Kumpulan Motivasi Islami

“Orang kaya yang hatinya miskin jarang masuk ke rumah Allah (Masjid)” -Z
“Orang kaya banyak, tapi yang mampu bersedekah sangat sedikit.” -Z
🌷🌷🌷

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,

“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Ya”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’

Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’

Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita yang berhasil meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni surga di kala nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.

Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada muridnya, Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya”

Ibnu Abbas berkata, “Wanita hitam itulah….dst”

Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang berhasil diraih wanita itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah gerangan amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?

Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?

Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam.

Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya.

Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.

Bagaimanakah dengan wanita zaman sekarang yang sibuk memakai kosmetik ini-itu demi mendapatkan kulit yang putih tetapi enggan memutihkan hatinya? Mereka begitu khawatir akan segala hal yang bisa merusak kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan – semoga Allah Memberi kita dan mereka petunjuk -.

Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka saudariku, seperti apapun rupamu, seperti apapun fisikmu, janganlah engkau merasa rendah diri. Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat berharga. Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah hati dan akhlakmu.

Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita penyakit ayan sehingga ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau agar berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya. Seorang muslim boleh berusaha demi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Asalkan cara yang dilakukannya tidak melanggar syariat. Salah satunya adalah dengan doa. Baik doa yang dipanjatkan sendiri, maupun meminta didoakan orang shalih yang masih hidup. Dan dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keistimewaan berupa doa-doanya yang dikabulkan oleh Allah.

Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.”

Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.

Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau lihat satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya ia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.

Masha Allah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya dan ia berusaha melaksanakannya meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita shalihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang di saat sehat pun dengan rela hati membuka auratnya???

Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula dalil atas keutamaan sabar. Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar.”

Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit ayan agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan kesabaran yang baik.

Saudariku, terkadang seorang hamba tidak mampu mencapai kedudukan kedudukan mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan perbuatannya. Maka, Allah akan terus memberikan cobaan kepada hamba tersebut dengan suatu hal yang tidak disukainya. Kemudian Allah Memberi kesabaran kepadanya untuk menghadapi cobaan tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya ia tidak dapat mencapainya dengan amalannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599)

Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah untuk bersabar. Kita berharap, dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan, Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-Nya.

Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi auratnya tidak tersingkap.

Wahai saudariku, seorang wanita yang pikirannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang secara sadar justru membuka auratnya dan sama sekali tak merasa malu bila ada lelaki yang melihatnya? Maka, masihkah tersisa kehormatannya sebagai seorang muslimah?

Saudariku, semoga kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari wanita penghuni surga tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.

Marji’:

Syarah Riyadhush Shalihin (terj). Jilid 1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Cetakan ke-3. Penerbit Darul Falah. 2007 M.

Artikel muslimah.or.id
🌟🌟🌟

JANGAN BERSEDIH

Perlu kita sadari bahwa kesenangan dunia dan kesengsaraannya adalah ujian dari Allah, Rabb semesta alam. 

Apakah menjadi hamba yang bersyukur saat diberi nikmat dan sabar saat diberi cobaan, ataukah sebaliknya. Karena dunia ini adalah daarul ibtilaa’ (negeri tempat ujian dan cobaan).

 Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35).

Ikrimah –rahimahullah– pernah mengatakan,

ليس أحد إلا وهو يفرح ويحزن، ولكن اجعلوا الفرح شكراً والحزن صبر

“Setiap insan pasti pernah merasakan suka dan duka. Oleh karena itu, jadikanlah sukamu adalah syukur dan dukamu adalah sabar.”

Senang dan duka adalah sunatullah yang pasti mewarnai kehidupan ini. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan Kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. 

Jangankan kita, generasi terbaik umat ini, para wali Allah, yakni para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pun pernah dirundung kesedihan. Allah menceritakan keadaan mereka saat kekalahan yang mereka alami dalam perang uhud.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِين

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); 

dan supaya Allah membedakan orang-orang beriman (dengan orang-orang kafir) dan menjadikan sebagian diantara kalian sebagai syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imran: 140).

*Allah yang menciptakan kebahagiaan dan Kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya Kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Allah yang maha rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri. Hinggalah ia mengadu harap di hadapan Allah. Merendah merengek di hadapan Allah. Bersimpuh pasrah kepada Allah yang maha penyayang.

Sumber: muslim or id


🌷🌷🌷

Jika kalian semua ketika berhijrah teman-teman yg biasa bersama kita mulai menjauhi kita, bukan mereka menjauh tp allah menjauhkan mereka agar hijrah kita menjadi lancar sampai istiqamah dan allah akan mendekatkan teman-teman yg baru kpd kalian untuk membantu perjalanan hijrah kalian.

Jika kita sudah istiqamah jangan berharap bahwa allah harus mencukupkan dunia kita krn hijrah itu bukan untuk itu….. 

Jika banyak ujian dalam hijrah kita itu allah sayang sejauh mana kita bersungguh-sungguh dgn niat kita sesungguhnya ujian itu menghapus dosa dan mengangkat derajat kita

Gak mungkin orang yg datang kepada allah pulang dalam keadaan kecewa itu gk mungkin banget bisa dibilang mustahil

☆ semangat hijrah semoga istiqamah 
🌹🌸🍂

▪Terputusnya Amalan Selain Tiga Perkara

Ilmu agama yang bermanfaat, anak sholeh yang selalu mendoakan orangtuanya dan sedekah jariyah adalah di antara amalan yang bermanfaat bagi mayit walaupun ia sudah di alam kubur. 

Simak sajian singkat berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Faedah dari hadits di atas:

○ Pertama: Jika manusia itu mati, amalannya terputus. Dari sini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaklah memperbanyak amalan sholeh sebelum ia meninggal dunia.

○ Kedua: Allah menjadikan hamba sebab sehingga setelah meninggal dunia sekali pun ia masih bisa mendapat pahala, inilah karunia Allah.

○ Ketiga: Amalan yang masih terus mengalir pahalanya walaupun setelah meninggal dunia, di antaranya:

🔼 a. Sedekah jariyah, seperti membangun masjid, menggali sumur, mencetak buku yang bermanfaat serta berbagai macam wakaf yang dimanfaatkan dalam ibadah.

🔼 b. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar’i (ilmu agama) yang ia ajarkan pada orang lain dan mereka terus amalkan, atau ia menulis buku agama yang bermanfaat dan terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia.

🔼 c. Anak yang sholeh karena anak sholeh itu hasil dari kerja keras orang tuanya. Oleh karena itu, Islam amat mendorong seseorang untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak sholeh. Lalu anak tersebut menjadi sebab, yaitu ortunya masih mendapatkan pahala meskipun ortunya sudah meninggal dunia.

○ Keempat: Di antara kebaikan lainnya yang bermanfaat untuk mayit muslim setelah ia meninggal dunia yang diberikan orang yang masih hidup adalah do’a kebaikan yang tulus kepada si mayit tersebut. Do’a tersebut mencakup do’a rahmat, ampunan, meraih surga, selamat dari siksa neraka dan berbagai do’a kebaikan lainnya.

○ Kelima: Sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “atau anak sholeh yang mendo’akannya”, tidaklah dipahami bahwa do’a yang manfaat hanya dari anak saja. Bahkan do’a kebaikan orang lain untuk si mayit tersebut tetap bermanfaat in syaa Allah. Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan melakukan shalat jenazah terhadap mayit lalu mendo’akan mayit tersebut walaupun mayit itu bukan ayahnya.

○ Keenam: Dalam hadits terdapat isyarat adanya keutamaan menikah, juga terdapat dorongan untuk menikah dan memperbanyak keturunan supaya mendapatkan keturunan sholeh (sehingga bermanfaat nantinya ketika kita telah meninggal dunia, pen).

Semoga sajian singkat ini bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Penulis:

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
🌹🌸🍂

Indahnya jatuh cinta setelah Akad.

Bebas memandang wajahnya sesuka hati.

Mengucapkan kata-kata cinta tidak dianggap gombal apa lagi dusta.

Menyentuh jemarinya adalah ibadah.

Tidur tidak sendirian lagi.

Keluar rumah berdua tidak menjadi fitnah.

Orang tua tidak terus menerus menelpon menyuruh pulang segera. Tidak lagi iri melihat orang lain suap-suapan.

Ada yang bisa digandeng saat kondangan.

Ada yang bisa diajak pacaran setiap saat.

Ada yang bisa diajak berdiskusi tentang semua hal.

Memanggilnya dengan panggilan sayang membuat langit tersipu malu. Membayangkan wajahnya ingin segera pulang kerumah. Memeluk tubuhnya mengundang Rahmat Allah.

Betapa indahnya jatuh cinta setelah Akad,

Makan sepiring berduapun seolah makan di restoran paling mahal. Ada yang memijat saat tubuh lelah, ada yang memeluk saat hujan turun.

Indahnya jatuh cinta setelah akad,

Mengundang Cinta dan Rahmat Allah. Beribadah setiap saat. Memanen pahala setiap waktu. “Tiket menuju surga seorang istri adalah suaminya, dan tiket menuju surga seorang suami adalah istrinya”
🌴🍂🌸🌴🍂🌸

➡️HijrahMuslimah

MEMPUNYAI PERASAAN CINTA KEPADA LAWAN JENIS YANG BUKAN MAHROM.

Mempunyai Perasaan Cinta Kepada Lawan Jenis Yang Bukan Mahrom Bukan Lah Suatu DOSA.

Karena Cinta Itu Adalah Sebuah Anugrah Dari Allah Sebuah Fitrah Dan Kita Harus Pandai Untuk Menjaga Fitrah Agar Tidak Menjadi Fitnah….

Caranya….?

Harus Bisa Membedakan Mana Antara ;

CINTA & SYAHWAT.

CINTA Itu Indah Tanpa Serta Merta 

Tapi :

SYAHWAT Hadir Tanpa Cinta Dan Bersifat Serta Merta.

Mungkin Ada Yang Bilang CINTA Itu Tidak Bisa Di Cerna Oleh Akal ( Salah ) 

Malah Sebaliknya CINTA Itu Sangat Masuk Akal. Ko Bisa ?

Karena Tidak Mungkin Jika Kamu Melihat Kelakuan Orang Tersebut Yang Jahat Misalnya Sebagai Pencuri, Dan Lain2nya Tentang Semua Kejelekan Dan Keburukannya Kamu Tetap Mencintai Nya…

Karena Akal Mu Yang Mencerna ( Iya)

Dan Pilih Lah CINTA Yang Benar…

Bangun Lah CINTA Di Atas Pernikahan Jangan Membangun Pernikahan Di Atas Cinta.

Terus Bagaimana? Apakah Di Boleh Kan ?

TELPON & CHATTING NYA LAWAN JENIS YANG BUKAN MAHROM.

Yang Tidak Di Boleh Kan Itu Adalah KHALWAT.

Apa Itu KHALWAT ?

Khalwat Adalah : Bertemu Berduaan Di Tempat Yang Sekiranya Mereka Bisa Melakukan Apa Saja Yang Di Haram Kan Oleh Allah.

( Bisa Melakukan Pelanggaran )

Meskipun Tidak Melakukan Pelanggaran Tapi Mereka Tetap Bertemu Di Tempat Yang Sekiranya Mereka Bisa Melakukan Apa Saja Yang Di Haram Kan Oleh Allah Tetap Kedua2 Nya Adalah ( DOSA )

Sedang Kan Telpon & Chatting Itu Bukan Lah Dosa Karena Tidak Termasuk KHALWAT Karena Sifat Nya Berjauhan Tidak Berdekatan.

Tapi Telpon & Chatting Itu Akan Menjadi Dosa Jika Perbincangan Nya Mengarah Ke Yang Haram.

Pada Dasarnya Kalau Telpon & Chatting Tidak Bermasalah Tidak Lah Dosa Seperti Kepentingan Pribadi,Bisnis Dan Lainnya Yang Tidak Mengarah Ke Yang Haram & Yang Memancing Menimbulkan SYAHWAT.

Makanya Hati2 Jika Ingin Telpon Dengan Lawan Jenis Yang Bukan Mahrom. Jika Tidak Lah Penting, silahkan  Hindari

Terus Apa Bedanya Dengan IKHTILAT.

Apa Itu IKHTILAT ?

Ikhtilat Adalah : Bercampurnya Lawan Jenis Antara Laki2 & Perempuan Yang Bukan Mahram. 

Beda Dengan IKHTILAT ? Ikhtilat Ada Yang Di Haram Kan Ada Yang Tidak Haram.

Contoh IKHTILAT Yang Tidak Di Haram Kan Yaitu:

1. Semuanya Sama2 Menutup Aurat Antara Laki & Perempuan 

( Dengan Syarat Tidak Melakukan Hal Yang Allah Haram Kan )

2. Kalangan Orang2 Yang Menjaga Pandangan

( Dengan Syarat Tidak Melakukan Hal Yang Allah Haram Kan )

3. Membicarakan Yang Benar 

( Pembicaraan Yang Tidak Allah Haram Kan )

4. Di Tempat Terhormat 

( Tempat2 Yang Tidak Allah Haram Kan )

5.Tidak Boleh Berdempet – Dempetan 

( Agar Tidak Menimbulkan SYAHWAT )

Dan Yang Terahir Nie Yaaa…😊

Jika Dua Insan Saling Mencintai Tapi Mereka Bisa Melawan Hawa Nafsunya Untuk Tidak Telponan & Chatting Jika Pada Saat Itu Mereka Ada Yang Meninggal ( Misalnya ). Mereka Meninggal Dalam Keadaan Syar’i Meninggal Ketika Sedang Berperang Melawan Hawa Nafsu ( Masya Allah ) 

Semoga Kita Semuanya Di Berikan Kekuatan Iman & Ketakwaan Untuk Menghadapai Setiap Unjian & Cobaan Dari Allah. Aamiin.

Semangat Hijrah Yaa…
🌷🌷🌷

MATA YANG TIDAK AKAN TERSENTUH OLEH API NERAKA

Pernahkah kita menangis karena Allah? Pernahkah kita menangis karena takut akan siksa-Nya, sebab begitu banyak dosa yang kita perbuat?

Jika belum …

Menangislah …

Menangislah karena takut pada-Nya.

Menangislah dengan ikhlas.

Menangislah karena ingin adanya perubahan.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal [8] : 2)

Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini, “Ini adalah sifat orang beriman yang sebenarnya. Yaitu ketika mengingat Allah, hatinya menjadi takut (gemetar). Sehingga dia mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.”

Abdullah bin Az Zubair mengatakan bahwa ayat ini mengisahkan tentang Raja Najasiy dan pengikutnya.

“Orang yang menangis karena takut kepada Allah Ta’ala, matanya tidak akan tersentuh api neraka.”

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Ibnu Abbas,

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bermalam (begadang) untuk berjaga-jaga (dari serangan musuh) ketika berperang di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi.

Hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalan lainnya- , sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1229)

🌏 https://rumaysho.com/8130-menangis-karena-allah.html