang tidak memiliki tempat tinggal, yang hidup dibawah jembatan atau mereka yang mempunyai rumah namun sebenarnya rumah itu sudah tidak layak untuk ditinggali?. Kutarik nafas panjang …. “Ya Allah, Lindungilah mereka”….. Hpku bergetar, ada yang sms, kubuka sms itu dan ku baca, disitu tertulis  ” eh jangan lupa buka buku ya, besok hari pertama kita UAS lho…. semangat, Zahra”, sms dari temanku itu membuat aku kaget “jiaaah, be-besoook UAS”. 

Aku bangun dari pembaringan kemudian duduk bersandarkan bantal, Aku keluar dari sms itu, pandangan mataku terhenti pada wallpaperku yang bertuliskan “Alleppo” dengan gambarnya yang selalu membuatku sedih apabila memandangnya, seorang anak dengan keadaan tubuhnya hitam, bukan hitam warna kulitnya tapi si jago merahlah yang telah merubah warna kulitnya yang putih menjadi hitam penuh luka dan darah, anak pada gambar itu tersenyum, namun ada air mata yang mengalir dikedua pipinya yang kusam. Kupandang gambar itu selama beberapa saat, tak sedikitpun aku mengalihkan pandanganku darinya, senyumnya membuatku terharu dan air matanya menggores hatiku, perih. Aku tak sadar sejak kapan wajahku dibasuh air mata. Aku menghapusnya tapi terus keluar dari telaganya dan mengalir. 

Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini melainkan mengirimkan do’a untuk mereka di kejauhan sana. Semoga Allah mengakhiri penderitaan Allepo. 

Muslimah

🌹”Ada yang bertanya, mengapa wanita tidak boleh banyak tampil didepan umum, tidak boleh keluar rumah selalu, harus menutup seluruh tubuh rapat-rapat, ini dan itu dan banyak lagi yang nampaknya bagai tekanan. 🌹Maka jawabannya adalah, *You’re special!* 🌹

Semua yang ada didirimu adalah indah. Semua yang ada tanpa terkecuali. Suaramu, jalanmu, semua tentangmu. Bahkan namamu pun indah.. 

🌹Maka jangan buang title *”SPECIAL.”* mu itu dengan pergi keluar tanpa keperluan yang dibenarkan syari’at, berlemah lembut dengan yang bukan mahrammu. Apalagi sampai menunjukan kemolekan didepan umum.. 

🌹Ingatlah! Mutiara yang indah, terletak didalam cengkerang yang keras dan kuat dan hanya boleh ditemukan dilaut yang dalam, Tersembunyi. 💕

*Ustazah Ummu Hasan AlAlawiy* (Zaujah AlHabib Ali Zaenal Abidin Alkaff)💕 

🌷 *Az-Zahra*🌷