Hijrahku

05 Jan 2019

Aku pun dengan sisa-sisa suaraku, mencoba memanggil-manggil namamu. 

“Oo… Muhammadku… Oo Muhammad ku. Dimana-mana sesama saudara saling cakar merebut benar sambil terus berbuat kesalahan. Qu’ran dan sabdamu hanyalah kendaraan masing-masing mereka yang berkepentingan. Aku pun meninggalkan mereka, mencarimu dalam sepi rinduku. Aku merindukanmu ooh Muhammadku. 

Duhai baginda cintaku, jikalau engkau sudi menampakan wajahmu kepadaku sekejab saja, Sungguh… betapa malunya diriku yang begitu bangga mengaku sebagai umatmu. Namun jauh akhlakku dari harapanmu. Sangat memalukan.

Pantaskah aku peroleh syafaat darimu?

Dulu. . Aku selalu abaikan semua peringatan yang kau sampaikan dari Allah. Tidak shalat adalah hal biasa bagiku. Aku membuka auratku padahal aku tahu bahwa Islam mewajibkan waita muslimah untuk berjilbab syar’i. Terbuai dengan musik walau aku sudah tahu bahwa Islam mengharamkan musik dan alat musik. Aku berbaur, berteman dekat dengan laki-laki padahal aku tahu bahwa Islam sangat membatasi dan mengatur pergaulan perempuan muslimah demi menjaga kehormatan mereka. Teman hiburan, bertamasya, ngumpul-ngumpul bareng teman adalah kesenanganku. Aku selalu membicarakan keburukan orang lain dan aku tidak menyadari bahwa itu merupakan salah satu diantara dosa-dosa besar, membicarakan masalah orang lain yang bukan urusanku. Kami selalu berbicara masalah dunia dunia dunia duniaaaaaaa terus. Aku sanggup internetan selama berjam-jam. Bahkan mulai pagi sampe pagi lagi pun aku mampu menatap layar HP. Aku selalu FB-an? WA-an, Twitter-an, Instagram dan masih banyak lagi. Tapi untuk membuka al-Qur’an satu detik aja tidak pernah. Sangat jarang kubaca isinya walau cuma 1 ayat. Aku hanya akan membukanya ketika bulan Ramadhan. Padahal Qur’an itu diturankan bukan hanya sebagai bacaan di bulan Ramadhan. Qur’an itu petunjuk hidup kita yang harus dibaca, dipahami dan diamalkan, bukan hanya membacanya sebatas tenggorokan dan tidak tahu maknanya. Apa aku berjam-jam online untuk belajar? Tidak. Aku hanya chattingan yang gak bermanfaat sama teman-teman. Aku hanya baca postingan orang yang gak bermanfaat. Mengomentari hal-hal yang tidak bermanfaat. Aku hanya memikirkan bagaimana agar aku bisa memperoleh kesenangan dunia dunia dunia saja duniaaa terus hingga kulupa akan akhirat yang kekal, abadi. Dengan berpakaian yang tidak pantas aku menari diatas panggung dengan tarian ala K-Pop yang bagiku amat keren itu. Membuat teriakan penonton menggeparkan panggung dengan tepuk tangan yang menggelegar diantara musik yang bergema. Betapa hina dan rendahnya aku kala itu. Memalukan. Namaku dibangga-banggakan penggemar tapi…. bagaimana penilaian Allah kepadaku?. Akulah muslimah yang tidak tahu diri. Memamerkan aurat yang seharusnya ditutupi itu kepada ratusan penonton non-Mahram secara gratis. Aku juga pernah… Pacaran… padahal aku tahu bahwa tidak ada pacaran dalam Islam. Islam melarang umatnya mendekati Zina. Sedangkan pacaran itu pintu menuju Zina. Ya… dulu aku pernah membantah untuk membela hawa nafsu “kan cuma sebatas pegangan tangan aja kok gak lebih, cuma chattingan aja, cuma telponan aja, aku gak berzina…dll”, padahal aku gak sadar kalo semuuuuua yang aku katakan itu Zina. Tak perduli dengan dakwah yang disampaikan para ulama, aku berdalih seakan aku bisa mengontrol hawa nafsu. Pacaran itu benar-benar hal yang dilarang agama. Apapun alasannya tetap tidak diperbolehkan. “Tapi pacar aku shaleh lho”. Lucu sekali. Laki-laki shaleh tidak akan mengajak orang yang dicintainya bermaksiat. 

Apa dalil yang melarang pacaran? Pada surat al-Israa ayat 32, berisi larangannya mendekati zina. Itu Zina, lalu pacarannya mana? Kata “PACARAN’ sudah menjadi paket komplit dari pada zina itu sendiri. Bagaimana bisa? Pegangan tangan, tatapan, berduaan, chattingan, baperan sampai hal-hal yang dilarang lainnya, itu semua termasuk dalam ZINA.

 Astagfirullah…. betapa hina dan kotornta aku dahulu… sebab aku bertemankan iblis mengedepankan hawa nafsu (kesengan dunia). Oh Muhammadku…. najiskah aku? Aku dulu selalu meninggalkan shalat, najiskah aku wahai Muhammad Rasulullah? Aku tahu bahwa meninggalkan shalat dengan perasaan biasa saja tanpa merasa menyesal lebih besar dosanya daripada dosa berzina sekaligus membunuh anak hasil Zina. Tapi aku masih saja pura-pura tuli ketika mendengar suara Azan.

 Ya Allah… Inikah cahaya itu? Inshaa Allah. Hamba sangat berharap ya Allah. Tolong hamba. Tolong.

Inikah intan yang selama ini aku butuhkan dan yang aku harapkan? Kebahagiaan sejati? Harta yang paaaaaaaling mahal yang tak ternilai, tidak bisa digantikan dengan dengan dunia seisinya.

Aku sadar, aku sangat membutuhkan Iman yang kokoh dan istiqamah.

Aku ingin kutip sedikit kata-kata milik saudara selegramku. Yang katanya “Hidup tak sembarang hidup. Kita mesti mengambil tuntunan dari Qur’an dan Sunnah. Jika perintah Allah saja kita bantah, lalu perintah siapa yang akan kita terima? Siapa lagi yang statusnya lebih tinggi dari Allah yang kita takuti? Bisa saja kalian hidup dengan aturan yang kalian buat sendiri. Tapi jangan menikmati semua fasilitas yang di beri Ilahi, termasuk menghirup udara dan menapak kaki di bumi!”

Jangan Berasalan Belum Dapat Hidayah

[Hidayah]

Banyak orang yang beralasan ketika ia bermaksiat, menyimpang dari aturan Allah, dengan seenaknya bilang,
“Belum dapat hidayah” .

Benarkah demikian? Apakah sesimple Itu perkaranya? Syeikh As-Sa’di rahimahullah dalam Kitab Bahjatu Qulubil Abror ( halaman 34) berkata,

“Orang yang sesat, menyimpang tidaklah memiliki alasan untuk mengelak dari Tuhannya (di akhirat nanti), karena sesungguhnya Allah telah memberikannya seluruh sebab- sebab yang dapat menyebabkan tercapainya hidayah. Akan tetapi hamba itulah yang memilih kesesatan daripada petunjuk, maka Janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri” . -selesai kutipan-

Di antara sebab-sebab hidayah yang Allah bukakan di zaman sekarang ini adalah banyaknya kajian-kajian Islam, kajian-kajian sunnah, baik yang langsung di Mesjid-Mesjid, melalui video maupun audio yang tersebar di internet. Atau dari tulisan-tulisan, website Islam di internet yang mengajak ‘tuk kembali kepada Allah, ‘tuk mengikuti Sunnah Nabi-Nya. Yup, Begitu mudahnya sebab-sebab hidayah ini diperoleh, bahkan hanya dengan sekali klik, sambil tiduran, berbaring di kasur yang empuk, kita bisa dengan mudah mendapatkannya. Namun adakah kita memilih untuk mencari ini semua? mengambil petunjuk darinya ? mengamalkannya? Atau lebih memilih mengacuhkan, sibuk dengan urusan dunia semata, terus bermaksiat dan beralasan belum dapat hidayah? Pada akhirnya, tidak akan adalagi alasan bagi seseorang kelak di akhirat, Ia tidak bisa komplain ke Tuhannya dengan berkata,

“Ya Allah, Aku Belum Dapat Hidayah. Engkau tidak memberikannya kepadaku” 

Padahal realita menunjukkan sebab-sebab Itu telah dibentangkan kepadanya. 

Pilihan ada pada kita, Ambil dan tempuh jalan hidayah sekarang, Atau menyesal di akhirat kelak.

The choice is ours…

#Copas
[Hidayah 2]

Seseorang yang telah diberikan petunjuk oleh Allah, yang dituntun oleh Allah untuk tidak berjalan kecuali diatas jalanNya yang lurus, akan berusaha mengaplikasikan ayat dari al-Qur’an yang berbunyi:

“Sami’naa wa Atho’naa” atau “Kami dengar dan kami taat” [ (QS. An Nuur: 51] 

Dan ayat yang berbunyi:

“Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad)…” [Ali Imran : 31] 

Dan ayat yang berbunyi: 

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. [al-Hasyr: 7]

Dan ayat yang berbunyi: 

“Katakanlah : “Jika kamu (benar- benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Katakanlah : “Taatilah Allah dan RasulNya. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir’’. [Ali Imran : 31-32] 

Dia yang mendapat hidayah akan mengamalkan semua ayat suci al-Qur’an, juga akan mengamalkan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw melalui hadith-hadith Beliau saw. Dia   (yang telah Allah kehendaki kebaikan padanya) akan berusaha agar tetap menjadi orang yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.

Setelah Allah menitipkan cahaya didalam hatinya sehingga ia dapat merasakan betapa nikmatnya iman itu, maka ia tahu kewajibannya adalah menyampaikan kebaikan. Dan dia juga akan berusaha untuk membuat orang-orang yang ia sayangi dapat merasakan kebahagiaan sejati yang ia rasakan ketika dia telah mengenal Allah dan mendekatiNya. Dia akan berusaha memyampaikan ilmunya. Berharap orang yang ia sayangi itu bisa mengerti dan mengamalkan apa yang telah ia sampaikan. Katakanlah kalau dia memilki 10 teman dekat yang dia sayangi. Kemudian secara hati-hati namun pasti, ia menyampaikan ilmunya kepada teman-temannya itu dan berharap mereka dapat memahami apa yang ia sampaikan kemudian berjalan diatas jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Apakah ia akan berhasil setelah berusaha untuk mengajak orang-orang yang ia cintai? Jawabannya adalah tergantung hidayah Allah. Karena Allah hanya akan memberi penunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, yang Dia ingin selamatkan dari azabNya dan menikmati surgaNya.

Katakan saja kita mengajak 5 teman kepada kebaikan. Belum tentu mereka berlima dapat hidayah. Mungkin 3 diantara mereka keras kepala dan menantang dengan beribu alasan dengan maksud lari dari kebenaran karena menuruti hawa nafsu. Misalnya kita sampaikan kepada mereka “dalam Islam, Pacaran itu haram. Setuatu yang haram wajib ditinggalkan karena hukumnya dosa” atau “dalam Islam, musik itu haram. Kita diharamkan mendengarnya atau memainkannya”. atau “Jilbab bagi muslimah adalah wajib, bukan pilihan dan tidak perlu banyak alasan. Jangan mau seperti wanita kafir karena kita beda”. Kita mungkin telah memberitahukan mereka berbagai dalil tentang pelarangan itu. Tapi orang-orang yang hatinya dikuasai syaitan akan berpura-pura tuli sehingga mengabaikan apa yang kita sampaikan. Tentu saja syaitan selalu menang menguasai mereka. Iman mereka lemah dan Allah mengunci hati mereka. Jika Allah menghendaki kepada mereka kebaikan, tentu Allah akan membuka dan melembutkan hati mereka. Allah akan mengisi hati mereka dengan cahaya iman. 

Kita ingin orang-orang yang kita sayangi mendapat hidayah. Tapi Allah memberi hidayah kepada orang-orang yang dikehendakiNya. Itulah mengapa ada yang mau berjalan diatas jalan lurus dan ada yang memilih tikungan. Padahal mereka sama-sama manusia. Punya bentuk otak dan hati yang sama. Tapi mengapa ada yang pas kita sampaikan dalil langsung dengar dan ada yang mengabaikan? Itu karena bentuk hati mereka secara lahir memang sama. Namun secara batin, hati mereka sangat berbeda. Ya, isinya beda. Ada yang hatinya bersih dan ada kotor. Ada yang terang dan ada yang gelap. 

Allah selalu melindungi siapa yang Dia sayangi. Siapa yang Allah sayangi? Yaitu orang-orang yang mencintai dan mentaati Allah dan RasulNya. Yang ketika mendengar firman Allah dan sabda Rasul, mereka berkata “Sami’na wa Atho’na” (Kami dengar dan kami taat). Bukan “Kami dengar dan kami pikir-pikir dulu”.

Sekarang, tanyakan dalam hatimu.!!

“Apakah Allah menyayangimu? Apakah Allah ingin kamu berjalan diatas jalannya atau ingin melemparkanmu ke neraka bersama syaitan? Karena orang-orang yang lebih menuruti bisikan syaitan akan menemani syaitan di neraka. Bukankah syaitan ingin menjauhkan manusia dari perintah Allah?” 

Kamu akan tahu sendiri jawabannya. Dan tanyakan pertanyaan yang sama kepada orang yang kamu ajak kedalam kebaikan.

​Aku, Lilin dan Kecoa

♡Cerpen Penerang Hati♡

Malam ini adalah malam seperti malam-malam sebelumnya. Aku yang telah berjam-jam duduk diatas ranjang terbawa arus drama yang aku ikuti. Kubiarkan jendela kamarku terbuka. Aku suka dengan dinginnya angin malam. Sangat menentramkan jiwa. Waktu telah menunjukan pukul 12:21 dan aku masih serius mengikuti kisah seorang Ratu hebat dalam drama The Great Queen Seon Deok, satu-satunya K-Drama kesukaanku. Waktu mengalir begitu saja. Menit-menit berlalu dalam sekejap. Aku menoleh kearah jam dinding, 

“Apa? Jam 1 ? Kirain masih jam 8. Ok, masih jam 1, masih bisa beberapa episode lagi” batinku.

Tiba-tiba, aku merasa aneh. Entahlah. Aku merasa antara kesepian dan takut. Aneh sekali, aku belum pernah merasakan hal ini di malam-malam sebelumnya.

“Apa ini? Kemarin-kemarin nontonnya diakhiri pas dah  masuk waktu Shubuh. Malam ini kenapa begini? Aku merasa sepi? Tidak mungkin. Mungkin ini perasaanku saja”

Aku jeda dramanya kemudian menengok keluar dari jendela, mengintai pohon-pohon disekeliling rumahku.

“Adakah hantu disini yang ingin menggangguku? Hantu? Ah, aku tidak takut hantu”

Aku kembali nonton drama yang barusan aku tinggalkan. Tiba-tiba padam listrik alias mati lampu.

“Apa ini? Apalagi ini? Apa yang terjadi malam ini? Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui”.

Angin malam yang masuk kedalam kamar terasa sangat dingin. Jauh lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Aneh. Aku menutup jendela karena aku tidak tahan dengan dinginnya. Aku menelimuti tubuhku dengan selimut merah kesayanganku yang selalu ampuh mengusir dingin dalam seketika. Tapi kali ini, ia gagal. Aneh.

“Apakah aku demam? Tidak? Ini bukan demam. Aku pernah demam dan aku tahu persis seperti apa rasanya dan ini…. ini bukan demam. Aku kenapa? Aku kenapa?” Batinku dengan wajah terheran-heran. Keanehan belum berhenti sampai disini pemirsa. Aku yang selalu serius mengikuti alur drama kesayanganku itu kali ini tidak. Mataku memang mengarah ke layar laptop tapi hati dan pikiranku tidak. Aku matikan laptopnya.

“Waduh, gelap. Tadi kamar sedikit terang karena ada cahaya laptop. Bakar lilin aja deh”.

Aku membakar lilin yang sengaja ku simpan lengkap dengan korek didalam laci meja ditepi ranjangku. Dan sedihnya, lilinnya tinggal sedikit sekali. Kubakar lilin itu dan tadaaaaaaaa, teranglah seluruh sudut kamar. Masalah belum selesai sampai di nyala lilin yang menerangi kamar pemirsah. Aku berusaha untuk tidur tapi aku tidak merasakan kantuk sedikitpun. Akhirnya aku hanya duduk, peluk bantal sambil memandang lilin. Rasa aneh yang sedari tadi menggangguku semakin parah. Aku merasa sangat sedih dan kelisah dan aku tidak tahu mengapa. Pandanganku tetap tertuju pada lilin itu. Menit demi menit berlalu, lilin pun semakin pendek. Dan aku tahu, nyalanya tidak akan bertahan lama. Ia akan terus meleleh hingga padam.  Aku mencoba menyalakan HP, tapi tidak bisa karena habis daya. Sebelum cahaya lilinnya sirna, aku berbisik,

“Ya Allah, Apa yang Engkau kehendaki pada hamba dengan lilin ini?”

Sontak, aku menatap lilin yang terus meleleh itu sambil menyipitkan mata. Dan dalam hati aku berkata “Lilin adalah umur. Setiap detik yang berlalu, mendekatkan aku kepada kematian. Layaknya cahaya lilin yang akan berakhir, hidupku juga akan berakhir. Mati”.

Lilinnya hampir habis. Aku menatap seluruh isi kamarku. Aku tiba-tiba merasa takut dan kesepian. Sangaaaat hening. Yang terdengar hanyalah hembusan nafasku, dentuman jantungku, “Tik tik tik tok” dari jam dinding dan “Krik krik krik” dari jangkrik-jangrik yang berpesta diluar sana. “Sontak, aku auto berpikir,

“Jika aku merasa seperti ini padahal aku tidak sendiri karena ada adikku yang sedang tertidur disisiku, bagaimana jika…. jika dikubur nanti….. tentunya aku akan sendiri. Mengerikan. Mengerikan. Aku sangat terbiasa dengan luasnya kamar ini, aku sangat menyukainya. Bagaimana jika hidupku sampai dibatas akhir usia dan…. suka atau tidak suka, mau tidak mau aku akan tetap diletakan di dalam liang yang sempit alias kubur itu.

Sedihnya aku tidak bisa membawa lilin, bantal dan selimut kesayanganku kedalam kamar sempitku/kubur itu. Kalau selimut tebal saja tidak mampu menghangatkanku, bagaimana jadinya aku nanti dimalam-malam sunyi dan dingin, aku diapit aku tanah dan aku hanya dibalut dengan kain putih?”

Tubuhku gemetar, aku menjadi semakin takut.

“Apakah aku sudah siap untuk mati? Bagaimana jika Izrail datang detik ini juga?”

Seluruh tubuhku menggigil. Tanganku mendekap bantal dengan gemetar.

“Apa ini? Apa ini? Apa ini?”

Aku bertanya pada diri sendiri.  Rasanya tidak ingin aku bangunkan mama, papa dan adikku saat mereka sedang tertidur pulas saat ini.

Lilin yang menyala itu saat hampir berakhir menemaniku. Dalam kesempatan yang tersisa, tiba-tiba seekor kecoa yang entah dari mana datang dan terbang mondar-mandir dalam kamarku dan hinggap di dekat lilin, tepat dihadapanku dan mataku lansung tertuju padanya. Aku kaget bukan kepalang. Kejutan masih belum habis pemirsah.

Setelah  jantungku terasa hampir berhenti berdetak gara-gara kecoa itu, dalam hati,

“Ya Allah… Ya Allah Ya Rabbi….Apa yang Engkau kehendaki padaku  dengan seekor kecoa ini?”

Sontak, kecoa itu terbang lagi mengelilingi kamar kemudian hinggap pada sebuah bingkai foto yang berada tepat disisiku. Aku fokuskan pandanganku pada kecoa itu itu kemudian pandanganku beralih pada sebuah kalimat yang ku cetak diatas kertas dan ku pasang dalam bingkai tersebut. Retinaku menangkap kalimat itu dengan jelas.

Dan tulisan itu berbunyi: “Hanya AKU & AMALANKU DI SINI (KUBUR) NANTI”. Dan latar tulisan itu adalah sebuah gambar liang lahat dengan bentuk persegi panjang dan terlihat sempit. Mengerikan. Menakutkan.

Aku menatap tulisan itu dalam-dalam. Rasanya tenagaku tiba-tiba sirna. Aku merasa lelah, lemas atau bahkan tak bernyawa. Kecoa itu kemudian terbang lagi dan keluar melewati fantalasi jendela kamarku. Lilin akhirnya padam. Gelap gulita.

Tidak peduli bahwa tidak ada cahaya sedikit pun dalam kamar, aku Menganalisa kembali urutan kejadian aneh sejak awal hingga akhir. Sendirian dalam gelap di malam sunyi seperti sangat menakutkan. Padahal adikku di sampingku dan orang tuaku ada di kamar sebelah. Bagaimana jika aku benar-benar berada dalam kubur nanti? Gelap, dingin, sempit dan pastinya aku benar-benar akan berada disana sendiri. Jika seekor kecoa kecil yang muncul tiba-tiba itu saja hampir membuat jantungku copot, apalagi jika aku benar-benar menghadapi malaikat Mungkar & Nakir? Malaikat Ruman? Apakah aku berani menulis daftar maksiatku dihadapannya? Jika aku malu dan takut, mengapa ketika melakukat maksiat itu aku tidak malu dan takut kepada Allah? Malaikat Ruman pasti akan menghancurkan jasadku (semoga merahmatiku, aamiin).

Meskipun tidak bisa melihat apa-apa disekitarku saat ini, aku tahu bahwa aku sedang berada dalam kamarku. Kamar yang kelak akan aku tinggalkan. Entah tahun depan, 1 bulan lagi, 1 hari lagi atau bahkan satu jam lagi. Orang yang masuk kesini akan berkata “Ini kamar Ririn. Dia biasanya suka memghabiskan waktunya disini. Tapi sekarang dia sudah bercampur dengan tanah”. 

Sontak, air mataku mengalir. Menetes bersusulan. Sebuah tulisan yang pernah ku baca terlintas jelas dalam pikiranku. Bahwasanya:

(Ketika jantungmku berhenti, MATI tidak perlu dicemaskan).

Tidak perlu ku perdulikan jasadku yang akan hancur. Karena kaum muslimin akan melaksanakan kewajiban mereka:

1. Memandikanku

2. Mengkafaniku

3. Menyolatiku

4. MENGUBURKU.

Dan aku tahu persis!!!* bahwa:

*Dunia tidak sedih karena kematianku*

~Alam semesta tidak berduka atas kepergianku !

~Segala sesuatu akan berjalan seperti biasa dan tidak berubah dengan perpisahanku!!

~Perekonomian akan terus berputar!

~Pekerjaanku, akan digantikan orang lain!

Hartaku akan pindah tangan secara halal kepada ahli waris!

Sementara AKU  yang akan dihisab atas segala sesuatu hingga perkara yang sederhana dan kecil!!

Yang pertama lepas dariku  adalah namaku..

Saat Aku meninggal dunia: Orang2 bertanya : Dimana mayatnya ? Mereka tidak memanggilku dengan namaku!! Namaku tinggal kenangan belaka.

Ketika mereka akan menshalati, mereka bilang : Bawa sini jenazahnya!!! Mereka tidak menyebutkan namaku. Betapa cepat namaku hilang berlalu…. 

Ketika mereka akan menguburkanku, mereka berkata: Dekatkan mayitnya!! tanpa menyebutkan namaku..

_*Karena itu… 

Aku jangan sampai tertipu oleh kehormatan dan kelebihan kelompokku…!!*

Jangan sampai aku terperdaya oleh kedudukan dan nasab keturunanku…!!

* Alangkah sepelenya dunia ini… dan betapa besar apa yang akan kita hadapi… *

_Kesedihan orang atas kepergianku ada tiga macam:

1. Orang yang mengenalku sepintas akan mengatakan: Kasihan… !! 

2. Teman dan sahabatku akan bersedih beberapa saat atau beberapa hari, kemudian mereka kembali pada rutinitas dan canda tawa mereka.

3. Kesedihan mendalam di rumah… Keluargaku akan bersedih sepekan… satu-dua bulan atau hingga satu tahun… Kemudian mereka akan meletakkanku dalam album kenangan…

Demikianlah…

Kisahku di antara manusia telah terakhir…BERAKHIR.

AKU  hanya tinggal ALBUM KENANGAN 

*Kisahku yang sebenarnya baru dimulai… bersama sesuatu yang nyata, yaitu: Alam Kubur menuju Alam akhirat *

Ketika Ajal kita tiba, maka akan lepas dari kita:

1. Kecantikan/ketampanan.

2. Harta

3. Kesehatan

4. Anak

5. Rumah. 

6. Istri/suami

7. Kehidupan.

Lantunan Adzan merdu hancurkan alam sunyi. Dalam waktu yang sama, lampu pun kembali menyala. 

“Kak, Shubuh?” Tanya adikku yang terjaga karena silau lampu.

“Bukan, Isyaaaa. Ya Shubuh lah. Tuh tengok jam, 04:55. Bagun… Jangan malas”. Aku bicara sambil membelakanginya. Ia pun bangun dan mengucek matanya. Aku menghapus airmataku.

“Kakak? Ada apa?” Tanya adikku dengan wajah bingung.

“Ceritanya panjang. Akan kakak ceritakan ba’da Shubuh. Yuk!”

Sekian kisah aneh yang kualami dalam semalaman.

Teruntuk saudara/i seiman,  jadikanlah akhirat sebagai tujuan hidup kita… 

Saudara/i ku seiman, mengapa aku harus menulis ini? Karena aku ingin mengingatkanmu. Bahwasanya: Ketika ajal datang, maka saat itu juga semua keduniaanmu berakhir.. Jika engkau telah dibaringkan di kuburmu.. dan engkau telah menghadap Rabbmu. Maka tidak akan berguna lagi pujian dan sanjungan manusia kepadamu.

Tidak akan bermanfaat lagi banyaknya orang yang bertepuk tangan untukmu. Tidak akan ada efeknya lagi banyaknya like pada statusmu, begitu pula banyaknya teman dan follower-mu.

Yang nantinya akan bermanfaat dan berguna bagimu adalah : 

– sujud yang kau sembunyikan. (Jangan abaikan shalat yang 5)

– linangan air mata yang kau teteskan karena takut kepada Allah. (Sering ingat dosa, bukan pacar. Ingat, Tidak ada pacaran dalam Islam).

– amal jariyah yang kau salurkan untuk agama Allah. (Jangan kumpul-kumpul harta tapi kikir)

– bacaan Qur’an dan dzikir yang kau lirihkan karena dorongan keikhlasan. (Rajin baca Qur’an sahabat, bukan statusnya orang yang gak penting).

– uluran tanganmu dalam membantu dan meringankan beban hidup orang lain. (Aku tahu kamu orangnya. Love you).

– dan amal shaleh apapun yang kau lakukan dengan keikhlasan yang sebenarnya. (4 The sake of Allah).

Oh, ada satu lagi pesan yang aku ingin Sahabatku yang sangat aku sayangi camkan dalam jiwanya. Shalat! Sahabat, Awas hati-hati. Liat baik-baik. Jangan pernah… ya. Jangan pernah meinggalkan shalat yang 5. Itu rukun Islam lho. Kalo mau jadi orang Islam ya shalat. Jangan hanya Islam hanya sebatas Kartu biru kecil (KTP). Shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab. Ingat.

Oh ya, Sahabat. Rencananya minggu ini aku libur nonton K-Drama Ratu Seon kesukaanku itu. Karena aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat. Temui aku di Surau pada waktu biasa kita gunakan untuk bertemu di bawah pohon beringin.

Aku sangat berharap, semoga dalam setiap udara yang kita hirup, setiap nafas yang kita hembuskan, setiap detakan jantung, denyutan nadi, setiap langkah, setiap gerakan…. Semoga Allah selalu menyirami kita dengan rahmat-Nya. Menuntun kita berjalan di atas jalan-Nya yang lurus sehingga kita tidak merasa berat untuk beribadah kepada-Nya. Berat ibadah karena banyaknya dosa dan hati yang kuasai Syaitan untuk mengejar dunia yang memperdaya ini. Dan ibadah akan terasa indah jika kita benar-benar mencintai Allah. Bukan hanya cinta sebatas Lisan.

“Tanpa CINTA, semua IBADAH adalah BEDAN”.

#hanya_aku_&_amalku

Jangan Tinggalkan Sebelum Menyesal

Bismillaahirrahmaannirraahiim..
Asslamamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Saudara saudariku… apa kabar imamya hari ini? Ibadah rutin 5 waktu dalam sehari? Apakah terjaga dengan istiqomah, bolong-bolong atau  hanya shalat ketika datang bulan Ramadhan? 

Baiklah pada kesempatan ini, izinkan saya mengingatkan kembali pada kita semua akan salah satu kewajiban yang sering kita lalaikan,yang kita remehkan, Shalat.

Banyak orang Islam yang tidak shalat. Ngaku-ngakunya Islam. Ngaku-ngakunya muslim. Tapi gak shalat. Padahal yang sudah shalat pun belum tentu diterima shalatnya itu (yang penting kita udah taat pada Allah). shalat itu rukun Islam. Syarat menjadi orang Islam. jikalau kita ingin menjadi seorang pekerja, kita harus dan wajib menyerahkan persyaratan yang ditentukan iyakan? Nah.. begitu juga shalat. Kalo mau jadi orang Islam, ya shalat.

Karena jika engkau tidak melaksanakan shalat, engkau tidak melengkapi persyaratan Islam. 

Barang siapa yang meninggalkan shalat secara sengaja, maka dia telah mengaku KAFIR secara terang-terangan.  Sholat itu pemisah antara mukmin dan kafir. 

Dari Buraidah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Perbedaan mendasar antara kami dan mereka adalah SHALAT. Barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah kafir” (HR. Ahmad dan Ash-habus Sunan).

Para ulama telah bersepakat bahwa barang siapa yang mengingkari wajibnya shalat lima waktu.maka sungguh dia telah kafir keluar dari Islam. 

Kita hidup didunia ini untuk apa? Ingat, Allah menciptakan kita untuk menyembahnya. Kta hidup ngapain aja sampe nggak shalat?  Tanyakan pada dirimu, sudakah kau taat padanya? Apakah kamu telah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jangan main-main dengan ancaman Allah. Apapun yg kita dapatkan diakhirat nnti adalah hasil dari apa yg lakukan slm hidup. Jika Allah sudah perintahkan untuk Shalat, maka Shalatlah. Tdk perlu banyak alasan, ga usah cari-cari alasan untuk gak shalat. Apalagi alasannya karena sibuk kerja, Subhanallah. Kita abaikan perintah Allah demi dunia? Subhanallah… eank ngasih rezeki itu Allah. 10 menit aja lu keberatan? Tp mmpu beraktifitas atau sibuk kerja berjam-jam, setiap hari. 

Merasa mampu menghadapi azab Allah hingga mengabaikan titah sang pencipta? Saya tidak yakin kita tidak bisa melanggar perintah dosen (tugas yang diberikan dosen) atau bos atau pemimpin di tempat kerja kamu. Kamu berusaha memenuhi perayaratan kerja sebagai seorang pekerja. Tapi kok kamu berani melanggar perintah TUHAN kamu. Kok berani sekali nggak shalat? Rasulullah saw aja shalat. Rasul aja takut sama Allah, masa kita tidak takut? Rasul saw udah dijamin masuk surga tertinggi tanpa hisab dan amalannya sempurna. Qt yg bukan nabi… hisab meneganggakn… amalan berantakan… blm jls masuk surga/neraka.

Kamu belajar tinggi-tinggi, mencari gelar, jabatan, uang, ini… itu… tapi kalo kamu gak taat sama Allah, percuma dan sia-sia saja hidupmu. Gelar, jabatan, hartamu,,, semuanya tidak akan bisa menyelamatkan kamu di akhirat nanti kecuali…

Ingat ya… amalan yang pertama kali akan dihisab adalah shalat.

Perintah untuk menjalankan sholat disebutkan berkali-kali dalam al Qur’an diantaranya adalah Firman Allah SWT dalam surat Al Israa’ ayat 78:

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh.”

Munafik (shalat tapi shalat dengan malas). Cek di Qur’an.

Meninggalkan shalat hukumnya dosa. Dan dosa besar. Apalagi shalat wajib. Orang yang sengaja meninggalkan shalat hukumnya dosa besar. Awas hati-hati… liat baik-baik. Orang yang meremehkan shalat saja disebut munafik oleh qur’an. Tempatnya neraka jahannam. Apalagi yang sengaja meninggalkan shalat. Orang munafik, shalat, masih celaka. Apa tempatnya? Quran surah ke 4 ayat 140:

“Innlallaha jami’ul munaafiqiina wal kaafiriina fii jahannama jamii’an”. 

“Allah akan himpun orang munafik dan orang kafir dalam neraka jahannam.”

Orang munafik, masih shalat. Tempatnya neraka jahannamm. Ada orang yang sengaja meninggalkan shalat, maka tempatnya dimana?

Kita dipanggil shalat lewat azan. Haiyya alassalah, ayolah shalat. Kita bertanya “kenapa mesti shalat?” Azan yang menjawab “Hayya ‘alal Falah, Mari menuju kememagan”. Kita dipanggil shalat tapi Allah tidak butuh shalat qita. Yang butuh kita. Langit dan bumi tidak sujud kepada Allah, tidak akan menurunkan status Allah sebagai tuhan. Ttp Rabbul ‘Alamiin. Allah suruh kita shalat supata bahagia dan sukses, meraih kememagan. Bukankah yang punya kesuksesan Allah? Yang punya kebahagiaan Allah? Yg punya kekayaan Allah? Yang punya ketinggian Allah? Yang punya segalanya Allah? Kenapa kita tidak sujud dekati Allah. Wasjub wastariq. Sujud dekat dengan Allah. Bukankah hukum kedekatam selalu bersanding dengan kemudahan? Kita dekat dengan pimpinan, mudah urusan pekerjaan kita. Kita dekat dengan dosen, mudah memberikan bimbingan kepada kita. Kita dekat dengan Allah, apa yang tidak mudah bagi Allah untuk kitaaaa? Tidak ada yang tidak mudah. 

Sesungguhnya Allah menjadikan apa saja dimuka bumi sebagai perhiasan. Untuk menguji siapa yang paling baik amalannya. Bukan yang paling kaya, bukan yang paling tinggi jabatannya. Bukan… tapi yang baik amalannya. Yang ada di muka bumi semua akan rata. Akan jadi debu yang berterbangan. Kemudian kita masih tergoda? Untuk mengumpulkan kekayaan di dunia ini. Berlomba-lomba bersaing untuk meraih jabatan dan kedudukan, lupaa dengan tujuan hidup kita. Alasan kita diciptakan. Mengapa kita harus ada. Hanya ada satu jawaban yaitu untuk menyembah/beribadah kepada Allah.

Jangan sampai kita kerja totalitas ibadah malas. Ingat… Mungkar dan Nakir tidak bisa disuap. Jadikanlah kerja hanya untuk menunggu waktu shalat.
Jadi ketika adzan sudah dikumamdangkn… kita Menahan diri dari aktivitas pekerjaan baik fisik maupun pikiran, menahan diri kita dari segala keinginan, sejenak melupakan segala urusan duniawi. Shalat menjadi penyejuk hati & kenikmatan jiwa bagi seorang muslim di dunia. Seolah-olah kita senantiasa berada di dalam penjara dan kesempitan karena tuntutan duniawi, sampai akhirnya masuk ke dalam shalat, baru bisa beristirahat dari beban dunia dengan shalat. Meninggalkan dunia dan kesenangannya di depan pintu masjid, meninggalkan di sana harta dunia dan kesibukannya. Masuk masjid dengan hati yang penuh rasa takut karena mengagungkan Allah. Gunakan sisa umur kita untuk menjemput ridha Allah dan Insyaa Allah kita akan menjadi orang-orang yang menang yaitu orang-orang yang termasuk dalam golongan ashabul yamin atau golongan kanan. Wallahu ‘alam bishowwab. Saya rasa sampai disini dulu. Semoga apa yang telah sampaikan bermanfaat. Yg baiknya dtg dari Allah. Wabillahi taufik wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warahmatullah..