Wanita Shalihah

#co-pas

*Untuk Para Ibu Demi Masa Depan Putrinya*

1. Hormatilah suamimu ketika dia di rumah atau di luar rumah, dan bersegeralah memenuhi kebutuhannya, khususnya di depan putri-putrinya.

2. Jangan bertikai dengan suami di depan anak-anak, never! Perselisihan yang terjadi tidak boleh melewati pintu kamar tidur.

3. Sengajalah meminta izin suami di depan putri-putrinya, bila ingin masuk atau keluar atau apa saja.

4. Jangan pernah menampakkan pembangkangan atas perkataan suami di depan putri-putri.

5. Bagi istri-istri penguasa terhadap suaminya, yang ikut campur dalam segala urusan suaminya bahkan mengintrogasi suami (Kenapa jendelanya dibuka? Bagaimana kamu keluar sendirian kemarin?! Kenapa beli roti ini?dll), seakan dialah komandan di rumah, menyuruh, memerintah dan melarang di rumah. Yakinlah bahwa putri-putrinya kelak akan menjadi fotocopy dirinya, secara otomatis dia akan menguasai suaminya seperti yang dia lihat di ibundanya, dan bila ternyata dia mendapatkan suami yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan ayahnya, maka tiada solusi kecuali CERAI.

6. Seorang istri tidak boleh memberikan izin bagi lelaki untuk memasuki rumahnya dikala suaminya tidak di rumah, walaupun dia itu adalah teman dekat keluarga ataupun tetangga.

7. Seorang ibu yang mulia akan bersolek dan berdandan untuk suaminya, dengan sengaja dia menunjukkan hal itu di depan putri-putrinya seraya menjelaskan bahwa itu adalah hak suami, dan dia juga tidak bersolek ketika keluar rumah, atau di depan orang yang bukan suami, untuk memberi contoh nyata pada putri-putrinya

8. Istri yang sholelah tidaklah pelit dan tidak pula boros untuk urusan rumah, dia berada di tengah.

9. Sangat indah sekali, bila anak-anak meminta sesuatu pada ibunya dan sang ibu berkata kepada mereka: “Kita akan menanyakannya pada ayah, dan kita tidak akan melakukan sesuatu kecuali bila direstui olehnya”. Dengan sering kalinya melakukan hal ini, maka akan tertancap di dalam diri putri-putri penyerahan tongkat kepemimpinan pada lelaki, dan tidak boleh seorang wanita menelanjangi suaminya dari pakaian kepemimpinan dengan dalih gender dan kebebasan.

10. Istri yang sholehah akan menyambut kedatangan suaminya dengan wajah yang ceria dan tidak langsung.mengadukan tingkah anak-anak yang menyebalkan atau tetangga, atau apa saja. Namun ia akan mencari waktu yang tepat.

11. Tidaklah elok seorang istri mengadukan kehamilannya, urusan menyusui, atau pekerjaan rumah di depan putri- putrinya karena hal itu akan terekam di memorinya.

12. Tatkala ada tetangga atau temen wanita memintanya untuk turut berkunjung ke rumah fulanah, hendaklah sang ibu berkata pada mereka dan diperdengarkan pada putri- putrinya, ‘Aku akan memberitahu suamiku, bila dia setuju maka aku akan ikut”, dan tatkala suaminya datang maka ia memberitahu suaminya tanpa nadanpaksaan,”Apakah ia diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah fulanah”, dan bila suaminya diam saja, maka ia.tidak memaksa, dan lansung memberi tahu temannya bahwa ia tidak bisa ikut, di depan putri-putrinya.

13. Bila sang ayah memerintahkan kepada anggota keluarga suatu perintah, maka hendaklah sang ibu bersegera melaksanakannya dan menyuruh anak-anak bersegera, dan mengajarkan pada mereka pentingnya mematuhi perintah suami, tatkala anak-anak merasakan hal itu maka ia akan tumbuh besar menghormati nahkoda yang kelak mengemudikan bahteranya agar tidak pecah dan tenggelam di samudra.

14. Tatkala seorang istri meminta kepada suaminya berbagai macam permintaan yang melelahkan suaminya karena ketidak mampuannya, maka kelak putrinya akan menirunya tatkala mereka menjadi istri.

15. Seorang istri yang duduk ngobrol bersama tetangga atau temannya menceritakan rahasia-rahasia rumah tangganya, maka kelak putrinya akan dengan mudah menyingkap rahasia suaminya di depan orang lain, tatkala ia menjadi istri. insyaAllah dengan menjalankan nasehat-nasehat ini, kelak putri-putri kita akan menjadi istri-istri dan ibu-ibu yang mencetak mujahid-mujahid dakwah masa depan.

[Dari Kitab Kaifa Takun Ahsan murobbi fil ‘alam, h. 44-45, diterjemahkan oleh Ust. Syafiq Basalamah, M.A]

ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻨَﺎ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻨَﺎ ﻗُﺮَّﺓَ ﺃَﻋْﻴُﻦٍ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﺇِﻣَﺎﻣًﺎ

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami),.dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqon: 74).


♡♡♡
*Jemputlah aku menjadi Bidadarimu…(♡˙︶˙♡)

Duhai para wanita cantik yang dikaruniakan berjuta-juta keindahan oleh Allah swt. keindahanmu sungguh tiada tara, mahkotamu bak emas permata.. bisakah kau berlaku sperti curahan hati sesamamu dibawah ini ” surat untuk calon suami”: pasti bisa insyAllah…

“Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apa gunanya aku menjadi perhatian lelaki andai murka Allah ada di situ?

Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang.

Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah.aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan.

Bagaimana akan kujawab di hadapan Allah kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi?

Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias peribadiku karena itulahnyang dituntut oleh Allah.

Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku.juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk.lelaki yang baik?

Tidak kunafikan sebagai wanita, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan,.tetapi dia tetap tidak berputus asa.

Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.

Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku.

Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita yang.lain, dilamar lelaki yang bakal memimpinku ke arah tujuan yang satu, meraih cinta Allahu rabbana.

Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, yang mampu mendebarkan hati jutaan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah.

Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dibazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk membuat begitu.

Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari redha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu.

Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu.

Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku. 

Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa.

Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga.”

duhai kawanku, yang kecantikanya tiada tara. Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan muhrimnya, cukuplah dengan itu hilang harga dirinya di hadapan Allah. Di hadapan Allah. Di hadapan Allah.

Wahai wanita, ku ingatkan diriku dan dirimu, peliharalah diri dan jagalah kesucian.. semoga redha Allah akan sentiasa mengiringi dan memberkati perjalanan hidup ini.

Semoga Bermanfa’at.✿

•SaLam santun erat Silaturrahim dan ukhuwah fillah•

Senyum Santun

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda.

Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan.

Wallahu a’lam bish-shawab

Share bagi yang mau,semoga membawa PERUBAHAN.ke yang lebih baik bagi Bangsa ini & menjadi amal.jariyah bagi kita semua,aamiin…

I Want To Be A Perfect Muslim

.¤*¨¨*¤.¸¸.¤*¨¨*¤.¸¸.

\¸..Allahu Akbar.¸¸.

.\¸.¤*¨¨*¤.¸¸.¤*¨¨*¤.¸¸.

…\

☻/…

/▌….

/ \……

✿ Prinsip ABC ✿

✩ A mbil yang baik

✩ B uang yang buruk

✩ C iptakan yang baru

♡♡Jemput lah Aku Menjadi Bidadarimu♡♡

— with Sry Andayani and Ukhty Anisa Fillah______



*Pelengkap Yang Masih Misteri*

Wahai pelengkap yang belum terungkap. Aku mohon maaf, setelah sekian lama tak muncul di media, untuk membuat narasi tentang kau yang tak terdrskripsi.

Aku pikir selama ini diam adalah cinta, yang kuberi kesempatan untuk kau seorang berbicara, memekakkan telingaku mengungkap rahasia, namun hingga kini, belum jua ku dapat teriakan itu nyata.

Mengapa kau terlalu lama bersembunyi, apa sajak ini tak cukup untuk kedua mata yang saling merindui?

Wahai pelengkap yang belum terungkap,

Jika cinta kau nilai dari seberapa kokoh aku bertahan, aku telah mengeringkan banyak luka untuk kesetiaan, siap untuk segala rintangan dalam kehidupan.

Jika ketulusan kau nilai dari seberapa lama aku menunggu, aku telah menghabiskan banyak waktu untuk menunggu temu.

Jika keseriusan kau anggap dari seberapa sering aku mengucap, aku telah memotong banyak malam untuk mengetuk pintu langit di malam yang temaran.

Aku terus melangitkan harapan. Tanpa kau tau bahwa kerahasiaan terbesarku adalah mencintaimu, meski rahasia itu telah ku tiadakan melalui sajak sajak yang ku tujukan untumu.

Bukankah cinta seharusnya menerima?

Sebab bukan kali pertama aku menerima banyak pilihan, namun terlampau jauh sudah aku melukiskan keindahan tentangmu hingga kaulah yang ku terima sebagai sebuah ketetapan.

Aku percaya, pilihan pilihan itu adalah kebaikan Tuhan, meski berulangkali aku memaksa kau sebagai jawaban, tak kan mungkin terpenuhi jika bukan karena kehendak Allah tuhan kita.

Meski hatimu seperti batu, sudah ku persiapkan rintik hujan untuk memecahkan kerasmu.

Kau tahu?

Aku sudah siap kalah dengan siapapun dan apapun yang menjadi pilihanmu. Semoga kau selalu bisa membahagiakan dirimu sendiri

jika nanti benar benar bukan untukmu.

Apapun yang menjadi pilihanmu nanti, silahkan lakukalah untuk senyummu. Aku punya Allah yang sangat mencintaiku.

Apakah Kau Jodohku?

Jika kau jodohku, 

Ya Allah, seandainya telah engkau catatkan dia milikku, tercipta untukku, maka satukanlah hatinya dengan hatiku.

Berikanlah kebahagiaan diantara kami, agar kemesraan itu abadi.

Ya Allah ya Tuhanku yang maha mengasihani. 

Seringkali kami melayari hidup ini ketepian yang sejahtera dan abadi. Maka Jodohkanlah kami Ya Allah.

Tetapi Ya Allah… 

Seandainya telah engkau catatkan bukan namaku disamping namanya dalam kitab Lauhul Mahfuz-Mu,  seanidainya telah engkau takdirkan dia bukan milikku, bawalah dia jauh-jauh dari pandanganku. Jauh hingga ia hilang tenggelam dalam kabut disana, dan jangan biarkan aku merindukan hujan lagi. Biarlah ia hilang ditelan …. dan jangan biarkan aku menunggu bulan bertengger di horizon lagi.

Bawalah dia jauh dari pandanganku…

Luputkanlah ia dari ingatanku dan peliharalah aku dari kekecewaan..

Ya Allah ya Tuhanku yang maha mengerti, berikanlah aku kekuatan, menolak bayangannya jauh kedada langit, hilang bersama senja yang merah. Agarku senantiasa senang walau tanpanya.

Ya Allah yang tercinta, Tuhanku yang maha kuaza, Dzat dimana jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Pasrahkanlah aku pada Takdir-Mu. Seaungguh apa yang telah engkau takdirkan adalah yang terbaik untukku.

Engkaulah yang maha mengetahui segala yang terbaik untuk hamba-Mu ini. 

Ya Allah cukup Engkau saja, hanya Engkau saja yang menjadi pemeliharaku di dunia dan akhirat. Dengarkanlah rintihan daripada hamba-Mu yang dhaif ini. Jangan Engkau membiarkan aku sendirian di dunia ini maupun diakhirat.

Jangan Engkau membiarkan kuterlena akan bisikan iblis, terjerumus kearah kemaksiatan dan kemungkaran. Maka karuniakan aku seorang pasangan yang beriman, yang bertaqwa dan taat pada-Mu. Yang lebih mencintai Engkau dan Rasulmu dari pada aku. Agar aku dan dia sama-sama membangun kesejahteraan hidup pada jalan yang engkau Redhai. Dan karuniakanlah kepada kami keturuanan yang soleh dan solehah dan dapat menjadi ladang pahala bagi kami.

Ya Allah, berikanlah kami kebahagiaan didunia dan diakhirat. Dan peliharalah kami dari siksa kubur dan azab neraka. Aamiin 2x ya Rabbal ‘alamiin.

Jika tidak meletakan Allah dihati, usah bertanya-tanya kenapa tidak ada ketenangan dalam diri. Allah sumber ketenangan jiwa, sumber kedamaian hati.

Kembalikan Anakku

KEMBALIKAN ANAK LELAKIKU

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu

kubilang pada ayahnya : “Subhanallah, dia benar-benar

mirip denganmu ya!”

Suamiku menjawab:“Bukankah sesuai keinginanmu?

Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku

mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al

Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:

“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya.

Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti

panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai

memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu

ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat!

Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia

dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya.

Pelajaran matematika sederhana sangat mudah

dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia

kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di

bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang

keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat

Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba

ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang

menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap

Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main

kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia

kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya,

wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka

hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke

sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya,

dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati

suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang

menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh

urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah

selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah

membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu.

Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil

tertawa-tawa lucu:

“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti

kulitmu!” Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia

tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang

ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang

pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku

pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan

kakeknya, datang bertamu.

Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia.

Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak

menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers

anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana.

Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di

kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu

kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu.

Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.

Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku

menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan

kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di

lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia

merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau

perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau

dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing

dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shalii ala Muhammad. Allahumma Shalli

alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai

Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu,

engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau

bahkan menengok seorang anak yang burung

peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata

ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,

“Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa

menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku.

Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang

tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku

tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah,

bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski

kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa

tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun

tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang

didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan

di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan

seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu

mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.

Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan

menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah,

untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita!

Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada

perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa

kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan

belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan

seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.

Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku

di tempatnya.

Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai.

Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku

bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali.

Menggendong bersama, bergantian menggantikan

popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi

sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama

mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa

sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan

perasaan saling membutuhkan yang tak pernah

terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa

mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia,

syukur pada-Mu

Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika

semua jalan tampak buntu.

Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di

tangan-Mu.

Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku

ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh

daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, Alhamdulillah.

Itu Sepenggal Kisah Nyata Kehidupan Bunda Neno

Warisman utk para Ayah Indonesia dalam buku

“Izinkan Aku Bertutur”

# reminder

# dakwah

# savefamily